Melihat aksi seorang perempuan muda yang terus menerus berupaya menarik perhatian dari seorang lelaki yang dia tahu sudah terikat dengan pernikahan membawa pikiranku pada seorang perempuan dengan usia di atas 45 tahun yang ku kenal beberapa bulan yang lalu… Perempuan yang hanya melintas sesaat dalam kehidupanku…
Apa yang membuat ku teringat padanya….??
Perempuan ini aku temukan dalam kepedihan hatinya.. Saat dia menemukan bahwa lelaki yang menjadi kekasihnya selama hampir 20 bulan ternyata sudah menikah dengan perempuan lain. Dia tidak mengetahui sama sekali bahwa lelaki itu telah menikah, sehingga dia tetap berharap akan segera dipersunting kekasih hatinya..
Bagi dia yang sudah 20 bulan berharap dinikahi kekasihnya, tidak mudah menerima kenyataan bahwa kekasihnya berselingkuh.. Dan bukan hanya berselingkuh tapi justru selingkuhan itu yang dinikahi kekasihnya… Justru dia yang berganti posisi jadi selingkuhan suami perempuan lain… Dia merasa tidak pernah diputuskan oleh kekasihnya itu.. Dia merasa lelaki itu tetap kekasihnya…
Mungkin agar semua kenyataan itu benar-benar hadir di hadapannya, dia memaksa istri kekasihnya untuk mau bertemu… Istri si lelaki sebenarnya tak akan mendapatkan manfaat dari pertemuan itu, bahkan bisa membuat hatinya lebih pedih… Tapi demi memuaskan hati perempuan yang gelisah dan pedih hati, dia pun menemui perempuan itu…
Tapi dari percakapan dengan si perempuan saat pertemuan itu, si istri tahu bahwa suaminya memang memperlakukan dia berbeda dengan si perempuan itu, sejak awal hubungan mereka… Si suami jauh, jauh, jauuuuhhhhhh lebih menghargai dirinya sejak awal hubungan mereka.. Si suami jauh lebih mengapresiasi eksistensi si istri..
Lalu di akhir pertemuan mereka si perempuan mengatakan pada istri si lelaki, “Kalau…, kalau suatu hari nanti kamu memutuskan untuk berpisah dengan suami mu, kasi tahu aku ya…” Guuuuuubbbbbrrrrraaaaakkkkkk….
Si istri hanya terdiam dan memandang…. Memandang dengan tatapan pilu… Bagaimana tidak pilu, ketika dia tahu bahwa di muka bumi ini ada orang yang mengharapkan rumah tangganya hancur… , bahwa ada orang yang menunggu-nunggu ikatan yang dilakukannya bersama suaminya atas nama Allah putus di tengah jalan.. Si istri lalu berpamitan dan pergi…
Tapi ketika beberapa hari kemudian, saat mereka bicara di telpon si perempuan itu kembali mengatakan hal yang sama pada istri si lelaki, agar dia memberitahukan si perempuan bila si istri memutuskan untuk berpisah dari suaminya…., si istri lalu berkata…
“Mba…, maaf yaaa… Aku minta maaf karena akan mengatakan sesuatu yang akan sangat kasar dan menyakitkan hatimu, tapi aku pikir ini harus ku katakan…
Kamu tetap mengharapkan laki-laki yang tidak mencintaimu, laki-laki yang sudah memperlakukan kamu dengan buruk. Kenapa aku katakan demikian? Karena dia membina hubungan denganmu, tapi dia menikahi perempuan yang lain.. , aku. Tak ada yang memaksa suami ku untuk menikahi ku. Justru dia yang sangat menginginkan pernikahan kami. Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan menikahi perempuan lain, apa pun alasannya. Kamu pacaran 20 bulan, tapi kamu gak tahu siapa dia, keluarganya dan hal-hal lain. Bahkan dia tidak mau berfoto dengan mu, mba, sementara dengan aku sejak awal dia ingin kami punya foto bersama, dia menemui keluargaku untuk memintaku.
Lalu mengapa mba tetap berusaha meraih laki-laki yang tidak menghargai mba seperti itu? Apakah mba tidak percaya bahwa mba adalah perempuan yang istimewa yang bisa mendapatkan laki-laki yang lebih menghargai mba, yang mencintai mba?
Apakah mba tidak merasa diri mba berharga sehingga bisa membuat mba percaya diri dan tidak dipermainkan oleh laki-laki yang tidak menghargai, mba? Maaf sekali lagi ketika aku harus berkata blak-blakan dan mungkin bagaikan tamparan buat mba. Tapi percayalah, maksudku baik. Justru karena mba juga perempuan seperti aku, sehingga aku gak mau mba direndahkan, dipermainkan.
Bangkitlah.. Pergilah menyongsong hidup yang lebih baik, dengan harapan akan menemukan laki-laki yang lebih baik, yang lebih menghargai mba.”
Setelah itu si perempuan itu pergi, melanjutkan hidupnya.. Si istri berharap perempuan yang pernah menjadi kekasih suaminya itu bisa memahami ucapan-ucapannya sebagai sebuah maksud baik, dan kemudian memaafkan bila ucapan itu sempat melahirkan rasa sakit dan perih… Si istri berharap perempuan itu segera menemukan kebahagiaannya, menemukan laki-laki yang lebih menghargainya, mencintainya..
Naaahhhh…, hal yang secara esensial sama dilakukan oleh si perempuan muda. Upaya si perempuan muda yang tak mengerti (atau pura-pura tak mengerti) bahwa dia mengganggu kehidupan orang lain.., bahwa dia mencoba memutuskan ikatan yang dilakukan dengan nama Allah…., sungguh mencerminkan bahwa dia tak percaya bahwa dia sosok yang berarti, sosok yang berharga, yang berhak mendapatkan laki-laki yang lebih baik, yang tidak membina hubungan dengannya tapi menikahi perempuan lain..
Alasan si perempuan muda bahwa dia melakukan semua ini karena dia cinta.. Demi cinta.. Yakin itu karena cinta dan demi cinta…?? Apa bukan karena ego yang terusik, karena ditinggalkan menikah, secara diam-diam pula..? Apa bukan karena ingin membalaskan rasa sakit hati, tapi kemudian terjebak oleh perasaan sendiri…??
Apa pun itu, seharusnya perempuan ini memahami bahwa dia makhluk berharga, yang pantas mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya.., termasuk laki-laki yang baik.., yang menghargai dia, mencintai dia secara utuh penuh.. Harusnya dia menghargai dirinya sendiri, sehingga melahirkan rasa percaya diri bahwa dia mampu mendapatkan yang terbaik bagi dirinya.. Entah lah..
Sebenarnya bukan laki-laki yang membuat perempuan menderita.. tapi perempuan yang tak mau melihat siapa dirinya lah yang mebuat dirinya sendiri menderita…
Teman-temanku, para perempuan cerdas…, mari kita bangun konsep diri yang jelas.. yang akan melahirkan rasa percaya diri, yang membuat kita punya posisi tawar dalam menentukan kedudukan kita dalam kehidupan ini.. ***













