Buka Bareng Keluarga Besar Bappeda Kota Pekanbaru..

Minggu lalu jeng Boge Peni, mantan teman se-kantor di Bappeda Kota Pekanbaru, bbm aku..

Teman lama sejak di Bappeda : L - R : Lily Kusumawardhani, Randra Aprileni, Sondha Siregar, Boge Peni Sunestri..

Boge : Kak Son, ikut buka puasa Bappeda?

Aku : Siapa yang ngadain? Kapan? Siapa aja yang ikut? Dimana rencananya?

Boge : Yang ngadain kita-kita kak.. Bukan acara resmi Bappeda.. Rencana hari Selasa 23 Agustus di hotel A, kak..  Ini Boge lagi mendata siapa aja yang mau ikutan..

Aku : Mau lah…  Berapa kita urunan?

Boge : Seratus kak…

Aku : Baik lahhh…

So, akhirnya hari Selasa 23 Agustus 2011aku menghadiri acara Buka Bersama dengan Teman-teman Bappeda Kota Pekanbaru di The Premiere Hotel..

Siapa aja yang hadir…?  Lumayan ramai, ada sekitar 50 orang..  Ada beberapa senior yang sudah purna karya, teman-teman yang sudah mutasi dari Bappeda, juga yang teman-teman masih berkarya di Bappeda.  Bahkan banyak juga teman-teman yang gak sempat ketemu saat aku  bertugas di Bappeda..  Tapi alhamdulillah suasananya akrab banget… Kalau teman-teman mau lihat foto-foto buka puasa ini, teman-teman bisa lihat di album foto di sini

Sebagian karyawan/wati serta para mantan karyawan/wati Bappeda Kota Pekanbaru

Ya, buat aku Bappeda Kota Pekanbaru memang tak kan terlupakan… Why oh why…?  Hehehe..  Bukan hanya karena kantor ini merupakan institusi tempat tugas pertama ku sebagai Pegawai Negeri Sipil, tapi karena saat aku kerja di sana, para senior nya membina para junior dengan baik, bahkan mengayomi.., seperti yang pernah aku ceritakan di postingan yang ini dan ini….   Jadi meski telah 3 tahun 6 bulan pindah ke instansi lain, rasanya sebagian  hati tetap tinggal di Bappeda Kota Pekanbaru…

Mudah-mudahan silaturahmi yang kembali dirajut ini bisa tetap terjaga yaa….

Ok.. Sekarang waktunya ngebahas makanannya… :D

Sebenarnya kami ingin buka puasanya di Resto Hotel Premiere..  Karena ada teman yang merekom menu buffet buka puasanya banyak pilihan dan uenak-uenak…  Aku siyy baru sempat ngerasain maksi di sini, yang rasanya lumayan siyyy menurut aku..  Tapi karena bagian resto yang paling nyaman buat di-block sudah direserve duluan oleh sebuah big company, terpaksa untuk kami dibuatkan di sebuah ruangan di lantai 3 hotel tersebut…  Nah karena enggak di Resto, kami tidak bisa menikmati buffet yang katanya seru itu… Jadi buat kami disediakan makanan dengan paket menu yang dipilih oleh panitia kagetan.. Hahaha.. Tapi jumlah, jenis dan rasanya juga lumayan..  Not bad laahhh…  Apalagi buat kami di ruangan yang sama disediakan space buat sholat, sehingga bisa sholat berjamaah… Alhamdulillah…

Serunya buka puasa bareng… ***

 

2010 : Work Hard, Travel Hard & Play Hard (Part 3 – Final)

@ Bandara Ngura Rai, June 2010

Minggu ke-4 bulan Juni aku ditugaskan untuk ikut mendampingi Tim Kesenian Riau yang tampil di Pesta  Kesenian Bali.. Seperti biasa, di sela2 pekerjaan aku menyempatkan diri untuk, menikmati perjalanan…  Pagi2 sebelum beraktivitas aku menyempatkan jalan kaki menyusuri Legian sampai ke pantai Kuta…, pulang pergi.. Seru juga melihat toko2 dgn barang2 yang cantik dari balik etalase, meski toko masih tutup..,  kafe yang lagi beberes setelah buka semalaman..,  panta Kutai yang masih sepi dan relatif hening…

Setelah usai mendampingi Tim Kesenian tampil, keesokan harinya kami mendapat kesempatan buat jalan2 di Bali bagian Selatan… Hmm, lumayan heboh.. Apalagi “kenekatan” ku untuk melayang dengan parasailing membuat beberapa teman lain yang tadinya mikir sejuta kali, jadi berani untuk melayang juga…

Pulang dari Bali, aku kembali ke rutinitas pekerjaan..  Di minggu ke2 Juli aku kembali ada kerjaan yang  mengharuskan aku stay di RedTop Pecenongan selama 5 hari..  As usual, main tetap diusahakan… Aku berangkat hari minggu pagi, sehari sebelum rapat..   Dijemput sahabatku Ati di bandara Soeta jam 09 pagi, kami main2 di Bogor seharian… Dan sebelum ke bandra untuk terbang ke Pekanbaru, aku bersama Ati & Linda  wiskul dulu di Pasar Modern BSD…

Lunch with old friends...

Pulang dari ngurus kerjaan di Jakarta selama seminggu, aku sempat ke Jakarta for one night.. Just for attending a meeting at night… Besoknya, setelah makan siang dengan teman2 lama, aku pulang ke Pekanbaru… It was tired days….

Awal Agustus, aku dapat tugas ke Batam.. Klo udah ke Batam, rugi donk gak nyeberang ke Sing..  So, aku memesan tiket  pulang 2 hari setelah rapat usai, supaya sempat nyebrang..   but something happened, a night  before I flew I was robbered..  I lost my bag with its contain..  : money, camera, external hardisk (isinya file kerjaanku selama 2 tahun terakhir, termasuk arsip foto2), usb modem, buku2 tabungan bahkan passport.  Rencana ke Sing tinggal angan2..

Seusai rapat, karena tiket sudah dipesan dan menggeser jadwal akn kena biaya yang harganya nyaris bahkan sama dengan beli tiket baru, terpaksa aku main di Batam.. Aku dan Yuli, teman kantor yang ikut ke Batam, pergi ke Pulau Galang ngeliat bekan Kamp Pengungi Vietnam..

Sepulang dari Batam, aku baru merasakan dampak psikoplogis dari perampokan yang terjadi satu malam sebelum aku berangkat..  Begitu masuk ke Pekanbaru, jantung ku berdebar dengan detak yang tidak biasa.. Ada rasa cemas yang berlebihan… Rasanya kota ini bukan lagi “rumah” tempat aku tumbuh dan dibesarkan..  Sudah begitu banyak pendatang, yang bisa berbuat apa saja di kota ini..  Berusaha melawan rasa cemas yang berlebihan aku memaksa diriku untuk menjalankan mobilku melewati lokasi perampokan pada jam yang nyaris sama… Astafigirullah aladzim…,  bukannya meringankan tapi justru aku jadi trembling… Gemetar hebat…, dan airmata ku mentes deras…  Semoga tidak ada lagi yang mengalami seperti aku yaa….

Untuk menenangkan hati, di akhir minggukedua bulan Agustus  aku memutuskan untuk pulang sejenak ke Medan, menemui Papa & Mama.. Berharap mendapatkan support yang akan menguatkan dan mengatasi rasa trauma..

Setelah pulang dari Medan, kembali mengurus kerjaan.., anggaran perubahan.. Ini siyyy hampir bagian akhir dari Anggaran Perubahan.. Sebelumnya ada banyak cerita di dalam prosesnya… Seperti biasa, ada banyak kecaman dan kesinisan bila ada kehendak2 tidak terpenuhi… “Satu tahapan sekolah kesabaran lagi”…

Lalu, September pun menjelang… Saatnya Idul Fitri.. Aku memutuskan untuk ber-Idul Fitri di Medan, suatu pencapaian yang luar biasa dalam hubungan Anak – Orang Tua, bagi aku.. Alhamdulilah ya Alloh…

Selesai Idul Fitri, bulan Oktber pun datang.. , aku berkejar mengurus anggaran 2011.. , dan mengurus persiapan admnistrasi Anggaran Perubahan 2010…  But alhamdulillah semua lancar, apalagi ada 2 anggota baru yang memperkuat tim ku…

Akhir Oktober, aku mendapat kesempatan untuk mendampingi Tim Kesenian ke Brunei.. Negeri kecil namun kaya yang berada di Kalimantan bagian utara…  Ceritanya Tim Kesenian Riau mendapat kesempatan untuk tampil di TV Brunei..

@ Masjid Jamee, Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, Oct 2010

Aku sebenarnya sudah memulai tulisan tentang perjalanan ke Brunei, cuma belum sempat diselesaikan..  I hope ASAP, aku bisa menyelesaikan tulisan tentang itu yaa…

@ Safari Garden, Nov 2010

Pulang dari Brunei beberapa hari aku harus menghadiri meeting di Safari Garden Hotel.. Alhamdulillah aku dikasi atasanku kesempatan untuk membawa teman kantor yang bisa membantu bekerja..  Kerja keras dalam 2 hari, membuat kami mempunyai waktu untuk menikmati Safari Garden di hari terakhir, sebelum kembali…  Lumayan… bisa refreshing….  Mana aku berangkat ke Jakarta sehari sebelum rapat supaya gak terlambat, sehingga masih sempat main bareng Veny & Linda..  Bahkan pakai cara beli sepatu bareng pula… hebbbooohhhhhhhhh….. Heheheehehe…

Kelar dari Safari Garden, aku kembali harus bersiap-siap… Kemana…??? Ke United Arab Emirate… Serrruuuu bangetsss…. Perjalanan yang luar biasa, yang gak pernah terduga sebelumnya… Tentang perjalanan ini teman-teman bisa baca di sini, sini, sini sini dan di sini….

Lalu seperti biasa, kerja kerja dan kerja…. Dan akhir tahun ku tutup dengan liburan bersama keluarga di Medan…

2010 really was good year, an extra ordinary year.. Semoga akan ada tahun-tahun yang lebih dan semakin menyenangkan…

Alhamdulillah….

Ingat-ingat Pesan…

Civil Servant is not my first job… It’s my 4th job, kalo gak salah ingat… Hehehe.. Tapi ini adalah job kedua setelah aku memutuskan untuk kembali ke daerah tempat aku dibesarkan.. Job pertama, kerja di bank kecil. Job yang memang hanya untuk mengisi waktu (dan mengisi kantong, pastinya..) sementara menunggu proses menjadi PNS yang butuh waktu sekitar setahunan..

Saat menjelang kerja di dunia PNS, aku diwanti2 oleh ortuku, berkali-kali… Pesannya :

1. Kalau udah masuk kantor nanti, kamu diam2 aja dulu.. Jangan tunjukkan pada orang2 di kantor apa yang bisa kamu kerjakan. Nanti mereka pikir kamu sok pinter. Jadi diam saja… Lihat2 saja… Jangan sombong, harus rendah hati…

2. Jangan minta kerjaan sama siapa pun. Nanti orang pikir kamu mau nyampurin kerjaan mereka, meski niat kamu baik, ingin menolong.

3. Kalau kamu diminta membantu atau mengerjakan sesuatu, kerjakan secara maksimal, sepenuh kemampuan kamu, sehingga hasilnya maksimal dan orang pun akan tahu bahwa kamu punya kemampuan untuk bekerja.

So, begitu mulai masuk sebagai PNS dan ditempatkan di Sekretariat Bappeda Kota Pekanbaru sekitar tahun 1997, aku hanya duduk diam…, memperhatikan aktivitas orang2 di sekitarku, termasuk kebiasaan mereka buat ngaburr pada jam2 tertentu… hehehehe…  Biasanya siyyy buat pergi makan siang rame2… (Setelah membaur dengan teman2 d kantor, aku juga ikutan ngabr buat makan siang ramai2.. Hahahaha…).  Untuk menghindari kebengongan, aku biasanya membekali diri dengan buku dari rumah…

Naaahhh suatu kali, sekitar sebulan setelah aku kerja di situ, setelah kembali dari suatu urusan, aku menemukan ruang kerja yang kosong melompong..  Karena gak tau mau kemana, aku memutuskan untuk duduk diam dan membaca di salah satu pojok di ruangan yang besar itu…  Gak lama, Bang Zul (BZ), Sekretaris Bappeda saat itu keluar dari ruangannya, masuk ke ruang sekretariat…

Beliau lalu menyapa ku (BZ) : Ndha, kemana orang niyy semua..?

Aku : Ndak tau ‘Ndha, bang.  Tadi ‘Ndha keluar, pas kembali, ruangan udah kosong.. Mungkin padapergi makan siang, bang.

BZ : Ndha, kamu bisa ngetik di komputer…? Ini ada surat yang harus diketik, tapi tidak ada orang nih.  (Ini mungkin pertanyaan yang wajar di tahun 1997… Tapi rasanya juga aneh kalo kita sudah lulus S1 tapi gak bisa ngetik di komputer.. Karena siapa donk yang ngerjain skripsi kita…?)

Aku : Bisa, bang.  Apa yang mau diketik?

BZ lalu menyerahkan konsep surat yang harus aku ketik..

Setelah selesai, aku menyerahkan hasil ketikan kepada beliau.. Lalu beliau bertanya :

BZ : Kamu ngetik pakai huruf apa ‘Ndha? Kok hurufnya bagus dan halus..

Aku : Pakai huruf tipe x, bang.

BZ : Ada ya tipe huruf itu di WS.  Kok gak pernah ya dipakai sama teman2 sebelum ini?

Aku : Saya gak pakai WS, bang.  Saya pakai Microsoft Word.

BZ : Waaahhh, anak2 sini masih pakai WS lho ‘Ndha.  Emang program itu ada di komputer kantor kita? Kamu kursus dimana?

Aku :  Saya enggak pernah kursus bang, cuma dulu ada pelatihan pengenalan komputer aja selama 3 hari waktu di kampus.   Zaman skripsi iya pakai WS dan Lotus.  Tapi setelah ada  Windows biasanya pakai MS Word dan Excell.

Sejak itu aku nyaris tidak pernah lagi menganggur di kantor… Alhamdulillah… Pesan ortu ku ternyata BENAR BANGET…  Jangan pernah pamer.., supaya gak bikin orang lain tidak suka dengan kita.  Tapi kalau dikasi kesempatan, lakukan semaksimal yang bisa dilakukan…

Prinsip itu aku coba terapkan  kembali saat aku pindah kantor baru sekitar 2 tahun yang lalu…, 12 tahun setelah jadi anak baru di Bappeda..   Ternyata hasilnya berbezaaaaa (kata orang Malaysia).  Berbeza…? Berbeza bagaimana…?

Ya, aku tetap melangkah masuk kantor dengan gaya yang santai… Tidak menunjukkan embel2 berupa pengalaman kerjaku sebelumnya.., atau siapa yang merekomendasikan aku untuk pindah ke tempat baru… Pokoknya santai…

Ternyata oh ternyata… Kesantaian  dipandang berbeda oleh seseorang yang merasa senior di kantor.. Apa yang aku alami dengan orang tersebut menjadi cerita yang menggelikan… sekaligus pelajaran buat aku agar lebih bijak kalau ketemu orang baru… Juga lebih sabar…  Hehehehe…

Ceritanya saat aku masuk, di kantor itu lagi ada kegiatan..  Gak mau, dianggap mau ikut campur atau apa..  Aku terapkan pesan ortu.  Duduk diam… mengamati saja… Sampai pada sekitar hari ke2 atau ke3.. Tiba2 orang yang merasa lebih senior, anggaplah namanya Mpok Atik menyapaku..

Mpok Atik : Heeeh…!!! (sambil melihat ke aku, sehingga aku yakin dia berbicara padaku). Lu, bisa ngetik, gak..?

Sumpeee aku kaget, sekaligus bingung.  Apa dia bertanya pada aku apa bukan..? Lagi pula cara menyapa dengan sebutan “Heeeh…!” rasanya gak sopan ya.. Perasaan aku punya nama…, dan tertera di papan nama yang ada di baju dinasku.  Terus…, waktu tinggal di Bogor dan Jakarta selama lebih kurang 10 tahun, aku dan teman2ku juga memakai kata “LU – GUA”, tapi kok rasanya enak aja tuuuuhhhh… Gak sakit di telinga.. Kok yang ini rasanya sakit ya…? Mungkin karena nada yang biasa aku dan teman2ku pakai relatif lunak… Jadi kata “LU” tidak membuat kita merasa direndahkan…

Trus kalau diingat sikap Bang Zul dulu, rasanya sikap Mpok Atik ini bener2 ajaib..  Karena Bang Zul aja yang saat itu adalah orang kedua di Bappeda Kota, sangat baik dan ramah. Nah Mpok Atik ini, tanya punya tanya pada teman2 di sekitarku saat itu, ternyata saat itu statusnya  juga sama dengan aku, staff.

Aku menatap ke Mpok Atik dan bertanya untuk meyakinkan diri : Ibu bicara dengan saya?

Mpok Atik dengan nada keras :  Iya.. Lu bisa ngetik gak…?

Hmmmmm….. Aku jadi mikir, ada apa ya ini orang..? Kenal juga belum ama aku kok nanyanya begitu… Dari penampilan ku yang relatif sudah berumur, dia pasti tau lah aku bukan anak kemaren sore di dunia pegawai negeri.  Tapi aku tiba2 ingat pesan orang tuaku “harus rendah hati”, meski rasanya geleuuuhhh banget ditanya dengan cara yang sembarangan oleh orang yang belum kita kenal..

Aku menjawab : Bisa bu.. Apa yang mau diketik?

Mpok Atik : Nanti gua bikin konsep surat, lu ketik yaa…!!!

Aku hanya mengangguk… Hmmmm… Manusia ajaib….

Gak berapa lama kemudian, Mpok Atik kembali berbicara padaku..

Mpok Atik : Lu bisa ngonsep surat, gak?

Astagafirullah al adzim…. Underestimate banget orang ini sama aku, orang yang belum dia kenal… Apa siyy aku, manusia yang belum dia kenal ini di matanya..? Apa dia pikir aku ini adalah salah satu dari sekian pegawai yang cuma makan gaji buta, gak tau kerja…?  Kok sepertinya menghina ya…??!!!! Tapi lagi-lagi ingat pesan orang tua, untuk rendah hati, humble… dan juga sabar…

Aku lalu menjawab omongan manusia ajaib itu : Surat apa yang mau dikonsep, bu? Biar saya bantu..

Mpok Atik : Lu bikin surat ya, buat si anu, isinya tentang anu… Kalo sudah selesai, lu tunjukin ke gua, biar gue periksa..

Aku lalu mengerjakan perintah Mpok Atik yang ajaib itu… Membuat konsep surat dengan tulisan tangan, karena kedua komputer sedang dipakai staf2 lain (gak berani nurunin laptop yang ditinggal di bagasi mobil karena takut dianggap pamer, hiks).  Setelah selesai, aku menunjukkan konsep surat ke Mpok Atik.  Respon beliau, setelah membacanya…

Mpok Atik : Ya sudah, lu ketik ya. Trus ntar lu kasi ke gua…

Aku, lagi2 hanya diam dan menjalankan perintah beliau..

Ada beberapa kejadian lagi yang ajaib dalam minggu2 itu.. Misalnya dia menyuruh aku bergegas mengangkut barang2 dengan mobilku ke tempat acara.  Nyuruh ngangkat, lho.. , bukan minta tolong…  Sebelumnya,  karena kamar tempat aku seharusnya tidur dengan seorang staff  yg lebih junior  (menurut pengaturan beliau), dipakai untuk bekerja oleh beberapa anggota team yang laki2, aku menumpang tidur di kamar Mpok Atik.   Saat itu jatah pekerjaanku udah kelar, dan tubuh sudah capek banget.  Lewat tengah malam, beliau membangunkan aku agar pindah tidur ke kamar yang satunya lagi… , dengan cara yang sama sekali tidak bersahabat. Padahal sebenarnya kalau aku pun tetap dibiarkan tidur di situ, tidur dia tidak akan terganggu, karena kamar itu berisikan 2 buah tempat tidur single.  Tapi aku teteuuuppp sabar, lalu bangun dan pindah kamar…

Kenapa aku jadi membahas masalah gak penting ini setelah dua tahun lebih berlalu…? Karena orang yang sama, tanpa alasan yang aku mengerti selalu memasang muka masam padaku berhari-hari, beberapa bulan terakhir ini… Dia keluar masuk ruang kerjaku tanpa pernah menyapaku, memerintah adik2 yang bertugas membantuku, tanpa permisi atau basa-basi padaku..  Satu kali, dia bahkan memandang penuh kebencian padaku.., karena sebel aku balas kembali tatapannya dengan tatapan “Mau apa siyy lu? Siapa elu, kok marah2 ama gua…? Emang gue ngerugiin apa? Hehehehe…

Tapi, ternyata oh ternyata, dari cerita banyak orang, ingat BANYAK lho, bukan satu dua orang, dia memang suka bossy.. Memerintah sana sini.. Padahal sebenarnya orang yang dia perintah2 itu, ada yang pangkatnya lebih tinggi, ada yang posisinya di kantor lebih tinggi dari dia.  Lucu kan…? Beneran kayak dagelan ketoprak yang dimainkan di panggung2 pasar malam..  Bahkan dari cerita beberapa teman, dia selalu bercerita ke orang2 tentang hal2 yang negatif yang menyangkut diriku.  Hmmmm… Mudah2an itu bisa melapangkan jalanku nantinya yaa…  Mungkin ini cuma satu ujian buat kesabaranku… Atau ini satu sesi dagelan yang bisa jadi pelajaran buat aku supaya lebih awas, lebih peka membaca lingkungan… Mudah2an yaaa…

Urrrrrggghhhhh…………!!!

Pagi saat tiba di kantor rasanya tenang banget… Semua orang sedang ikutan wirid di lantai 3…  Kesunyian menimbulkan rasa tenang.., nyaman…  Gak lama, mulai berbagai pihak yang datang dengan berbagai masalah… Yang kadang bikin aku terheran2 dengan jalan pikiran mereka…

Pertanyaan mereka antara lain :

“Sondha, kami ada anggaran untuk 2 kegiatan.. Boleh gak, kegiatan yang satunya gak dikerjakan, tapi duitnya digunakan buat kegiatan yang satunya lagi?”

Ya jelas aja jawabnya gak boleh…  Kegiatan yang sudah dianggarkan itu sudah menjadi Peraturan Daerah, artinya itu produk hukum yang harus dijalankan sesuai dengan aturan.. Mana bisa dialihgunakan.. Pengalihgunaan berarti pelanggaran hukum.  Kalau mau dirubah penggunaannya, ada proses yang harus dijalani terlebih dahulu…

Herannya yang nanya itu masa kerjanya sebagai pegawai lebih lama… Terus selama ini kemana aja? Heran gak siyyy….?

Gak lama, ada yg ngomong dengan nada galak… Let’s say namanya  Ani.

Ani  : “Kak Sondha, gimana siyy kakak nyusun anggaran buat pengadaan bacaannya…? Kakak salah hitung yaa…? Gak cukup tuhhh uangnya… Coba lihat ini Dokumen Pelaksanaan Anggarannya?”

Di situ tertulis :

Pengadaan koran :

Koran A :  180  EB @ Rp.150.000,- Jumlah Rp. 27.000.000,-

Koran B :  24 EB @Rp.110.000,- Jumlah Rp.2.640.000,- dst..

Aku lalu menjelaskan : “Ani, itu semua kan buat setahun, artinya 12 bulan. Kalo dia 180 EB, artinya untuk koran itu kita langganan 15 edisi setiap bulan.”

Ani : “Gak cukup uangnya.. Kalau 15 eksemplar kali 30 hari kan sebulan aja sudah 450.  Di anggaran cuma ada 180 setahun.  Mana cukup…!!!!”

Aku : “Ani, koran A itu berappa siyy harga langganannya per bulan?”

Ani : “Rp.100.000.-”

Aku : “Ani lihat dianggarannya berapa? Rp. 150.000,-.  Itu justru artinya uangnya masih lebih.”

Ani : “Lebih dari mana? Anggarannya cuma untuk 180 setahun, sedangkan sebulan aja udah 450.”

Aku : “Ani,  langganan korannya bulanan, kan? Bukan per eksmplar per hari kan?  Artinya Rp.100.000,-  itu untuk 30 lembar atau 31 lembar, tergantung jumlah hari pada bulan tersebut. Kalau kamu langganan 15 eksemplar per hari dan biaya langganannya Rp.100.000,-/bulan, artinya biaya koran tersebut sebulan Rp.1.500.000,-, setahun Rp.18.000.000,-.  Anggarannya justru lebih banget…. Iya gak siyyy?”

Ani : “Enggak, saya gak ngerti.  Menurut saya anggaran ini gak cukup.”

Urrgggghhhhhhhhhhhhhh….!!! Aku gak tahan lagi… Aku gak tau mau menjelaskan bagaimana lagi…. Kemampuanku untuk menjelaskan rasanya udah habis…  Pusinkkkkkkkkkkkkkkkkkk pusinkkkkkkkkkkkk…

It Has Been A Year…

career-womanTerhitung tanggal 5 Februari yang lalu..  Setahun sudah aku pindah kerja…

Banyak hal baru yang aku dapat…  Bener emang kata orang2.., jangan bertahan terlalu lama di suatu sistem, karena akan membuat kita stagnant…   Lingkungan baru, kerjaan baru, segala sesuatu yang baru akan memperkaya diri…

Tapi kalo menurut aku, jangan pula keinginan untuk memperoleh sesuatu yang baru membuat kita jadi kutu loncat..  Karena klo begitu kita juga gak akan dapat apa-apa..  Kita gak sempat berproses yang akan “memperkaya” diri, meningkatkan kapasistas…  Dan juga gak sempat meninggalkan track record yang baik, yang bisa menjadi modal dasar untuk “menjual diri”…

Gak Semua……..

hard-work-woman1Facebook memang luar biasa…  Membuat aku bisa terkoneksi kembali dengan teman2 yang udah berpuluh, berbelas tahun tidak muncul dalam semesta kehidupanku…  Bukan sekali dua kali, saat membuka “home” di facebook aku menemukan friend request dari mereka yang pernah mengisi hari-hari ku… Teman saat SD, teman SMA daaannn teman2 kuliah yang seru dan heboohhh…

Beberapa minggu yang lalu, aku menemukan friend request dari seorang teman lama..  Teman yang selama berbelas tahun tak diketahui kabarnya bahkan oleh teman2 main kita dulu yang masih terkoneksi dengan ku…  Aku hanya ingat, saat terakhir bertemu sekian belas tahun yang lalu, saat aku masih bekerja dan menetap di Jakarta,  temanku ini mengkritik aku sebagai orang yang materialistis, duniawi karena aku emang saat itu selalu menghabiskan akhir pekanku di cinema grup 21 di Grand Wijaya, kongkow2 dengan teman2 dan saudara di mall2…

Sebenarnya yang dikritik bukan cuma aku, tapi teman2 yang lain juga…  Sehingga kita2 yang dikritik merasa aneh dan gak ngatri… Apa lagi kita tahu persis kalo teman kita yang mengkritik ini juga bioskop mania… Karena dulu2nya kita selalu nonton bareng2…

Tapi kita berusaha menerima kritikan itu sebagai masukan..  Meski kadang gak nyaman juga, karena gak merasa ada yang salah dengan hobby nonton dan kongkow..  Toh kita gak ke cinema tiap hari, kita gak ke mall tiap hari…  Kita tetap bekerja dan bertanggung jawab dengan pekerjaan dan aspek2 lain kehidupan kita…  Nonton dan kongkow2 cuma satu sisi dari beratus, beribu atau berjuta sisi kehidupan yang bisa meringankan hati  setelah lelah bekerja 5 hari dalam seminggu…  Kita waktu itu berpikir kalo teman kita ini sudah mendapat suatu paradigma berpikir yang lebih maju, yang kita2 belum nyampe…

Lalu… beberapa hari yang lalu di suatu hari kerja sekitar jam 3 siang, saat aku emang lagi harus meneyelesaikan beberapa kerjaan,teman lama yang telah terkoneksi di FB ini men’chat’…

Teman Lama (TL) :  Masihh di kantor..?

Aku (A) : Iya…

TL : Kok…? Kan kalo PNS jam segini udah gak ada di kantor…

A :  Maksudnya..?  Gak semua lho PNS seperti itu.  Tolong jangan digeneralisasi.  Sorry aku lagi ada kerjaan…

Setelah pulang kantor, aku mengirim pesan ke teman lamaku itu…

Gak semua PNS itu gak punya dedikasi dan serius dgn pekerjaannya.. Memang gak banyak.. Tapi ada…

Gue bertahun2 selalu berada dalam tim bersama orang2 yg punya dedikasi.. Kita biasa pulang kantor tengah malam bahkan subuh pada saat penyusunan anggaran dan pertanggungjawaban. Kita juga total ngerjain kegiatan2 yang diamanahkan ke kita..

Jadi jangan lah digeneralisir..

Teman lamaku me-reply

Kok segitu sewotnya……. Fakta keseharian ya begitu adanya…. Di Asia saja Rate dedikasinya Goverment Oficcer of Indonesia cuma rangking 36 setingkat di atas kamboja….

Hhhhmmmmm… Ternyata setelah bertahun2 tidak terkoneksi, temanku itu tetap gak nyambung dengan aku…

Aku tau persis, ngerti dan sadar kalo banyak, banyak sekali rekan2 di dunia PNS yang belum serius dengan pekerjaannya..  Aku tidak menutup mata dengan kenyataan itu.  Aku bahkan pernah menulis tentang hal itu di sini…  Tapi di kalimat awal aku kan udah bilang “Gak semua PNS itu gak punya dedikasi dan serius dgn pekerjaannya.. Memang gak banyak.. Tapi ada…”

Malas berdebebat lebih jauh…  Aku lalu mengrimkan pesan…

Bukan sewot, aku cuma kasi tau gak semua PNS seperti itu.. Jangan digeneralisir.. Masih ada pegawai pemerintah yang serius dgn pekerjaannya.. 

Tapi kalo lu mau menutup mata akan keberadaan pegawai yg telah serus bekerja.. silahkan aja.. itu gak akan mengurangi semangat mereka mengabdi.. Apa siyy artinya pendapat satu orang yang gak tau apa-apa tentang keberadaan mereka yang mengabdi di dunia pemerintahan…?

Temans…  Ini sama sekali bukan pembelaan atas sebuah profesi..  Ini juga bukan tulisan untuk pamer atau apa…  Tapi ini adalah sebuah realita, bahwa meski gak banyak, tapi masih ada kok PNS yang bekerja dengan serius dan sungguh2..  Justru tantangan yang mereka hadapi besar : lingkungan dan rekan2 kerja yang punya paradigma berpikir yang berbeda.   Tapi mereka tetap bergerak, berkarya…. mengikuti tawaf alam semesta….

Justru bukankah mereka harus didukung agar kuat dan tetap konsisten…  Bukankah masyarakat yang anggota keluarga juga berprofesi sebagai PNS seharusnya mendorong anggota keluarganya itu untuk mulai bekerja sungguh2…   Sebaliknya, tidak melakukan segala daya upaya untuk memasukkan anggota keluarganya menjadi PNS untuk mendapat jaminan hidup tanpa mengerti hakekat PNS…
Btw, kenapa judul postingannya jadi kayak judul lagunya Basofi Sudirman “Tak semua laki-laki……” yaaa??  Hehehe…

New Challanges…

Tahun 2008 buat aku dan 1200-an orang PNS di lingkungan Pemerintah tempatku bekerja ditutup dengan mutasi besar2an..  Aku, alhamdulillah, mendapat amanah untuk tugas yang lebih besar, yang diikuti dengan tanggung jawab  yang juga kebih besar, pasti…!!!

Sejujurnya meski aku sebelumnya  sudah pernah memegang level ini selama 7 tahun saat kerja di tempat lama, tapi  skop pekerjaan yang dipegang kali ini jauuuuhhh lebih besar.  Kalo dulu skop-nya cuma kota dengan luas wilayah 63.323 Ha.  Sekarang, 11 kabupaten/kota, bow..!!!  Jumlah teman yang harus dimanage juga lebih banyak dari sebelumnya..  Rumitnya, teman2 ini sebagian besar memang sudha beberapa tahun bertugas di bagian ini, dan mereka sudah lelah karena merasa tak diperhatikan.. Ada yang desperate, ada yang cuek gak perduli dan ngabur dari kerja..

Saat aku diskusi dengan Papa.. Papa bilang kalo aku harus melihat ini sebagai kesempatan untuk belajar, untuk meningkatkan kapasitas.. So, I have  to be unafraid…  Dan Papa ngingatin agar aku membangun system kerja, sehingga kalo aku gak ada di kantor, pekerjaan tetap jalan dan gak kesendat2..  Papa juga ngingatin agar aku melakukan kaderisasi..  Memberi kesempatan yang luas bagi teman2, yang harus aku manage, untuk maju dan berkembang..

Ini yang sedang diupayakan…..  Alhamdulillah setelah 3 minggu, suasana di ruang kerja mulai menghangat…  Ada keceriaan di wajah teman2 selama jam kerja..  Ada tawa dan canda, sembari bekerja..  Apalagi ruang kerja kita emang asyyyiiikk banget…  Ya fasilitasnya, ya pengaturannya….

Sebaris kalimat yang aku coba selalu ucapkan di akhir hari kerja, yang aku perhatikan bikin teman2 pulang dengan wajah ceria meski telah lelah adalah… “Teman…, terima kasih ya atas kerja samanya hari ini…!!!  Sampai jumpa besok…!!!”

Semoga keadaan akan mebaik dari hari kehari…  Semoga aku bisa memegang amanah..  Bisa memberikan rasa aman dan nyaman buat teman2.., serta menghasilkan hal-hal yang lebih baik dari pekerjaan ini…

Spionase…

detective-womanSekali lagi cerita tentang bidang studi yang aku pelajari saat mengambil strata 2..

Ada seorang teman di kantor.. Anggap aja namanya Pak Ahmad.  Pak Ahmad ini  PNS yang jam terbangnya jauh lebih tinggi dari aku..  Beliau bertugas di bagian personalia di kantor.  Beliau sedang diberi tugas untuk meng-update Daftar Urut Kepangkatan (DUK).  yaitu sebuah daftar PNS yang bekerja di satuan kerja yang disusun berdasarkan pangkatnya mulai dari yang paling senior sampai yang paling junior..  Salah satu data yang ada di DUK adalah histori pendidikan si PNS..

Naaaahhhh si Pak Ahmad ini tadi pagi nanya ke atasanku, orang kedua di kantor,  apa siyy sebenarnya sekolahku itu..  Karena dia baca di copy-an ijazah ku PORGRAM STUDI PENGINDERAAN JAUH.  Dia belum pernah liat ijazah dengan program studi itu sebelumnya..  So, beliau nanya apa itu Penginderaan Jauh…?

Bossku lalu menjelaskan kalo Penginderaan Jauh itu adalah suatu ilmu yang menggunakan citra satelit atau foto udara untuk mendapatkan informasi mengenai kenampakan yang ada di permukaan bumi.. dst dst dst..

Selesai boosku bicara, si Bapak itu lalu mengutarakan kesimpulannya…  “Jadi mbak Sondha itu belajar tentang SPIONASE ya pak….? “ Gubbbbbrrrrrraaaaaakkkkkk………………………………..!!!!

Oooooaaaallllaaahhhhh… bapak, bapak….!!!  Kok tiba2 aku teringat acting Tom Cruise di Mission Imposible…  Ingat James Bond juga..  Hehehe

Cerita Lama di Suatu Masa…

Tadi malam seorang teman di lingkungan kerja yang lama tapi di lain unit kerja nelpon.  Kebetulan teman Tati ini adik kelas saat di SD dan SMP.  Ceritanya dia minta masukan tentang langkah2 yang akan dia lakukan untuk pengembangan karirnya….  Karena setahun terakhir, setelah menyelesaikan pendidikan untuk strata 2, beliau di tempatkan di birokrasi.  Sebelum sekolah, beliau menjadi kepala unit pelayanan kesehatan masyrakat di tingkat kecamatan.  Hmmm.. pekerjaan yang menurut Tati luar biasa pahalanya…

confused-womanTeman Tati ini merasa tidak diberi kesempatan untuk berkiprah lebih banyak.   Selama setahun terakhir dia diberi tanggung jawab untuk berbagai hal, tapi pada saat pengusulan nama calon pemegang jabatan esselon IV/a nama dia tidak tercantum, bahkan untuk posisi yang selama ini pekerjaannya dia lakukan.  Dalam kondisi seperti ini, seorang kenalannya menyarankan dia untuk masuk ke sebuah organisasi kemasyarakatan perempuan yang dibina dan dibiayai kegiatan-kegiatannya  oleh pemerintah.  Organisasi ini biasanya dikelola oleh ibu-ibu yang suaminya merupakan pejabat di wilayahnya.  Berkiprah di organisasi ini membuat kita terkoneksi dengan lingkaran inti sekaligus terlihat kiprahnya..  Sehingga membuat kita lebih punya kesempatan untuk mendapat promosi, katanya…..

Naaahhhh… si teman ingin mendapat masukan dari Tati, karena dia dengar dari orang-orang kalo I was involved in it, I was in there…

Hmmmmm….. Gimana yaaa….?  Ini benar-benar cerita lama di suatu masa….

Tati beberapa tahun yang lalu dilibatkan di organisasi tersebut, tapi sungguh Tati gak niat sama sekali, bahkan cenderung terpaksa…  Ceritanya istri atasan Tati saat itu menelpon Tati.   Istri atasan itu bilang, dia ditelpon oleh istri pimpinan yang lebih tinggi, beliau meminta Tati menjadi salah seorang dari 4 sekretaris di organisasi kemasyarakatan yang beliau pimpin.  waktu Tati bilang supaya jangan dilibatkan di situ, karena pekerjaan yang diserahkan ke Tati di kantor sudah cukup banyak, Tati takut nanti gak bisa memuaskan hati semua pihak.  Tapi saat itu istri atasan Tati bilang agar Tati jangan menolak karena nanti posisi dia yang terpojok..  Aihhhhh repotnya dunia yang diikat oleh struktur yang kaku…

Setelah dijadikan salah seorang sekertaris, penelpon Tati jadi bertambah..  Jadi makin krang kring krang krong..   Kalo biasanya telpon berasal dari atasan di kantor, rekan2 kerja, keluarga, teman2, sekarang nambah… ya dari teman2 di organisasi tersebut, dari sekretariat dan juga pimpinan organisasi..  Kadang rasanya pengen ninggalin HP di rumah, sehingga gak mesti nerima telpon2 yang kerap membuat bingung, mana yang harus didahulukan.  Karena atasan di kantor kalo ngasi perintah harus dikerjakan SEKARANG, sementara pimpinan organisasi juga maunya HARUS SEKARANG. Mereka gak kenal kalimat, “Boleh gak saya mengerjakan yang itu dulu..?”  Sering kali Tati harus bergerak dari kantor ke sekretariat organisasi atau sebaliknya dengan terburu-buru karena panggilan yang harus dipenuhi SEKARANG… Belum lagi kalo terjebak dikemacetan lalu lintas, lalu telpon berdering2 dengan pertanyaan, “Dimana kamu? Kok lama amat siyy?” Huahahahaha…..  Mau nangis jejeritan rasanya…  !!!

Sebenarnya apa siyy tugas yang diberikan kepada Tati di organisasi tersebut…?  Tati ditugaskan untuk membuat bahan-bahan presentasi pimpinan organisasi, secara beliau memang senang sekali menjadi pembicara di berbagai kesempatan dan membawakan tentang berbagai topik.  Mulai dari peranan wanita sampai masalah home decorating…!!!  Membuat bahan presentasi sebenarnya gak terlalu sulit asal kita diberi bahan2, serta waktu yang memadai untuk mempelajari bahan2 tersebut, atau kita dibantu oleh tenaga yang ahli di bidang yang akan dibicarakan sebagai narasumber.  Tapi seringkali, kita ditugaskan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, di bidang yang bukan bidang ilmu atau pekerjaan kita, tanpa diberi bahan atau tenaga ahli pula…  Lengkaplah penderitaan…!!!  Padahal resikonya, kalo bahan yang dibuat gak sempurna atau salah…  Kita yang membuat bahan persentasi lah yang akan kena duluan…  Yang repotnya lagi, pimpinan organisasi, maunya kita membuat bahan-bahan itu di sekretariat, jangan di tempat lain..  Padahal, kalo Tati siyy maunya : kasi tau apa yang diinginkan, serahin bahan dan peralatan, lalu kasi tau tenggat waktu.  Soal kerja dimana dan kapan, jangan dipersoalkan, sehingga Tati bisa ngatur waktu dan tempat untuk penyelesaian pekerjaan..

Itu baru berurusan dengan pimpinan organisasi…  Belum dengan sesama teman di organisasi…  Ada banyak teman yang kalo di depan ibu pimpinan “heboh banget memberikan sumbang saran” tetapi begitu ibu pimpinan berlalu, mereka ngomongnya “Sondha, bikin lah ya seperti apa yang sudah saya bilang tadi.  Saya mau pulang…!!!”.  Buseeeetttt banget gak siyyy…? Yang kayak gini terakhir terjadi saat Tati disuruh datang ke sekretariat tanpa diberitahu untuk apa.  Ternyata Tati diminta bikin bahan persentasi ibu pimpinan yang akan menjadi pembicara keesokan harinya di suatu seminar bertema poligami.  Saat itu di Indonesia sedang heboh2nya isu poligami akibat pernikahan kedua seorang ustad kondang.

Saat Tati sampai di sekretariat, di situ sudah duduk ibu pimpinan dan seorang ibu pengurus organisasi yang bekerja di lingkungan pemberdayaan masyarakat.  Mereka membicarakan tentang materi yang akan disampaikan si ibu pimpinan di seminar esok hari.  Si ibu yang dari lingkungan pemberdayaan masyarakat memberikan banyak masukan dengan berapi-api.  Tati silence abis, karena emang gak punya wawasan di bidang ini.  Belum diperoleh ketetapan tentang materi, ibu pimpinan meninggalkan ruang sekretariat karena suaminya kembali dari kantor.  Begitu ibu pimpinan pergi, si ibu yang tadinya bicara dengan semangat langsung berkemas juga.  Beliau bilang beliau mau pulang, dan dia juga bilang supaya Tati membuat bahan presentasi si ibu berdasarkan apa yang sudah dibicarakan tadi.  Ketika Tati tanya jam berapa dia akan kembali supaya bisa memfinalisasi materi, dia bilang dia tidak akan datang lagi.  Tati lalu bilang, kalo pembicaraan itu belum final, belum menghasilkan sesuatu yang matang.  Si ibu bilang, ya pandai2lah Tati menyelesaikannya.  Whhhhhhaaaaaaattttt……?  Pandai-pandai….?

Tati lalu bilang, “Ibu, ini topiknya tentang poligami, artinya tentang perkawinan.  Saya gak ngerti sama sekali, karena bukan bidang ilmu saya, bukan bidang pekerjaan saya dan gak punya pengalaman.”

Ketika si ibu masih ngotot untuk lepas tangan, Tati akhirnya terpaksa mengatakan dengan lebih tegas, “Ibu, saya bukan seorang psikolog yang mengerti psikologi keluarga, saya bukan orang hukum yang mengerti undang-undang perkawinan, saya bukan orang dengan ilmu agama yang mengerti aturan agama tentang perkawinan, daaaaaannnnn…. SAYA JUGA BELUM BERKELUARGA SEHINGGA SAYA BELUM MENGERTI BAGAIMANA RASANYA BERUMAHTANGGA DAN MENGHADAPI SEGALA PEROBLEMNYA….!!!!

Si ibu lalu terdiam, namun tidak menyurutkan langkahnya untuk pergi.  Nyebelin gak siyyy….?  Hehehehe… Saat itu rasanya siyy nyebelin, tapi kalo sekarang siyy Tati bisa ketawa2..  Karena sebenarnya percuma Tati ngotor kayak apa, teteup aja si ibu itu gak akan menyurutkan langkah, karena emang dia gak mau dan enggak perduli..  jadi Tatinya aja yang kayak orang tolol mabok sendiri….  Hehehe..

Lalu ada lagi teman yang seneng banget mengambil dari tangan kita berkas pekerjaan yang sudah selesai kita kerjakan berhari-hari dan akan kira serahkan ke ibu pimpinan, lalu dia yang menyerahkannya…  Hihihihi…  Kalo sama orang yang begini siyy, Tati cuma senyam senyum ajahh…  Karena sebenarnya ibu pimpinan tau kok siapa yang mengerjakan, soalnya ordernya langsung ke Tati by phone.

Naahhhh, ada lagi teman2 yang suka mencatut nama ibu pimpinan untuk menyuruh Tati melakukan pekerjaan2 yang sebenarnya diserahkab ke dia… Sebel…  Mau di-iya-in kok kayaknya “gue dikerjain ya..”, mau di-enggak-in ntar jangan2 beneran si ibu yang nyuruh… Halaaahhh…  Belum lagi persaingan diantara anggota organisasi dalam rangka mendapatkan hati si ibu, daaannnn tentu saja peluang promosi dari suaminya si ibu, seringkali membuat anggota organisasi mendiskreditkan teman-teman yang tidak mereka sukai.

Buat Tati yang biasa apa adanya, seenaknya (dalam artian gimana enak dan nyaman-nya Tati dalam melakukan segala sesuatu tanpa merugikan orang lain), lingkungan seperti ini gak nyaman.  Bikin Tati merasa “Cappeeeeekkkkk deeehhhh….!!”.  Tati gak bisa 24 jam kali 365 hari jadi orang yang sempurna, memenuhi kehendak semua orang…   I’m not kind of that person..  Tati gak bisa main sandiwara…  Apalagi menjilat….  (kata teman Tati yang nelpon tadi malam, kita dulu di sekolah kan ada mata pelajaran MENJILAT,  jadi ya kita gak tau bagaimana cara melakukannya… Hehehehe…).

Tati lalu mengambil langkah mundur perlahan2..  Gak pamit terang-terangan.. Karena kata “BERTERUS TERANG” DAN “SPORTIF” kayaknya belum masuk dalam kosa kata di lingkungan itu..  Tati hanya meminimalisir kontak.  Kalo dipanggil buat ngerjain sesuatu, Tati datang, kerjakan secepat mungkin, lalu pergi.  Kalo ada undangan seremonial, Tati tidak hadir lagi….  Kayaknya sikap Tati terbaca oleh ibu pimpinan, dan pada saat penyusunan pengurus baru, nama Tati tidak lagi tercantum.  Alhamdulillah.  Tapi ya harus berlapang dada menerima konsekuensinya, dianggap sebagai orang yang tidak loyal mungkin ya..  Yang penting hati dan pikiran tenang…

Semua itu Tati sampaikan kepada teman Tati yang juga adik kelas zaman sekolah.  Tati persilahkan dia mengambil keputusan, apa mau tetap memilih jalur yang sangat berat tapi sekaligus sangat rapuh itu untuk mendapatkan promosi.  Kalo menurut Tati siyy, lebih bagus dia ambil jalur di luar sistem, menunjukkan eksistensi yang outstanding di masyarakat…  Itu akan lebih baik…  Kalo kita udah punya track record yang luar biasa, kayaknya atasan dehh yang akan minta kita membantu pekerjaan beliau.  ya gak siyyy…?

Note :  Pics diambil dari sini….