Gula Bargot…

Pohon bargot di pinggir Kampung Sibadoar…

Gula bargot…? Gula apa itu….?  Teman-teman mungkin biasanya mendengar nama gula pasir, gula batu atau gula aren…  Ya, gula bargot itu sama dengan gula aren..  Bargot itu bahasa  Batak Angkola untuk menyebut aren alias enau (Latin : Arenga pinnata).

Gula bargot ini merupakan salah satu komoditas produksi masyarakat di daerah Sipirok, selain padi, karena tanaman bargot alias aren alias enau banyak terdapat di daerah ini..  Dan untuk menjadi catatan, pohon-pohon bagot di daerah ini tumbuh secara alami, bukan hasil budidaya..

Minggu lalu saat pulang kampung aku mendapat kesempatan melihat bagaimana salah satu penduduk kampung asal keluargaku, Sibadoar, membuat gula bargot…  Sangat sederhana…, Namun jangan tanya rasa gula yang dihasilkan… Maknyussss banget… Soalnya gak dicampur bahan lain, murni dari aren…  Pengawet…? Apalagi…. Jauuuhhh….

Ini beberapa foto tentang  gula bargot yang berhasil aku kumpulkan…. Silahkan dinikmati…

Anak Pengumpul Air Bargot... Sejak kecil sudah ikut ayahnya mengumpulkan air bargpt...

Bahan baku gula bargot adalah air bargot alias air yang disadap dari tandan jantan pohon nira.  Selama disadap, air biasanya ditampung dalam tabung-tabung bambu…  Biasanya penyadap nira membawa beberapa tabung sekaligus untuk dipasang di pohon-pohon nira..  Untuk memudahkan, aku lihat salah seorang penyadap di Sibadoar membawa tabung-tabungnya dengan dorongan…

Kata Papa ku, dalam tata krama zaman dulu di daeah Sipirok, bila penyadap nira telah mendapatkan hasil sadapan, lalu bertemu dengan kerabatnya dalam perjalanan pulang, si penyadap menawarkan secangkir kecil air nira, sebagai simbol berbagi rezeki.  Sebagai mana pohon nira membagikan rezeki pada si penyadap..   Tapi mungkin sekarang tidak lagi lazim dilakukan…  Hmmmm, padahal pegen juga merasakan air nira segar…

Air nira hasil sadapan lalu dimasak dengan tungku berbahan bakar kayu sampai mengental.. Kebetulan yang aku temukan di Sibadoar, tungku pemasak nira diletakkan di depan rumah, di tepi jalan.., hanya dilindungi degan pagar-pagar kayu dan atap seng seadanya…  Agar air nira yang dimasak bersih dan tak ada kotoran, air nira disaring saat akan dituangkan ke kuali…  Manisnya air nira terlihat dari banyaknya lebah-lebah yang tertinggal di saringan… Hmmmmmm…   Btw, selain diolah jadi nira, ada juga penduduk kampung yang mengolah air nira menjadi tuak, sejenis minuman yang mengandung alkohol sebagai hasil fermentasi…

Air bargot dituangkan ke wadah memasak air bargot...

Wajan untuk memasak air nira sampai mengental, dan saringannya...

Air bargot yang sudah matang dan mengental, siap untuk dicetak....

Gula bargot dicetak dengan menggunakan daun bargot yang dbentuk lingkaran lalu diletakkan di permukaan yang rata...

Gula Bargot dari bargot yang masih muda... Warna gula lebih pucat, rasanya tak semanis gula yang dibuat dari bargot tua...

Gula bargot dari bargot yang sudah tua, warnanya coklat tuam rasanya uenak banget.....

Tugu Batakland English School…

Hari Kamis, 15 Desember 2011 aku melakukan perjalanan bersama Papaku..  Perjalanan yang akan penuh kenangan buat kami nantinya..  Ya kami melakukan perjalanan dari Sipirok ke Medan lewat  jalur Pangaribuan..  Jalur yang sama sekali tak populer bagi para penempuh jalan Sipirok – Medan, atau sebaliknya..

Buat keluarga kami, jalur yang biasa kami tempuh adalah Sipirok – Tarutung – Siborong2 – Balige – Parapat – Tebing Tinggi – Lubuk Pakam – Medan.  Tapi di jalur ini ada ruas yang sangat tidak nyaman, yaitu ruas Aek Latong, yang berada di antara Sipirok dan Tarutung, hanya sekitar 15 km dari Sipirok.  Ruas semakin membuat tak nyaman di hati setelah beberapa bulang yang lalu di lokasi tersebut terjadi kecelakaan, sebuah bus ALS tergelincir dan menyebabkan 14 orang penumpangnya tewas.  Jalur lain adalah Sipirok – Padang Sidempuan – Sibolga – Tarutung dst.  Buat kami jelas jalur ini sangat tidak popuker karena…., muter bok…!! Perjalanan bertambah panjang sekitar 3 jam… Ogah laaahhh ya, kecuali gak ada pilihan.. :)

Naaahhh, jalur Sipirok – Pangaribuan – Siborong2 – Balige dst lah yang menjadi pilihan…  Dari Sipirok, kami bergerak ke arah Sibadoar, Bunga Bondar, Hanopan, Sipogu dan seterusnya…  Tak lebih 2 kilometer dari kampung Sipogu, Papa tiba-tiba menyuruh supir yang mengendarai mobil kami berhenti…  Papa lalu mengajak aku turun… Lalu menuju semak-semak yang padat di pinggir jalan…

Papa sambil menerabas semak2 di sekitar kami : “Di sini inang (= ibu, tapi dalam bahasa Batak sehari-hari biasanya digunakan oleh orang tua untuk memanggil anak perempuannya) ada tugu peringatan Batakland English School..  Sekolah Batak berbahasa Inggris..

Di balik semak-semak yang padat itu, kami menemukan tugu berwarna hijau tak terawat…. Mengenaskan…

Tugu Batakland English School di Sipogu - Sipirok dikelilingi semak...

Di tugu tersebut tertulis :

THE FIRST SCHOOL OF SEVENTH-DAY

ADVENTIST CHURCH IN SUMATERA

BATAKLAND ENGLISH SCHOOL

(BES)

1921

Jadi tempat tugu  ini berada merupakan bekas  lokasi Batakland English School, sekolah misi pertama di Sumatera.  Hasil surfing di dunia maya, ada seseorang yang  bernama Jan S. Aritonang yang menulis tentang sekolah ini.. dan menurut beliau sekolah ini berlangsung pada tahun 1861 – 1940.  Terlepas dari ini merupakan sekolah misi, kehadiran sekolah ini menurut cerita yang didengar Papaku, berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa Inggris dan wawasan berpikir generasi muda Sipirok di zaman tersebut…  Sayangnya kalau tugu ini diabaikan begitu saja dan terbenam dalam rimbun semak dan ilalang… ***

Kuku Macan….

Beberapa waktu yang lalu saat di Samarinda, teman2 ku dari Jakarta yang juga datang ke Samarinda nanya dimana mereka bisa beli kuku macan…

Kuku macan…? Benda apa itu? Buat apa…?  Bahkan menurut Noy, adik bungsuku, saat dia menjanjikan pada teman kerjanya oleh-oleh Kalimantan Timur berupa kuku macan, temannya bilang “Untuk apa itu Noy? Buat guna-guna kah?” Gubbbrrrrraaaakkkkssssssss…..  Noy yang jail bin sablenk malah bilang.. “Iya, ntar aku oleh-olehin 2 ya.. Satu buat kamu, satu buat istrimu… ” Hahahaha.. :D

Apa siyy sebenarnya Kuku Macan itu…? Kuku macan itu nama amplang (kerupuk ikan) khas Samarinda, terbuat dari daging  ikan pipih (belida) yang diaduk dengan tepung dan bumbu-bumbu…  Kenapa namanya “kuku macan”, aku juga belum tahu cerita bin riwayatnya…

Seperti pada kunjungan-kunjungan ku sebelumnya bila ke Samarinda, dan ingin bawa kuku macan buat oleh-oleh.. Adikku David dan istrinya Nana selalu mengajak ku ke Toko Sari Rasa di jalan Ahmad Dahlan Nomor 31B Samarinda..  Toko Sari Rasa ini bukan hanya menjual kuku macan tapi juga memproduksi sendiri kuku macan yang mereka jual.. Kok tahu? Karena adikku Davi berteman baik dengan pemilik Sari Rasa, David juga namanya.  Bahkan adikku David adalah kontraktor yang membangun ruko panjang yang berfungsi sebagai toko, pabrik sekaligus rumah buat pak David pemilik Sari Rasa.

Kenapa adikku David dan Nana selalu membawa keluarga dan kenalannya buat membeli amplang di sana…? Karena amplang Sari Rasa tidak menggunakan zat pengawet dan adiktif lainnya…  Kok tahu…? Karena Ajere putri bungsu adikku, tidak bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung zat pengawet dan zat adiktif seperti mono sodium glutamat (msg).  Mengkonsumsi zat-zat tersebut akan membuat Ajere mengalami radang tenggorokan..  Tapi ternyata Ajere bisa mengkonsumsi kuku macam produksi Sai Rasa, sementara kuku macan dari beberapa tempat penjualan yang berjejer di sepanjang tepian Sungai Mahakam, Ajere tidak bisa..

Naah saat ke Toko Sari Rasa tanggal 03 Desember 2011 yang lalu (ha,nya beberapa jam sebelum aku menikah… :D ), aku  ditawarkan oleh pemiliknya untuk melihat proses produksi kuku macan.  Alhamdulillah prosesnya bersih… Aku bahkan sempat membuat beberapa foto proses pembuatan tersebut, serta telah meminta izin untuk membuat tulisan ini..

Here some pictures my friends..

mengulen, menggoreng, mendinginkan yang sudah matang lalu membungkus dalam kemasan...

Martabak Piring…

Aku dan Penjual Martabak Piring...

Martabak piring… Teman-teman dah pernah dengar, belum…?  Aku sebelumnya juga gak pernah dengar.. Aku siyy tahunya martabak mesir, martabak telor, martabak kubang, martabak bangka dan  martabak terang bulan…

Aku  mengenal makanan ini saat liburan lebaran lalu di Medan..  Adikku Ivo yang ngajak aku dan Nana, iparku, untuk mencoba menikmati makanan yang satu ini…

Apa siyy sebenarnya martabak piring..? What kind of food…??? Heehehehe..

Martabak piring bahan bakunya sama dengan martabak terang bulan atau martabak bangka.. Bedanya apa…?

Perbedaan pertama martabak terang bulan dan martabak bangka dimasak di pan martabak yang terbuat dari bahan kuningan tebal dan besar.., sedangkan martabak piring dimasak dengan menggunakan piring kaleng yang biasa digunakan di rumah-rumah zaman bahuela sebagai wadah..

martabak dimasak dengan piring sebagai wadah memasak..

Pebedaan kedua, adonan martabak terang bulan dan martabak bangka tebal, sedangkan martabak piring tipis, sehingga hasilnya lebih menyerupai crepes..

Aneka rasa...

Soal isi…, sama seperti martabak bangka dan terang bulan.., ada beberapa pilihan.. Ada isi coklat, kacang, keju, dan coklat kacang,…  Teman-teman tinggal pilih sesuai selera… Tapi beneran rasanya maknyussszzzz…  Klo gak percaya lihat gimana ekspresi Nana saat menikmati martabak piring… hehehe…

Makkknyyyuuussszzzzz.....

Dimana kalian bisa menemukan martabak ini…??? Di Medan, di pertigaan jalan Selat Panjang dan jalan Bogor… Silahkan dicoba kalau teman-teman ke Medan ya… ***

Berkunjung ke Istana Maimoon….

Istana Maimoon adalah salah satu peninggalan Kerajaan Melayu Deli yang terdapat di Kota Medan…  Buat aku berkunjung ke istana ini pada tanggal 01 September 2011 yang lalu merupakan perjalanan yang sangat istimewa..  Mengapa….?

Karena aku tidak pernah tahu dan ingat kapan pertama kali aku menginjak Kota Medan dan melihat istana yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso ini..  Ya, sejak masih bocah cilik mentik aku sering sekali ke Medan.. Aku tidak bisa lagi menghitung dan mengingat berapa kali aku ke Medan dan melihat istana ini. Bahkan sebelum kelas 4 SD boleh dibilang setengah dari hari-hari ku, aku berada di Medan dan setengahnya lagi di Pekanbaru.. Tapi, dari kunjungan yang entah berapa kali dan sejak usia sangat belia itu….., AKU BELUM PERNAH BERKUNJUNG KE ISTANA MAIMOON sampai tanggal 01 September 2011 itu..  Aneh yaaa….???

Istana Maimoon, 01 September 2011

Tapi aku yakin, I’m not the only person on the world yang mengalami begini…, terutama di Indonesia… :D .  Karena kita memang lebih sering memandang sesuatu yang jauuuhhhh…., tapi kurang aware dengan sesuatu yang ada di sekitar kita, sesuatu yang dekat dengan jangkauan pandang kita…  Buktinya, ada pepatah orang tua-tua kita yang bilang  “Semut di seberang lautan nampak, tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat”.  Rasanya pepatah ini tak hanya bisa dimaknai “lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada kesalahan diri sendiri” tapi juga bisa dimaknai sebagai “lebih terhadap menghargai apa-apa yang jauh dari diri kita, tapi abai terhadap apa yang ada di sekitar kita…”

Menurut aku, sudah saatnya kita harus berubah… Kita harus lebih menghargai warisan (heritage)  leluhur kita, menyisihkan waktu untuk mengapresiasinyaerap nilai-nilai luhur yang terpahat di tinggalan-tinggalan tersebut…

Buku Sejarah Singkat Istana Maimoon...

Menurut buku Sejarah Singkat Istana Maimoon yang dijual pengelola istana seharga Rp.15.000,- / eksemplar, Kerajaan Melayu Deli bermula dari Kerajaan Aru di abad 16, yang ditaklukkan  oleh pasukan Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Panglima Hisyamuddin seorang keturunan Hindustan pada tahun 1612.  Panglima ini lah yang kemudian diangkat oleh Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh sebagai wakil kerajaan untuk wilayah Sumatera Timur dengan gelar Tuanku Panglima Gocah Pahlawan.  Selanjutnya wilayah tersebut menjadi Kerajaan Deli dan Tuanku Panglima Gocah Pahlawan menjadi Sultan Deli I.

Selanjutnya, setelah generasi demi generasi berganti.., ibu kota kerajaan pun berkali-kali berpindah lokasi.   Bersama dengan kejayaan dan kemakmuran Kerajaan Deli dari perdagangan tembakau,  Sultan Deli IX, Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang memerintah tahun 1873 – 1924, memindahkan ibu kota kerajaan dari Labuhan Deli ke Medan dan mendirikan Istana Maimoon mulai tanggal 26 Agustus 1988 dan diresmikan pada tanggal 18 Mei 1891.

Menurut buku Sejarah Singkat Istana Maimoon, Istana  yang bernuansa Persia, India dan Eropa ini mempunyai luas 2.772 m2 di atas lahan seluas 217 x 200 m2, yang biaya pembangunannya menghabiskan dana sebesar Fl.100.000.  Ada pun arsiteknya adalah seorang tentara KNIL yang bernama  Kapten TH. van Erp.

Selain membangun Istana Maimoon, Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah ini juga membangun Masjid Raya Al Mashun pada tahun 1906.  Berrdasarkan catatan di rumah peninggalan Tjong A Fie,  Kapitan masyarakat Tionghoa di Medan pada zamannya itu, pembangunan masjid raya tersebut pendanaannya dibantu oleh Tjong A Fie…

Beratus-ratus bahkan mungkin beribu kali melintasi jalan di depan Istana Maimoon memang menghadirkan kesan akan adanya warisan budaya di situ, tapi kesannya tidak sekuat ketika kita melintasi kawasan Keraton Yogya atau Keraton Solo, hal ini mungkin karena eksistensi Keluarga Kerajaan Deli di masyarakat tidak lagi sekuat keluarga Keraton Yogya dan Keraton Solo…

Begitu memasuki halaman istana, kita bisa merasakan adanya sisa-sisa kejayaan masa lampau yang kurang terawat :  rumput yang tinggi, halaman yang tak tertata baik.. Bahkan tempat parkir pengunjung pun tidak cukup representatif…  Aku cukup kebingungan saat mau memarkirkan mobil, karena lokasi parkir tidak teduh, sementara istana yang berundak-undak tidak memungkinkan Mama yang menggunakan kursi roda untuk ikut masuk ke istana. Setelah berdiskusi dengan Mama, aku akhirnya memarkirkan mobil dekat “green house” penjual bunga yang ada di halaman istana..  Mobil diparkir dengan mesin dan AC tetap menyala, jendela di sisi tempat duduk Mama yang dekat “green house” dibuka separuh…  Jadi selama menunggu kami mengunjungi  istana, Mama bisa menikmati pemandangan bunga-bunga yang ada di “green house”.  Setelah membuat Mama dalam kondisi yang agak nyaman, aku pun berjalan menuju istana, menyusul rombongan Mami Nana, kak Erni dan anak-anak yang sudah aku turunkan di depan pintu masuk istana sebelumnya..

Tangga masuk istana serta prasasti pembangunan istana..

Untuk masuk ke istana yang bernuansa kuning dan hijau ini, kita harus melewati sederetan anak tangga… Yaa…, istana ini merupakan rumah panggung.., karena berada tak jauh dari Sungai Deli yang  membelah Kota Medan..  Di bagian kaki pilar terbawah tangga istana terdapat prasasti 2 prasasti.  Prasasti di pilar sebelah utara berbahasa Belanda yang bertuliskan tanggal pendirian istana ini.., sedangkan di pilar bagian selatan terdapat prasasti bertulisan Arab.

Di ujung tangga istana, kita akan sampai di beranda istana yang cukup luas dan sangat nyaman… Beranda ini menyatu dengan balkon-balkon yang cantik…  Aku membayangkan betapa menyenangkannya beranda ini untuk duduk-duduk santai bagi Sultan dan keluarganya, sambil menikmati teh di pagi dan sore hari….

Teras dan Balkon Istana....

Dari teras, kita bisa mencapai ruang penerima tamu.. Di ruang ini hanya tersisa 2 buah sofa tua di sisi selatan dan lemari antik khas China di sebuah pojok di sisi utara.. Selebihnya hanya ada beberapa buah foto-foto di dinding…  Dari ruang penerima tamu ini kita bisa menuju ruang yang besar, yang di sisi utaranya terdapat singgasana Sultan, dengan nuansa kuning dan hijau…  Tak banyak yang tersisa di ruang ini, hanya ada beberapa furniture dan lukisan para Sulthan dan keluarganya..

Interior Istana....

Dari ruang besar kita bisa mencapai bagian belakang istana.. Bagian belakang in digunakan untuk penjualan souvenir, juga untuk berfoto bagi pengunjung yang ingin berfoto menggunakan baju kerajaan..  di ruang belakang ini pula terdapat sepasang kursi kerajaan…

Istana ini indah…, terlalu indah untuk diabaikan oleh zaman…

Untuk lebih bisa mengenal dan menikmati tinggalan budaya yang satu ini, ada baiknya teman-teman menyediakan waktu untuk berkunjung ke sini bila teman-teman ke Medan… Tiket masuknya sama sekali tidak mahal sama sekali.. Kalau tidak salah Rp.1.000,- per orang saja..***

Bergaya di Istana...

Berkunjung ke Museum Rahmat…

@ Museum Rahmat....

Museum Rahmat…?  Teman-teman pernah dengar atau berkunjung ke museum ini…? Yaaa, bener museum ini adalah wildlife museum yang memamerkan koleksi berbagai jenis binatang hasil buruan pak Rachmat Shah yang diproses sedemikian rupa sehingga bisa dipamerkan..  Museum ini berlokasi di jalan S. Parman di Medan, lokasi yang gak asing sama sekali buat aku.  Karena kalau aku lagi pulang ke Medan dan “driving Mrs. Annie” alias bawa Mama jalan-jalan, sering kali lewat di depannya…  Bahkan lokasi museum ini tepat berada di seberang rumah Opungnya Monda, rumah kerabat yang kerap aku kunjungi saat usiaku sangat belia…

Kami berkunjung ke museum tersebut beramai-ramai… : 4 orang dewasa, 1 remaja, 3 kids dan 1 balita..   Harga tiket masuk per orang Rp.35.ooo,-

Kami lalu menyusuri ruang demi ruang… Hmmmmm, museum ini benar-benar sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi museum, yang memamerkan hasil buruan pak Rachmat, sang pemilik dari segala penjuru dunia…

Aldy & Enek menikmati Museum Rahmat..

Ini tempat yang cukup baik untuk mengenalkan keanekaragaman hayati, agar kita semakin mencitai hutan dan alam, serta mau berpartisipasi dalam pelestariannya, meski dengan langkah yang kecil sekali pun yang mampu kita lakukan…  Oh ya, meski sederhana, di Museum ini juga ada Safari Night nya lho…  Silahkan teman-teman berkunjung juga bila teman-teman ke Medan… ****

Menikmati Museum Rahmat dan Night Safarinya....

Weekly Photo Challange : Texture

Untuk menjawab tantangan Weekly Challange minggu ini yang berjudul Texture, aku mengupload 3 buah fot0 batu karang di Pantai Kuta Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat..  Berbeda dengan Pantai Kuta di Pulau Bali yang pantainya datar dan hanya berpasir…pada pantai Kuta Lombok ini terdapat tanjung yang terdiri dari batu karang beraneka warna dan tekstur, serta pasir pantai yang butir-butirnya seperti butiran merica (pepper)…  Salah satu tanjung di pantai ini diberi nama Tanjung An..

Tekstur yang kasar dari batu karang berwarna hitam yang terkikis ombak...

Batu karang dengan tekstur yang juga kasar, namun warnanya bergradasi dari hitam ke coklat susu...

Batu karang yang kasar, batu yang besar, kerikil dan pasir... Beraneka tekstur...

Breakfast with India Cuisine at Warung Sun

Di salah satu pagi selama liburan di Medan, adik ipar ku Nana yang hobby-nya wiskul alias wisata kuliner mengajak aku berburu sarapan di Jalan Darat, salah satu lokasi sarapan d i Medan yang direkom salah satu website yang disusurinya…  Aku pun menjalankan mobil kami menyusuri jalan S. Parman dari arah Cambride Mall… Tapi ternyata aku telat belok kanannya… uhehehehe…  Dari pada mutar gak tentu arah, aku lalu mengarahkan mobil ke jalan Sudirman dan belok ke daerah Kampung Keling, Jalan Cik Di Tiro..  Maksudnya sarapan di Warung Kak Lin, penjual lontong Medan yang top markotop itu aja…  Tapi apa daya ternyata Warung Kak Lin masih tutup dalam rangkaian libur lebaran..

Warung "pinkie" SUN

Kami lalu melanjutkan perjalanan menyusuri jalan Cik Di Tiro…, di sisi kanan jalan kami melihat sebuah warung sederhana berwarna pink, genit… di etalase yang menghadap jalan terdapat tulisan “SUN”, dibawahnya “martabak telor, martabak mesir, roti jala, roti cane, kari kambing, kari ayam”.  Mama ku alias Enek yang duduk di jok depan, menyarankan kami untuk mencoba warung yang sepertinya menyediakan India Cuisine itu…

Aku lalu menepikan mobil dan para penumpang pun turun…

Kami lalu menanyakadetil makanan yang ditawarkan.. Setelah berpikir dan menimbang.., kami memesan 2 porsi martabak telor.. Dan untuk anak2 yang senang mie, kami memesan 1 porsi mie goreng…

Ternyata oh ternyata, martabaknya uenaakkk…, rasanya cukup spicy.. gak kalah dengan martabak Gafa kegemaran Enek yang di jual di parkiran Pasar Buah Brastagi di Jalan Gatot Subroto.. Mie gorengnya….? Hmmmm, gak terlalu istimewa.. STD laahh yaaa…

Sayang warung ini tidak menyediakan Nasi Briyani, india cuisine favorite ku..  Kata pemilik warung, kalau mau makan Nasi Briyani, beli di restaurant Cahaya yang lokasinya di depan Warung Sun.. Kapan-kapan nyoba ahh…

Tapi kalau teman2 pengen mencoba martabak, sambil sarapandengan santai di warung sederhana di Kamung Keling, Warun Sun bisa jadi alternatif…  Silahkan dicoba yaaa…***

Me N Train….

Train alias kereta api… Ya…, musim mudik dan beritanya di televisi membawa diri pada kenangan saat menjadi salah satu pengguna kereta api…

Sebagai anak yang besar di Pulau Sumatera, kereta api buat aku di masa kecil nyaris tak pernah hadir kecuali gambarnya di buku-buku yang aku baca.. :D , atau yang tampak di stasiun kereta api di Medan..  Sampai suatu hari saat aku berusia sekitar 10 tahun dan berlibur ke Medan, almarhum ibu yang membesarkan ku membawa ku berpetualang… : merasakan naik kereta api.. Hahahaha…

Ya, almarhum ibu ditemani Nantulang Minah, salah satu saudara yang  tinggal di rumah nenek di Medan, membawa ku ke stasiun kereta api Medan.  Lalu ibu membeli tiket kereta api Medan – Tebing Tinggi buat kami bertiga…

Seingatku butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai di Tebing Tinggi.. Aku begitu menikmati perjalanan itu.. Hembusan angin dari jendela kereta, pedagang asongan yang lalu lalang, bahkan bau yang tak keru-keruan.. Hahaha.. Maklum lah tahun-tahun segitu (sekitar tahun 1978) kereta yang ada hanya kereta ekonomi, dengan kursi anyaman rotan berangka kayu..  :D .  Tapi aku sungguh sangat menikmati petualangan itu..  Lapar dan haus.. Tidak masalah..  Ibu sudah membawakan termos air ku dan beberapa cemilan..

Begitu sampai di Tebing Tinggi, ibu langsung membeli tiket kereta api untuk kembali ke Medan.  Sementara menunggu kereta datang dan berangkat, kami makan siang di salah satu tempat makan di stasiun..

Sungguh kenangan yang tak terlupakan dari masa kecil….  Terima kasih ya, bu.. Sungguh cara memperkenalkan moda transportasi yang luar biasa…  You are really a incredible Mom for me..   I love you, and still love you.., meski ibu sudah pergi lebih dari 24 tahun..

Ketika sekolah dan menetap di Bogor, aku lebih sering lagi melihat kereta api yang nyata.. Tapi seingat ku gak pernah naik kereta api.. Karena kalau ke Jakarta aku lebih banyak ke daerah Jakarta Selatan, yang lebih mudah dicapai dengan bus melalui tol Jagorawi…

Kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang kerap aku nikmati, setelah aku bekerja dan menetap di Jakarta..   Untuk pergi ke Bandung mengunjungi David, adik ku, yang saat itu kuliah di sana rasanya lebih enak naik kereta Parahyangan..  Selain lebih cepat dan lebih santai dari pada naik bus, juga bisa melihat pemandangan jurang yang luar biasa serta nasi goreng yang dijual resto KA yang rasanya memang enak…

Kereta menjadi moda transportasi jarak jauh utama buat aku setelah aku sekolah dan menetap di Yogyakarta selama beberapa tahun..

Bila ada waktu luang aku biasanya pergi ke Bandung untuk mengunjungi adik-adik ku yang menetap di Bandung..  Aku biasanya berangkat naik kereta jurusan Surabaya – Bandung yang melintasi Yogyakarta, seperti Taksaka atau Argo Wilis.  Biasanya berangkat jam 23-an, dan sampai di Bandung sekitar jam 06.30.  Namun sering kali terlambat dari jadwal seharusnya.  Kembali ke Yogya,aku juga menggunakan kereta api.  Biasanya berangkat selepas magrib, dan sampai di Yogya  sekitar jam 02 pagi..  Terkadang, bila kembali dari Pekanbaru tidak singgah dulu di Bandung, aku juga naik kereta api dari Gambir ke Yogya..

Dari perjalanan dengan kereta api yang entah berapa puluh kali.., ada beberapa kejadian yang sangat berkesan…  Apa…  Let me tell you, my dear friend…

Dalam suatu perjalanan dari Yogya ke Bandung dengan kereta eksekutif, untuk berjaga-jaga, aku tidak meletakkan uang ku di dalam dompet.., tapi di balik-balik kertas buku Agenda ku..   Aku dapat tempat duduk paling depan (di depannya tidak ada kursi lain) dan dekat jendela..  Di sebelah ku duduk lelaki muda membawa ransel..  Untuk membuat diri merasa santai dan nyaman, aku memasang walkman dan meletakkan 2 buah kaset di meja kecil yang menempel di dinding kereta.., sementara tas ku yang terbuat dari kain aku letakkan di antara kaki ku dengan dinding kereta.

Tak lama, kondektur datang memeriksa tiket, aku lalu mengeluarkan buku agendaku dari tas.. Karena ternyata aku lupa mengeluarkan tiket kereta dari agenda tersebut.. :( .  Setelah kondektur berlalu, dan merasa tidak ada lagi yang akan membutuhkan perhatianku, aku pun memutuskan untuk tidur, tanpa pernah berbicara satu patah kata pun pada penumpang yang duduk di sebelahku..

Selama perjalanan itu aku benar-benar tertidur lelap… Hanya satu kali aku terbangun dan menemukan kaset-kaset ku terjatuh dari meja..  Aku merasa heran, karena sebelumnya aku tidak merasakan satu sentakan kereta pun yang memungkinkan kaset-kaset itu jatuh..  Aku lalu melihat tas ku, masih terletak rapi di tempatnya.. Ku lihat penumpang di sebelahku, matanya tertutup rapat, sepertinya juga teridur lelap…  Aku sempat melirik ke penumpang di belakang ku lewat celah yang ada di antara kursi ku dan dinding, tapi yang nampak hanya seorang bapak yang juga terlelap..  Aku lalu mengabaikan rasa heranku dan melanjutkan tidur..

Alhamdulillah hari itu perjalanan kereta lancar bahkan sangat lancar, sehingga sampai di Stasiun Bandung saat hari masih gelap..

Karena tidak sempat membelikan oleh-oleh buat Aldy ponakanku, aku lalu pergi ke counter Dunkin’ Donuts yang ada di stasiun, dan memesan 1/2 lusin donuts.  Aku lalu mengeluarkan agenda ku untuk mengambil uang untuk membayar donut… Tapi… innalillahi.., tidak ada selembar pun lagi uang di sela-sela agenda ku..  Aku lalu mengubek-ubek tas ku, mana tau uang nya jatuh dari agenda.. Tapi tidak ada… Yang tersisa di sela-sela agenda hanya karcis kereta..  Sangat tidak logis.., kalau memang jatuh, mestinya kan jatuh semua tanpa terkecuali..  Lagian kapan jatuhnya..? Saat aku mengembalikan agenda itu ke dalam tas setelah memberikan tiket kereta untuk dibolongin oleh pak kondektur, uang itu semua masih ada..  Lalu agendanya aku letakkan dengan baik di dalam tas…

Dalam keadaan aku kebingungan dan panik, mantan penumpang yang tadinya duduk di sebelahku juga menghampiri counter Dunkin Donut dan memesan segelas minuman hangat dan beberapa potong donut, sambil matanya sesekali melirik aku.. Aku tak punya alasan untuk bertanya pada nya, meski hanya dia dan kondektur lah yang pernah melihat dimana aku menyimpan uangku.. Bisa jadi gerakan dia mengambil agenda dari tas ku dan melatakkannya kembali lah yang menyebabkan kaset-kaset ku terjat.. Entah laahhh….  Aku hanya bisa menduga-duga…

Untung tak lama kemudian, David adikku  yang menjemput  menghampiri aku ke counter Dunkin’ Donuts setelah ku kabari apa yang terjadi by handphone.., sehingga aku bisa membayar donut-donut yang telah ku pesan..   Alhamdulillah..

Jadi bila  teman-teman akan memanfaatkan kereta api sebagai moda transportasi, apalagi bila perginya sendiri…, berhati-hati lah… Jangan terlalu lelah saat berangkat, karena akan membuat kalian akan sangat terlelap sehingga kehilangan kewaspadaan…  Dan aku pikir ini pun berlaku jika teman-teman akan menggunakan moda trasnportasi umum yang lain, bahkan pesawat terbang….

Ke Pampang Lagi…

Pampang….??? Iya Pampang... Desa Budaya milik masyarakat Dayak Kenyah yang berada tak jauh dari Kota Samarinda, ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur… Hanya beberapa belas kilometer dari pusat kota..

Aku sudah beberapa kali berkunjung ke desa ini, dan rasanya selalu menyenangkan…  Menatap tinggalan budaya dan membuat potret-potretnya menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi ku jika berkunjung ke sana.. Bahkan aku sangat senang menatap tiang dengan patung burung enggang di ujungnya, yang terdapat di halaman depan rumah panjang… Menatapnya selalu membuat lagu Kalimantan karya Guruh Soekarno Putra yang dinyanyikan Chrisye kembali mengalun di benak ku…

KALIMANTAN

Sungai Mahakam terbentang
Bagai membelah dunia
Berkayuh ku ke seberang
Mencari dambaan jiwa

Gunung biru menghijau
Berhutan bagai beludru
Juwita dimana engkau
Hatiku semakin sendu

Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana
Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana

Kudengar kicau burung
Dipohon bercanda riang
Menghilang rasa murung
Hatikupun merasa senang

Wahai kau burung enggang
Bolehkah daku bertanya
Dimana kucari sayang
Dambaanku tak kunjung datang

Dipadang belantara
Terdapat rumah panjang
Mungkinkah kasih disana
Jika ada kan kujelang

Ternyata kudapati
Hanyalah bekas bara
Kemana lagi kau kucari
Mungkin kita tak pernah jumpa

Kemana, oh kemana (3x)

composed by Guruh Soekarno Putra, sung by Chrisye

Bahkan beberapa waktu yang lalu, David, adik ku yang menetap di Samarinda mengabarkan lewat telpon bahwa Foto Rumah Panjang di Desa Pampang yang kubuat dan ku posting di sini bahkan digunakan pada buku pelajaran anak-anak SD di Kalimantan Timur.  Foto itu dimuat tanpa seizin ku, bahkan tidak mencantumkan sumber dari mana foto itu diambil penulis.

David  mengetahuinya dari seorang teman  yang melihat-lihat buku pelajaran anaknya, dan menemukan bahwa anak yang ada di depan Rumah Panjang di buku  itu sepertinya Abner, anak laki-laki David, yang sering dia temui saat kedua keluarga saling berkunjung.  Dia heran kok bisa ujug-ujug Abner jadi foto model dalam buku pelajaran sekolah.. Hahahaha.. Lalu teman David itu menelpon David untuk mengecek kebenaran bahwa yang ada di foto itu benar-benar Abner.

David malah bingung karena merasa tidak pernah membuat foto itu apalagi mempulikasinya, apa lagi menyerahkan ke penerbit.. David akhirnya nanya ke Abner, apa dia ingat kapan foto itu dibuat.. Abner yang bilang “Itu kan foto ku yang dibuat Bou, waktu kita sama-sama ke Pampang, PiI.”  David dan Nana, istrinya lalu mengecek blog ku, daaaaannnnn voilaa…..!!  Mereka menemukan foto yang sama dengan yang dimuat di buku pelajaran tersebut…

Buat aku mesti ada rasa gak nyaman karena karyaku diambil untuk sesuatu yang bernilai ekonomi tanpa izin, tapi mengingat karyaku dipakai untuk mengenalkan kebudayaan kepada generasi penerus bangsa, aku ikhlas… Semoga mamapu membuat mereka sadar betapa tingginya budaya bangsa kita..

So, saat kunjungan ke Samarinda pada tanggal 2 – 5 Juni lalu aku pun pergi ke Pampang.. Ngapain lagi…?  Secara kali ini saat aku ke Samarinda ada teman yang ikut, yaitu BG alias GP, yang belum pernah ke Pampang, ya aku menemani beliau ke sana..  Gak bosan…?  Ennggggaaaaaakkkkk tuuuuhhhh…..  Enngggaakkkk bangetssss….

Rumah Panjang, 04.06.2011

Tapi ada yang berubah saat aku sampai di depan jalan masuk ke halaman Rumah Panjang.. Ada proses pembangunan pagar keliling… Bagus siyyy untuk mengamankan tinggalan budaya itu, tapi efeknya Rumah Panjang seakan berada di lahan yang sempit…, kemegahannya berkurang….

Dagangan di Rumah Panjang...

Begitu turun dari mobil yang diparkir di depan Rumah Panjang, beberapa anak perempuan menghampiriku dan BG, menyapa dengan ramah.., menanyakan dari mana aku datang.. Hmmmmm…, anak2 yang punya kesadaran pariwisata… Good effort kids…!!!

Kami lalu menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu tua menuju bagian dalam Rumah Panjang… Tidak seperti saat aku berkunjung sebelum-sebelumnya.. Di dalam rumah itu sudah adagebeberapa perempuan yang berjualan cendera mata, berupa gelang-gelang, kalung, ikat pinggang dan ikat kepala, rompi khas Dayak Kenyah.., terbuat dari manik-manik dengan kombinasi warna yang meriah…

Lalu aku juga melihat melihat gendongan bayi dari manik-manik di antara barang-barang yang didagangkan tersebut… Salah seorang perempuan yang berjualan di situ menggunakan dari manik-manik untuk menggendong anaknya, sementara seorang perempuan lain menggunakan gendongan dengan model yang sama tapi terbuat dari rotan…

Gendongan Bayi dengan hiasan manik-manik..

Gendongan Bayi Berbahan Rotan

Di dalam Rumah Panjang itu juga terdapat bapak Kuping Panjang, yang ini orangnya berbeda dengan yang dulu kami pernah berfioto bersama David, Nana dan Abner.. Kali ini kostumnya lebih  lengkap dengan tombaknya..  Selain itu juga ada beberapa anak yang menggunakan baju khas Dayak Kenyah serta seorang ibu yang cukup lanjut usia dengan kuping yang panjang dan kedua lengan penuh tatto yang telah memudar…

Untuk berfoto dengan Bapak, Ibu Kuping Panjang dan anak-anak kecil tersebut kita harus membayar.  Untuk satu jepretan dikenakan Rp.25.000,-  Lumayan mahal juga yaa.. Tapi mungkin itu lah satu-satunya sumber penghasilan mereka, selain berladang.  Menurut aku siyy tidak apa-apa, toh dengan kita menghargai mereka dan kekayaan budaya mereka, akan memotivasi mereka untuk melestarikan budaya itu.. Why not, bukan begitu teman-teman…?

Ibu Kuping Panjang..

Ada pun si Ibu Kuping Panjang dan Bertatto di lengan sangat  ramah dan setengah mati merayu ku agar membeli barang dagangannya.. Tapi setelah aku jelaskan bahwa aku tak ingin lagi berbelanja agar rumah tak penuh dengan berbagai barang, dan dia pun telah mendapatkan uang dari ku sebagai model foto, akhirnya dia tersenyum… hehehehe…

Pampang memang selalu menyenangkan untuk dikunjungi…  Datang lah ke sana teman-teman.. Kita akan mengenali betapa kayanya budaya negeri ini…****