Rasa Percaya Diri….

Melihat aksi seorang perempuan muda yang terus menerus berupaya menarik perhatian dari seorang lelaki yang dia tahu sudah terikat dengan pernikahan membawa pikiranku pada seorang perempuan dengan usia di atas 45 tahun yang ku kenal beberapa bulan yang lalu…  Perempuan yang hanya melintas sesaat dalam kehidupanku…

Apa yang membuat ku teringat padanya….??

Perempuan ini aku temukan dalam kepedihan hatinya.. Saat dia menemukan bahwa lelaki yang menjadi kekasihnya selama hampir 20 bulan ternyata sudah menikah dengan perempuan lain.  Dia tidak mengetahui sama sekali bahwa lelaki itu telah menikah, sehingga dia tetap berharap akan segera dipersunting kekasih hatinya..

Bagi dia yang sudah 20 bulan berharap dinikahi kekasihnya, tidak mudah menerima kenyataan bahwa kekasihnya berselingkuh.. Dan bukan hanya berselingkuh tapi justru selingkuhan itu yang dinikahi kekasihnya…  Justru dia yang berganti posisi jadi selingkuhan suami perempuan lain…  Dia merasa tidak pernah diputuskan oleh kekasihnya itu.. Dia merasa lelaki itu tetap kekasihnya…

Mungkin agar semua kenyataan itu benar-benar hadir di hadapannya, dia memaksa istri kekasihnya untuk mau bertemu…  Istri si lelaki sebenarnya tak akan mendapatkan manfaat dari pertemuan itu, bahkan bisa membuat hatinya lebih pedih…  Tapi demi memuaskan hati perempuan yang gelisah dan pedih hati, dia pun menemui perempuan itu…

Tapi dari percakapan dengan si perempuan saat pertemuan itu, si istri tahu bahwa suaminya memang memperlakukan dia berbeda dengan si perempuan itu, sejak awal hubungan mereka…  Si suami jauh, jauh, jauuuuhhhhhh lebih menghargai dirinya sejak awal hubungan mereka.. Si suami jauh lebih mengapresiasi eksistensi si istri..

Lalu di akhir pertemuan mereka si perempuan mengatakan pada istri si lelaki, “Kalau…, kalau suatu hari nanti kamu memutuskan untuk berpisah dengan suami mu, kasi tahu aku ya…” Guuuuuubbbbbrrrrraaaaakkkkkk….

Si istri hanya terdiam dan memandang….  Memandang dengan tatapan pilu…   Bagaimana tidak pilu, ketika dia tahu bahwa di muka bumi ini ada orang yang mengharapkan rumah tangganya hancur… , bahwa ada orang yang menunggu-nunggu ikatan yang dilakukannya bersama suaminya atas nama Allah putus di tengah jalan..  Si istri lalu berpamitan dan pergi…

Tapi ketika beberapa hari kemudian, saat mereka bicara di telpon si perempuan itu kembali mengatakan hal yang sama pada istri si lelaki, agar dia memberitahukan si perempuan bila si istri memutuskan untuk berpisah dari suaminya…., si istri lalu berkata…

“Mba…, maaf yaaa… Aku minta maaf karena akan mengatakan sesuatu yang akan sangat kasar dan menyakitkan hatimu, tapi aku pikir ini harus ku katakan… 

Kamu tetap mengharapkan laki-laki yang tidak mencintaimu, laki-laki yang sudah memperlakukan kamu dengan buruk.  Kenapa aku katakan demikian?  Karena dia membina hubungan denganmu, tapi dia menikahi perempuan yang lain.. , aku.  Tak ada yang memaksa suami ku untuk menikahi ku.  Justru dia yang sangat menginginkan pernikahan kami.   Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan menikahi perempuan lain, apa pun alasannya. Kamu pacaran 20 bulan, tapi kamu gak tahu siapa dia, keluarganya dan hal-hal lain.  Bahkan dia tidak mau berfoto dengan mu, mba, sementara dengan aku sejak awal dia ingin kami punya foto bersama, dia menemui keluargaku untuk memintaku. 

Lalu mengapa mba tetap berusaha meraih laki-laki  yang tidak menghargai mba seperti itu? Apakah mba tidak percaya bahwa mba adalah perempuan yang istimewa yang bisa mendapatkan laki-laki yang lebih menghargai mba, yang mencintai mba? 

Apakah mba tidak merasa diri mba berharga sehingga bisa membuat mba percaya diri dan tidak dipermainkan oleh laki-laki yang tidak menghargai, mba?  Maaf sekali lagi ketika aku harus berkata blak-blakan dan mungkin bagaikan tamparan buat mba.  Tapi percayalah, maksudku baik.  Justru karena mba juga perempuan seperti aku, sehingga aku gak mau mba direndahkan, dipermainkan. 

Bangkitlah..  Pergilah menyongsong hidup yang lebih baik, dengan harapan akan menemukan laki-laki yang lebih baik, yang lebih menghargai mba.”

Setelah itu si perempuan itu pergi, melanjutkan hidupnya.. Si istri berharap perempuan yang pernah menjadi kekasih suaminya itu bisa memahami ucapan-ucapannya sebagai sebuah maksud baik, dan kemudian memaafkan bila ucapan itu sempat melahirkan rasa sakit dan perih… Si istri berharap perempuan itu segera menemukan kebahagiaannya, menemukan laki-laki yang lebih menghargainya, mencintainya..

Naaahhhh…,  hal yang secara esensial sama dilakukan oleh si perempuan muda.  Upaya si perempuan muda yang tak mengerti (atau pura-pura tak mengerti)  bahwa dia  mengganggu kehidupan orang lain.., bahwa dia mencoba memutuskan ikatan yang dilakukan dengan nama Allah…., sungguh mencerminkan bahwa dia tak percaya bahwa dia sosok yang berarti, sosok yang berharga, yang berhak mendapatkan laki-laki yang lebih baik, yang tidak membina hubungan dengannya tapi menikahi perempuan lain..

Alasan si perempuan muda bahwa dia melakukan semua ini karena dia cinta..  Demi cinta..  Yakin itu karena cinta dan demi cinta…??  Apa bukan karena ego yang terusik, karena ditinggalkan menikah, secara diam-diam pula..?  Apa bukan karena ingin membalaskan rasa sakit hati, tapi kemudian terjebak oleh perasaan sendiri…??

Apa pun itu, seharusnya perempuan ini  memahami bahwa dia makhluk berharga, yang pantas mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya.., termasuk laki-laki yang baik.., yang menghargai dia, mencintai dia secara utuh penuh.. Harusnya dia menghargai dirinya sendiri, sehingga melahirkan rasa percaya diri bahwa dia mampu mendapatkan yang terbaik bagi dirinya..  Entah lah..

Sebenarnya bukan laki-laki yang membuat perempuan menderita.. tapi perempuan yang tak  mau melihat siapa dirinya lah yang mebuat dirinya sendiri menderita…

Teman-temanku, para perempuan cerdas…, mari kita bangun konsep diri yang jelas.. yang akan melahirkan rasa percaya diri, yang membuat kita punya posisi tawar dalam menentukan kedudukan kita dalam kehidupan ini..  ***

Man Jadda Wajada….

Hidup ku begitu bergolak akhir-akhir ini….  Dari kehidupan yang beberapa tahun terakhir berada dalam satu jalur yang tidak banyak tikungan…  Jalur yang terkadang terasa monoton…  Jalur yang tak lagi diisi impian-impian indah yang memanggil-manggil jiwa untuk menari di antara bintang-bintang…

Lalu, seseorang memaksa masuk dalam hidupku…., membawa sekeranjang impian…  Aku terpesona akan impian yang ditawarkan…  Aku memutuskan untuk bersamanya melangkah…

Tapi impian yang ditawarkan  ternyata hanya impian…  Impian yang tak pernah diupayakan untuk diraih..  Meraih impian sepenuhnya diserahkan menjadi urusanku…

Namun, Allah punya rencana-Nya sendiri…

Sebuah kesempatan yang semula ku bentangkan agar si pembawa impian bisa mewujudkan impiannya, yang kemudian menjadi impian kami, ternyata menjadi kesempatan bagiku.. Karena si pembawa impian hanya bermimpi…., tak sungguh-sungguh berusaha meraih impiannya…  Bahkan kembali menyerahkan upaya meraih impian menjadi urusanku…

Kemaren sore, 01 April 2012… Menunggu saatnya untuk pergi ke bandara Soetta, mengikuti jadwal penerbangan untuk pulang…, adik iparku Nana menyarankan aku untuk pergi ke Gramedia Grand Indonesia.., toko buku favorite ku..  Ya, toko buku bagi ku sebuah surga di dunia…

Di sana, aku menyusuri  tumpukan buku-buku New Release…  Membaca ringkasan-ringkasan isi buku yang terdapat di sampul belakang buku-buku tersebut…

Tiba-tiba…, subhanallah… di pikiran ku hadir sosok diriku….  Ya, kemaren aku pergi ke Gramedia dengan memakai celana 7/8, dengan blouse cassual  L-size, sandal crocs dan tas rajut Dowa..  Pakaian yang “aku” banget..   Blouse cassual L-size adalah hal yang impossible bagi ku beberapa bulan yang lalu… Karena  ukuran bajuku beberapa tahun terakhir XXL…  Yaaaaa…., aku bisa merubah keadaan.. Aku bisa meraih mimpiku…, asal aku fokus, kerja keras, disiplin dan tak ragu untuk berkorban untuk pencapaian yang aku inginkan…

Pikiran ini diikuti oleh pikiran bahwa aku adalah Perempuan Istimewa Makhluk Allah yang istimewa…  Aku mempunyai keluarga yang begitu mencintaiku, keluarga yang bersedia dengan penuh kegembiraan melakukan apa pun untuk kemajuan ku, kebahagiaanku…  Aku di sepanjang usia mendapat kesempatan edukasi yang menjadi bekal bagi hidupku saat ini…  Aku punya pekerjaan yang baik, prospek karir yang cemerlang…, dan sekarang aku bahkan punya peluang bisnis yang sangat prospektif yang ingin ku manfaatkan untuk membangun passive income yang bisa menjadi bekal saat aku pensiun nanti….

Lalu…., bagaimana aku bisa mencapai impian-impianku dengan semua yang ada pada ku saat ini bila aku tidak fokus…?  Kapan bisa menari di antara bintang-bintang bila waktu dan tenaga ku habis untuk mengurusi si pembawa mimpi yang hanya bermimpi…

Hanya ada satu jalan meraih mimpi…, fokus… Fokus mengerahkan pikiran, tenaga untuk meraih impian… Melepaskan si pembawa mimpi yang tak pernah berupaya mewujudkan mimpi-mimpinya…

MAN JADDA WAJADA…  SIAPA YANG BERSUNGGUH-SUNGGUH, AKAN BERHASIL…

 Malam ini aku mulai membaca buku  Merry Riana “Mimpi Sejuta Dolar”, salah satu buku yang aku bawa pulang dari Gramedia Grand Indonesia kemaren sore…  Di dalamnya ada larik-larik pusi yang begitu indah dan penuh makna…  Puisi yang menurut Merry  terdapat di dalam buku kecil, bekal dari ibunya saat dia akan berangkat sekolah ke Singapore…

 HIDUP adalah suatu…
Tantangan yang harus dihadapi,
Perjuangan yang harus dimenangkan,
Kesusahan yang harus diatasi,
Rahasia yang harus digali,
Tragedi yang harus dialami,
Kegembiraan yang harus disebarkan,
Cinta yang harus dinikmati,
Tugas yang harus dilaksanakan,
Romantika yang harus dirangkul,
Risiko yang harus diambil,
Lagu yang harus dinyanyikan,
Anugrah yang harus dipergunakan,
Impian yang harus diwujudkan,
Perjalanan yang harus diselesaikan,
Janji yang harus dipenuhi,
Keindahan yang harus dikagumi,
Pertanyaan yang harus dijawab,
Kesempatan yang harus dipakai,
Persoalan yang harus dipecahkan,
Kesulitan yang harus dikalahkan,
RAHMAT YANG HARUS DIPELIHARA DAN DICINTAI…

Be grateful, please…

Beberapa waktu yang lalu, aku melihat di sebuah status seorang teman di FB tertulis “Janganlah kau bersedih, cause everything’s gonna be ok”.  Aku tahu itu adalah kutipan lirik dari lagu Bondan featuring Fade 2 Blade…

Status itu membawa pikiranku melayang… Melayang ke suatu waktu di rumah ku yang mungil…

Ketika itu di suatu pagi di akhir pekan  aku sedang duduk termangu-mangu di kamar tidur ku..  Aku sedang merasa betapa kehidupan ku jauh dari sempurna… : di usia ku yang lebih dari 4 dasa warsa, aku belum menikah, apalagi punya anak.., aku hidup sendirian, jauh dari keluarga yang menyayangi aku, aku bekerja di lingkungan yang relatif tidak bersahabat… Rasanya hidup begitu menyedihkan, begitu sepi, begitu hopeless…  Terlintas dalam pikiran ku siapa yang akan menemani aku saat tua nanti, siapa yang akan mengurus aku…  Terlintas lagi dalam pikiran ku sampai kapan aku harus menghadapi lingkungan yang tak cukup ramah…

Tiba-tiba terdengar sapaan Mak Uo (seorang ibu yang berusia 50 tahunan yang datang 3 kali seminggu untuk menyetrika di rumahku) yang sedang menyetrika di ruang di depan kamar ku… “Bu…, ibu mengapa…? Apa yang ibu pikirkan? Apa yang ibu sedihkan, sampai ibu termangu-mangu begitu…?”

Lalu Mak Uo melanjutkan, “Coba ibu lihat saya ini…  Saya seumur hidup kerja banting tulang…, mencuci, menyetrika dari rumah ke rumah untuk menyekolahkan anak, dengan harapan akan membuat keadaan keluarga akan lebih baik..  Tapi setelah anak lulus sekolah, dapat pekerjaan yang baik, tak lama dia sakit, lalu meninggal.  Mau bagaimana saya lagi.. Sudah saya usahakan semampu saya, tapi Allah berkehendak lain.  Apa lalu saya harus bersedih, apa saya lalu haris menjadi tidak taqwa…?  Coba ibu lihat diri ibu…  Ibu masih punya keluarga, ada orang tua yang sayang sama ibu, ada kakak dan adik yang peduli sama ibu, ibu punya rumah, ibu ada kendaraan yang memudahkan langkah ibu, ada pekerjaan yang baik, ada penghasilan yang membuat ibu masih bisa memilih mau makan apa hari ini.. Mengapa juga ibu harus bersedih? Soal jodoh, anak semua sudah ada garisnya.. Serahkan saja kepada Allah, bu..

Ucapan Mak Uo menarik ku dari pikiran yang nelongso… Astagfirullah…  Betapa pikiran negatif membawa aku menjauh dari kenyataan bahwa aku punya begitu banyak…, bahwa aku seharusnya bersyukur… bahwa apa yang belum ada tidak seharusnya membuat aku lupa akan apa yang telah ada, serta mensyukurinya…  I was forget to be grateful  …

Status seorang kenalan itu juga mengingatkan ku akan video clip ini.. Video yang dikirimkan Nana, adik ipar ku melalui bbm beberapa waktu yang lalu.. Clip yang akan menggugah kesadaran bagi orang-orang yang mau mendengarkan kata hatinya sehingga menimbulkan rasa syukur di dada….

Silahkan ditonton teman2… Semoga membawa kebaikan, terutama rasa syukur d hati kita, ya..***

It’s 4 Years Already….

11 Juni 2007 – 11 Juni 2011

Empat tahun…. Apa yang sudah empat tahun…???? Aku nge’blog… Iya, empat tahun sudah aku membuat tulisan-tulisan dan merilisnya di blogku….   Tulisan atau postingan yang berjudul Tati yang aku rilis pada tanggal 11 Juni 2007 merupakan langkah pertamaku menulis untuk dikonsumsi publik…

Sampai hari ini, termasuk tulisan ini, total ada 581 tulisan yang sudah aku buat..  Gak terasa, sungguh…  Semuanya mengalir begitu saja..  Memang ada kalanya ide mengucur dengan deras, sehingga tiada hari tanpa melahirkan tulisan.., bahkan bisa dua sampai tiga tulisan lahir dalam sehari..  Tapi ada kalanya energi dan jiwa tersita dengan persoalan-persoalan hidup, sehingga tak ada lagi yang tersisa untuk menjadi tulisan meski itu sekedar curahan hati….

Blog pertamaku yang beralamat http://tatinya-anak-anak.blogspot.com, ku beri judul “Tatinya Anak-anak” dengan deskripsi “Tati, Bou dan Wowo dari 13 kurcaci dengan usia 2 sampai dengan 26 tahun”, dimana aku mengunakan kata Tati sebagai sebutan bagi diriku..  Tapi seiring dengan perjalanan hidup menjadi Tati bukan lagi peran penting dalam hari-hariku, dalam kehidupanku… Aku bertransformasi sepenuhnya menjadi Sondha… Sebagai konsekuensinya blog ku pun bertransformasi, menjadi Catatan Perjalanan Hidupku alias My Notes dengan  tagline “Life is journey and this is a place to note mine..”

Selanjutnya nge’blog menjadi aktivitas yang membahagiakan…, karena menjadi cara penyeimbangan  jiwa.., cara mengeluarkan magma yang acap kali bergejolak dalam kepundan jiwa.  .Melalui blog aku bisa mengekpresikan diri,mengekspresikan rasa yang dalam kegiatan sehari-hari, dalam berinteraksi dengan berbagai pihak sering kali tak dapat dikeluarkan..  Namun teteupppp, ada koridor yang mmberikan rambu2 agar ekspresi itu tetap santun, tidak menohok orang (bila ada) secara frontal…  Justru melalui menulis aku belajar untuk lebih taktis dalam mengungkapkan gejolak-gejolak di hatiku…

Ngeblog selanjutnya mendorong aku untuk memotret obyek-obyek yang akan aku jadikan tulisan.   Mulai dari foto  bersama  keluarga atau teman, saat jalan-jalan, foto tempat-tempat yang dikunjungi, foto-foto kuliner yang dinikmati, dan lain  sebagainya..  Akibatnya aku juga jadi senang memotret…  Kamera menjadi salah satu penghuni tetap tas ku.  Lalu untuk  bahan tulisan, setiap berkunjung kemana2, aku selalu berusaha menangkap semua detil dengan hati…, merasakannya, dan mencatatnya juga dalam hati… hehehehe…

Lalu setelah 4 tahun berjalan beberapa  anggota keluarga dan juga sahabat mendorong aku untuk menekuni fotografi, juga kegiatan tulis menulis…  Hmmmmm…., nge’blog membuat aku menemukan sisi diri yang lain… Sisi Sondha yang sesungguhnya berjiwa merdeka, bukan seorang staf birokrasi yang terikat aturan2 yang terkadang menyesakkan dada…

Hari2 ini ada seseorang yang berjanji akan menemaniku di masa yang akan datang, dan akan memberi dukungan bagi ku untuk mengembangkan diri ku yang sesungguhnya.. Orang, yang menurut pengakuannya, mengenal aku yang sesungguhnya dari tulisan-tulisanku di blog..

Semoga akan ada kesempatan bagi ku untuk lebih berkembang di masa yang akan datang… Berkembang sesuai dengan bakat dan potensi diri yang aku temukan melalui blog…

Let’s blogging my dear friends…..!!! ***

White Lie..

White Lie alias Kebohongan Putih…Kata ini mungkin tidak asing buat kita… Ya, kebohongan putih dimaknai sebagai kebohongan yang dilakukan untuk tujuan yang baik…

Apakah ini bisa dibenarkan menurut teman-teman…?  Bukan kah kebohongan adalah kebohongan, sesuatu yang tidak baik.., sesuatu yang tak dapat dibenarkan… Tidak ada yang bisa menyatakan bahwa berbohong itu benar… Bagaimana bila berbohong itu harus dilakukan untuk tujuan yang baik…? Hhhmmmm…. It’s grey zone, my dear friends…

Topik mengenai ini bahkan sudah dibahas sejak zaman Rasulullah SAW…  Dan ternyata Rasullah tidak menutup habis pintu untuk hal-hal yang seperti ini… Tapi dari yang aku dengar dan baca, Beliau tidak “langsung” melakukan kebohongan, melainkan membiarkan pihak lawan “terjebak” dengan pikiran-pikiran, asumsi-asumsinya sendiri…  Jadi lidah tetap tidak berdusta….

Beberapa hari yang lalu aku melakukan white lie… Tapi white lie ku benar2 ku lakukan.. Bukan seperti Rasulah.. Astagfirullah al adzim..

Ceritanya, seseorang yang pernah mengisi hari2 ku di masa lalu berhari jadi… Namun pertimbangan diri yang semakin tinggi usia, memutuskan untuk tidak meninggalkan ucapan apa pun di dinding-nya di jejaring sosial…, karena tidak mau siapa pun merasa terganggu…  Tapi ternyata oh ternyata, sebuah fasilitas di jejaring sosial bekerja dengan sangat baik, sehingga tanpa diperintahkan pun, secara otomatis menggalkan birthday wish di dinding si teman…

Aku tidak menyadari adanya kerja tersebut, sampai sebuah notification mengatakan bahwa si teman menigacungkan jempol atas ucapan tersebut…Aku yg baru nyadar akan kehadiran posting otomatis itu, berusaha menetralisir dgn mengatakan klo itu kerja mesin, lalu mengucapkan a simple birthday wish…  Tapi teman ku itu menganggap my belated wish itu gak apa-apa yang penting aku sudah berniat mengatakan birthday wish. 

Waaaahhhh ……,  aku justru gak mau ada yang merasa sebel karena menganggap aku berniat…  Dari pada nanti ada yg sebel.. Terpaksa kutuliskan di dindingnya, permohonan maaf, karena aku “sebenarnya” gak ingat dia berhari jadi… , padahal aku ingat, masih ingat.. Apakah ini tergolong sebagai white lie…? Entah lah… Yang jelas, rasanya tak ada yang dirugikan atas kebohongan ku ini.. Justru mungkin ada yang merasa lega…  Aku secara pribadi justru merasa sangat lega.. Padahal biasanya klo aku berbohong, jantung ku akan berdetak lebih kencang, jiwaku akan gelisah, meski sekecil apa pun kebohongan itu…  Mudah2an ini bisa tergolong white lie yaaa…**

Rupat Island…, The Virgin Destination

Me @ d Rupat Bay...

Tanggal 6 January 2011 yang lalu aku dan rombongan kantor pergi ke Pulau Rupat… Mungkin sebagian besar teman-teman gak pernah dengar nama pulau ini, apalagi tahu lokasinya…

Pulau Rupat adalah salat satu pulau terluar dari pulau-pulau yang terdapat di perairan Selat Malaka, yang berbatasan langsung dengan Negeri Jiran Malaysia…  Klo aku lihat di Google-earth, jarak dari Pulau Rupat ke Port Dickson sekitar 50 km-an… Bahkan menurut info yang aku dengar ada acara tahunan, yaitu mandi syafar di Pulau Rupat yang banyak dihadiri oleh warga Malaysia…

Aku ngapain ke sana…? Ngeliat kawasan yang menurut rencana akan dijadikan salah satu destinasi wisata Riau…

Tapi ternyata untuk ke sana butuh upaya extra…, butuh ketabahan.., butuh mengkonsumsi extra Joss 1 karduss… Hahahahaha… Kenapa…? Karena dari Pekanbaru harus pergi ke Dumai dulu.. Waktu tempuh sekitar 3 jam.. *Jauh yaa…? * Itu belum seberapa dengan rasa mabok yang melanda ketika melintasi jalan Pekanbaru – Duri yang seperti grafik sinus.. Aku hanya mampu terdiam dan memejamkan mata.. Menahan sedemikian rupa agar tidak muntah…!!!!

Sampai di Dumai, gak bisa langsung nyeberang… Mesti nginap dulu, karena di Rupat belum ada tempat buat nginap.  Jadi harus kembali di hari yang sama dengan saat kedatangan..  Karena perjalan Dumai – Rupat dengan ferry (dan ini satu-satu transportasi yang tersedia!!!!) membutuhkan waktu tempuh 3 jam, jadi harus berangkat ke Rupat dari Dumai pagi hari.., yaitu jam 09.00 WIB, lalu naik ferry untuk kembali ke Dumai jam 14.00 WIB…

Perjalanan dari Dumai ke Rupat dimulai dengan menyusuri sungai yang di kiri kanannya dipenuhi pohon bakau.., dan berlanjut dengan menyusuri selat selama 3 jam…

Pelabuhan Rupat...

Begitu ferry merapat, yang aku temukan hanyalah pelabuhan rakyat dengan beberapa rumah penduduk berbahan kayu…

Ternyata ini adalah sisi selatan Tanjung Medang.., pantainya di bagian Utara.. Jadi harus nyambung lagi… Naik apa…? Naik ojeg kena beceg, sodara-sodara… Hahahahaha…  Yesssssssss, ojeg is d only one public transport in this island.. Jangan harap akan ada angkot apalagi taxi…  Masih jauhhhhhh….

Menyusuri Rupat naik ojeg kena beceg...

Lalu kami pun melanjutkan perjalan by ojeg kena beceg, menyusuri jalan2 tanah yang diperkeras…, yang di kiri kanannya berupa kebun karet, kebun sawit, ladang, semak dan pemukiman yang jarak rumahnya jarang2…  Tapi most of rumah2 yang kami temui merupakan rumah penduduk beretnis China.. Ini terlihat dari kehadiran tempat2 sembayang dan arsitektur rumah yang khas..

Menurut cerita yang aku dengar, etnis China yang ada di Pulau Rupat ini adalah Suku Akit, yang datang langsung dari dataran China ratusan tahun yang lalu.. Mereka punya budaya dan dialek yang khas…

Pantai Rupat Utara...

Setelah naik ojeg sekitar 20 menitan, kami akhirnya sampai juga di pantai Rupat Utara.. Pasirnya putih…, pantainya panjang banget.. Katanya siyy sekitar 17 km… Tapi sarana untuk menikmati pantainya jauh dari memadai…  Butuh perencanaan, investasi dan strategi pemasaran yang terpadu buat membangun daerah ini menjadi destinasi wisata yang bisa diandalkan… Mungkin skema Kerjasama dengan Pihak Ketiga (dimana Pihak Ketiga membangun dan diberi keleluasaan mengelola daerah tujuan wisata selama sekian tahun, dan pemerintah mendapat bagian keuntungan, lalu diserahkan kembali kepada Pemerintah setelah berakhir masa kontrak) akan lebih efektif untuk membangun daerah ini..

Menyusuri pantai dengan motor...

Selesai memandang-mandang, kami kembali ke pelabuhan dengan naik motor melalui jalan berbeda, kali ini menyusuri pantai…  Hmmmm…. bay safari, ceritanya.. Hehehehe…***

Hakekat Kerja….

Aku adalah penggemar KLa Project…  Itu wajar, selain karena memang mereka adalah pemusik yang jaya di era kemudaanku,  lagu2 mereka indah, penuh kejutan, tidak monoton dan liriknya sangat puitis dan penuh makna.

Satu lagu KLa Project  yang mengingatkan aku akan hakikat kerja, hakekat yang sering kali terlupakan di saat kata “kerja” mendangkal pemaknaannya hanya sekedar sebagai upaya mencari rezeki semata…  Hakekat kerja yang dinyanyikan Kla Project ini adalah mutiara hidup ditebarkan Kahlil Gibran dalam Sang Nabi.

Let’s sing my dear friends… Sambil menikmati dan menghayati maknanya.. Semoga membuat kita lebih bersemangat untuk bekerja…

HEY

Kerja adalah cinta, yang ngejawantah
Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta
Hanya dengan enggan
Maka lebih baik jika kau meninggalkannya
Lalu mengambil tempat di depan gapura candi
Meminta sedekah dari mereka
Yang bekerja dengan suka cita
(Dari “sang Nabi”, Kahlil Gibran)

Hey! Angkat wajahmu
Bermuram durja tak guna
Susunlah lagi rencana yang harus engkau benahi
Bangun jiwa, bangun raga bijana

Hey! Bertahanlah
Kegagalan adalah satu sukses tertunda
Jangan ragu, tetap pada arahmu sejak dulu
Keyakinan, pengharapan, teguh dalam tujuan

Bekerja dengan cinta
Bagai Sang Pencipta
Membentuk citra insaninya
Satukan dirimu seutuhnya…

Hey! Siagalah
Raih kesempatan begitu kau jumpa
Atur nadimu seiring irama bumi mengalun
Bangun jiwa, bangun raga bijana

Bekerja dengan cinta
Bagai Sang Pencipta
Membentuk citra insaninya
Satukan dirimu seutuhnya…

Sebar benih penuh kemesraan
Hingga panen tiba
Kita tuai kegirangan…
Satukan dirimu seutuhnya… ***

Ramadhan Berlalu…

Ramadhan berlalu…. Idul Fitri pun datang….

Allohu akbar… Allohu akbar… Allohu akbar…

La illa ha illah hullohu akbar..

Allohu akbar wa lillah ilham……

Gema takbir selalu membuat air mata menitik tanpa bisa ditahan….

Satu Ramadhan lagi telah berlalu…

Dulu saat masih belia… Yang heboh itu, yang penting itu Lebaran… Ramadhan rasanya hanya suatu jalan panjang dan berat sebelum lebaran.., sebelum bersenang-senang..

Bersenang-senang…?  Ya iya laaahhhh….. Gimana enggak…? Coba liat memories ku ini…

Beberapa hari sebelum lebaran “Sondha kecil” akan dengan senang hati duduk di teras rumah atau di bangku dari semen di bawah pohon jambu bol di samping rumah…  Ngapain…? Nunggu parcell2 berdatangan… Saat itu setiap lebaran rumah kebanjiran parcell yang isinya berbagai makanan kaleng yang mengundang air liur untuk menitik (zaman itu belum musim tuhhh parcell berisi barang) … : coklat dan permen dari berbagai merk dengan kemasan yang luar biasa, biscuit dan minuman… Bahkan ada pula yang melengkapinya dengan minuman keras yang berkemasan cantik, seperti cinzano,johny walker,  brendy dan sebagainya… (Klo sekarang aku mikirnya “heran kok bisa2nya tuuhh orang ngasi minuman keras untuk merayakan hari yang fitri…? Apa yang nagsi dan nyusun parcell2 itu gak tau kalo minuman2 itu hhaaarrrrrraaaaammmmm…..!!!!”)..  Bahkan aku dan bang Aris, tetangga yang udah kayak keluarga sendiri dan selalu di rumah, balapan siapa di antara kami yang menerima parcell kiriman lebih banyak…

Hari-hari menjelang lebaran adalah hari2 yang meriah karena semua orang di rumah sibuk berberes, merapikan rumah… Hari-hari bulak balik ke paar bersama almarhum ibu, belanja buat lebaran.. Dari belanja kue2an minuman kaleng, sampai belanja baju dan kelengkapannya, bahan terkadang sampai belanja beberapa perabot rumah tangga…

Beranjak besar… teteuuuuppp fokusnya masih ke hari raya…  Sehari sebelum Hari Raya adalahhari yang melelahkan…, karena sudah terlibat dengan urusan dapur… Membantu memotong2 bahan masakan, sampai ikut mengaduk masakan yang gak bisa berhenti diaduk karena umumnya pakai santan, yang kalau ditinggal dan tidak diaduk akan pecah santan alias keluar minyaknya, sehingga gak enak lagi…  Belum lagi kakak ku yang pintar masak acap kali menerima pesanan pudding yang bisa sampai 40 loyang buat hari pertama lebaran… Kebayang gak siyy menjelang tengah malam bikin pudding sekitar 4 atau 5 macam lengkap dengan vla nya dengan total 40-an loyang…  Akibatnya…? Bangun pagi menjelang di hari raya selalu telat… Lalu setelah sholat Ied, setelah menikmati hidangan lebaran, langsung nyari posisi ueeennaaakkk buat tidur…. Paling baru bangun bila dikasi tau ada kerabat atau kenalan yang datang berkunjung…  Setelah menyalam dan menghidangkan minuman dan makanan, lanjuuuuttttttttttttttttttttt tidur lagi…  Begitu lah lebaran bertahun2…

Tapi sekarang, ketika usia sudah jauh dari remaja, bulan Ramadhan jauh lebih berharga dan bermakna dari hari raya…  Yang akbar itu justru hari2 berpuasanya…Yang penting itu hatinya… Subhanallah….  Hari raya tidak lagi memerlukan persiapan yang heboh… Asal ada baju yang rapi buat sholat, ada mukena dan sajadah yang bersih dan rapi untuk sholat itu sudah cukup..    Rasanya senang sekali tidak ikut berdesak2an  di pasar dan mall2 menjelang lebaran.. , karena salah seorang temanku sempat “semput” saat belanja bareng2 menjelang Lebaran dengan teman2 yang lain di sebuah mall…  Jangan sampai lah yaaa….

Semoga kita masih diperkenankan bertemu dengan Ramadhan di tahun depan…

Taqaballah minal wa minkum.. Minal wa minkum taqabal ya kariim..

Mohon maaf lahir dan bathin ya teman2…