Berkunjung ke Istana Maimoon….

Istana Maimoon adalah salah satu peninggalan Kerajaan Melayu Deli yang terdapat di Kota Medan…  Buat aku berkunjung ke istana ini pada tanggal 01 September 2011 yang lalu merupakan perjalanan yang sangat istimewa..  Mengapa….?

Karena aku tidak pernah tahu dan ingat kapan pertama kali aku menginjak Kota Medan dan melihat istana yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso ini..  Ya, sejak masih bocah cilik mentik aku sering sekali ke Medan.. Aku tidak bisa lagi menghitung dan mengingat berapa kali aku ke Medan dan melihat istana ini. Bahkan sebelum kelas 4 SD boleh dibilang setengah dari hari-hari ku, aku berada di Medan dan setengahnya lagi di Pekanbaru.. Tapi, dari kunjungan yang entah berapa kali dan sejak usia sangat belia itu….., AKU BELUM PERNAH BERKUNJUNG KE ISTANA MAIMOON sampai tanggal 01 September 2011 itu..  Aneh yaaa….???

Istana Maimoon, 01 September 2011

Tapi aku yakin, I’m not the only person on the world yang mengalami begini…, terutama di Indonesia… :D .  Karena kita memang lebih sering memandang sesuatu yang jauuuhhhh…., tapi kurang aware dengan sesuatu yang ada di sekitar kita, sesuatu yang dekat dengan jangkauan pandang kita…  Buktinya, ada pepatah orang tua-tua kita yang bilang  “Semut di seberang lautan nampak, tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat”.  Rasanya pepatah ini tak hanya bisa dimaknai “lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada kesalahan diri sendiri” tapi juga bisa dimaknai sebagai “lebih terhadap menghargai apa-apa yang jauh dari diri kita, tapi abai terhadap apa yang ada di sekitar kita…”

Menurut aku, sudah saatnya kita harus berubah… Kita harus lebih menghargai warisan (heritage)  leluhur kita, menyisihkan waktu untuk mengapresiasinyaerap nilai-nilai luhur yang terpahat di tinggalan-tinggalan tersebut…

Buku Sejarah Singkat Istana Maimoon...

Menurut buku Sejarah Singkat Istana Maimoon yang dijual pengelola istana seharga Rp.15.000,- / eksemplar, Kerajaan Melayu Deli bermula dari Kerajaan Aru di abad 16, yang ditaklukkan  oleh pasukan Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Panglima Hisyamuddin seorang keturunan Hindustan pada tahun 1612.  Panglima ini lah yang kemudian diangkat oleh Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh sebagai wakil kerajaan untuk wilayah Sumatera Timur dengan gelar Tuanku Panglima Gocah Pahlawan.  Selanjutnya wilayah tersebut menjadi Kerajaan Deli dan Tuanku Panglima Gocah Pahlawan menjadi Sultan Deli I.

Selanjutnya, setelah generasi demi generasi berganti.., ibu kota kerajaan pun berkali-kali berpindah lokasi.   Bersama dengan kejayaan dan kemakmuran Kerajaan Deli dari perdagangan tembakau,  Sultan Deli IX, Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang memerintah tahun 1873 – 1924, memindahkan ibu kota kerajaan dari Labuhan Deli ke Medan dan mendirikan Istana Maimoon mulai tanggal 26 Agustus 1988 dan diresmikan pada tanggal 18 Mei 1891.

Menurut buku Sejarah Singkat Istana Maimoon, Istana  yang bernuansa Persia, India dan Eropa ini mempunyai luas 2.772 m2 di atas lahan seluas 217 x 200 m2, yang biaya pembangunannya menghabiskan dana sebesar Fl.100.000.  Ada pun arsiteknya adalah seorang tentara KNIL yang bernama  Kapten TH. van Erp.

Selain membangun Istana Maimoon, Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah ini juga membangun Masjid Raya Al Mashun pada tahun 1906.  Berrdasarkan catatan di rumah peninggalan Tjong A Fie,  Kapitan masyarakat Tionghoa di Medan pada zamannya itu, pembangunan masjid raya tersebut pendanaannya dibantu oleh Tjong A Fie…

Beratus-ratus bahkan mungkin beribu kali melintasi jalan di depan Istana Maimoon memang menghadirkan kesan akan adanya warisan budaya di situ, tapi kesannya tidak sekuat ketika kita melintasi kawasan Keraton Yogya atau Keraton Solo, hal ini mungkin karena eksistensi Keluarga Kerajaan Deli di masyarakat tidak lagi sekuat keluarga Keraton Yogya dan Keraton Solo…

Begitu memasuki halaman istana, kita bisa merasakan adanya sisa-sisa kejayaan masa lampau yang kurang terawat :  rumput yang tinggi, halaman yang tak tertata baik.. Bahkan tempat parkir pengunjung pun tidak cukup representatif…  Aku cukup kebingungan saat mau memarkirkan mobil, karena lokasi parkir tidak teduh, sementara istana yang berundak-undak tidak memungkinkan Mama yang menggunakan kursi roda untuk ikut masuk ke istana. Setelah berdiskusi dengan Mama, aku akhirnya memarkirkan mobil dekat “green house” penjual bunga yang ada di halaman istana..  Mobil diparkir dengan mesin dan AC tetap menyala, jendela di sisi tempat duduk Mama yang dekat “green house” dibuka separuh…  Jadi selama menunggu kami mengunjungi  istana, Mama bisa menikmati pemandangan bunga-bunga yang ada di “green house”.  Setelah membuat Mama dalam kondisi yang agak nyaman, aku pun berjalan menuju istana, menyusul rombongan Mami Nana, kak Erni dan anak-anak yang sudah aku turunkan di depan pintu masuk istana sebelumnya..

Tangga masuk istana serta prasasti pembangunan istana..

Untuk masuk ke istana yang bernuansa kuning dan hijau ini, kita harus melewati sederetan anak tangga… Yaa…, istana ini merupakan rumah panggung.., karena berada tak jauh dari Sungai Deli yang  membelah Kota Medan..  Di bagian kaki pilar terbawah tangga istana terdapat prasasti 2 prasasti.  Prasasti di pilar sebelah utara berbahasa Belanda yang bertuliskan tanggal pendirian istana ini.., sedangkan di pilar bagian selatan terdapat prasasti bertulisan Arab.

Di ujung tangga istana, kita akan sampai di beranda istana yang cukup luas dan sangat nyaman… Beranda ini menyatu dengan balkon-balkon yang cantik…  Aku membayangkan betapa menyenangkannya beranda ini untuk duduk-duduk santai bagi Sultan dan keluarganya, sambil menikmati teh di pagi dan sore hari….

Teras dan Balkon Istana....

Dari teras, kita bisa mencapai ruang penerima tamu.. Di ruang ini hanya tersisa 2 buah sofa tua di sisi selatan dan lemari antik khas China di sebuah pojok di sisi utara.. Selebihnya hanya ada beberapa buah foto-foto di dinding…  Dari ruang penerima tamu ini kita bisa menuju ruang yang besar, yang di sisi utaranya terdapat singgasana Sultan, dengan nuansa kuning dan hijau…  Tak banyak yang tersisa di ruang ini, hanya ada beberapa furniture dan lukisan para Sulthan dan keluarganya..

Interior Istana....

Dari ruang besar kita bisa mencapai bagian belakang istana.. Bagian belakang in digunakan untuk penjualan souvenir, juga untuk berfoto bagi pengunjung yang ingin berfoto menggunakan baju kerajaan..  di ruang belakang ini pula terdapat sepasang kursi kerajaan…

Istana ini indah…, terlalu indah untuk diabaikan oleh zaman…

Untuk lebih bisa mengenal dan menikmati tinggalan budaya yang satu ini, ada baiknya teman-teman menyediakan waktu untuk berkunjung ke sini bila teman-teman ke Medan… Tiket masuknya sama sekali tidak mahal sama sekali.. Kalau tidak salah Rp.1.000,- per orang saja..***

Bergaya di Istana...

Berkunjung ke Museum Rahmat…

@ Museum Rahmat....

Museum Rahmat…?  Teman-teman pernah dengar atau berkunjung ke museum ini…? Yaaa, bener museum ini adalah wildlife museum yang memamerkan koleksi berbagai jenis binatang hasil buruan pak Rachmat Shah yang diproses sedemikian rupa sehingga bisa dipamerkan..  Museum ini berlokasi di jalan S. Parman di Medan, lokasi yang gak asing sama sekali buat aku.  Karena kalau aku lagi pulang ke Medan dan “driving Mrs. Annie” alias bawa Mama jalan-jalan, sering kali lewat di depannya…  Bahkan lokasi museum ini tepat berada di seberang rumah Opungnya Monda, rumah kerabat yang kerap aku kunjungi saat usiaku sangat belia…

Kami berkunjung ke museum tersebut beramai-ramai… : 4 orang dewasa, 1 remaja, 3 kids dan 1 balita..   Harga tiket masuk per orang Rp.35.ooo,-

Kami lalu menyusuri ruang demi ruang… Hmmmmm, museum ini benar-benar sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi museum, yang memamerkan hasil buruan pak Rachmat, sang pemilik dari segala penjuru dunia…

Aldy & Enek menikmati Museum Rahmat..

Ini tempat yang cukup baik untuk mengenalkan keanekaragaman hayati, agar kita semakin mencitai hutan dan alam, serta mau berpartisipasi dalam pelestariannya, meski dengan langkah yang kecil sekali pun yang mampu kita lakukan…  Oh ya, meski sederhana, di Museum ini juga ada Safari Night nya lho…  Silahkan teman-teman berkunjung juga bila teman-teman ke Medan… ****

Menikmati Museum Rahmat dan Night Safarinya....

Kembali Berkunjung ke Tenggarong

Tenggarong…? Ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara itu…? Yuuupppsss….  Ngapain ke sana…? Kayaknya udah yang keempat atau kelima kali dehhhh ke sana…? Iyaaa.. Kayaknya lebih deehh dari lima kali…  Ngapain lagi ke sana…? Gak bosan…?  Hehehe…  Bosan siyy enggak yaa.. Cuma sebenarnya gak ada juga yang bikin pengen banget ke sana lagi, lagi dan lagi…  So…? Ngapain ke sana lagi…?

Gerbang Pulau Kumala

Ceritanya, aku kali ini ke Samarinda bersama seorang teman yang belum pernah berkunjung ke sana sebelumnya.. Jadi dibawalah jalan-jalan ke Tenggarong.. Lagi pula beberapa waktu yang lalu, David adikku meninggalkan komen di postingan ku yang ini…, kalo Lembuswana yang berada di Pulau Kumala tidak lagi duduk, tapi sudah berdiri….

Jadi ke Tenggarong lah kami pergi pada hari Jum’at 3 Juni 2011 siang…  Diantar Oom Yan yang sudah bertahun-tahun membantu David, juga ditemani Aldy, putra tertua David…

Begitu sampai di Tenggarong kami diantar ke masjid raya Tenggarong, secara aku dan teman ku memang belum sholat…  Lalu setelahnya kami di antar ke tepi, tempat ketingting alias perahu kecil2 dengan motor tempel milik rakyat yang bisa diminta mengantarkan kita ke Pulau Kumala, sebuah delta  di Sungai Mahakam, yang beberapa tahun terakhir dijadikan obyek wisata Kabupaten Kutai Kartanegara..

Aldy menikmati naik ketingting...

Oom Yan lalu mengarahkan mobil ke arah dermaga di tepian Tenggarong, tempat ketingting-ketingting bersandar..  Oom Yan lalu menghampiri tukang ketingting dan menanyakan biaya penyebaranga.  Biaya naik ketingting dari tepian ke Pulau Kumala Rp.20.000,-/orang, bertiga artinya Rp.60.000,-.  Saat aku tanya berapa sewa ketingting kalau menyusuri keliling Pulau Kumala, bapak tukang ketingting bilang Rp.80.000,-.  Aku lalu memutuskan untuk menyewa ketingting menyusuri keliling Pulau Kumala, supaya bisa melihat Lembuswana dari dekat tanpa harus jalan kaki..

Jangan tanya rasa deg-degan nya saat menginjakkan kaki satu per satu di atas ketingting yang bergerak tak bisa diam.. hehehe…  Hanya sosok oom Yan yang janji berjaga-jaga dan mengawasi ketingting kami dari dermaga yang membuat hati merasa agak  tenteram…  Sementara Aldy yang duduk di bagian depan ketingting nampak sangat menikmati perjalanannya ini…

Bapak tukang ketingting mengarahkan perahu ke bagian belakang Pulau Kumala…  Tak ada yang tampak istimewa di bagian belakang pulau ini, kecuali rangka besi berwujud dome, yang mungkin tadinya adalah sarang burung berukuran besar…  Tapi di seberang, terdapat bangunan besar berwarna putih dengan arsitektur yang indah.. Ya sport center yang dibangun untuk sarana olahraga saat PON XVII Tahun 2008…

Jembatan Tenggarong....

Menjelang di ujung Pulau Kumala, kami melihat jembatan Kota Tenggarong yang indah.., dan di sisi kanan kami,  di ujung Pulau Kumala muncul sosok Lembuswana yang berdiri…, megah… Lembuswana itu tidak lagi duduk seperti sebelumnya, tapi posisi berdirinya biasa aja, sama seperti Lembuswana-lembuswana lainnya yang bertebaran di sepenjuru Kabupaten ini…  Tidak istimewa, menurut aku..  Karena aku membayangkan adanya efek moving (sedang bergerak) yang menjadi ciri khas patung-patung karya pak Nyoman Nuarte

New Lembuswana @ Pulau Kumala..

New Lembuswana..

New Lembuswana...

Setelah melihat Lembuswana dari beberapa sisi, kami akhirnya kembali ke dermaga…  Alhamdulillah…Seru juga naik ketingting di Sungai Mahakam.. ***

Randai Kuantan di Bali…

Randai Kuantan…? Apa itu….? Aku juga baru 2 tahun terakhir ini mendengar kata2 itu… sejak bertugas di kantor yang sekarang, yang memang bidang kerjanya di kebudayaan dan pariwisata.

So, apa itu Randai Kuantan…?

Randai Kuantan itu sejenis sandiwara rakyat yang berasal dari daerah Taluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi.  Menurut riwayatnya, penduduk daerah ini adalah masyarakat Minangkabau yang tersesat mengikuti aliran Sungai Kuantan yang berhulu di wilayah Sumatera Barat, lalu menetap di daerah ini.  Jadi budaya Kuantan ini berakar pada budaya Minangkabau yang kemudian beradapatasi dengan budaya lokal.   Demikian juga dengan Randai, katanya siyyy pada masyarakat Minagkabau juga ada kesenian Randai…  Tapi aku belum pernah liat pertunjukan yang ini.

Randai Kuantan adalah sandiwara yang dibagi dalam beberapa babak.. Di antara setiap babak, para pemain melakukan tarian yang khas, enggak sulit sebenarnya, dalam gerak melingkar dan diiringi oleh sekelompok pemain music yang memainkan lagu2 tradisional khas Kuantan.  Nah selama proses menari ini, para penonton boleh bahkan diharapkan berpartisipasi, sehingga penonton merasa terlibat dalam pertunjukan ini..

Sandiwara ini dimainkan di tengah2 lingkaran yang dibentuk oleh para pemain yang duduk melingkar..  Para penonton, duduk di sekitarnya…

Pada Pesta Kesenian Bali Tahun 2010 ini, Randai Kuantan merupakan pertunjukan kesenian yang ditampilkan oleh Provinsi Riau.  Adapun judul ceritanya Bujang Lapuk, suatu cerita klasik masyarakat Melayu tentang seorang lelaki dewasa yang belum juga menikah, sehingga keluarganya sibuk mencarikan jodoh.  Gak tahan dengan upaya keluarga yang menimbulkan rasa tertekan, si bujang lapuk pergi merantau dan bertemu dengan 5 bidadari yang sedang mandi di air terjun.  Setelah melakukan kelicikan ala Jaka Tarub, si bujang lapuk berhasil mendapatkan salah satu bidadari menjadi istrinya.  Tapi karena sombong dan angkuh, si bujang membuka rahasia asal usul istrinya kepada orang kampung, dan itu melanggar syarat yang ditetapkan sang bidadari, sehingga bidadari kembali ke negerinya.

Pada pertunjukan yang ditampilkan pada hari Jum’at 18 Juni 2010 itu, sambutan penonton luar biasa.. TidaK berkurang sampai akhir pertunjukan, bahkan seorang wisman, dengan bersemangat ikut menari di tiap antar babak..  Senang melihat apresiasi yang luar biasa terhadap kesenian tradisionil…

2 GWK Finally….

@ Patung Dewa Wishnu

Yuuupppp….. Finally aku sampai juga ke GWK…  Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, Sabtu 19 Juni 2010 yang lalu…

Kok kesannya aku norak banget yaaa… Orang2 juga udah pada kapan tau ke GWK… Dasar katrok…!!!

Bukan begitu teman2… Berkunjung ke GWK sebenarnya sudah hadir di pikiranku sejak tahun 2008, tapi belum ada aja kesempatannya…  Biasa lah, sebagai PNS alias Pegawai Ngeri Sekali aku gak bisa seenaknya menggunakan income yang limited buat mengikuti hobby travelling. Jadi aku memanfaatkan perjalanan2 tugas untuk sekaligus menyalurkan hobby yang satu ini….

Sebenarnya perjalanan ke GWK sudah direncanakan tahun 2009 yang lalu.. Tapi orang yg dipercaya untuk mengelola perjalanan tsb tidak berkoordinasi..  Dia memberi tahu aku hanya sehari sebelum perjalanan dilakukan.  Emangnya aku koper yang bisa diangkut begitu saja tanpa persiapan.. Mana pada tanggal segitu aku juga sudah ambil tiket untuk ke Medan mengunjungi Papa dan Mama.  Dan lebih dasyatnya lagi, orang itu pergi ke GWK Bali, sementara Tim nya Pak Nyoman yang menurut rencana akan menemui kita di GWK untuk mendampingi dan memberikan penjelasan mengenai system manajemen GWK justru pada saat yang bersamaan terbang ke Pekanbaru untuk menemui  atasan ku.    Padahal tujuan perjalanan itu adalah untuk belajar dari mereka….  Hmmmmm…. Jaka Sembung Bawa Golok…   No comment achhhh….!!!!

GWK mulai hadir di benak ku saat aku pada tahun 2008 mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Pak Nyoman Nuarta “Sang Pembuat Patung GWK” dan Tim beliau dalam satu pekerjaan yang dipercayakan pada ku di tahun itu.. Sungguh suatu pengalaman pekerjaan yang menyenangkan dan membuka wawasan..  Aku bahkan sempat diundang oleh beliau untuk berkunjung ke markasnya yang merupakan Sculpture Park di Kawasan Setra Duta di Bandung Utara.  Lalu aku juga sempat diajak ngobrol oleh beliau di ruang kerjanya, mengunjungi bengkel kerjanya, melihat proses pembuatan beberapa bagian patung GWK yang sedang dikerjakan, melihat  pembuatan beberapa bagian Patung Anugrah yang akan diletakkan di Sibolga Kabupaten Tapanuli Tengah.  Pengalaman yang luar biasa buat aku…

So…., apa yang aku lihat di GWK…?

stairway 2 Patung Dewa Wishnu

 

Aku menemukan site yang luar biasa… Ada tangga yang bertrap2 untuk menuju lokasi patung setengah badan Dewa Wisnu… Lalu dari bagian belakangnya kita bisa melihat bagian patung kepala burung Garuda di bagian bawah, tapi sebenarnya cukup tinggi karena untuk ke lokasi tersebut kita pun harus naik trap2 yang berada di Lotus Pond.. , yang di sisi2nya terdapat potongan2 bukit karang yang dipotong2 jadi wujud persegi…  Sementara di plaza di bawah trap2 menuju patung Burung Garuda,  disewakan motor2 ATV untuk pengunjung… Kayaknya seru naik motor ATV di plaza yang lega dan diiringi hembusan angin yang kencang….

stairway 2 Patung Garuda

 

 

Sebenarnya untuk sampai ke lokasi  Patung Dewa Wisnu, kita harus menyusuri 2 kelompok anak tangga yang dihubungkan dengan sebuah taman untuk duduk2 sejenak, menarik nafas sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri kelompok tangga yang lebih terjal…  Sebelumnya, di aatara pintu masuk dengan  kelompok tangga pertama serta sebelum pintu masuk ke Lotus Pond kita menemukan toko2 kecil yang dilengkapi tempat duduk2 yang menjual makanan, minuman, peralatan spa, sabun2 lucu dan souvenirs…  Tempat yang nyaman buat duduk…  Lalu di pintu keluar, seperti juga di Botanical Garden di Singapore, kita melewati toko Souvenir khas GWK.. Aku…, aku menemukan sebuah mug dengan symbol GWK  yang keren di sisinya..  Lumayan untuk kenang2an..

@ Gerbang Lotus Pond...

 

Satu hal yang luar biasa… GWK membuat lahan yang tak berharga menjadi sangat mahal… Membuat suatu pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya masyarakat yang hidup di sekitarnya…

Aku masih berharap suatu hari nati bisa ke GWK didampingi oleh Tim Pak Nyoman untuk belajar mengenai konsep pembangunannya serta konsep pengelolaannya…,  danmamanfaatkan pengalaman mereka  tersebut untuk  pembangunan destinasi2 unggulan di Riau… Hmmmmm…. Mimpi indah yang semoga bisa jadi kenyataan…

It’s Chinese New Year

Yuppp… kemaren tanggal 14 February 2010 adalah Tahun Baru Chinese alias Imlek.   Dan tahun baru yang merupakan Tahun Macan Logam  ini, tumben2nya jatuhnya di pertengahan bulan February.. Biasanya kan di minggu pertama February atau akhir January…

Chinese New Year, sebagaimana Lebaran bagi kaum Muslim dan Christmast bagi kaum Nasrani, menghadirkan nuansa sendiri…  Lebaran menghadirkan hiasan ketupat dan warna hijau dimana2, Christmast menghadirkan pohon natal dengan salju dan hiasan yang berwarna hijau, merah dan putih.. Kalau Imlek menghadirkan warna merah dan… keemasan……..

Ada satu hal mengherankan saya ketika kita menyebutkan kata Chinese.. Kita selalu mengkonotasikan mereka sebagai kaum minoritas di negeri ini..  Tapi kita tidak terlalu kuat menyebutkan kaum minoritas kepada turunan India (Tamil) yang banyak menetap di Medan, atau kepada mereka yang merupakan hasil perkawinan antar bangsa..  Kenapa…?

Selama dua tahun bertugas di unit kerja yang sekarang, aku sempat berkunjung ke beberapa daerah di Provinsi Riau.  Anatar lain yang berada di tepi Sungai Siak, dang Bengkalis yang berada di pesisir Pantai Timur Sumatera.  Tahu kah teman2, apa yang saya lihat di sana…? KELENTENG atau VIHARA.. Tempat sembayang kaum Chinese itu…? Yuuuppppppppppppppppp…  Kelenteng2 itu umurnya puluhan tahun… Bahkan mungkin lebih dari 100 tahun..  Dan jumlah pengikutnya…? Banyak… Sangat banyak..  Bahkan ada daerah di Provinsi Riau, Bagan Siapi-api yang rasio suku Non Chinese (Melayu, Minang, Batak) dengan Chinese mendekati angka 40 : 60. Yuuupppp, banyak Chinese nya..  Dan sejak aku kecil, aku juga melihat di daerah ini, banyak sekali keluarga-keluarga Melayu yang mengadopsi anak perempuan Chinese.  Jangan salah…. Bukan untuk dijadikan pekerja di rumah tangga, tapi betul-betul diperlakukan bagai anak kandung, dan diberi kesempatan untuk mendapat yang terbaik dalam kehidupan mereka.. jadi pembauran itu sudah berlangsung lama..

Vihara Ann Kiong Bengkalis –  di depan Pasar Pelita

Viraha Pacceka Bodhi Marga Bengkalis

Di Medan…, kalau kita membaca sejarahnya, kita akan tahu  bahwa Tjong A Fie, salah satu tokoh Chinese di awal abad 20 berperan serta dalam membangun Masjid Raya Medan yang indah itu…  Sekarang, di daerah perumahan Cemara Asri di Medan, kita bisa melihat Vihara Maitreya yang megah…

Sketsa Rumah Tjong A Fie di Kesawan Medan


 

Ananda, Nora (my youngest sist) & Mama  di Depan Vihara Maitreya, Medan

 

Patung Budha di Vihara Maitreya, Medan


Di Semarang… , kita bisa menemukan Klenteng Sam Poo Kong di tengah kota.  Klenteng yang besar dan sudah berumur ratusan tahun ini merupakan tempat ibadah kaum Chinese yang jumlahnya sangat besar di Semarang, sehingga mewarnai budaya, termasuk kuliner di kota tersebut…

Di Surabaya, lain lagi… Di sini kita akan menemukan Museum Keluarga Sampoerna, yang merekam jejak sejarah keluarga Sampoerna, salah satu keluarga pengusaha papan atas di negeri ini yang merupakan keturunan dari Chinese imigrant yang datang ke Surabaya di akhir abad 19.  Di Surabaya juga kita bisa menemukan Masjid Muhammad Cheng Ho, yang dibangun oleh kaum Chinese Muslim di Surabaya dengan  arsitektur  sangat khas Chinese..

Dengan apa yang kita temukan di berbagai daerah, apa yang kita lihat di masyarakat.., apakah masih pantas kita menyebut kaum Chinese sebagai minoritas, atau sebagai pendatang di negeri ini…?  Toh mereka datangnya sebagian besar lebih dari seabad yang lalu..

Pilih Siapa, Yang Mana….?

berkibarlah-bendera-ku

 

Beberapa hari yang lalu seorang teman bilang:  Sebel ya ‘Ndha ngeliat Preman Simpang..

Aku yang gak ngerti maksudnya menatap dengan raut wajah heran.., lalu berkata : Preman Simpang mana? Siapa?

Temanku : Itu lho ‘Ndha, para caleg yang wajahnya dipampangin di simpang2 jalan..  Pusing ngeliatnya..

Aku :  Oohhhhh…. Kalo aku siyy bilangnya Para Penunggu Pohon...  Kenapa emang?

Teman : Pusing lah ‘Ndha ngeliatnya…  Kok yang dipublikasiin wajahnya siyyy…? Kok bukan program yang akan mereka perjuangkan kalo jadi anggota legislatif.. Kan gak jaman milih wakil rakyat berdasarkan wajahnya..  Emang kalo wajahnya lebih ganteng, lebih cantik atau lebih berwibawa akan jadi jaminan dia akan beneran memperjuangkan aspirasi rakyat saat jadi legislatif..? Jaka sembung bawa golok, dooonnnkk…..!!!

Tadi pagi seorang kenalan nulis di status fesbuknya “Pusing ngeliat para caleg masih di pohon…!!”

Lalu komen yang menyertainya…  :

1.  di tebang aja pohonnya..trus kasi menyan ama bacain mantra…pasti ga gentayangan lagi..

2.  tapi yg gentayangan ini keren2.. baik hati, tidak sombong, cinta negara, rela berkorban utk kepentingan umum, berbudi luhur etc… etc… ????????????

3.  hmmmm… preman simpang & penghuni pohon itu masih akan berkeliaran sampai april.. jadi harap bawa aja stock obat pusing..

4.  Apa iya negara ini bisa sejahtera dengan kehadiran preman simpang dan penghuni pohon itu?

5. Ya pasti engggaaaaakkkkk buanget… Makanya,  rakyat seharusnya memilih orang2 yang punya track record bagus dalam pengabdian pada masyarakat, punya visi dan berani menyatakan komitmen2nya dalam kontrak politik, bukan janji2 kosong yang basi banget.. Bukan orang2 yang gak punya job dan menganggap menjadi anggota legislatif sebagai kesempatan kerja dengan upah tinggi…

Kalo ada kontrak politik, rakyat akan punya dasar untuk melakukan class action kalo suatu saat anggota legislatif itu terbukti tidak melaksanakan komitmennya..  Ngabur aaaacccchhhh…. Takut ditimpukin sepatu sama para preman simpang dan penghuni puun….

6.  Let’s Golput aja kita..

7.   Golput bukan solusi… Mestinya kita membangun jaringan dengan orang2 yang punya komitmen membangun negeri ini.. Tapi mereka pada dimana yaaa….? Kok rasanya manusia yang punya rasa cinta sesungguhnya pada negeri menjadi sesuatu yang langka di negeri berpenduduk 200 juta lebih…

8.  Mereka sdh pada tdk ada di muka bumi ini. Udah pindah ke alam lain. Para Kapitalis udah mentransfer pola pikir pemimpin negeri ini.  Contohnya ga jauh2, kita2 yang dilingkungan Pemda aja, bisa dilihat orientasinya kan?

Hmmmm komen2 itu selesai sampai di situ…

Lalu, tadi siang aku ngobrol dengan seorang teman lama yang ternyata juga caleg… Sebagai teman, aku menyarankan padanya agar dia menyebarkan komitmen politik yang dituangkan dalam kontrak politik..  Aku mencoba meyakinkan bahwa itu justru akan meningkatkan jumlah pemilihnya..  Karena pemilih akan punya pegangan dalam memilih, gak seperti beli kucing dalam karung..

Tapi menurut temanku itu, membuat komitmen politik yang dipublikasi  gak sesuai dengan aturan partainya..  Katanya mereka gak perlu bikin seperti itu karena saat mereka jadi caleg nanti mereka kan akan diambil sumpah, seperti juga Pegawai Negeri Sipil..

Tapi temanku itu tau gak yaaa..  Kalo saat PNS diambil sumpah, ada beberapa versi, ada yang cuma menggerak2kan mulut tapi gak mengucapkan apa2, ada yang cuma diam – mingkem abis.., ada yang mengucapkan tanpa berpikir akan makna sumpah tersebut.   Cuma sedikit yang mengucapkan sumpah itu dengan sungguh2 dan sepenuh hati..  Hasilnya..  Gak mau jawab ahhh.. Kan. gak boleh jelek2in korps sendiri…

Temanku itu juga pernah bilang, kalo komitmennya itu ke Alloh, jadi gak perlu lah dia menyatakan komitmen2nya pada calon pemilihnya…  Hmmmmm…. gimana ya…?  Betul kita dalam menjalani hidup bertanggung jawab kepada Pemilik Kehidupan, tapi kita kan juga harus bertanggung jawab kepada sesama manusia, kepada orang2 yang memberikan amanatnya pada kita..

So… menurut teman2, apakah kita harus golput…? Kalo menurut aku siyy eggak sama sekali… Memilih itu kan hak kita, masa hak mau dibuang.. Sayang atuh..

Kalo kita gak golput, caleg yang seperti apa yang harus kita pilih…?

Kalo menurut aku siyy, caleg yang harusnya kita pilih adalah caleg yang  PUNYA VISI dan MISI, yang bisa menjabarkan VISI MISI-nya kedalam langkah2 yang realistis untuk dicapai dalam 5 tahun..  Caleg YANG BERANI menuangkan VISI MISI dan LANGKAH2 yang akan dijalankan dalam suatu dokumen KONTRAK POLITIK yang memenuhi aspek2 hukum, sehingga bisa dijadikan dasar untuk meminta pertanggungjawaban si calegdi akhir masa jabatannya, bila dia terpilih.  Selain itu kita juga harus milih caleg yang punya track record bagus dalam berkarya untuk masyarakat, caleg yang punya usaha untuk meghidupi keluarganya, bukan menganggap menjadi legislatif sebagai peluang kerja bergaji tinggi..

Gimana menurut teman2…?

Si Doel Jadi Wakil Bupati

rano_karno.jpgBerbagai stasiun TV kemaren menyiarkan berita “Pelantikan Rano “Si Doel Anak Sekolahan” sebagai wakil bapati Tanggerang… Kayaknya Rano “Galih Rakasiwi – Gita Cinta dari SMA” Karno ini adalah artis pertama di Indonesia yang masuk di jejeran birokrat.. (kalo yang masuk jejeran parlemen kan udah banyak tuuuuhhh…!!!).
Menjadi orang nomor 2 mungkin membuat Rano tidak bisa menyuarakan sepenuhnya aspirasi diri, karena the true decision maker adalah orang nomor 1. Tapi sebenarnya itu tergantung komitment dengan bupati di saat awal, saat mereka memutuskan untuk jalan bersama. Tapi sebagai “vote getter” Rano tentu akan bisa berkiprah…

Semoga Rano bisa membawa Tanggerang menjadi kota yang lebih baik.. Semoga Rano bisa menjadi contoh bagi kita generasi yang saat ini berusia 40-an, how to be a good leader.. Pemimpin yang memikirkan kepentingan rakyat, bukan pemimpin yang begitu memegang posisi menjalankan kepemiminannya dengan prinsip ekonomi, atau paling tidak “balik modal”... Semoga Rano yang telah menunjukkan track-nya sebagai orang yang punya idealisme, pekerja keras dan kreatif bisa menjaga nilai2 yang dipegangnya selama ini dan membawa nilai2 tersebut ke masa2 pengabdiannya sebagai wakil bupati..

Semoga idola remaja 80-an ini mampu memberikan warna yang indah pada masa kepemimpinannya… Warna yang semoga berbeda dengan yang telah hadir panggung politik negeri ini di tahun2 terakhir… Warna yang menghapuskan rasa bosaannn… warna yang memberikan harapan akan masa depan Indonesia yang lebih baik…

Go Galih, go Galih, go…!! Go si Doel, go si Doel, go…!! Go Rano, go Rano, go…!!

Selamat Jalan Pak Harto…

Siang ini sekitar jam 13.10 WIB, setelah dirawat sekitar 24 hari di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, mantan presiden kita yang kedua, Bapak Suharto, telah berpulang ke Rahmatullah.

Tati adalah bagian dari generasi yang tumbuh di masa pemerintahan beliau….

Tati sempat merasakan berdiri berjam2 di pinggir jalan protokol di Kota Pekanbaru untuk melambaikan tangan pada beliau dan almarhumah Ibu Tien saat mobil yang beliau tumpangi melintasi jalan tersebut dalam suatu kunjungan kenegaraan. Saat itu bisa melihat hiasan sanggul ibu Tien yang berbentuk padi dan kapas dari balik kaca belakang mobil yang mereka tumpangi saja sudah menimbulkan kegembiraan namanya juga anak2..!!).

Tati juga merasakan murahnya uang sekolah sejak SD bahkan sampai S1 di IPB.
Kalo gak salah zaman Tati SD uang sekolah gratis, orang tua murid hanya diminta membayar sumbangan BP3 dengan jumlah yang ditentukan sendiri oleh masing2 orang tua murid tsb. Padahal itu SD Negeri terbaik di Pekanbaru zaman itu, semacam SD percontohan lah..(Tati aja kalo gak salah adalah murid angkatan ke-4 di sekolah tsb. Maksudnya waktu Tati kelas satu, murid paling senior adalah kelas 4. Kelas 5 dan kelas 6 belum ada).

Zaman kuliah di IPB Tati merasakan nikmatnya kuliah dengan subsidi negara, karena hanya harus membayar uang sekolah RP.75.000,-/semester selama masa perkuliahan. Tidak ada eskalasi SPP, tidak ada bayar uang SKS, uang bangku, uang lab dsb dsb. Jadi ingat seorang sahabat zaman kuliah yang suka sebel sama teman2 kuliah kita yang milih jadi ibu RT. Katanya, “Ngapain negara mensubsidi orang2 yang gak akan berperan bagi produktivitas negara?”. Hehehe. Mudah2an teman Tati itu pikirannya sudah lebih lunak ya, karena menurut Tati, ibu RT itu punya peran yang luar biasa lho dalam produktivitas negara. Mereka yang bertanggung jawab dalam menyiapkan sumberdaya manusia masa depan negeri yang kita cintai ini..!!

Tapi Tati juga membaca di berbagai majalah berita ada banyak ketidakadilan di negeri ini pada masa pemerintahan beliau.. Tati juga membaca ada banyak pembelengguan kebebasan perpendapat di masa itu.. Tati juga sempat melihat bagaimana jalan2 di pelosok Jawa terbangun dengan mulus dan bagus, sementara di daerah Tati, entahlah.. Di masa awal kuliah di IPB Tati juga sempat bertemu dengan teman yang untuk bayar uang sekolah pun harus pakai surat keterangan miskin (tapi mungkin teman2 dengan latar belakang ekonomi yang lebih terbatas ini lebih berhasil ya, karena fighting spirit-nya lebih kuat).

Tapi Tati juga merasakan sistem pendidikan yang cenderung membuat peserta didik enggak peka dengan situasi dan lingkungan serta cenderung selfish karena sistem pendidikan yang menjejali peserta didik dengan jadwal dan beban tugas yang assoyy.. Gimana mau aware, kalo tiap hari kita udah termehek2 dengan jadwal yang padat, tugas yang setumpuk dan ujian yang tiada henti. Hehehe. Tapi di satu sisi sistem ini juga membuat peserta didik jadi manusia yang tough. Istilahnya teman2 dibuang ke hutan juga hidup..!!

Mungkin Tati termasuk pihak yang merasakan banyak kemudahan di zaman pemerintahan Pak Harto, tapi Tati tidak menafikan bahwa ada, mungkin banyak, pihak yang merasakan kondisi yang sebaliknya..

Tapi apa pun yang pernah terjadi.., kiranya kita dapat memaafkan beliau. Mendoakan semoga beliau mendapatkan kelapangan dalam perjalanannya menghadap Sang Pemilik Alam Semesta… Karena kita pun akan kembali ke sana, dan kita pasti berharap agar segala kesalahan yang kita perbuat, baik dengan sengaja maupun tidak, akan dimaafkan oleh orang yang sudah tersakiti oleh kita, sehingga jalan kita menjadi lebih lapang pada waktunya nanti…

Temans dan sahabat2ku semua..,
Tati mohon maaf lahir dan bathin..
Semoga bila saatnya tiba pada kita semua, Alloh berkenan memberikan jalan yang lapang bagi kita untuk menghadap-Nya. Amin Ya Rabbal Alamin.

Pics diambil dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Suharto

Ngurus Pajak…

Besok…, si Sparky ultah yang pertama.. Artinya, it’s time for me to pay Pajak Kenderaan Bermotor.. Sejak beberapa waktu yang lalu Tati udah mutusin untuk menjalani sendiri proses pembayaran pajak kali ini.. Biasanya selalu minta tolong teman..

So, pagi ini setelah ikut teman2 membezuk putra salah seorang teman kantor (Zulbadri) yang dirawat di RS Pekanbaru Medical Center (PMC), Tati langsung ke kantor SAMSAT (apa ya kepanjangannya…?) yang berlokasi di Jl Gadjah Mada Pekanbaru. Here the process…

Pertama2, Tati pergi ke bagian informasi yang berada di kanan pintu masuk. Di situ Tati nanya apa saja yang harus dilakukan dan dilengkapi.. Petugas yang di bagian ini cukup ramah.. Di pc yang ada di meja-nya juga kita bisa mengetahui berapa besar pajak yang harus kita bayarkan. Good service… Hanya saja ,mungkin perlu sedikit ditambahi bekal ilmu service exellent..

Dari meja bagian informasi Tati bergerak ke loket pengambilan blangko. Dengan menunjukkan STNK yang asli, photocopy kartu pengenal, Tati memperoleh blangko yang harus diisi. Blangko tersebut meminta data2 kita sebagai pemilik mobil serta data mobil kita.

Setelah mengisi blangko, Tati menuju loket pendaftaran.. Di sini petugasnya ramah, dan hanya butuh waktu yang singkat untuk menyelesaikan proses pendaftaran. Tati lalu disuruh menunggu di depan loket pembayaran, nanti kalo berkas2nya udah komplit nama Tati akan dipanggil untuk membayarkan pajaknya.

Tati lalu duduk di depan loket pembayaran.. Menunggu. Kata petugas di loket ini cepat atau lambat pemanggilan tergantung proses administrasi di Loket Pendaftaran. Jadi kita harus sabar menunggu. Gak masalah dehhh.. cuma sayang petugas di loket ini kurang ramah dan bersahabat serta agak2 malas2 senyum… Setelah nunggunya agak lama, lebih dari 1/2 jam , akhirnya nama Tati dipanggil juga.. Setelah bayar pajak.. Tati tinggal menjemput STNK yang baru besok pagi..

So far…, ternyata ngurus STNK di sini gak susah kok.. So teman2, coba deh ngurus sendiri.. Tapi kalo emang pengen berbagi rezeki dengan saudara2 kita yang mengais rezeki dengan menjadi calo, gak ada salahnya juga siyy….