Kuku Macan….

Beberapa waktu yang lalu saat di Samarinda, teman2 ku dari Jakarta yang juga datang ke Samarinda nanya dimana mereka bisa beli kuku macan…

Kuku macan…? Benda apa itu? Buat apa…?  Bahkan menurut Noy, adik bungsuku, saat dia menjanjikan pada teman kerjanya oleh-oleh Kalimantan Timur berupa kuku macan, temannya bilang “Untuk apa itu Noy? Buat guna-guna kah?” Gubbbrrrrraaaakkkkssssssss…..  Noy yang jail bin sablenk malah bilang.. “Iya, ntar aku oleh-olehin 2 ya.. Satu buat kamu, satu buat istrimu… ” Hahahaha.. :D

Apa siyy sebenarnya Kuku Macan itu…? Kuku macan itu nama amplang (kerupuk ikan) khas Samarinda, terbuat dari daging  ikan pipih (belida) yang diaduk dengan tepung dan bumbu-bumbu…  Kenapa namanya “kuku macan”, aku juga belum tahu cerita bin riwayatnya…

Seperti pada kunjungan-kunjungan ku sebelumnya bila ke Samarinda, dan ingin bawa kuku macan buat oleh-oleh.. Adikku David dan istrinya Nana selalu mengajak ku ke Toko Sari Rasa di jalan Ahmad Dahlan Nomor 31B Samarinda..  Toko Sari Rasa ini bukan hanya menjual kuku macan tapi juga memproduksi sendiri kuku macan yang mereka jual.. Kok tahu? Karena adikku Davi berteman baik dengan pemilik Sari Rasa, David juga namanya.  Bahkan adikku David adalah kontraktor yang membangun ruko panjang yang berfungsi sebagai toko, pabrik sekaligus rumah buat pak David pemilik Sari Rasa.

Kenapa adikku David dan Nana selalu membawa keluarga dan kenalannya buat membeli amplang di sana…? Karena amplang Sari Rasa tidak menggunakan zat pengawet dan adiktif lainnya…  Kok tahu…? Karena Ajere putri bungsu adikku, tidak bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung zat pengawet dan zat adiktif seperti mono sodium glutamat (msg).  Mengkonsumsi zat-zat tersebut akan membuat Ajere mengalami radang tenggorokan..  Tapi ternyata Ajere bisa mengkonsumsi kuku macam produksi Sai Rasa, sementara kuku macan dari beberapa tempat penjualan yang berjejer di sepanjang tepian Sungai Mahakam, Ajere tidak bisa..

Naah saat ke Toko Sari Rasa tanggal 03 Desember 2011 yang lalu (ha,nya beberapa jam sebelum aku menikah… :D ), aku  ditawarkan oleh pemiliknya untuk melihat proses produksi kuku macan.  Alhamdulillah prosesnya bersih… Aku bahkan sempat membuat beberapa foto proses pembuatan tersebut, serta telah meminta izin untuk membuat tulisan ini..

Here some pictures my friends..

mengulen, menggoreng, mendinginkan yang sudah matang lalu membungkus dalam kemasan...

Martabak Piring…

Aku dan Penjual Martabak Piring...

Martabak piring… Teman-teman dah pernah dengar, belum…?  Aku sebelumnya juga gak pernah dengar.. Aku siyy tahunya martabak mesir, martabak telor, martabak kubang, martabak bangka dan  martabak terang bulan…

Aku  mengenal makanan ini saat liburan lebaran lalu di Medan..  Adikku Ivo yang ngajak aku dan Nana, iparku, untuk mencoba menikmati makanan yang satu ini…

Apa siyy sebenarnya martabak piring..? What kind of food…??? Heehehehe..

Martabak piring bahan bakunya sama dengan martabak terang bulan atau martabak bangka.. Bedanya apa…?

Perbedaan pertama martabak terang bulan dan martabak bangka dimasak di pan martabak yang terbuat dari bahan kuningan tebal dan besar.., sedangkan martabak piring dimasak dengan menggunakan piring kaleng yang biasa digunakan di rumah-rumah zaman bahuela sebagai wadah..

martabak dimasak dengan piring sebagai wadah memasak..

Pebedaan kedua, adonan martabak terang bulan dan martabak bangka tebal, sedangkan martabak piring tipis, sehingga hasilnya lebih menyerupai crepes..

Aneka rasa...

Soal isi…, sama seperti martabak bangka dan terang bulan.., ada beberapa pilihan.. Ada isi coklat, kacang, keju, dan coklat kacang,…  Teman-teman tinggal pilih sesuai selera… Tapi beneran rasanya maknyussszzzz…  Klo gak percaya lihat gimana ekspresi Nana saat menikmati martabak piring… hehehe…

Makkknyyyuuussszzzzz.....

Dimana kalian bisa menemukan martabak ini…??? Di Medan, di pertigaan jalan Selat Panjang dan jalan Bogor… Silahkan dicoba kalau teman-teman ke Medan ya… ***

Breakfast with India Cuisine at Warung Sun

Di salah satu pagi selama liburan di Medan, adik ipar ku Nana yang hobby-nya wiskul alias wisata kuliner mengajak aku berburu sarapan di Jalan Darat, salah satu lokasi sarapan d i Medan yang direkom salah satu website yang disusurinya…  Aku pun menjalankan mobil kami menyusuri jalan S. Parman dari arah Cambride Mall… Tapi ternyata aku telat belok kanannya… uhehehehe…  Dari pada mutar gak tentu arah, aku lalu mengarahkan mobil ke jalan Sudirman dan belok ke daerah Kampung Keling, Jalan Cik Di Tiro..  Maksudnya sarapan di Warung Kak Lin, penjual lontong Medan yang top markotop itu aja…  Tapi apa daya ternyata Warung Kak Lin masih tutup dalam rangkaian libur lebaran..

Warung "pinkie" SUN

Kami lalu melanjutkan perjalanan menyusuri jalan Cik Di Tiro…, di sisi kanan jalan kami melihat sebuah warung sederhana berwarna pink, genit… di etalase yang menghadap jalan terdapat tulisan “SUN”, dibawahnya “martabak telor, martabak mesir, roti jala, roti cane, kari kambing, kari ayam”.  Mama ku alias Enek yang duduk di jok depan, menyarankan kami untuk mencoba warung yang sepertinya menyediakan India Cuisine itu…

Aku lalu menepikan mobil dan para penumpang pun turun…

Kami lalu menanyakadetil makanan yang ditawarkan.. Setelah berpikir dan menimbang.., kami memesan 2 porsi martabak telor.. Dan untuk anak2 yang senang mie, kami memesan 1 porsi mie goreng…

Ternyata oh ternyata, martabaknya uenaakkk…, rasanya cukup spicy.. gak kalah dengan martabak Gafa kegemaran Enek yang di jual di parkiran Pasar Buah Brastagi di Jalan Gatot Subroto.. Mie gorengnya….? Hmmmm, gak terlalu istimewa.. STD laahh yaaa…

Sayang warung ini tidak menyediakan Nasi Briyani, india cuisine favorite ku..  Kata pemilik warung, kalau mau makan Nasi Briyani, beli di restaurant Cahaya yang lokasinya di depan Warung Sun.. Kapan-kapan nyoba ahh…

Tapi kalau teman2 pengen mencoba martabak, sambil sarapandengan santai di warung sederhana di Kamung Keling, Warun Sun bisa jadi alternatif…  Silahkan dicoba yaaa…***

Putu Mayong……

“Mayyyoooonngggg…… Putu mayyyoooonnnggggggggggggg……………” “Maayyyyoooonnnngggg…..  Putu mayyyyoooonnnnggggggg…………….”  Adalah larik-larik teriakan yang acap ku dengar saat aku masih sangat belia…, di usia ku sekitar 5 sampai dengan 10 tahun…  Suara siapa, dimana, maksudnya apa…?

Penjual Putu Mayong...

Teriakan itu adalah teriakan perempuan keturunan Tamil (salah satu suku India, yang banyak di Medan) yang menjual kue putu mayong (= putu mayang), yang biasanya berdagang keliling di daerah pemukiman di kawasan Medan Baru, daerah rumah Nenek, tempat aku melewati sebagian masa kecilku…

Biasanya perempuan keturunan Tamil India itu membawa dagangannya yang diletakkan dalam tampah atau nyiru yang dilapisi lembaran-lembaran daun pisang… Saat jualan keliling daerah perumahan, tampah atau nyiru itu biasanya dijunjung di kepala… Adapun stok panganan yang mau dijual plus pelengkapnya dibawa dalam keranjan plastik yang dijinjing…

Apa itu putu mayong …? Putu mayong adalah jajanan khas masyarakat keturunan India di Medan, berupa kue dari tepung beras yang diolah sedemikian rupa dan dikukus sehingga bentuknya seperti segumpalan bihun..  Bedanya dengan putu mayang yang sering kita temukan di daerah lain di Sumatera, Jawa dan Kalimantan, putu mayong warnanya putih, dan tidak dihidangkan dengan kinca alias cairan santan yang dicampur gula aren..

Terus dihidangkan dengan apa…?  Putu mayang yang rasanya tawar itu biasanya dihidangkan bersama cenil dan gula aren yang dicairkan… Apa itu cenil…? Cenil adalah hasil olahan singkong yang diberi pewarna makanan sehingga berwarna pink..  Biasanya cenil dihidangkan dengan baluran kelapa parut…  Putu mayong dan cenil yang diberi cairan gula aren biasanya dihidangkan dengan wadah daun yang dibuat seperti pincuk…  Rasanya….? Uenaaaak…. Hehehehe…

Biasanya selain jual putu mayong, si penjual juga menyediakan lupis dan serabi..  Khusus serabi biasanya dihidangkan dengan kinca yang kental…

membungkuskan lupis dan serabi...

Pada saat ini putu mayong dan pedagangnya sudah tidak mudah untuk ditemui…  Bahkan dalam kunjunganku yang beberapa kali setahun ke Medan aku tak pernah melihatnya, apa lagi mendengar teriakan merdu “Mayoooonnnngggggg…………… Putu Mayooooooooooooooonnngggg……….”.  Terus terang aku rindu… Aku telah merasakan aneka ragam makanan yang jauh lebih bervariasi dalam rasa dan tampilan, tapi putu mayong dan cenil tetap menghuni lubuk hati ku…  Keduanya mampu membawa kenangan akan episode masa kecil yang bahagia di rumah Nenek di Medan Baru…

Naaahhhh…., pas hari lebaran, 31 Agustus 2011, aku maik motor dengan adik ku Ivo untuk suatu keperluan…   Gak jauh dari rumah, di traffic light di sekitar jalan Sei Wampu, kami melihat seorang perempuan Tamil melintas dengan menjunjung tampah dan membawa keranjang plastik di salah satu tangannya.., tapi tanpa suara…, tanpa teriakan apa pun..   Aku lalu menyapa…, menanyakan apa yang dia jajakan…  Dia bilang, “putu mayong”..  Aku lagsung meminta dia mencari tempat untuk berhenti dan membuka dagangannya.., sementara aku menepikan motor yang kami kendarai… Hehehehe… Sungguh hadiah lebaran yang istimewa… : Putu mayong dan cenil di hari lebaran…

Aku sempat bertanya, apa kah beliau sering lewat di jalan depan rumah tempat Paapa dan Mama ku tinggal…? Ternyata memang tidak, karena daerah itu memang tidak terlalu ramai.. Sudah banyak rumah yang jadi kantor, atau menjadi bagian dari gedung-gedung besar yang menghadap jalan Iskandar Muda..  Adapun rumah-rumah yang ada, lebih banyak berpagar tinggi, yang penghuninya pun tak pernah tampak batang hidungnya…, apa lagi mau jajan di depan rumah… Hmmmmm…, seperti kalau aku lain kaliingin makan cenil, aku harus mutar-mutar di sekitar Medan Baru yang masih berfungsi sebagai pemukiman yang ramah….. ****

all pics in this post were captured by my beloved sister, Ivo  Siregar..

Last Day of Reunion Travelling

rame2 @ Iko Gantinyo...

Hari Minggu, 03.04.2011 adalah hari terakhir jalan  bareng di Sumatera Barat sama teman2 zaman kuliah S1…  Hari ini kami habiskan di Padang…Kami sudah masuk kota Padang malam sebelumnya, dan menginap di Hotel Sriwijaya.. Bahkan  sebelum tidur kami sempat keliling kota melihat sisa2 gedung yang runtuh akibat gempa bulan Oktober 2009..

Kemana aja di Padang….?

Setelah sarapan di hotel, kami pergi nyari oleh2 khas Padang.. Apa lagi kalau bukan sejuta jenis keripik.. hehehe..  Beberapa teman merekomendasikan toko “Christine Hakim”, teman yang lain merekomendasikan toko “Shirley”..  Tapi karena pengemudi mobil paling depan membawa ke Christine Hakim, ya di sanalah kami belanja…  Keluar dari sana semua membawa kardus dengan isi berbagai macam keripik… hehehehe..

es durian "Iko Gantinyo"

Selanjutnya kami ke…., Iko Gantinyo, sebuah resto di Jl. Pulau Karam, dimana kita bisa menikmati es durian yang terkenal maknyus di Padang…  Daaaannn.., memang rasanya maknyus banget.. Klo enggak takut dengan dampak durian, bisa2 pengen gelas kedua… hahahaha…

By the way kenapa nama restonya “Iko Gantinyo” yaa…? Iko Gantinyo itu bahasa Minang yang berarti “Ini Gantinya”… Kalau resto ini adalah resto pengganti, resto yang asli mana yaa…? Bagaimana rasanya..? Apakah lebih maknyusssssszzzz? Hmmmmm…  Wondering…

Puas menikmati es durian, kami dibawa ke jembatan Siti Nurbaya…  Apa hubungannya ya antara jembatan ini dengan novel karangan Marah Rusli yang berjudul dan dengan nama tokoh utama yang sama…?  Apa yang membangun jembatan ini Datuk Maringgih sebagai wujud cinta pada Siti Nurbaya, sebagaimana Syah Jehan membangun Taj Mahal bagi sang permaisuri yang dia cintai…? Hehehehe…

@ jembatan Siti Nurbaya...

Pemandangan dari jembatan kebanggan masyarakat Padang ini di satu sisi sungai adalah pemukiman yang berbukit-bukit…  Kalau rumah2 yang ada di bukit2 itu dicat warna putih, pemandangannya bisa menyaingi pemandangan di Laut Tengah yang  jadi lokasi film-film Korea yang diputar di TV beberapa tahun yang lalu.. :) .

old building @ d river bank..

Di sisi lain dari sungai, terdapat bangunan tua yang besar.. Sepertinya peninggalan dari zaman bahuela.. Seandainya bangunan  itu dijadikan museum atau bagunan fungsional lainnya yang dapat dinikmati public, termasuk wisatawan…, tentu akan lebih bermanfaat dan terawat…  Apalagi kalau lingkungan tepi sungainya ditata dan  sungainya juga dibersihkan… Pasti keren banget…

pantai Caroline...

Dari jembatan Siti Nurbaya kami menuju kawasan Pantai… Mulanya kami ke Pantai Caroline, lalu dilanjutkan ke Pantai Air Manis, yang punya Hikayat Malin Kundang, si anak durhaka..  Sayang kami gak sempat main air atau berlama-lama… Waktu sangat terbatas..

Batu Malin Kundang di Pantai Air Manis...

Dari kawasan pantai kami pergi ke rumah sahabat Veny sejak belia, Essi, yang mengundang kami untuk makan di rumahnya di kawasan Indarung..  Setelah makan siang dan sempat ngobrol2, kami bergerak menuju bandara.. Tapi sebelumnya kami sempat menikmati pemandangan indah ke arah laut dari kawasan Indarung menjelang senja…

pabrik semen Indarung dengan Samudera Indonesia di latar belakang..

Jam 19-an, Veny, Linda, Idien, Ati dan Aries kembali ke Jakarta…  Sementara aku, Gufron dan Nana melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi.  Gufron dan Nana akan stay di sana untuk beberapa waktu, sementara aku melanjutkan perjalanan pulang ke Pekanbaru.. Yulisman dan keluarga kembali ke Kinali di Pasaman Barat, sedangkan Vampire kembali ke Batu Sangkar..

team reunion travelling bersama Yulisman & keluarga @ Pantai Air Manis..

Usai sudah perjalanan bersama teman-teman lama.. Perjalanan yang sangat indah.. Terima kasih ya teman2.. Semoga menguatkan ikatan persahabatan di antara kami…  Gak sabar nunggu perjalanan bersama berikutnya…

Buat Yulisman dan Mawar terima kasih ya sudah menjadi tuan rumah buat kami… Semoga Alloh senantiasa melindungi, memberikan kebahagiaan bagi keluarga kalian yaaa… ***

Reunion Travelling 3rd Day : Around Bukittinggi..

Ke Bukittinggi…..???? Yesssss…. !! Kota dengan icon Jam Gadang ini merupakan salah satu kota yang aku senangi buat jalan2… Kenapa? Karena udaranya sejuk dan nyaman, banyak tempat yang bisa dikunjungi sambil berjalan kaki, juga banyak makanan enak… Hahahaha…

Icon Kota Bukittingi, Jam Gadang

Ya…, Sabtu pagi 02 April 2011 aku terbangun di sebuah hotel di Bukittinggi, dengan Linda dan Veny di 2 buah tempat tidur twins di kanan tempat tidurku…  Ahhh rasanya seperti kembali ke zaman di Bogor… :) .  Btw Ati dan Idien dimana…? Mereka di kamar lain, secara kalau  sekamar berlima, bisa2 gak tidur2…. hehehehe…

Setelah beres dan sarapan kami segera memulai perjalanan di hari ketiga..  Kemana…?

Pertama2 kami ke Ngarai Sianok…  Buat beberapa teman, ini kali pertama mereka ke Bukittinggi… Jadi gak sah kalau enggak melihat Ngarai Sianok..

@ Ngarai Sianok...

Buat aku…, hhhmmm  sudah tak ingat berapa kali sudah ke Ngarai ini…  Tapi ada kunjungan yang sangat mengesankan.. Yaitu ketika ke Ngarai Sianok dengan Vita, sahabatku di pertengahan tahun 1996.. Kenapa mengesankan…? Karenaaaaa, kami turun ke arah Ngarai, lalu menyusuri jembatan gantung tua yang menghubungkan kota Bukittingi dan desa Koto Gadang..  Jembatan itu posisinya persis di atas Ngarai.. So, kalau tidak waspada, alamat bye bye love…, jatuh ke jurang yang dalamnya beberapa puluh meter…   Lalu, diujung jembatan, bukan langsung Koto Gadang, tapi kita terlebih dahulu harus menyusuri tangga yang rasanya gak habis2… hehehehe…

Koto Gadang adalah kampung yang menarik untuk dikunjungi…, karena dari kampung ini berasal banyak pribadi-pribadi intelek yang kiprahnya sampai di tingkat nasional.., semisal H. Agus Salim, Sutan Syahrir, Rohanna Kudus, Emil Salim, dll.  Selain itu, di kampung ini terdapat banyak pengrajin perak yang berkarya langsung di rumah-rumah mereka… dan kita bisa mengunjungi dari rumah ke rumah yang memang dibuka untuk pengunjung…

Btw, lucu juga yaaa.., Koto Gadang di Sumatera Barat, Kota Gede di Yogyakarta, arti nama keduanya sama,  sama2 menjadi sentra kerajinan perak.. Ada teman2 yang tahu kaitan keduanya…??

Back to now… Begitu masuk ke taman tempat kita bisa memandang Ngarai Sianok, kami langsung menuju Japanesse  Tunnel alias lorong Jepang…  Ini adalah kali pertama buat aku… Biar entah sudah berapa kali ke Ngarai Sianok, aku gak pernah mau turun ke situ.. Sereeeemmmmm….  Tapi karena kali ini ramai2 dengan teman2, aku pun memutuskan untuk turun ke sana…

di depan lorong Jepang..

Lubang ini dibangun Jepang pada masa kekuasaannya di Indonesia tahun 1942 – 1945.  Tidak ada penduduk Kota Bukittinggi pada waktu itu yang mengetahuinya.. Yang jadi pertanyaan…? Kemana dibuang tanah2 hasil galiannya…? Siapa yang dipekerjakan di situ…?  Apakah petani2 di sekitar Ngarai Sianok yang pada periode tersebut sering kali lenyap tak berbekas…? Apa tujuan pembangunan lorong itu…? Apakah untuk mengintai Koto Gadang yang berada persis di seberangnya…?

Untuk mencapai pintu lubang  ini, kita harus menuruni sekian anak tangga, dan selanjutnya untuk masuk ke lubang  ini kita akan menuruni 132 anak tangga lagi yang cukup curam… Hitungan ini kami lakukan saat kami akan meninggalkan lorong atas dorongan guide yang menemani ..  Lubang ini bentuknya seperti tapal kuda…  Melengkung di atas dan datar di bagian lantainya..  Menurut guide, lantai ini sebenarnya telah diperdalam oleh Pemerintah Indonesia dalam rangka pengembangan obyek wisata.  Tinggi yang sebenarnya lebih pendek, karena tentara Jepang saat itu pendek2…

in front of jail in d tunnel..

Di dalamnya, lubang  ini bercabang2… Sangat disarankan agar turun ke lorong ini dengan didampingi oleh guide yang sudah sangat paham dengan seluk beluk lubang yang bercabang2  ini, agar tidak tersesat… Amit2 deehhhh….  Dari yang kami susuri, di lubang ini terdapat antara lain ruang amunisi penjara, dapur, ruang pengintai, dan tempat pembuangan mayat… Astagfirullah aladzim…  Satu hal yang dipertanyakan teman2, ke guide…, dimana toiletnya…? Kemana berpuluh2 orang yang tinggal dalam waktu cukup lama di lorong2 ini buang hajat…? Karena lubang ini begitu tertutup.., kalau pun terbuka, bukaannya berada di tebing…

Puas dan capek menyusuri lubang Jepang dan cabang2nya… Kami kembali ke taman di atas dan menikmati pemandangan Ngarai Sianok dari sudut2 yang berbeda…

Lembah Harau...

Selesai dari Ngarai Sianok, Gufron yang menyetir mobil, membawanya ke Payakumbuh, sebuah kota sekitar 45 km dari Bukittinggi.. Mau kemana? Ke Lembah Harau.., sebuah lembah yang terbentuk dari  patahan  dengan  tebing yang tinggi dan rata, yang menantang buat para wall climber..

Dari Lembah Harau, kami bergegas kembali ke Bukittingi… Paruik lah litak banaaa… (bahasa Minang : perut udah lapar banget…). Sempat siyy singgah di tempat jual pangan khas Payakumbuh..   Iya, kita memang menahan diri untuk tidak makan yang macam2 sebelum makan siang.. Karena kita pengen makan Nasi Kapau di Pasar Atas Bukittinggi…

Nasi kapau…? Apa itu…?

Nasi Kapau adalah nasi rames ala nagari Kapau.. Dihidangkan dengan berbagai aneka macam lauk pauk yang bisa kita pilih.  Ada gulai tambusu, yaitu usus sapi yng diisi telur dan tahu, gulai kikil, babat dan jeroan lainnya, juga ada gulai ikan, gulai dan goreng ayam.. Pokoknya beraneka deehh..  Dihidangkan lengkap dengan gulai cubadak (nangka muda) yang dicampur kacang panjang,  kol dan jariang alias jengkol… Huhuhu…, kalo yang terakhir ini ampun deehhh, aku gak makan… :)

si uni berdagang nasi kapau...

Nah di Pasar Atas Bukittinggi, ada suatu area yang memang disediakan untuk para penjual Nasi Kapau, yang semuanya perempuan alias uni (kakak)..  Yang uniknya, karena tempat lauknya besar2 dan jumlahnya banyak, waktu mengambil lauk pauk, para uni ini menggunakan sendok yang khas, yaitu dengan tangkai yang panjang  (sinduak panjang, dalam bahasa Minang).  Ke sanalah kami pergi untuk makan siang…

Jangan tanya betapa bersemangatnya kami… Biarpun selera asal kami sangat beragam..  Bahkan Neng Idien yang berdarah Banten pun makan dengan semangat…  Hehehehehe…

@ Pasar Atas...

Penjual Pisang Kapik...

Usai makan dan perut kenyang, kami melanjutkan dengan membeli oleh2 khas Sumatera Barat.. : kerupuk kulit mentah, ikan kering, baluik (belut) kering, dan juga mukena serta kerudung dengan sulaman tangan khas Bukittinggi.. Gak lupa juga kami membeli pisang kapik (pisang jepit), yaitu pisang batu dipanggang lalu dijepit pakai dua bilah papan sehingga gepeng.., lalu dihidangkan dengan kelapa yg sudah dimasak dengan gula aren.. Yang paling doyan dengan makanan ini, tentu saja Veny Sang Penggemar Pisang.. Hehehehe..

Lalu kemana lagi… Rencananya kami akan ke Padang Panjang untuk menikmati Sate Mak Syukur, lalu dilanjutkan ke Padang… Tapi ternyata Gufron yang nyetir mobil kami berkenan memberikan bonus… Bonus apa…? Just wait d next post… Hehehehe… :) ***

Reunion Travelling 2nd Day : Pantai Sasak

Pantai Sasak, Pasaman Barat...

Jum’at pagi, 01 April 2011, setelah selesai beberes,  dengan 2 mobil rombongan kami dibawa oleh Tuan dan Nyonya rumah ke… Pantai Sasak…  Dimana itu…?

Pantai Sasak itu berada di Kabupaten Pasaman Barat, berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia…

Kalau dilihat dari pantainya, pantai ini gak jauh berbeda dengan pantai-pantai lainnya yang udah aku kunjungi…  Karena posisinya menghadap ke barat, mungkin sunset di pantai ini indah sekali…   Tapi kami tidak bisa menyaksikannya karena kami berkunjung ke sana sekitar jam 10 sampai saatnya makan siang…

Lalu apa istimewanya pantai ini….? Kulinernya….

L - R : Yulisman, Veny, Linda, Ati, Aries, Sondha, Idien, Nana dan Gufron

Setelah sempat berfoto dengan formasi nyaris lengkap (hanya Vampire yang gak ada), kami digiring (sapi kaleeeee….. hehehe :) ) ke rumah makan Cahaya.. Rumah makan yang unik karena tempat makannya adalah kapal yang diangkat ke darat… Unik yaaaa…….

Rumah Makan Cahaya di Pantai Sasak...

Kuliner istimewa apa yang disediakan di rumah makan ini…? Ikan tenggiri bakar, udang, keripik kambang dan lain-lain..

Ikan Tenggiri Bakar

Ikan tenggiri sebelum dibakar dibumbui dengan kunyit dan bumbu-bumbu lain, sehingga warnanya menjadi kuning…  Rasanya maknyuuussss.  Aku aja sampai ngejilatin jari jemari tangan kananku untuk menikmati sisa-sisa bumbu yang nempel di sana.. Hehehehe…  Gak mau rugi…

Keripik Kambang... 2 thumbs up...

Lalu bagaimana dengan keripik kambang…?

Hmmm aku awalnya mengira klo keripik kambang itu adalah kue kembang goyang.., yaitu kue tradisional yang terbuat dari adonan tepung beras diberi gula dan setelah cetakan yang berbentuk bunga dicelupkan di adonan, dan kemudian cetakan yang bertangkai itu dicelupkan di minyak panas…  Ternyata oh ternyata, keripik kambang itu rasanya tidak manis, melainkan gurih, karena diberi bumbu dan memakai ikan-ikan kecil dalam adonan tepung berasnya…

Secara keseluruhan, makanan di rumah makan Cahaya itu memang luar biasa, selain karena bumbunya yang manstap banget, juga karena bahannya yang segar…., langsung dari laut…  Enggak nyesel meski jarak yang ditempuh  cukup jauh…  Coba hitung, Pekanbaru – Padang 6 jam, Padang – Kinali (rumah Yulisman), 2 jam, Kinali – Pantai Sasak 30 menit.. Total 8,5 jam… Jauh banget kan… ???? :) :) :) ***

Ngobrol @ Dijan’s

Dijan’s… Apa itu…?

@ Dijan's pannekoeken & poffertjes, Kemang.. L - R : Ati Lubis, Sondha Siregar & Linda Ramalah Omar

Dijan’s atau lengkapnya Dijan’s pannekoeken & poffertjes adalah nama sebuah cafe yang berlokasi di Jl. Kemang Selatan, Jakarta..

Ceritanya setelah kelar dari Cafe Zamrud, aku, Linda, Veny & Ati pengen nyari tempat duduk2 santai buat ngobrol.. Setelah bingung dan bingung, Linda menyarankan untuk ke Dijan’s…

Tapi karena malam minggu, hujan pula.. Tidak mudah bagi kami untuk mencapai daerah Kemang Selatan.. Mana kami sempat jalan2 dulu ke Tebet dan Kebayoran Baru, sambil ngobrol di mobil… Hebat bukan, 4 emak2 keliaran malam minggu.. Hehehehe…

seperti rumah kost di Jl. Pangrango 16 Bogor... L - R : Linda Ramalah Omar, Veny Angrijani, Ati Lubis & Sondha Siregar

Begitu sampai di parkiran Dijan’s aku langsung tersepona eh terpesona.. Why…? Karena arsitektur bangunan yang digunakan untuk Dijan’s persis seperti rumah tempat kost aku dan Linda saat kuliah di Bogor.. Rumah di Jl. Pangrango 16 yang sekarang dijadikan Met Liefde Caffee… Bedanya lahan Dijan’s berkontur dan bangunannya berlokasi di bagian yang tinggi di sebelah dalam lahan, sementara rumah di Pangrango 16 berlahan relatif datar di bagian depan, berkontur justru di bagian belakang yang merupakan service area..

Dijan's poffertjes...

Dijan’s menawarkan Holland Cuisine…, antara lain sebagimana yang tercantum di nama caffeenya, pannekoeken & poffertjes.  Interior dan perangkat hidangnya juga Holland bangetzzz… Di salah satu pojok ruangan terdapat lemari pajang yang berisi koleksi miniatur windmill.. Lucu2…

Suasananya nyaman bangetzz buat ngobrol… Karena sebenarnya udah kenyang setelah menikmati Arabian Cuisine di Cafe Zamrud, kami hanya memesan 3 teh anget, 1 lemon tea anget, plus seporsi biterballen dan poffertjes untuk teman ngobrol…

ngobrol @ Dijan's.. L - R : Veny, Linda, Ati & Sondha...

Kami lalu ngobrol ke sana ke mari… Berputar2 antara masa kini dan masa lalu di Bogor… Bercerita tentang teman2… Rasanya nyaman sekali berkumpul dengan teman2 yang 3 ini.. Sebagaimana Ati bilang, “Ngobrolnya enak, santai, apa adanya.. Sementara dengan teman2 lama dari suatu kelompok lain rasanya melelahkan karena ada yang snob, ada yang ngomong seenak perut tanpa mikirin perasaan orang lain…” Hehehe..  Ya iya lah.. Kami telah berteman lama sekali, lebih dari 20 tahun.. Kami sudah tahu pasang surut kehidupan masing-masing, dan gak perlu lagi bergengsi-gengsi yang gak perlu… We are friends for each other.. Persahabatan yang langka di hari gini, yang perlu dipertahankan sampai tua…

bersahabat... semoga sampai tua yaaa...

Kembali ke Dijan’s…

Dijan's biterballen

Biterballen-nya enak… Rasanya mirip banget dengan biterballen di Resto Puncak Pass yang terkenal itu… Poffertjes-nya juga enak.. Jadi ingat beberapa tahun yang lalu di Pondok Indah Mall ada caffee yang juga jual masakan jadul termasuk poffertjes.., tapi kayaknya sekarang udah gak ada lagi…

Belum puas ngobrol, tapi karena udah lewat jam 11 malam (kami takut jam keburu berdentang sehingga kereta kencana kami menjadi labu.. hehehehe..) Kami pun pulang.., secara kami semua sudah sangat lelah setelah beraktivitas sejak pagi… Lagi pula sebelum pulang ke rumahnya di daerah Tebet, Ati  mengantar aku dan Veny ke daerah Fatmawati, Linda ke Kampung Rambutan.. Kasian dia klo pulang terlalu larut…, terlalu riskan…***

Cafe Zamrud..

Sabtu 19 Februari 2011 sore, aku, Veny, Ati & Mas, ngejemput Linda di kompleks pertokoan Jakarta Theater… Veny, Ati dan Linda yang teman main sejak zaman di Bogor…?  He’ehhh…

Ceritanya aku ada kerjaan hari Senin 21 Februari 2011 di Jkt dan Selasa 22 Februari di Bandung.. Seperti biasa, para teman dan temin ku langsung deehh menga’arrange agar kita bisa ketemu bareng, menikmati happy hours bersama seperti waktu di Bogor 20 tahun yang lalu…  So, aku berangkat lebih awal dari jadwal seharusnya.. Aku berangkat di wiken…

Begitu kumpul, ngblek di mobil Ati, mulai deh ribut membahas mau kemana… hehehe.. Bukannya dari tadi yakkk, sebelum ketemuan… Setelah sempat bingung, dan memarkirkan mobil di tepi jalan di daerah Menteng buat diskusi, akhirnya kita mengikuti saran Linda..

Emang Linda nyaranin apa…?

Cafe Zamrud...

Secara dan telah terbukti sah kalo kita berempat tuh senang dengan Arabian Cuisine, seperti waktu kita tahun lalu jalan bareng di Sing…, Linda ngajak kita ke Cafe Zamrud.. Sebuah cafe kecil di jalan kecil di daerah Jatinegara yang nyediain Arabian Cuisine…

Sumpppeeee, ini pertama kalinya aku sampai ke daerah ini..  Dimana siyyy emangnya…? Di Jalan Mesjid II RT 005/04 No 10. Kelurahan Rawabunga Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.. Supaya gak nyasar, kalo lain kali mo ke sini mesti pake Peta Jakarta buatan Gunther W. Holtorf kali yaaa… Soalnya melewati  1000 belokan ke kiri dan 1000 belokan ke kanan… Hehehehe… Lebayyyyabizzz.com…

Sampai di Jl. Mesjid II, di sebelah kanan jalan yang one way ini, Linda menunjukkan kami sebuah bangunan ruko 2 lantai dengan sign di depannya bertulis “Cafe Zamrud”..

Kami lalu melangkahkan kaki memasuki cafe yang sederhana ini.. Jauh dari hingar bingar musik apalagi kerlap kerlip lampu seperti Hard Rock Cafe.. Jauh bangetzzzzz..  Begitu kami duduk, seorang pelayan menyerahkan pada kami daftar menu yang sederhana, beberapa lembar karton pink yang dilaminating dengan tulisan yang diketik pakai pc…

@ Cafe Zamrud.. L - R : Ati Lubis, Veny Angrijani, Sondha Siregar & Linda Ramalah Omar

Tapi menu yang disediakan di cafe itu, bukan sembarangan menu.., melainkan menu2 penggoda iman.. Hehehehe… Bagaimana tidak…, yang ditawarkan antara lain :

1. Nasi Goreng Bombay dengan berbagai varian, yaitu dengan daging kambing, daging ayam, daging sapi atau seafood.

2.  Nasi Goreng Pataya (nasinya dibungkus telur dadar) dengan berbagai varian..

3.  Roti Canai juga dengar berbagai varian…

4.  Martabak dengan berbagai varian…

5. Gulai kambing

6.  Aneka minuman hangat antara lain teh tarik, kopi2an serta teh2an..

7.  Aneka juice.. dan lain-lain…

Setelah berunding dan berunding, kami memutuskan untuk memesan beberapa makanan untuk dinikmati bersama2… Jadi semua bisa merasakan makanan yang dipesan dan tidak ada yang kekenyangan…

Lalu apa yang kami pesan…?  Kami memesan Nasi Goreng Bombay Seafood, Martabak Ayam, Canai dengan Kari Ayam, Canai Pisang Keju sebagai dessert.  Minumannya, Ati, Mas & Veny memesan teh tarik angat, Linda memesan teh tarik + es, sedangkan aku memesan juice strawberry…

membuat canai...

Sementara menunggu pesanan, aku sempat melongok ke dapur dan berbicara dengan ibu dan bapak pemilik cafe yang sekaligus jadi juru masak di cafe ini..  Sambil masak mereka bercerita bahwa cafe ini baru berusia 2 tahun.. Sebelumnya mereka jualan dengan gerobak di depan mesjid yang ada di jalan itu…

Lalu apa yang kami peroleh…?

nasi goreng Bombay seafood...

Nasi Goreng Bombay Seafood-nya enak banget.. Bumbu kari terutama berupa sauce yang diletakkan di bagian atas tumpukan udang dan cumi yang dicampur cabe ijo besar rasanya top markotop….

martabak isi daging ayam

Martabak isi daging Ayam…? Rasanya juga enak banget… Jarang kan ada orang jual martabak dengan isi daging ayam..  Biasanya daging kambing atau daging sapi atau plus jamur… Tapi bumbunya emang luar biasa…

roti canai kosong, dimakan dengan kari ayam..

roti canai dengan isi pisang dan ditaburi keju... hmmmm.. maknyuusss...

Roti canai…? Canai dengan kuah kari ayam maupun pisang keju juga maknyuuussss… Roti canainya renyah… Mengingatkan pada roti prata di Al Jilani...  Beda memang dengan prata yang hampir tiap hari aku nikmati selama di UAE… yang di UAE lebih tebal, padat namun gurih… Yang ini lebih tipis tapi juga gurih…

teh tarik ala Cafe Zamrud, more spicy...

Teh tariknya…? Aku sebenarnya gak terlalu menyenangi teh tarik.. Gak doyan aja teh dicampur susu.. Buat aku teh, ya teh… Susu yang aku sukai cuma susu strawberry ala Susu Ultra yang sudah didinginkan atau pakai es…. Hehehe… Tapi Linda memaksa aku untuk mencicipi teh tarik ala cafe ini, sehingga aku mencicipinya juga, finally.. Ternyata oh ternyata teh tarik ala cafe ini rasanya lebih enak dari yang pernah diminum baik di Malaysia maupun teh tarik instant yang banyak dijual di toko2 di Pekanbaru.. Spice nya lebih terasa, jahe, cinnamon nya manstaapppp…. Bikin aku pengen mencicipi lain kali.. 4 thumbs up…

Oh ya, sebagai bahan masukan buat teman2.. Dengan pesanan sebanyak yang telah ku ceritakan, kami hanya kena tagihan kurang dari Rp.100.ooo,-.  Kalau gak salah sekitar Rp.80ribuan..  Hari geneeee, di Jakarta…?

Menurut Linda, cafe ini juga menerima orderan kalau ada acara.. Teman-teman bisa mengubungi pemiliknya di 08567760808 atau 087884864051..

Selamat berburu Cafe Zamrud yaa teman2…***

Mie Sagu

MIe sagu kedai kopi Liana

Temans, kalian pernah dengar “Mie Sagu”? Atau pernah menikmatinya…? Iya, mie dengan bahan baku sagu.. Memang mie ini khas daerah Selat Panjang, sebuah kota di daerah pesisir yang banyak menghasilkan sagu di Provinsi Riau.  Karena bahannya dari sagu, mie ini warnanya agak bening dan rasanya agak kenyal..

Aku mengenal mie sagu beberapa belas tahun yang lalu, ketika kakak ku mendapat oleh-oleh dari temannya yang bertugas ke sana. Zaman itu kalau kakak ku gak masak, ya aku gak bakalan nemu mie sagu. Tapi sekarang tidak lagi…, setahu ku ada 2 tempat di Pekanbaru yang menyediakan hidangan mie sagu, yaitu Pondok Mie Sagu di Jl. Cemara, dan Kedai Kopi Liana di Jl. Setia Budi (ujung), sudah dekat dengan pertigaan Jl. Dr. Sutomo.

Mie kuah udang...

Kedai Kopi Liana biasanya buka pagi, meyediakan makanan buat sarapan sampai brunch.  Kalau siang udah gak ada lagi.  Selain mie sagu, kedai kopi itu juga menyediakan mie rebus kuah udang dan mie rebus kuah kacang. Yang rasanya juga maknyussss…

Menurut yang aku dengar kedai kopi ini adalah tempat sarapan favorite seseorang yang pernah menjadi orang nomor 2 di Riau, kebetulan asal beliau dari Selat Panjang.  Agar beliau punya privacy saat berkunjung ke kedai kopi ini, sang pemilik kedai kopi menyediakan ruang makan tertutup yang berisikan satu set meja makan.  Kalau beliau sedang tidak berkunjung, orang lain boleh menggunakan ruangan ini.

Adapun Podok Mie Sagu jualan dari jam 10-an pagi sampai sore, jadi biasanya orang makan di situ brunch sampai sore.

Apa bedanya mie sagu yang dijual di Kedai Kopi Liana dengan Pondok Mue Sagu? Secara prinsip, gak ada beda..  Cuma beda tangan jadi beda takaran bumbu, beda rasa.. Mie sagu di Pondok Mie Sagu bumbunya terasa lebih ringan, sehingga perlu tambahan sambel botol bagi para pencinta masakan yang spicy.  Lalu mie sagu di Pondok Mie Sagu menambahkan ikan teri sebagai bahan tambahan, sedangkan di Liana menggunakan udang.

Sebenarnya kalo menurut aku, mie sagu buatan kakak ku lebih enak.., karena lebih spicy dengan cabe dan kecap manis yang pekat.  Sedangkan bahan tambahannya kakakku menambahkan kucai dan irisan bakso ikan dan bakso daging, selain bawang prei.   Huhuhuhu…, jadi ngileeerrrr………….

Teman-teman yang akan berkunjung ke Pekanbaru, ayo coba nikmati kuliner khas Riau yang satu ini…