Rasa……..

Rasa…… ? Iya…, rasa…, perasaan… Bukan Ice Cream Rasa yang ada di Jl. Tamblong Bandung, yang dulu sering aku kunjungi dengan adikku David… He…

So, ada apa dengan rasa, ada apa dengan perasaan…??? Ada apa dengan rasa ku, dengan perasaanku..

Aku tahu ada beberapa orang terdekatku yang sering menjadi tempat aku bercerita, melepas marah, tangis dan kecewa, serta sedikit tawa yang amat jarang mengisi hidupku 12 tahun terakhir..  Tapi aku juga mengerti bahwa mereka pun mungkin tak mengenal rasa ku secara utuh.. Mereka tidak tahu isi hati ku…  Mereka tidak mengerti gejolak yang terjadi di hati ku, luka-luka di hati ku…

Perjalanan hidup yang penuh liku membuat aku cenderung memendam rasa…, dan tak membiarkan orang-orang di sekitarku menjenguk ke tempat penyimpanannya..: hati  Bahkan aku cenderung menutup pintu2 dan jendelanya rapat2, agar tak banyak yang tahu apa isi sesungguhnya…, sementara jiwa berusaha tetap tegar menjalani kehidupan…

Tapi hati memang ruang pribadi yang sangat pribadi, yang mungkin hanya bisa dibagi dan dimengerti oleh pasangan jiwa..

Demi penyembuhannya, aku selalu mencari dan mencari obat bagi hati ku… Beberapa mingu yang lalu, sebuah perjalanan menghantarku ke sebuah tempat yang  dapat membantu menunjukkan jalan menghidupkan kembali hati… Sebuah tempat yang memberikan kesadaran bahwa kita tak bisa merubah apapun, kecuali diri kita… Sebuah tempat yang memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang selarik kata yang telah berbelas tahun terekam dalam otak ku.. “This Life is Yours, Take the power to make you happy, no one else can do it for you…”.   Subhanallah…

Lalu di awal upaya menghidupkan  kembali rasa, aku secara tak sengaja alias kebetulan (apakah memang ada yang namanya kebetulan dalam peredaran jagat raya ini??)  menemukan Perahu Kertas, yang  kubeli di 02 Desember 2009, namun lalu terabaikan  di tumpukan buku2 yang menanti dibaca di sebuah sudut di kamar ku..  Kertasnya mulai menguning…., seakan mengekspresikan rasa kecewa karena aku mengabaikannya… Aku lalu memutuskan untuk membacanya… Daaaaannnn, sungguh sulit mengalihkan mata ku dari lembar2 menguning itu…

Membacanya membawa aku ke dunia yang lain, dunia dimana rasa, perasaan diberi ruang untuk bertahta… Karena semua tokoh utama dalam ceritanya menggunakan hati sebagai pembimbing langkah mereka.., penentu keputusan2 mereka…

Buku yang sekilas berkesan “just a young love story” ini justru menguatkan keyakinan, bahwa sudah waktunya aku kembali masuk ke dalam hatiku, lalu membuka pintu dan jendelanya lebar2 agar mentari kembali bisa menyapa, membantu menyembuhkan  luka2 yang selama ini dipendam, sehingga hati bisa menjadi penuntun arah langkahku..   (Thank you Dee…, buku kamu indah sekali…)***

Suara………….

Suara..  Dengarkan lah aku… (Hijau daun)

Lusi & Aku : Mall Ambassador, 9 Juli 2010

Kali ini aku ingin cerita tentang suara.. Iya suara…  Aku merasa suaraku biasa2 aja..  Gak istimewa atau apa.. Dan aku memang tidak  ngurusin soal suara, karena so far bukan penyanyi atau apa lah yang mengandalkan suara dalam pekerjaannya..  Tapi alhamdulillah wa syukurillah aku punya suara sehingga bisa mengekspresikan perasaan dan pikiranku..

Beberapa belas tahun yang lalu saat aku bekerja untuk sebuah perusahaan yang komunikasi dan transaksi dilakukan sepenuhnya by phone, beberapa teman laki-laki dari perusahaan rekanan bilang kalo I have a sexy voice… Huahahahahaha… Aku gak ngerti dari sebelah mana dan apa kriterianya sehingga suaraku bisa mereka bilang sexy… Mereka bilang mereka senang ngobrol denganku…  Padahal kalo menurut aku, mereka betah ngobrol dengan aku ya karena omongannya “nyambung”… Coba bayangkan klo ada suara yang sexxxxxxyyyyy banget tapi gak nyambung klo ngomong, apa bisa bikin betah ngobrol berlama2…? Hehehehehe…

Saat itu sangkin penasaran, aku mencoba mendengarkan kaset2 dokumentasi kantor yang berisi rekaman transaksi…  Yang aku dengar siyy suara orang yang serak dan rada2 bindeng… hahahaha… Sumpeee… menurut aku gak ada sexy-sexy nya…

Lalu beberapa waktu yang lalu, seorang kenalan keluarga yang beberapa kali ngobrol di telpon bilang, “Sondha suara kamu keren banget, husky dan sexy”… Gubrrraaaakkkkssss….  Hehehehe…

Tapi buat aku semua komentar itu cuma buat lucu2an.. karena gak memberikan efek apa pun… Gak bisa dijual sehingga jadi duit… Hehehe dasar cewek matree…!!! Juga gak bisa bikin karir ku meningkat….  Hmmmmm…., bener kan…? Ada opini yang berbeda, teman2…?

Naaahhhh beberapa minggu yang lalu ada kejadian yang istimewa, yang melibatkan suara..

Ceritanya, aku jalan ke Mall Ambassador di Kuningan Jakarta..  Saat itu aku baru saja menyelesaikan pekerjaan yang membuat aku terkurung di sebuah hotel di daerah Pecenongan selama 5 hari, trus aku janjian mau jalan sama temanku di daerah Kuningan..  Sementara menunggu jam pulang kantornya temanku dan ingin mengisi perut yang lapar banget, aku ke Bakmi GM di Lt5 Ambass…

Selesai makan, saat  akan turun, di lantai 3 aku melihat toko yang menjual gorden2 cantik… Sebenarnya aku sudah sering lewat di depan toko ini, tapi gak pernah tertarik untuk masuk…  Tapi kali ini, aku pengen masuk ke sana…

Gorden yang dijual ternyata emang cantik2.. , harganya pun sangat reasonable.. Satu potong yang ukuran sedang sekitar 45ribuan..  Saat aku ngobrol dengan pelayan toko, tiba2 seorang perempuan yang lebih dahulu ada di toko itu bicara sambil memutar tubuh yang  tadinya membelakangiku : “Kayaknya gue tahu deehh suara ini… Gue kenal suara ini….”

Subhanallah… Perempuan itu adalah Lusi yang biasa kami panggil Uci, putri bungsu Wak Ida, kakaknya Mamaku yang memang menetap di Jakarta sejak tahun 1970-an.  Kami tidak terlalu sering bertemu, karena kesibukan masing-masing.  Terakhir ketemu di Medan akhir tahun 2009, saat Lusi dan keluarga berlibur, lalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan Bujingnya (tante dalam bahasa Batak Angkola) alias Mamaku..  Aku sendiri terakhir bertemu dengan Wak Ida (mama nya Lusi) awal Mei lalu,  saat berkunjung ke rumah Wak Ida di kawasan Cempaka Putih di sela2 waktu bertugas ke Jakarta.

Lusi bilang : “Kak, suara kakak itu khas banget suara keluarga kita, suara keluarga Hanopan (nama kampung tempat Mamaku berasal).  Suara kakak sama dengan suara Mama, suara Bujing, sama dengan suara Uli (adikku) dan beberapa anggota keluarga kita.”

Oaaallllaaahhhhh…. Ternya suara sexy itu turunan toohhh…. Hehehehe…

Tapi hebat banget si Uci ini ya..  Sangat mengenali suara keluarganya… dan betapa luar biasanya faktor “kebetulan” yang mempertemukan kami di toko itu..  kata Uci, “Itu bukan kebetulan kak..  Hubungan darah itu menjadi magnet yang menarik kakak masuk ke toko yang di dalamnya ada Uci…”  Mungkin Uci benar..Secara, entah sudah berapa belas bahkan puluh kali aku melintas di depan toko itu dalam dua tahun terakhir ini, tapi gak pernah tertarik untuk singgah ke sana…

Senangnya bisa bertemu dengan sepupu dengan cara yang tidak biasa… ***

Tajam kaaannnn…..?

Kemaren sore, as usual, aku ngobrol sama David adikku.. Ternyata dia lagi geleuuhhh sama anak laki2nya yang paling besar, bang Aldy. Geleuuhhh kenapa..?

Ceritanya Aldy sehari sebelumnya manjat jendela di asramanya, trus jatuh dan lengannya kena kaca, sehingga robek. Mengalami luka seperti itu, Aldy bukannya langsung nelpon ke rumah, dan minta Papinya untuk bawa dia ke rumah sakit, tapi malah diam dulu sehari. Setelah dibawa ke dokter, ternyata harus dijahit, dan karena telat dan ada luka yng mulai mengering, bekas luka itu akan membentuk bekas yang seharusnya bisa diminimalisir kalau pengobatan dilakukan lebih cepat. Naahh David itu geleuuhhh, kok Aldy gak langsung ngasi tau… Padahal dia tau Papinya pasti akan langsung mengurus dia, begitu dia kasi tau.. Papi juga geleuhh karena kok Aldy yang merasa udah mulai mandiri dengan memilih sekolah boarding school masih bertindak konyol dengan manjat jendela.

Kalo aku ngeliat itu kenakalan anak2.. Aldy yang meski udah berusia 12 tahun dan udah tinggal di asrama hampir satu tahun kan belum dewasa sepenuhnya.. Orang yang umurnya udah dewasa aja kadang melakukan kesalahan yang juga konyol, bahkan bisa sangat konyol.. Trus soal telat ngomong ke Papinya, yaaa namanya anak2, kan acap kali lebih senang menyembunyikan msalah, dengan harapan akan berlalu dengan sendirinya…

Kejadian ini mengingatkan aku pada kejadian di masa kecil… Kejadian yang lucu dan konyoooolllll…….. Hehehehe…

Sebagai anak yang agak2 cerdas (wweeeekkkkk………, kok mendadak mau muntah rasanya yaa… hahahaha…), aku adalah anak yang punya rasa ingin tau yang kuat, suka nyoba2… Karena masih ingusan, otaknya belum berkembang, jadi belum mikir soal resiko..

Kejadian ini terjadi saat aku berusia sekitar 8 tahunan… Salah satu hobbyku saat pulang sekolah, kalau gak ada kegiatan, adalah bermain.. Terkadang main sendiri di rumah, terkadang sama anak2 tetangga.. Salah satu permainan yang mengasyiikan, adalah main boneka yang dibuat dari kertas yang dilipat2 dan disusun seperti bentuk cross alias salib. Asyiknya apa…? Asyiknya, bikin baju2 boneka dari kertas yang digunting2…

Sebenarnya permainan ini tidak disenangi oleh ibuku.. Beliau gak suka kalo aku bermain dengan benda2 tajam, termasuk gunting. Begitu juga kali ini, begtu melihat aku bermain dengan gunting, ibuku langsung bilang : “Naaannngg, jangan main gunting….!!!” Tapi dasar anak bandel, ya teteuuupppp aja main gunting.

Setelah sekian lama bikin2 baju.., rasa bosan pun muncull… Kalo udah gitu, rasa iseng dan ingin tahu pun berkembang… Kali itu rasa ingin tahu nya tentang seberapa tajam gunting yang ada ditangan.. Maka mulailah membongkar2 rumah, mencari2 kertas yang lebih tebal, seperti karton.. lalu mencoba menggunting… Ternyata bisa.. Tajam ya, guntingnya…

Selanjutnya,aku mulai mengumpulkan beberapa jenis daun.. Pengen nyoba apa guntungnya cukup tajam buat menggunting daun.. Buat menghindari pelototan ibu, lokasi bermain pindah ke teras keluarga Pasaribu yang berada di depan rumah. Setelah dicoba memotong daun…, ternyata guntingnya tajam…!!!

Lalu… pengen nyoba, apa cukup tajam buat menggunting kain… Karena kain yang ada di sekitarku hanya baju yang ku pakai, maka aku coba menggunting pinggiran baju ku.. Padahal kalo gak salah ingat, bajunya masih baru dan cantik… Hehehe.. Ternyata kainnya tergunting.. Tajam ya, guntingnya… Hehehehe…

Terusssss, apalagi yang dicoba… Gilaku kumatttt…Aku mencoba gunting tersebut di tanganku, di sela antara jari jempol dan telunjuk telapak tangan kiriku… Ternyata…, guntingnya tajam… Tanganku berdaraaaaaaahhhhhhhhhhhhhhh…. Hehehehe…

Tahu, ini terjadi karena salah diri sendiri, aku gak nangis meski rasa sakit menyerang.. Aku juga gak berani pulang, karena tau setelah dikasi obat, ibu pasti mengomeli aku.. Hahahaha… Aku lalu masuk ke rumah keluarga Pasaribu dan minta obat merah ke Tante Pasaribu. Tante Pasaribu yang tau aku mau menghindar dari tanggung jawab, mengatakan : “Kok minta obat merah ke sini, ayo pulang sana, minta sama ibu kamu”. Hikssssssss………

Akhirnya, aku terpaksa pulang.. Menemui ibu dan minta diobat.. Ibu seperti biasa, dengan penuh sayang memberikan obat daannnn bous berupa cubitan di lengan, sambil berkata : “Tajam kan ‘nang guntingnya….? Apalagi yang mau digunting?” Hahahaha…

I love U, bu.. I miss U so much… Semoga Alloh SWT memberikan tempat yang lapang, sejuk dan penuh cahaya Ilahi..

It’s A Beautiful Life….

Rangakaian kata2 ini tidaklah asing buat kita, yang sempat jadi penikmat musik di tahun 1990-an.. Yuuppp…. Itu salah satu judul lagu group music asal Swedia, Ace of Base.. Lyrics lagu ini memang indah…, sangat indah… Bahkan paduan music & lyrics dapat menebarkan rasa optimist bagi yang menikmatinya… Teman2 dapat menikmatinya di sini…

Tapi postingan kali ini bukan membahas lagunya Ace of Base itu, tapi tentang pikiranku tentang perasaanku.. Hmmmm……. Kok kesannya sok cerdas dan sok deep thinking yaaa… hehehehe… But, com’on my dear friends.. Give me chance to share it…!!!

Pikiran dan rasa ini muncul beberapa waktu yang lalu, ketika aku baru kembali dari suatu perjalanan., dan aku harus singgah di Hypermart di SKA Mal Pekanbarul buat makan malam dan juga membeli bahan makanan, karena saat meninggalkan rumah bahan makanan nyaris habis, dan aku juga minta tolong teman baikku untuk ”membersihkan” isi kulkasku.. Selesai belanja, aku duduk di Solaria yang berada di depan Hypermart, lalu memesan kwetiau goreng sapi, menu favorite-ku di Solaria…

Saat menunggu pesanan, aku memandang sekitar… Mengingat-ingat percakapan dengan adik2ku selama 2 minggu beristirahat di rumah mereka…Tiba2, aku bisa merasakan bahwa Meski Tidak Sempurna Hidupku Indah… Kok bisa begitu mikirnya…?

Ya… Hidupku memang belum sempurna…
Di usia segini aku belum menikah, apalagi punya anak-anak yang lucu, yang mengisi hidupku dengan tawa dan teriakan mereka…
Aku nyaris hidup sendiri dan acap kali merasa kesepian di kota ini, karena keluargaku tinggal di kota yang berbeda….
Karirku juga tidak istimewa…, banyak teman2 seangkatanku saat masuk kerja sudah memegang jabatan yang lebih tinggi dan strategis…
Keinginan buat menambah ilmu dan mempelajari hal-hal yang menjadi minatku seperti menulis dan photography, seringkali belum bisa menjadi prioritas untuk dilakukan…
Impianku untuk bisa berkelana ke Ancient World alias Eropa, juga belum terwujud…

Tapi… Alhamdulillah.. Aku tidak kekurangan.. Aku punya hidup yang nyaman, meski tak berlebihan…
Aku bisa memutuskan apa yang ingin kulakukan, dan apa yang tidak… Aku manusia bebas.. Otoritas yang nampaknya sepele, tapi sungguh, sungguh temanku, itu sangat berharga.. Bayangkan seandainya kita kehilangan kebebasan untuk melakukan kehendak kita yang paling sederhana.. Kehendak untuk memilih menu yang ingin kita santap, kehendak untuk pergi ke suatu tempat untuk menemui keluarga, sahabat atau teman… So, hidup ini indah karena kita punya kebebasan untuk melakukan kehendak kita… Dan kebebasan yang merupakan salah satu anugrah Sang Pencipta ini rasanya tak layak untuk ditukar dengan apa pun… Yang harus kita lakukan adalah bersyukur dan menjaga otoritas itu sehingga tetap dalam genggaman tangan kita, sampai saat perjanjian itu tiba..… Bukan begitu teman…?

Pics diambil dari sini

Rindu…

Writing woman Saat wara wiri mengurus reuni SD Negeri Teladan Pekanbaru Angakatn 1974 – 1980, aku bertemu dengan teman sekelasku saat SD.  Temanku yang kerja di sebua Bank Pemerintah Daerah Provinsi Riau itu cerita kalo dia sering membaca blog-ku ini, dan menurut dia tulisanku asyik itu dibaca..

Sebelumnya, seorang teman yang berasal dari daerah yang sama, yang mengenal ku dari blog juga pernah meninggalkan pesan di inbox Facebook ku.  Dia menanyakan kenapa sudah begitu lama tidak ada postingan baru, padahal setiap hari dia membuka blogku dan berharap menemukan postingan baru…

Bukan cuma kalian yang rindu dengan tulisanku…  Aku pun rindu, sangat rindu untuk kembali menulis…

Setelah tidak menulis berbulan2 kecuali beberapa, menulis rasanya menjadi agak sulit.. Rasanya seperti kehilangan keterampilan bermain dengan kata2…

Di satu sisi ada rasa rindu untuk menulis, tapi di sisi lain pekerjaan dan segala permasalahannya seakan menyerap seluruh energi… Padahal ada begitu banyak aktivitas, ada begitu banyak kejadian yang bisa menjadi tulisan…

Semoga aku bisa kembali menulis dan menulis.. Sehingga kerinduan ini bisa terobati…

Lagipula adikku David tadi malam bilang, “Jangan berhenti menulis, kak..!! Jangan buang talenta yang diberikan Tuhan pada kamu..”

I will…  I will…   I will write again…!!!  Because I love it so much…

Single Happy..

Malam iniaku dapat kiriman ISTIMEWA dari seorang sahabat di dunia maya..   Seseorang yang luar biasa karena maniz hatinya dan cool pikiran2nya…

Apa kirimannya…  Hmmmmm… sebuah video clip yang keren abizzz…  Yang “Me” banget…, dan isinya mengingatkan ku pada tulisanku yang ini, yang aku buat hampir 2 tahun yang lalu…

Thank you ya, mbak Fitra…  Aku benar2 senang nerimanya…  Being Single is Not Bad at All, right…?

SINGLE HAPPY by : Oppie Andaresta

Mereka bilang aku pemilih dan kesepian
Terlalu keras menjalani hidup
Beribu nasehat dan petuah yang diberikan
Berharap hidupku bahagia

[!]
Aku baik-baik saja
Menikmati hidup yang aku punya
Hidupku sangat sempurna
I’m single and very happy

[!!]
Mengejar mimpi-mimpi indah
Bebas lakukan yang aku suka
Berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy

Mereka bilang sudah saatnya karena usia
Untuk mencari sang kekasih hati
Tapi ku yakin akan datang pasangan jiwaku
Pada waktu dan cara yang indah

Back to [!][!!]

I’m single and very happy

Waktu terus berjalan
Tak bisa ku hentikan
Ku inginkan yang terbaik untukku

Kompot……….!!!

shorthair-woman1Teman2 pernah dengar kata “KOMPOT”…? Kompot..   Ka O eM Pe O Te..  Kompot lho, bukan kompos alias pupuk yang dibuat dari sampah yang diproses…

Kata ini keluar begitu saja dari mulutku siang ini saat ngobrol dengan kak Indria, salah seorang senior di kantor, yang beberapa bulan terakhir menjadi sahabatku…

Ceritanya kita lagi ngobrol…  Aku melihat klo rambut kak Indria di bagian samping mengintip dari sela-sela kerudungnya… Itu pasti karena potongan rambutnya pendek, sehingga gak bisa diikat atau ditahan oleh anak kerudung di bagian dalam..

Tanpa sadar dari mulutku bilang “Kak, rambut kakak tuh kompot ya…?”  Huahahaha….  Kak Indria langsung ketawa ngakak…  Dia lalu bilang, “Sondha, dari mana awak tu tau bilang kompot? dah jarang orang tau kata itu..  Coba tanya sama anak2 sekarang apa mereka tau arti kompot?  Kakak yakin mereka tak tau…”

Apa siyy artinya kompot..?  Kompot itu kayaknya siyy bahasa Melayu..  Aku tau kata ini sejak masih kecil bin imut2…  Karena almarhum ibu yang campuran Batak dan Melayu seringkali menggunakan bahasa Indonesia yang dibaur dengan kosa kata Melayu dalam percakapan sehari-hari…   Kompot itu istilah rambut yang potongannya pendek banget.., kalo orang negeri sono bilangnya yongen skoop..  Secara waktu kecil sampai dengan kelas 4 SD rambut ku selalu dipotong pendek, jadi aku selalu dengar almarhum ibu bilang rambutku kompot…

Cuma rasanya memang kata ini hampir punah…  Sudah sangat jarang digunakan…  Mestinya sekolah2 kita selain mengajarkan anak2 kita untuk mampu menggunakan bahasa international, juga mengajarkan bahasa daerah plus kosa katanya yang unik2…  Sehingga bahasa itu gak punah..

Ini niyyy si rambut kompot….

tk

Little Me...

My Way…

woman-on-d-streetIni lagu jadul yang kayaknya dikenal oleh siapa aja di seantero dunia…  Para pengemar oldies song rasanya gak ada yang gak hapal lagu ini..  Para penggemar karaoke, apalagi…

Meski jadul, tuwir dan sejuta istilah lainnya yang mengekspresikan kekunoan…, tapi aku seneng banget ama lagu ini…  Karena mampu mengekspresikan rasa confidence karena udah “bersikap”, meski jalan itu mungkin berbeda dengan jalan yang umum dilakukan orang di sekitar…

Bukankah ini yang sering terjadi di dalam hidup kita…? Kita kerap kali harus memilih jalan yang bukan jalan yang umum…  Pilihan yang kadang membuat orang memandang sinis, dan berjuta anggapan negatif lainnya..

Pilihan untuk go my own way acap kali terkesan egois, egocentris, atau apalah yang terkait dengan sikap gak perduli apa pendapat dan pikiran orang lain..  Padahal gak selalu begitu..  Pikiran, pengalaman, pengetahuan seringkali membuat seseorang  punya cara sendiri untuk menjalankan sesuatu, termasuk hidupnya…

So, kalau menurut aku, menurut aku niiiyyyy, selagi  jalan itu tidak melanggar aturan Sang Pemilik, dan dilakukan dengan niat Lillahi ta’ala…? Mengapa tidak…  Berjalan lahhhhh…  Insya Alloh baik buat diri kita dan orang disekitar kita….  Amin.

MY WAY…

And now, the end is near;
And so I face the final curtain.
My friend, Ill say it clear,
Ill state my case, of which Im certain.

Ive lived a life thats full.
Ive traveled each and evry highway;
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets, Ive had a few;
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course;
Each careful step along the byway,
But more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, Im sure you knew
When I bit off more than I could chew.
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall;
And did it my way.

Ive loved, Ive laughed and cried.
Ive had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that;
And may I say – not in a shy way,
No, oh no not me,
I did it my way.

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -
And did it my way!

The Wind Beneath My Wings

It must have been cold there in my shadow
 To never have sunlight on your face
 You were content to let me shine, that's your way
 You always walked a step behind

So I was the one with all the glory
 While you were the one with all the strength.
 A beautiful face without a name, for so long
 A beautiful smile to hide the pain

 Did you ever know that you're my hero
 And everything I would like to be
 If I can fly higher than an eagle
 You are the wind beneath my wings

It might have appeared to go unnoticed
 But I've got it all here in my heart
 I want you to know I know the truth
 Of course I know it
 I would be nothing with out you

 Fly, fly, fly away
 You let me fly so high
 Oh, fly, fly
 So high against the sky
 So high I almost touch the sky
 Thank you, thank you, thank god for you
 The wind beneath my wings

By : Bette Midler

hawk

Finally aku benar2 menyadari bahwa “the wind” yang aku harapkan selalu “beneath”  sayap2ku, tidak ada lagi…

Menangis…?  Hmmm….  I have cried many years ago for loosing..  Tapi itu kan tidak membuat keadaan lebih baik..  “The wind” yang diharapkan ternyata  punya pandangan yang berbeda tentang our relationship.  Penantian dan upaya bertahun2 tidak membawa hasil yang positif, malah memunculkan tuduhan yang rasanya tak pernah dilakukan..

Setahuku, seingatku, sesadarku, aku tidak melakukan  seperti yang dituduhkan…  Aku tidak pernah berniat untuk sombong, angkuh dan merasa hebat..  I have nothing to be like that…  Aku tidak pernah berpikir tentang “menang dan kalah” atau  “lebih hebat dan lebih lebih lemah” pada orang yang kupikir adalah “wind” ku.

Mungkin yang terbaik adalah tidak lagi berharap “the wind” akan “beneath my wings”.  Justru aku harus step back, agar tidak ada lagi friksi.. Agar masing-masing bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang…

Lagi pula rasanya aneh kalo harus  meneteskan air mata untuk hal yang itu dan itu lagi…

Yang bisa dilakukan dan harus dilakukan adalah tetap terbang…  Insya Alloh akan ada “angin2″ lain yang hadir dalam kehidupan yang bisa membuat sayap ku berkepak lebih dari sebelumnya…

Yang bisa dilakukan adalah tetap berkarya dan berkarya, Insya Alloh ini akan membuat hidup lebih indah, lebih membawa kebahagiaan…  Dan… waktu akan menyembuhkan…

Like my brother said a few days ago..  “Keep on your integrity, sist…!!  Don’t let anybody take it from you...”

So, I have to step in a new episode of my life…

Resep Mandiri Ala Tati… (1)

Waktu Tati pertama kali kost, di Jl. Cirahayu No. 4 Bogor… Tati asli gak mandiri banget… Kalo cuma pergi kuliah atau ke toko atau ke mana siang hari siyy gak masalah.. Tapi ke kamar mandi yang terletak di ssmping kamar sendiri pada malam hari…., sumpe kagag beraniyy.. Kok? Iya, kamar2 kost di CR4 itu letaknya menghadap taman yang ada kolamnya.. Jadi kalo kita buka pintu kamar, ya langsung ke taman itu.. Sementara di kiri rumah kost adalah tanah kosong, sedangkan di kanan rumah kosong. Lalu di belakang rumah… tanah kosong yang merupakan Daerah Milik Jalan (DMJ) Tol Jagorawi..

Terus gimana kalo malam2 kebelet pe-i-pe-i-es…? Tati pasti teriak2 dulu manggil Opi yang berada di kamar sebelah…

Tati : Pi…, bangun dooonnkkk, gue mau pipis niyy….!! Hehehe..
Opi yang baik ati tapi bertampang judes itu selalu bangun sambil ngerundel : Iya, gue bangun…! Cepetan sana..!!
Tapi Tati akan segera teriak lagi : Loe keluar doonnkkk, gue gak berani keluar kalo gak ada orang di luar..

Maka setelah Opi dengan rambut yang awut2an dan bibir manyun keluar dari kamarnya, baru deh Tati berani keluar kamar. Dan selama Tati di kamar mandi, Opi dengan setianya akan nunggu di selasaran depan kamar, atau di dapur kecil yang berada tepat di depan kamar mandi…

Kelakuan Tati yang satu ini berlangsung berbulan2..
Opi emang baik banget.. Selalu mau diganggu..
Gue udah pernah bilang makasih belum siy sama elho, Pi? Makasih, ya Say…!!

Hantaman yang besar terjadi pada suatu siang, saat Tati jalan kaki di Jl. Riau Bogor… Saat itu Tati pulang les dari sekolah musik yang berlokasi di situ.. Jarak satu rumah dari rumah yang digunakan sebagai sekolah musik tsb, terdapat tangga yang menghubungkan Jl. Riau dengan Mesjid Raya Bogor yang berada di Jl. Raya Pajajaran, persis di samping Terminal Bogor.

Naaahhh…, saat Tati melintasi ujung tangga tersebut, ada seorang lelaki yang turun dari tangga tersebut, dia lalu berjalan di belakang Tati. Setelah beberapa puluh meter, si bapak tsb tetap aja berjalan di belakang Tati, padahal Tati jalannya pelan, normalnya dia pasti udah mendahului Tati.. Rasanya jarak dia dengan Tati kok dekat banget, ya.. Tati jadi deg2an.., mana jalannya sepi banget lagi.. Gak ada orang di jalan itu kecuali Tati dan orang itu. Tapi deg2an itu hilang saat si bapak menegur seorang anak yang sedang nebas rumput di lapangan yang ada di jalan tersebut. Pikiran Tati, si bapak itu berarti orang daerah situ. Tapi tiba2….. di leher Tati terasa ada tangan orang. Tangan tersebut menarik dengan keras kalung yang ada di leher Tati.. Tati benar2 shock, dan jatuh terduduk di jalan… Dari mulut Tati hanya keluar teriakan “Toloooooooooooooooooooooooooong.., rampoooooooookkkk……..!!!”

Begitu dengar Tati teriak, si perampok lari ke arah terminal, naik ke salah satu angkot yang sedang lewat kayaknya siyy dia emang preman di daerah situ.. Terus Tatinya gimana? Tati lama gak bisa berdiri.. sampai harus dipapah dulu ke pinggir jalan oleh salah seorang yang juga sedang lewat di jalan itu tapi datang dari arah berlawanan.. Belakangan Tati baru tau ternyata orang yang nolong Tati itu orang Pekanbaru juga, kakak kelas Tati, tapi sekitar 4 angkatan di atas, namanya Bang Yan. Lama Tati terduduk di pinggir jalan, sampai kaki udah bisa berdiri dan dilangkahkan..

Setelah kejadian itu.., Tati sempat untuk waktu yang lama jadi parno. Dengar pintu dibuka denga keras, Tati bisa deg2an. Di jalan kalo ada yang berjalan dalam jarak dekat dengan Tati, bisa bikin Tati gemeteran.. Pokoknya parno deehhhhh..

Tati lalu sadar bahwa kalo ke-parno-an ini dibiarkan terus menerus, akan menjadi penyakit.. Jadi harus dilawan.. Tati lalu memaksa diri untuk jalan sendiri setelah magrib dari tempat kost ke Toko Roti Jumbo yang berlokasi di Jl. Pajajaran, di depan kampus. Itu artinya Tati harus melintasi Jl.Cidangiang yang gelap dengan pohon2 besar dan rindang di kiri kanannya.. Hihihi… Sereeeemmmm…!!! Waktu pertama kali dilakukan, Tati bukannya jalan.. tapi lariiiiii….. Hehehe.. Tapi Tati lakukan lagi lagi dan lagi… Perlahan2 ke-parno-an itu tersembuhkan..

Tapi…, berbagai kejadian buruk kembali terjadi…: diincer copet di angkot atau saat turun angkot., diganggu preman saat jalan kaki di sepanjang Jl. Raya Pajajaran, seperti udah jadi makanan rutin.. Sampai akhirnya Tati mikir, yang salah itu bukan cuma para penggangu itu.., pasti ada dari diri Tati juga yang gak beres sehingga membuat mereka selalu tertarik untuk menjadikan Tati sasaran empuk.

Setelah berpikir dan berpikir, Tati lalu yakin, pasti sifat manja, gak mandiri dan penakut tercermin dari gerak tubuh Tati, sadar maupun enggak. Tati lalu memutuskan untuk men-train diri Tati lagi, lebih keras, lebih sering. Finally.. Tati akhirnya jadi lebih beranian, malah jadi kesannya tomboy buanget… Meski kalo di suruh melintasi kampus Baranang Siang malam2 sendiri tetap aja ngibrit… Hehehe.