Ketika Supir Taxi Diprotes….

Masalah pertaxian di Pekanbaru adalah sesuatu yang menyebalkan.. Kenapa? Karena tarifnya yang gak deserve banget nget nget nget… Bisa banyangin gak, dari pool bus di Jl. Nangka, sebelum Terminal AKAP/AKDP difungsikan, ke rumah Jl. Durian yang jaraknya gak sampai 2km, supir taxi akan minta Rp.20.000,-. Itu tahun 2002-2004…!!! Tahun 2006-an dari rumah Tati ke kantor yang lama, yang jaraknya lebih kurang 13 km, supir taxi akan minta sekitar Rp.55.000,-. Kalo pake argo…, sama ajah…!! Argo bergerak kencang !!! Kebayang gak siyy kalo mobil ngadat dan harus ke kantor naik Taxi… Sehari buat transport aja bisa Rp.110.000,- Kalo sering2 bisa bikin bangkrutttt…..!!! Kenapa gak pake angkutan umum alias bus komuter yang disediakan pengelola perumahan tempat Tati tinggal? Pengen siyyy… Tapi kebayang gak siyy mesti bawa2 laptop dan tas di dalam bus yang banyak copetnya…?

cabSo naik taxi adalah sesuatu yang Tati hindarkan di kota ini.. Tapi ya gak selamanya bisa dihindarkan… Tanggal 5 Januari yang lalu saat pulang dari Medan, karena gak ada yang jemput di Bandara, Tati terpaksa naik taxi ke rumah.. Untuk ambil taxi di bandara, di pool Taxi Puskopau yang mendominasi bandara SSQ II, kita harus bayar Rp.10.000,-. Dengan uang itu kita mendapatkan taxi dan 1 eksemplar Koran Media Indonesia. Lalu kita juga diberi selembar daftar tarif kalo mau naik taxi tersebut ke luar kota. Di lembaran daftar tersebut ada cap stempel tariff Taxi = Rp.10.000,- + argo.

Setelah membayar di pool, Tati lalu naik ke taxi dengan nomor yang sesuai dengan yang diberikan petugas di pool taxi. Taxi lalu bergerak.. Gak lama keluar dari area bandara, Tati baru nyadar kalo argony a gak menyala. Tati lalu nanya ke supir taxi, kenapa argo gak dinyalain, bukankan di daftar tarif tertulis kalo pake argo. Supirnya bilang, itu hanya tertulisnya aja. Realitanya gak ada yang pake argo. Dan untuk ke rumah Tati yang sekitar 5km dari bandara, si supir taxi mematok Rp.50.000,-. Kalo Tati gak mau, dia akan membawa Tati kembali ke bandara, dan Tati gak akan dapat taxi yang pake argo karena semua supir sudah sepakat gak pake argo. Hmmmm…. pemerasan…!!!

Tapi karena harus segera sampai di rumah, lalu ganti baju buat segera ke kantor, ya terpaksa Tati jalanin… Meski rasanya mangkeeellll buanget….!! Tati lalu bilang ke supir itu, bahwa harga yang dia patok itu sangat tidak layak, terlalu mahal. Karena untuk jarak 5km Tati harus bayar total Rp.57.000,- (Rp.60.000,- dikurangi harga Koran). Rata-rata Rp.11.400,-/km. Padahal berapa siyy bensin yang dihabiskan untuk jarak 5 km? Dengan kondisi mobil yang usianya sekitar  4 atau 5 tahun mungkin bensin 1 liter bisa digunakan untuk menempuh jarak 8 km. So, untuk menempuh 5 km, bensin yang dihabiskan gak sampai doonk 1 liter alias Rp.6.000,-. Lalu ditambah biaya pemeliharaan rutin, setoran taxi atau cicilan mobil, lalu gaji si supir? Berapa sebenarnya penggeluaran untuk per km? Apakah Rp.11.400/km adalah harga yang pantas?

Dibilang begitu supir taxinya malah bilang, “Ibu kalo mau protes, ibu protes aja para pejabat. Berapa siyy gaji mereka? Kok bisa mereka punya rumah dan mobil mewah…? Dan biasanya gak cuma satu atau dua buah…!!! Ibu jangan protes sama kami yang orang kecil….!!!” Gubbbbbrrrrrrraaakkkkkk………!!!!

Apakah bisa yang gak baik di mata kitajadi pembenaran kita untuk bertindak…?

Satu Bangsa….

Ide tulisan ini sebenarnya sudah muncul di benak Tati berkali-kali..  Saat peringatan Hari Jadi Provinsi Riau tahun 2007, lalu tahun 2008 ini, juga saat hari jadi Kota Pekanbaru beberapa bulan yang lalu.  Tapi selalu gak sempat ditulis karena ada hal yang lain yang harus dilakukan… Akhirnya moment-nya lewat…  Mau di-publish, kok kayaknya basi yaaaa… Nah, di moment hari Sumpah Pemuda, Tati kepikiran lagi buat nulis tentang hal ini..  Tulisan tentang apa siyyy?

Hmmmm…. Ini tulisan yang topiknya rada sensi, karena banyak terjadi di negeri ini terutama setelah reformasi terjadi di tahun  1998..  Sebenarnya sebelum tahun 1998 juga terjadi, tapi biasanya dalam kesenyapan dan tidak transparan…

Ini cerita tentang pengalaman Tati si nona berdarah batak yang tumbuh besar dan mengisi sebagian besar hidupnya di tanah Melayu, Riau, tepatnya di kota Pekanbaru..

Tati sejak kecil gak pernah dididik untuk bersifat sukuisme..  Orang tua mengajarkan untuk menghormati orang tua dan leluhur, tapi tidak sukuisme..  Orang tua Tati memberikan contoh yang luar biasa, karena rumah kami sangat terbuka bagi anak-anak tetangga dan anak-anak teman mereka.  Bahkan ada anak tetangga yang tinggal dan besar di rumah kami, menjadi bagian keluarga kami, padahal tidak ada hubungan darah sama sekali, mereka berasal dari Sumatera Barat sementara kami dari Sipirok.  Dan bukan sekali dua tetangga kami yang bukan orang Batak ikut keluarga kami pulang ke Sipirok.

Rasa tidak sukuisme ini didukung pula oleh lingkungan tempat tinggal Tati saat dibesarkan, perumahan kompleks Gubernur Riau di Kota Pekanbaru yang tahun 1970-an sangat heterogen karena dihuni berbagai suku : Melayu, Batak, Minang, Jawa bahkan Manado, Ambon dan Irian meski dalam jumlah yang gak banyak.  Bahkan orang Melayu-nya pun berbeda-beda, ada orang Rengat, orang Siak, orang Kepulauan, orang Bengkalis, orang Tembilahan dan sebagainya.

Di lingkungan sekolah sejak TK sampai  SMA di Pekanbaru, teman Tati juga gak banyak yang orang Batak.  Sahabat Tati, Syahida adalah orang Solok, Sumatera Barat.  Juga teman main Tati saat SMA yang lain, Inda dan I-in.  Inda adalah orang Riau, kampungnya di Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, sedangkan I-in orang Palembang campur Lampung.

Rasa kesukuan ini semakin tidak ada setelah Tati kuliah di Bogor, secara teman dekat Tati sedikit yang orang Batak.  Avita..? Ayahnya Sumatera Barat, Ibunya Batak.  Mia Bachtiar? Orang Makassar.  Opi, Miko dan Riza orang Sumatera Barat, Diana Chalil orang Batak campur Melayu, namun Melayunya lebih dominan.   Linda Omar? Arab campur Belanda campur Jawa.  Chi2, orang Sunda..

Tati dengan cara pandang yang tidak sukuisme ini terkaget-kaget, saat mengurus melengkapi syarat administrasi untuk proses penerbitan SK pengangkatan PNS tahun 1996-an. Zaman itu masuk PNS sudah mulai pake ujian2 plus wawancara.  Tapi tetap pada tahapan tertentu, link menentukan diterima  atau tidak.  Jujur saja, Tati mendapat kemudahan untuk menjadi PNS karena abang Papa yang menjadi orang tua Tati di sini adalah salah seorang PNS yang mengabdi di negeri Melayu ini sejak Propinsi Riau dilepas dari Propinsi Sumatera Timur.  Untuk itu pada tahun 1950-an beliau pindah dari Medan ke tanah Melayu.  Mula-mula ke Tanjung Pinang, lalu setelahnya ke Pekanbaru.

Saat Tati sudah diterima sebagai PNS di lingkungan Pemda Riau, tapi Sk belum keluar,  Tati harus mengantarkan berkas yang perlu dilengkapi ke Bagian Kepegawaian di lingkungan pemerintah kota tempat Tati tinggal dan mendaftarkan diri jadi PNS.   Setelah menyerahkan berkas,  Tati berbincang-bincang dengan salah seorang staff di situ yang sudah Tati kenal.  Tiba-tiba Kepala Bagian Kepegawaian keuar dari ruang kerjanya.  saat dia melihat Tati, dia lalu menunjuk ke arah Tati seraya berkata dengan keras sehingga terdengar ke sepenjuru Bagian Kepegawaian, “Itu tuh… Mestinya dia gak masuk pegawai di daerah sini..!  Dia kan Batak, mestinya dia daftar di Medan saja…!!”.

Tati kaget banget mendengar ucapannya…  Karena orangtua Tati kenal dengan beliau.  Bahkan he was my agent insurance, karena alm ibu mengambil asuransi pendidikan Tati sama dia, sebelum dia menjadi PNS.  Tati yang rada-rada gokil, dengan wajah dipasang sepolos mungkin (padahal sumpe pake ngamuk2 di dalam hati) menjawab ucapan beliau dengan suara lembut sembari tersenyum, “Maaf pak… Saya memang pakai marga.  Tapi setahu saya, saya adalah orang Pekanbaru.  Saya besar di sini, sekolah dari TK sampai dengan SMA di sini.  Kalo saya daftar jadi PNS di Medan, saya rasa saya gak akan diterima karena rasanya gak ada orang di pemerintahan di Medan yang kenal dengan saya.” Setelah mengucapkan sederet kalimat itu, Tati lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dan pulang…

Sempat siyy Tati meminta pada orangtua untuk tidak ditempatkan di lingkungan itu saat penempatan tugas.  Tapi orangtua memberikan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal, dan juga mendorong untuk tegar menghadapi orang seperti itu.  Akhirnya Tati bisa melewati tekanan-tekanan yang beliau lancarkan selama kurang lebih 1.5 tahun di awal masa PNS Tati.  Tapi kemudian beliau dimutasikan dari bagian kepegawaian, pindah ke unit kerja lain dan hampir tidak pernah ketemu lagi.  Pernah, sebelum beliau pensiun dan masih menjadi kepala unit kerja, beliau (terpaksa kali yaaaa…..) datang ke meja kerja Tati untuk minta dibuatkan bahan presentasi bagi kepala daerah untuk menyambut tamu dari Singapore.  Saat itu Tati bersikap seakan tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu.., dan emang gak ada rasa dendam di hati Tati..

Itu satu peristiwa yang terjadi secara terbuka…  Tati untungnya gak pernah lagi mengalami hal yang seperti itu…  Cuma sekali itu saja..   Tapi Tati sering lihat dan dengar ada banyak peristiwa sukuisme yang terjadi di lingkungan kerja di daerah secara tertutup, terutama di lingkungan Pemda.  Gak cuma di lingkungan Tati, tapi hampir di seluruh Indonesia.  Tidak ada ucapan atau pernyataan apapun, tapi ada double, triple bahkan seribu standard dalam promosi dengan alasan kesukuan..

Padahal buat Tati dan juga teman2 lain yang senasib, tanah tempat kita tinggal adalah  habitat kita.  Enggak kepikiran lah untuk mengeruk harta di situ lalu dibawa pulang ke tanah leluhur..  Kalaupun ada yang dibawa pulang ke kampung, paling sebatas pemberian buat sanak keluarga dalam jumlah yang gak seberapa…

Pekanbaru, adalah hometown-nya Tati… Di sini Tati tumbuh dan berkembang..  Di sini ada komunitas Tati..  Ada ikatan yang luar biasa dengan kota ini…  Di sisi lain, Sipirok adalah tanah leluhur Tati, tanah orang-orang yang mewariskan berjuta-juta sifat dalam wujud genetik ke tubuh Tati.  Tanah orang-orang yang berjuang untuk masa depan yang lebih baik bagi anak dan keturunannya..  Apa tidak pantas Tati punya keterikatan yang luar biasa dengan Sipirok?

Apakah kita hanya boleh berkembang di negeri yang diwariskan oleh leluhur kita? Apa kita tidak berhak tinggal dan mencari kehidupan di negeri yang bukan negeri leluhur kita?  Tidak berhak kah kita berkarya di situ?  Toh tanah itu juga masih dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia..   Masih dalam SATU NUSA, SATU BANGSA.. Tidak bisakah orang-orang seperti Tati menyatakan diri sebagai ORANG PEKANBARU BERDARAH BATAK…????

Note :

Sampai saat ini Tati masih menggunakan nama “SONDHA SIREGAR” di name-tag yang  setiap hari dipasang di bagian dada kanan pakaian dinas Tati.  Bukan buat pamer “GUE BATAK” tapi untuk menghormati leluhur yang mewariskan nama itu pada Tati, untuk mereka yang telah berjuang dan berkorban demi masa depan yang lebih baik bagi anak dan keturunannya…

Heran Deh Achhhhhh…… !!!!

Ramadhan segera berakhir….  Lebaran di ambang pintu…  Di kantor dua minggu terakhir banyak sekali manusia  dengan wajah-wajah yang TAK dikenal sebelumnya berkeliaran, datang dan pergi… Lalu datang kembali dan pergi kembali.. Diantara mereka ada yang berpenampilan rapi DAN sopan..  Ada yang berpenampilan rapi dengan wajah yang sangar……  Ada pula yang berpenampilan “ajaib” dengan wajah yang ajaib, lengkap dengan tatoo di tangan sebagai accecories…

Biasanya mereka mencari para pemegang jabatan alias pejabat.. Pada ngapain siyyy?  Pada minta bantuan untuk hari raya alias THR…!!!

THR, tiga huruf yang sangat populer di pertengahan kedua bulan ramadhan..  Dimana-mana orang membicarakan THR, THR dan THR, termasuk juga di kantor Tati..  Hhhhmmmmm…..  Secara Pemerintah Daerah kita menetapkan untuk tidak memberi THR bagi PNS di lingkungannya karena sudah diberi Tunjangan Beban Kerja, jadi kata THR harus dilupakan saja….  Ke laut ke laut….

Naahhhh… kita-kitanya aja THR-nya ke laut.., Kok bisa orang-orang berwajah tak dikenal dan tak punya hubungan kerja dengan kantor ini (kalo pun ada, kecil lah yaa….), datang2 minta THR…?  Sapa mereka…?  Apa hak mereka meminta THR…?

Belum lagi kalo mobil kita berhenti di traffic light… Adik-adik kecil yang menjajakan koran, atau yang emang suka minta-minta dengan santainya berkata “Bu, THR donk bu… Dua ribu ajaaahhhh….!!”  kalo kita diam dia akan bilang “Seribu juga gak apa-apa kok, bu….!!!”

Tati heran dengan ‘KONSEP THR’ yang ada di masyarakat kita akhir-akhir ini..  THR artinya kan Tunjangan Hari Raya.  Siapa siyy yang merayakan Hari Raya…? Siapa yang BERHAK MEMBERI dan MENERIMA TUNJANGAN HARI RAYA?  Apa urusannya orang-orang berwajah dan berpenampilan sangar minta THR kepada orang-orang yang tidak mereka kenal dan telah bekerja untuk menghasilkan rupiah demi rupiah…?  Heran deh achhhhh….!!!

What should I say?

Somebody : You’re so closed to my heart…. Please marry me, dear…

I can’t say anything… Just silence and staring at the eyes of man in front of me..

Somebody : Tell me what is in your mind…? why are you just silence..?

Me : I’m just thinking…

Somebody : Tell me what are you thinking about?

Me : I don;t know what to say to you. It must be not easy to change my life. I’ve been alone for almost 41 years. I get used to make decisions for myself, but if I marry you I can’t do them anymore.. And I don’t know how to move my life. I’ve been worked so hard to have a good live in the town where I’m living now. And if I say yes to marry you, I have to start from beginning and live it all behind.. I’m so worry… I’m afraid if everything not run well…

Somebody : Don’t think too much… We’ll face the life together. OK, if you need time to think, I’ll give you time to think. I will ask you anymore when you want. Three months from now on? Six months? Next year? I’ll be patient to wait.. But please think about the time that will fly away…?

Me : Let me think… Please be patient..

Somebody : I will..

Friends, tell me what should I say?

Makhluk Mars…

Tati pernah membaca beberapa buku seri Men are from Mars and Women are from Venus yang ditulis oleh John Gray. Inti utama buku-buku ini adalah Laki-laki dan Perempuan mempunyai cara berkomunikasi dan cara pandang yang berbeda dalam menghadapi berbagai persoalan, so untuk menciptakan hubungan yang selaras dibutuhkan pemahaman tentang cara berkomunikasi dan cara pandang tersebut.

Salah satu yang ditulis oleh John Gray adalah….

Bila menghadapi masalah, kaum perempuan sering kali mencari teman dan sahabat untuk curhat.. Curhat..? Iya curhat, karena makluk Venus menjunjung tinggi kebersamaan dalam komunitasnya sehingga senang sekali berbagi (kecuali berbagi suami kali yaa…), terutama berbagi perasaan. Buat kaum Venus curhat memang gak menyelesaikan masalah, tapi dengan curhat mereka bisa mengeluarkan beban di hatinya sehingga merasa lega, dan setelahnya bisa melihat masalah dengan perspektif lebih baik…

Sementara bagi kaum lelaki yang berasal dari planet Mars dengan konsep “mengukur diri dari prestasi”, berbagi masalah adalah sesuatu yang tabu, karena menunjukkan kelemahan diri. Akibatnya, bila memperoleh masalah makhluk Mars akan cenderung menarik diri, menyendiri sampai memperoleh solusi, baru kemudian kembali berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Akibat cara pandang yang berbeda dalam menghadapi masalah, kaum lelaki melihat kaum perempuan sebagai makhluk over-reacted, membesar-besarkan masalah dengan membicarakannya dengan orang-orang di sekitarnya. Sementara kaum perempuan merasa tidak dibutuhkan kaum lelaki saat kaum lelaki menarik diri ketika masalah datang…

Tati jadi ingat tulisan, John Gray ketika seorang sahabat bercerita bahwa seseorang yang akhir-akhir ini selalu bicara dengannya, tadi malam tidak mengangkat telpon saat sahabat Tati itu mencoba menelphone. Padahal biasanya beliau selalu menelpon di jam yang sudah mereka tetapkan sebagai jam ngobrol, jam membangun pengertian dan pemahaman tentang satu sama lain..

Sahabat Tati lalu mengirimkan sms,

“Kamu ketiduran ya?”

Gak lama sms balasan diterima. Isinya…

“Saya lagi banyak masalah yang harus diselesaikan dalam 1 dan 2 hari ini. Wassalam”

Teman Tati bingung….. Hmmmmmmm, Dia tahu lelaki yang sering berkomunikasi dengannya itu sedang ada masalah dengan pekerjaannya akhir-akhir ini. Dan itu bukan masalah yang mudah. Tapi teman Tati sempat bingung juga dengan sms beliau, karena sebagaimana “makhluk yang datang dari Venus”, teman Tati cenderung ingin tahu apa yang terjadi dengan orang-orang yang dekat di hatinya. Bukan buat apa-apa, tapi karena rasa ingin memahami, sehingga bisa mengulurkan tangan, paling tidak untuk saling menguatkan hati dalam menghadapi persoalan..

Pikiran Tati lalu melayang ke tulisan John Gray…. Kaum lelaki mungkin memang seperti yang ditulis John Gray, bila mendapatkan masalah para lelaki cenderung menarik diri dan menyendiri, dan baru akan kembali berinteraksi bila telah menemukan solusinya. Jadi mungkin langkah yang tepat adalah memberikan ruang dan waktu bagi beliau untuk menyelesaikan masalahnya sendiri..

Bagaimana menurut teman-teman…?

Pic diambil dari sini

Hari Merdeka

Pagi ini sebelum jam 07 Tati udah bergerak menuju kantor buat mengikuti apel Peringatan 17 Agustus.  Ini apel 17 Agustus pertama Tati di kantor baru, sebelumnya siyy selalu ngikutin di lingkungan kantor Walikota Pekanbaru.  Di kantor sekarang upacaranya lebih sederhana, karena hanya lingkungan unit kerja.  Kalo di kantor Walikota lebih ramai karena dihadiri oleh pegawai2 dari berbagai unit kerja di lingkungan Pemerintah Kota Pekanbaru, ada aubade anak sekolah, ada paskibra. Rame pokoknya…!!  Nah di kantor sekarang, yang menggerek bendera 3 orang pegawai, lalu saat bendera dikerek, para peserta upacara menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Saat menyanyikan lagu itu, tanpa bisa ditahan, air mata Tati menitik..

INDONESIA RAYA

Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku.
Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku.
Indonesia, kebangsaanku, bangsa dan tanah airku.
Marilah kita berseru, “Indonesia bersatu!”
Hiduplah tanahku, hiduplah neg’riku,
Bangsaku, rakyatku, semuanya.
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya.

CHORUS:
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Tanahku, neg’riku yang kucinta.
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya.
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Tanahku, neg’riku yang kucinta.
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya.

Hati semakin miris saat Tati mendengarkan pembacaan Pembukaan UUD Negara Republik Inonesia Tahun 1945, yang menyatakan “mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan, dst..  Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.  Lalu saat mendengar pembacaan Panca Prasetya Korpri yang menyatakan “mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan”

Apa yang terjadi saat ini? Apakah kita benar2 sudah jadi bangsa yang merdeka?  Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sepertinya masih jauuuuuhhhhh banget.  Lalu apa iya kami para PNS dalam bekerja telah mementingkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan? Wallahualam…

Lalu sampai kapan akan begini? Akan kah sistem bisa berubah? Apakah paradigma berpikir di negeri ini akan berganti? Akankah patriotisme yang pernah membakar negeri ini berpuluh-puluh tahun yang lalu akan menyala kembali?

Tati ingin bisa menikmati suasana kerja yang tenang.. Yang tidak membuat para pekerja selalu dalam dilema.  Tapi starting point tidak berada pada kami-kami yang berada di tingkat staff, starting point ada di tangan para atasan yang punya otoritas kemana system akan dibawa dan bagaimana cara membawa ke sana… Kalau para atasan bisa memberikan contoh, menegakkan aturan yang jelas, serta merubah pola pikir yang materialis dan individualis, insya Alloh negeri ini akan menjadi lebih baik.

Seringkali dalam kesendirian saat mengendarai mobil dan menyusuri jalan-jalan yang mingu-minggu dihiasi Dwiwarna, di hati Tati terbersit : Aku Cinta Indonesia. Ini negeriku, tumpah darahku. Meski hati ini selalu menginginkan untuk dapat kesempatan untuk berpetualang untuk menikmati keindahan dan kemajuan negeri antah berantah, tapi rasanya di hati ini hanya ada satu negeri : INDONESIA.

Akan kah kita bisa melihat Indonesia menjadi negeri yang maju, tidak hanya secara fisik tapi juga secara metal dan spiritual ? Apakah kita bisa melihat rakyat di negeri ini mengalami kemakmuran yang adil dan merata? Apakah ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”  cuma ilusi di siang hari…? Semoga tidak..

Byar Pet….

Beberapa bulan terakhir masyarakat kota Pekanbaru khususnya, dan Provinsi Riau umumnya udah biasa dan akhirnya pasrah mengalami pemadaman listrik yang digilir.. Katanya sih ini terjadi karena air di waduk Kota Panjang yang menjadi sumber energi PLTA mengalami penurunan drastis. Kata orang2 yang tinggal di sekitarnya pada saat Tati dan kak Lintje singgah di tempat itu saat jalan2 beberapa waktu yang lalu, penurunannya sampai 6 meter.

Giliran pemadaman biasanya dilakukan 2 kali sehari, masing-masing 3 jam… Jadwalnya gak pasti, bisa pagi, bisa siang, sore, malam, tengah malam atau subuh.. Tapi kemaren, kata tetangga listrik mati jam 9 pagi, jam 3 siang. Lalu jam 9 malam mati lagi, tengah malam nyala sebentar trus mati lagi sampai pagi ini saat Tati berangkat pergi kerja.. Busseeettt deehhhh… Itu mah namanya bukan giliran… Kalo kita pengen dapat penjelasan dengan menghubungi nomor telpon PLN, baik kantor cabang maupun kantor ranting, kita hanya akan mendengar nada tut tut tut, nomor telepon yang dihubungi sedang bicara… Dan itu berlangsung terus menerus… Sampai2 Tati berburuk sangka dengan menduga pesawat telepon di kantor tersebut memang digantung…

Rasanya konyol ya, kalo kita gak bisa minta penjelasan, boro-boro komplen.. Padahal kalo giliran bayar tagihan listrik, kalo telat listrik bisa diputus… Belum lagi resiko pemadaman bulak balik menyebabkan peralatan listik akan mengalami kerusakan. Pada tau gak siyy orang-orang yang punya wewenang di bidang kelistrikan bahwa untuk membeli kulkas, mesin cuci dan beerbagai peralatan elektronik lainnya, kita tuh harus berpikir sekian kali dan dengan menyisihkan pendapatan kita…? Kalo alat2 elektronik itu pada rusak, sapa yang mau ganti? Artinya penambahan pengeluaran, kapan doonk kita bisa menambah jumlah tabungan kita kalo bulak balik harus keluar untuk barang-barang yang itu dan itu lagi…?

Di perumahan tempat Tati tinggal, yang unit rumahnya mencapai ribuan, entah sudah berapa kali terjadi kebakaran selama giliran pemadaman dilakukan… Ada yang lalai sehingga lilin jatuh dan membakar benda2 yang mudah terbakar, dsb. Tati kalau rasanya udah ngantuk, tapi listrik masih mati, lebih milih untuk tidur dalam gelap total… Dari pada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi saat Tati tidur… Naudzubillah bin zalik..

Sedih amat siyy nasib rakyat di negeri ini… Mereka diberi kewajiban tapi hak-haknya sering kali terlupakan… Ini baru urusan listrik… Entah bagaimana urusan lain, yang Tati belum merasakannya karena belum bersentuhan…

Apa yang salah dengan manajemen kelistrikan di negeri ini…? Pada kemana aja orang-orang pintar yang berkompeten di bidang pengelolaan energi…? Sampai kapan akan begini?

Pics diambil dari sini

Caleg…

Beberapa orang di sekitar Tati akhir2 ini menyebut-nyebut soal caleg…

Seorang mertua teman Tati yang datang dari provinsi lain di pulau Sumatera ini bercerita kalau dua orang anaknya dicalonkan partai di daerahnya buat jadi caleg di pemilihan wakil rakyat tahun 2009. Seorang teman Tati saat di sekolah dasar sejak setahun terakhir sibuk nyiapin diri buat jadi caleg juga.. Seorang teman baru dari pulau yang berada di Indonesia bagian tengah juga bercerita kalau dia dicalonkan partainya buat jadi caleg…

Kayaknya emang lagi musim ya, sejalan dengan proses yang sedang berlangsung… Cuma dalam pikiran Tati, apa siyy yang dipikirkan orang-orang itu tentang their future job? Apa mereka tau apa yang akan mereka kerjakan..?

Saat ketemu setahun yang lalu dengan teman SD Tati yang akan jadi caleg pada tahun depan, kita sempat ngobrol puaaannnjang lebaaarrrr…. Waktu itu dia cerita kalo dia sedang dalam tahap persiapan untuk mencalonkan diri buat jadi caleg. Beberapa tahun terakhir dia mengaktifkan diri dalam kegiatan2 partai yang menjadi naungannya, untuk tujuan tersebut..

Waktu itu Tati nanya sama teman Tati tsb, apa dia mengerti apa tugas dan fungsinya kalo dia suatu saat duduk di Dewan Yang Terhormat itu. Saat itu dia menggeleng… Tati lalu mengatakan pada dia, mumpung ada waktu pelajarilah segala seluk beluk tugas legislatif, karena tugas di situ tidak mudah.. Tidak sekedar menyanyikan lagu setuju atau tidak setuju seperti lyric lagu Iwan Fals.

Fenomena caleg ini membawa pikiran Tati melayang ke sebuah peristiwa beberapa tahun yang lalu… Saat itu Tati hadir dalam pembahasan budgeting unit kerja Tati dengan pihak legislatif. Saat itu kita dibantai habis2an, karena sebagian usulan kerjaan yang disampaikan tanpa didukung oleh hitungan teknis… Kita jelas salah…. Seharusnya semua usulan harus dengan hitungan teknis yang didasari analisis, bukan dengan onggok-onggok lado.. Tapi para pengusul suka malas nyiapin hitungan teknis karena katanya belum tentu juga disetujui.. Dari pada capek gak ada hasil mendingan dionggok lado ajah…

Saat kami dibantai di rapat tersebut, salah seorang yang sangat mengebu-gebu adalah seorang anggota dewan yang udah sangat senior. Entah sudah berapa periode duduk di situ, Tati pun gak tau dan malas nyari tau. Penampilannya sangat rapi : wajahnya sangat terawat, kuku2 tangannya sangat rapi dan bersih, mencerminkan hasil menipedi. Beliau mengatakan bahwa dengan cara kerja seperti ini kami telah menghianati kepala daerah, melakukan penipuan terhadap kepala daerah… Waaddduuuhhhh berat banget niyy tuduhannya… Saat itu atasan Tati berusaha mencairkan situasi yang gak enak, dengan janji bahwa kami akan memperbaiki usulan2 tersebut. Lalu rapat ditutup.

Selesai rapat…, saat rombongan kami keluar dari ruang rapat, si bapak yang rapi jali itu memanggil atasan Tati. Mereka berbicara empat mata. Ternyata kata atasan Tati, beliau menanyakan, kalo usulan kami di-approve, bagaimana feedback ke dia dan teman2nya… Weleh weleh weleh… UUD juga….

Tanpa bermaksud memandang sebelah mata apalagi meremehkan.. Dulu kalo rapat, sering kali mendengar beberapa anggota dewan yang gak ngeh dengan topik yang dibicarakan, sehingga ketika beliau2 berbicara jadinya jaka sembung bawa golok, gak nyambung g*****k…!

Saat pembahasan budgeting, sering juga kita melihat beberapa anggota dewan yang maksa agar usulan kegiatan di daerah pemilihannya dianggarkan. Padahal usulan mereka itu gak nyambung dengan perencanaan secara menyeluruh, atau dengan peraturan tertentu. Kayaknya itu karena belum adanya pemahaman tentang perencanaan jangka panjang daerah dan peraturan-peraturan yang terkait…

So, sebenarnya untuk jadi pekerja di legislatif yang tugasnya mengawal aspirasi rakyat agar dilaksanakan dengan baik oleh pihak eksekutif butuh pengetahuan yang luas dan pengalaman yang banyak.. Mudah-mudahan para legislator-wanna-be punya kesadaran tentang ini ya… Bukan seperti yang ini atau yang ini ya…?

Pic diambil dari sini

The Accused

The Accused adalah judul film yang dirilis tahun 1988. Tati nonton film ini saat masih kuliah di Bogor. Film yang dibintangi oleh Jodie Foster ini bercerita tentang perjuangan Sarah Tobias (Jodie Foster) untuk mendapatkan keadilan. Dia diperkosa oleh Kenneth Joyce, seorang yang melihat Sarah dengan baju super sexy bermain mesin pinball di bar. Sinopsis lengkap tentang film yang dibuat berdasarkan true story ini dapat teman2 lihat di sini

Kesmpulan akhir film ini adalah se-seksi apa pun pakaian yang dikenakan seorang perempuan, seseronok apapun tingkah laku seorang perempuan, itu tidak bisa dijadikan pembenaran bahwa perempuan itu boleh diperlakukan tidak senonoh..

Tati ingat film jadul ini saat siang ini melihat tayangan infotainment di tv, yang selalu menyala di ruang kerja di kantor.. Di tayangan itu diberitakan tentang penyanyi dangdut kita yang terkenal dengan goyangnya yang aduhayyyy, merasa dilecehkan secara seksual oleh penontonnya yang berjenis kelamin berbeda. Dan kalo gak salah, ini bukan pelecehan pertama yang dialami oleh si mbak penyanyi ini…

Tati gak tau persis apa yang terjadi, dan ucapan apa yang diterima si penyanyi.. Tati juga gak berniat untuk tau lebih banyak, apalagi mencampuri urusan tersebut. Tati hanya ingin mengungkapkan opini tati Tati tentang konsep kebebasan seorang perempuan, kebebasan berpenampilan…

Seperti yang diceritakan di film The Accused, seberapa pun seksinya penampilan seorang perempuan tidak dapat menjadi alasan dia boleh diperlakukan secara tidak benar, termasuk sexual harassment. Jadi si mbak penyanyi, seseksi apapun pakaiannya, sedasyyyyaaatttt apapun goyangannya, tidak layak mengalami pelecehan sexual oleh siapa pun, dimana pun dan kapan pun…

Namun di sisi lain menurut Tati…,  bukankah sudah diajarkan dalam agama, bahwa perempuan itu seharusnya menjaga diri, dengan menutup auratnya, menjaga tingkah lakunya, agar tidak mengundang pikiran negatif dari orang lain, khususnya lawan jenisnya.. Karena katanya, sekali lagi katanya, seluruh bagian tubuh dan gerak laku perempuan adalah keindahan yang bisa menggetarkan hati lawan jenisnya . Katanya lho…!! Tati juga gak tau persis, Mungkin kita perlu melakukan survey kepada para kaum Adam tentang kebenaran pernyataan ini.. Apa benar ngelihat kulit mulus di wajah, leher, dada dan tengkuk perempuan aja udah bisa bikin jakun mereka bergerak-gerak..? Apa benar melihat tumit perempuan yang berwarna semburat merah jambu (tumit lho, belum betis), bisa bikin dada mereka berdebar-debar…?

Kalo ngeliat kulit yang halus mulus, tumit yang merona merah jambu aja udah bisa bikin kaum lelaki berdebar, gimana kalo mereka melihat perempuan berpenampilan seksi, apalagi bergoyang sangat sangat aduhaaaayyyyyy di atas panggung? Apa gak seperti menantang kaum lelaki untuk menguji seberapa kuat mereka mengendalikan diri? Naahhh, kalo ternyata para penonton yang terdiri dari lawan jenis itu tidak mampu menghadapi tantangan ini lalu terekspresikan dengan tingkah laku yang juga tidak terkendali, apakah bisa kesalahan sepenuhnya dibebankan kepada pihak yang ditantang? Bagaimana dengan pihak yang menghadirkan tantangan? Apakah bisa dibebaskan dari tanggung jawab…?

Tati jadi ingat beberapa baris tulisan Kahlil Gibran dalam buku Sang Nabi yang lebih kurang mengatakan, “Bila kamu mengalami kecurian, kamu tidak bisa menyalahkan si pencuri sepenuhnya.. Tapi anda juga punya peran di situ, yaitu dengan mengahdirkan kondisi yang membuat si pencuri ingin mencuri..”

Jadi ingat ucapan Bang Napi juga… Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari si pelaku, tetapi juga karena adanya kesempatan. Oleh karena itu waspadalah waspadalah…

Note :

Buat si mbak penyanyi, maaf ya kalo opini kita tentang kekebasan seorang perempuan berbeda. Mudah2an opini saya ini tidak membuat mbak jadi marah pula pada saya…

Pic diambil dari www.fotosearch.com

Me…, A Civil Servant..

Sebagaimana teman-teman tau, main job Tati adalah Civil Servant alias Pegawai Negeri Sipil. Naahhh dalam interaksi di masyarakat sehari-hari Tati seringkali mendengar ucapan2 seperti ini..

“Kapan ada penerimaan PNS lagi, ‘Ndha? Saya pengen anak/adik/istri/suami saya jadi PNS.”

Kalo Tati tanya kenapa mau jadi PNS, jawabanya selalu…

“Iya kan enak hidupnya terjamin.. Ada pensiunnya nanti.. Kerjanya juga gak berat..”

Jawaban yang selalu bisa bikin Tati tersenyum… Kenapa tersenyum….? Karena ada sisi pandang yang berbeda sebagai orang yang telah berada di dalam sistem selama bertahun-tahun.. Ini beberapa sisi pandang yang berbeda itu…

Soal hidup yang terjamin.. Dalam hidup gak adalah yang benar2 terjamin, gak ada yang namanya kepastian.. Dalam jangka pendek, mungkin jadi PNS itu terjamin. Tiap tanggal 1 dapat gaji. Gak gampang buat dipecat dsb. Memang sekarang ini penghasilan PNS lebih dari lumayan, karena selain memperoleh gaji, beberapa daerah juga telah memberikan tunjangan kemahalan kerja. Alhamdulillah. Tapi apa siyy yang benar-benar terjamin dalam hidup..? Apa ada jaminan kalo sederet peraturan tentang PNS yang telah ada selama ini tidak akan berubah? Bagaimana kalo kondisi keuangan negara tidak memberikan pilihan lain selain melakukan kebijakan strukturisasi birokrasi dalam bentuk pensiun dini? Lagi pula bukankah jaminan membuat orang seringkali menjadi weaker…? Jadi melemah karena kurang tantangan, seperti otot yang jarang dipakai..

Ada pensiunnya.. Pada tau gak siyy berapa pensiun PNS? Cuma sekitar 80% dari Gaji Pokok PNS. Padahal nilai Gaji Pokok PNS itu sedikit lho kalo dibanding dengan gaji di swasta untuk kualifikasi yang sama. Bukannya kalo kerja sebagai Non PNS, punya gaji lebih besar, lalu diinvestasi sedemikian rupa justru bisa menyediakan dana pensiun yang jauh lebih tinggi?

Kerjanya gak berat… Wadduuhhh… ini statement yang ekonomis banget… “Berkorban sedikit-dikitnya untuk memperoleh keuntungan sebesar2nya”. Tapi ini prinsip yang manusiawi laahhh… Hehehe.. Tati gak menutup mata, kalo di sekitar Tati buaaaanyyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaakk banget teman2 yang pasukan 704. Datang jam 7 pagi buat absen masuk, lalu datang lagi jam 4 sore buat absen pulang. Di antara kedua waktu tersebut, mereka entah kemana…. Banyak juga teman2 yang gak ngerti dengan tugas mereka…, bahkan gak ngerti bagaimana ngonsep surat, bikin telaahan staf, nota dinas, apa lagi menciptakan kerjaan alias kegiatan atau proyek kalo pake istilah lama… Tapi sebagai anak yang dibesarkan dalam keluarga yang PNS, Tati melihat orang tua Tati adalah PNS yang bekerja keras… Tati biasa melihat orang tua Tati melanjutkan pekerjaan di rumah sampai larut malam untuk menyelesaikan pekerjaannya…

Sebenarnya tugas sebagai PNS itu dijabarkan dalam tupoksi (tugas pokok dan fungsi), atau job description kalo di perusahaan swasta. Tapi memang seringkali tupoksi di pemerintahan itu gak terjabarkan dengan baik, bahkan mengambang. Bukan satu dua kali juga, tupoksi kita disamber orang lain karena dia melihat tupoksi kita lebih “basah” dari pada tupoksinya.. Padahal, kalo ikut aturan yang benar, ya gak adalah tempat yang basah dan kering, gak ada juga istilah meja air mata dan meja mata air. Kuncinya siyy bagaimana kita bisa membaca tupoksi kita dan menjabarkannya sedemikian rupa sehingga menciptakan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan. Jadi kalo kita mau melihat dengan serius pekerjaan sebagai PNS, buanyak banget lagi kerjanya… Tapi kalo gak mau tau, ya emang gak ada yang bisa dikerjakan…

Pics diambil dari sini..