Buka Bareng Keluarga Besar Bappeda Kota Pekanbaru..

Minggu lalu jeng Boge Peni, mantan teman se-kantor di Bappeda Kota Pekanbaru, bbm aku..

Teman lama sejak di Bappeda : L - R : Lily Kusumawardhani, Randra Aprileni, Sondha Siregar, Boge Peni Sunestri..

Boge : Kak Son, ikut buka puasa Bappeda?

Aku : Siapa yang ngadain? Kapan? Siapa aja yang ikut? Dimana rencananya?

Boge : Yang ngadain kita-kita kak.. Bukan acara resmi Bappeda.. Rencana hari Selasa 23 Agustus di hotel A, kak..  Ini Boge lagi mendata siapa aja yang mau ikutan..

Aku : Mau lah…  Berapa kita urunan?

Boge : Seratus kak…

Aku : Baik lahhh…

So, akhirnya hari Selasa 23 Agustus 2011aku menghadiri acara Buka Bersama dengan Teman-teman Bappeda Kota Pekanbaru di The Premiere Hotel..

Siapa aja yang hadir…?  Lumayan ramai, ada sekitar 50 orang..  Ada beberapa senior yang sudah purna karya, teman-teman yang sudah mutasi dari Bappeda, juga yang teman-teman masih berkarya di Bappeda.  Bahkan banyak juga teman-teman yang gak sempat ketemu saat aku  bertugas di Bappeda..  Tapi alhamdulillah suasananya akrab banget… Kalau teman-teman mau lihat foto-foto buka puasa ini, teman-teman bisa lihat di album foto di sini

Sebagian karyawan/wati serta para mantan karyawan/wati Bappeda Kota Pekanbaru

Ya, buat aku Bappeda Kota Pekanbaru memang tak kan terlupakan… Why oh why…?  Hehehe..  Bukan hanya karena kantor ini merupakan institusi tempat tugas pertama ku sebagai Pegawai Negeri Sipil, tapi karena saat aku kerja di sana, para senior nya membina para junior dengan baik, bahkan mengayomi.., seperti yang pernah aku ceritakan di postingan yang ini dan ini….   Jadi meski telah 3 tahun 6 bulan pindah ke instansi lain, rasanya sebagian  hati tetap tinggal di Bappeda Kota Pekanbaru…

Mudah-mudahan silaturahmi yang kembali dirajut ini bisa tetap terjaga yaa….

Ok.. Sekarang waktunya ngebahas makanannya… :D

Sebenarnya kami ingin buka puasanya di Resto Hotel Premiere..  Karena ada teman yang merekom menu buffet buka puasanya banyak pilihan dan uenak-uenak…  Aku siyy baru sempat ngerasain maksi di sini, yang rasanya lumayan siyyy menurut aku..  Tapi karena bagian resto yang paling nyaman buat di-block sudah direserve duluan oleh sebuah big company, terpaksa untuk kami dibuatkan di sebuah ruangan di lantai 3 hotel tersebut…  Nah karena enggak di Resto, kami tidak bisa menikmati buffet yang katanya seru itu… Jadi buat kami disediakan makanan dengan paket menu yang dipilih oleh panitia kagetan.. Hahaha.. Tapi jumlah, jenis dan rasanya juga lumayan..  Not bad laahhh…  Apalagi buat kami di ruangan yang sama disediakan space buat sholat, sehingga bisa sholat berjamaah… Alhamdulillah…

Serunya buka puasa bareng… ***

 

Reunion Travelling 3rd Day : Around Bukittinggi..

Ke Bukittinggi…..???? Yesssss…. !! Kota dengan icon Jam Gadang ini merupakan salah satu kota yang aku senangi buat jalan2… Kenapa? Karena udaranya sejuk dan nyaman, banyak tempat yang bisa dikunjungi sambil berjalan kaki, juga banyak makanan enak… Hahahaha…

Icon Kota Bukittingi, Jam Gadang

Ya…, Sabtu pagi 02 April 2011 aku terbangun di sebuah hotel di Bukittinggi, dengan Linda dan Veny di 2 buah tempat tidur twins di kanan tempat tidurku…  Ahhh rasanya seperti kembali ke zaman di Bogor… :) .  Btw Ati dan Idien dimana…? Mereka di kamar lain, secara kalau  sekamar berlima, bisa2 gak tidur2…. hehehehe…

Setelah beres dan sarapan kami segera memulai perjalanan di hari ketiga..  Kemana…?

Pertama2 kami ke Ngarai Sianok…  Buat beberapa teman, ini kali pertama mereka ke Bukittinggi… Jadi gak sah kalau enggak melihat Ngarai Sianok..

@ Ngarai Sianok...

Buat aku…, hhhmmm  sudah tak ingat berapa kali sudah ke Ngarai ini…  Tapi ada kunjungan yang sangat mengesankan.. Yaitu ketika ke Ngarai Sianok dengan Vita, sahabatku di pertengahan tahun 1996.. Kenapa mengesankan…? Karenaaaaa, kami turun ke arah Ngarai, lalu menyusuri jembatan gantung tua yang menghubungkan kota Bukittingi dan desa Koto Gadang..  Jembatan itu posisinya persis di atas Ngarai.. So, kalau tidak waspada, alamat bye bye love…, jatuh ke jurang yang dalamnya beberapa puluh meter…   Lalu, diujung jembatan, bukan langsung Koto Gadang, tapi kita terlebih dahulu harus menyusuri tangga yang rasanya gak habis2… hehehehe…

Koto Gadang adalah kampung yang menarik untuk dikunjungi…, karena dari kampung ini berasal banyak pribadi-pribadi intelek yang kiprahnya sampai di tingkat nasional.., semisal H. Agus Salim, Sutan Syahrir, Rohanna Kudus, Emil Salim, dll.  Selain itu, di kampung ini terdapat banyak pengrajin perak yang berkarya langsung di rumah-rumah mereka… dan kita bisa mengunjungi dari rumah ke rumah yang memang dibuka untuk pengunjung…

Btw, lucu juga yaaa.., Koto Gadang di Sumatera Barat, Kota Gede di Yogyakarta, arti nama keduanya sama,  sama2 menjadi sentra kerajinan perak.. Ada teman2 yang tahu kaitan keduanya…??

Back to now… Begitu masuk ke taman tempat kita bisa memandang Ngarai Sianok, kami langsung menuju Japanesse  Tunnel alias lorong Jepang…  Ini adalah kali pertama buat aku… Biar entah sudah berapa kali ke Ngarai Sianok, aku gak pernah mau turun ke situ.. Sereeeemmmmm….  Tapi karena kali ini ramai2 dengan teman2, aku pun memutuskan untuk turun ke sana…

di depan lorong Jepang..

Lubang ini dibangun Jepang pada masa kekuasaannya di Indonesia tahun 1942 – 1945.  Tidak ada penduduk Kota Bukittinggi pada waktu itu yang mengetahuinya.. Yang jadi pertanyaan…? Kemana dibuang tanah2 hasil galiannya…? Siapa yang dipekerjakan di situ…?  Apakah petani2 di sekitar Ngarai Sianok yang pada periode tersebut sering kali lenyap tak berbekas…? Apa tujuan pembangunan lorong itu…? Apakah untuk mengintai Koto Gadang yang berada persis di seberangnya…?

Untuk mencapai pintu lubang  ini, kita harus menuruni sekian anak tangga, dan selanjutnya untuk masuk ke lubang  ini kita akan menuruni 132 anak tangga lagi yang cukup curam… Hitungan ini kami lakukan saat kami akan meninggalkan lorong atas dorongan guide yang menemani ..  Lubang ini bentuknya seperti tapal kuda…  Melengkung di atas dan datar di bagian lantainya..  Menurut guide, lantai ini sebenarnya telah diperdalam oleh Pemerintah Indonesia dalam rangka pengembangan obyek wisata.  Tinggi yang sebenarnya lebih pendek, karena tentara Jepang saat itu pendek2…

in front of jail in d tunnel..

Di dalamnya, lubang  ini bercabang2… Sangat disarankan agar turun ke lorong ini dengan didampingi oleh guide yang sudah sangat paham dengan seluk beluk lubang yang bercabang2  ini, agar tidak tersesat… Amit2 deehhhh….  Dari yang kami susuri, di lubang ini terdapat antara lain ruang amunisi penjara, dapur, ruang pengintai, dan tempat pembuangan mayat… Astagfirullah aladzim…  Satu hal yang dipertanyakan teman2, ke guide…, dimana toiletnya…? Kemana berpuluh2 orang yang tinggal dalam waktu cukup lama di lorong2 ini buang hajat…? Karena lubang ini begitu tertutup.., kalau pun terbuka, bukaannya berada di tebing…

Puas dan capek menyusuri lubang Jepang dan cabang2nya… Kami kembali ke taman di atas dan menikmati pemandangan Ngarai Sianok dari sudut2 yang berbeda…

Lembah Harau...

Selesai dari Ngarai Sianok, Gufron yang menyetir mobil, membawanya ke Payakumbuh, sebuah kota sekitar 45 km dari Bukittinggi.. Mau kemana? Ke Lembah Harau.., sebuah lembah yang terbentuk dari  patahan  dengan  tebing yang tinggi dan rata, yang menantang buat para wall climber..

Dari Lembah Harau, kami bergegas kembali ke Bukittingi… Paruik lah litak banaaa… (bahasa Minang : perut udah lapar banget…). Sempat siyy singgah di tempat jual pangan khas Payakumbuh..   Iya, kita memang menahan diri untuk tidak makan yang macam2 sebelum makan siang.. Karena kita pengen makan Nasi Kapau di Pasar Atas Bukittinggi…

Nasi kapau…? Apa itu…?

Nasi Kapau adalah nasi rames ala nagari Kapau.. Dihidangkan dengan berbagai aneka macam lauk pauk yang bisa kita pilih.  Ada gulai tambusu, yaitu usus sapi yng diisi telur dan tahu, gulai kikil, babat dan jeroan lainnya, juga ada gulai ikan, gulai dan goreng ayam.. Pokoknya beraneka deehh..  Dihidangkan lengkap dengan gulai cubadak (nangka muda) yang dicampur kacang panjang,  kol dan jariang alias jengkol… Huhuhu…, kalo yang terakhir ini ampun deehhh, aku gak makan… :)

si uni berdagang nasi kapau...

Nah di Pasar Atas Bukittinggi, ada suatu area yang memang disediakan untuk para penjual Nasi Kapau, yang semuanya perempuan alias uni (kakak)..  Yang uniknya, karena tempat lauknya besar2 dan jumlahnya banyak, waktu mengambil lauk pauk, para uni ini menggunakan sendok yang khas, yaitu dengan tangkai yang panjang  (sinduak panjang, dalam bahasa Minang).  Ke sanalah kami pergi untuk makan siang…

Jangan tanya betapa bersemangatnya kami… Biarpun selera asal kami sangat beragam..  Bahkan Neng Idien yang berdarah Banten pun makan dengan semangat…  Hehehehehe…

@ Pasar Atas...

Penjual Pisang Kapik...

Usai makan dan perut kenyang, kami melanjutkan dengan membeli oleh2 khas Sumatera Barat.. : kerupuk kulit mentah, ikan kering, baluik (belut) kering, dan juga mukena serta kerudung dengan sulaman tangan khas Bukittinggi.. Gak lupa juga kami membeli pisang kapik (pisang jepit), yaitu pisang batu dipanggang lalu dijepit pakai dua bilah papan sehingga gepeng.., lalu dihidangkan dengan kelapa yg sudah dimasak dengan gula aren.. Yang paling doyan dengan makanan ini, tentu saja Veny Sang Penggemar Pisang.. Hehehehe..

Lalu kemana lagi… Rencananya kami akan ke Padang Panjang untuk menikmati Sate Mak Syukur, lalu dilanjutkan ke Padang… Tapi ternyata Gufron yang nyetir mobil kami berkenan memberikan bonus… Bonus apa…? Just wait d next post… Hehehehe… :) ***

Reunion Travelling 2nd Day : Danau Maninjau..

Di Tugu Khatulistiwa Simpang Empat...

Selesai makan siang di Pantai Sasak, dan sempat singgah di Simpang Empat menunggui anggota rombongan yang pria bersholat Jum’at, lalu sempat pula berfoto di tugu Khatulistiwa yang ada di Kota Simpang Empat, dan mengambil barang-barang di rumah Yulisman dan Mawar.., kami melanjutkan perjalanan dengan 2 mobil ke  Bukittinggi…

Jalur yang diambil, Lubuk Alung, Danau Maninjau dan Matur..

Dari Kinali ke Danau Maninjau butuh waktu sekitar 1 jam..  Tapi kami tidak singgah di tepi Danau Maninjau… Kami memburu waktu agar sebelum gelap sudah melewati “Long and Winding Road”, Kelok 44…  Jalur ini sangat berbahaya.., karena mobil harus melewati 44 buah tikungan yang patah dan bila terjadi kesalahan, bisa jatuh ke jurang… Naudzubillabinzalik…  Lagi pula pemandangan terindah dari Danau Maninjau bukan lah dari tepi danau, melainkan dari sekitar kelok 44 dan Puncak Lawang..

@ d end of Long and Winding Road.. Alhamdulillah..

Kami lalu membuat foto2 dari beberapa lokasi di Kelok 44 yang punya view indah dan aman bagi mobil untuk berhenti..

Danau Maninjau dari Kelok 44

still @ Kelok 44....

Puas berfotoria, kami melanjutkan perjalanan… Kemana…? Aku bercerita pada teman2 tentang paket wisata Puncak Lawang – Danau Maninjau yang penah ku ambil di tahun 1996, saat aku berkunjung ke Sumatera Barat dengan Avita.  Dalam paket itu, peserta diantar dengan kenderaan ke Puncak Lawang, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki alias tracking menyusuri hutan sampai ke pinggir Danau Maninjau..  Kalau gak salah ingat, butuh waktu sekitar 3 jam berjalan kaki dari Puncak Lawang, titik tertinggi yang ada di sekitar Danau Maninjau…  Aku bercerita tentang keindahan pemandangan dari Puncak Lawang..  Gufron yang aslinya Bukittinggi dan saat itu mengendarai mobil, lalu mengarahkan mobil ke Puncak Lawang setelah melewati daerah Matur..

di kekabutan di Puncak Lawang...

me @ Puncak Lawang... Senja 01042011

Puncak Lawang menjelang senja mempunyai pesona sendiri.. Kabut di sana sini, cahaya matahari yang mulai temaram…., membatasi jarak pandang..  Waktu yang tersedia untuk menikmati pemandangan Danau Maninjau menjadi  sangat terbatas…  Namun semuanya kami disyukuri saja…  Kata teman2, kok rasanya seperti lagi di Jepang yaa… Hehehehehe.. :)

Dari Puncak Lawang, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi.., menikmati makan malam di Jl. Ahmad Yani, yang merupakan tourist street di kota Bukittinggi, yang dilanjutkan dengan berjalan kaki ke arah Jam Gadang… Menikmati suasana kota Bukittinggi….

Perjalanan hari itu luar biasa indah.. What a perfect day….!! Alhamdulillah…

Reunion Travelling 2nd Day : Pantai Sasak

Pantai Sasak, Pasaman Barat...

Jum’at pagi, 01 April 2011, setelah selesai beberes,  dengan 2 mobil rombongan kami dibawa oleh Tuan dan Nyonya rumah ke… Pantai Sasak…  Dimana itu…?

Pantai Sasak itu berada di Kabupaten Pasaman Barat, berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia…

Kalau dilihat dari pantainya, pantai ini gak jauh berbeda dengan pantai-pantai lainnya yang udah aku kunjungi…  Karena posisinya menghadap ke barat, mungkin sunset di pantai ini indah sekali…   Tapi kami tidak bisa menyaksikannya karena kami berkunjung ke sana sekitar jam 10 sampai saatnya makan siang…

Lalu apa istimewanya pantai ini….? Kulinernya….

L - R : Yulisman, Veny, Linda, Ati, Aries, Sondha, Idien, Nana dan Gufron

Setelah sempat berfoto dengan formasi nyaris lengkap (hanya Vampire yang gak ada), kami digiring (sapi kaleeeee….. hehehe :) ) ke rumah makan Cahaya.. Rumah makan yang unik karena tempat makannya adalah kapal yang diangkat ke darat… Unik yaaaa…….

Rumah Makan Cahaya di Pantai Sasak...

Kuliner istimewa apa yang disediakan di rumah makan ini…? Ikan tenggiri bakar, udang, keripik kambang dan lain-lain..

Ikan Tenggiri Bakar

Ikan tenggiri sebelum dibakar dibumbui dengan kunyit dan bumbu-bumbu lain, sehingga warnanya menjadi kuning…  Rasanya maknyuuussss.  Aku aja sampai ngejilatin jari jemari tangan kananku untuk menikmati sisa-sisa bumbu yang nempel di sana.. Hehehehe…  Gak mau rugi…

Keripik Kambang... 2 thumbs up...

Lalu bagaimana dengan keripik kambang…?

Hmmm aku awalnya mengira klo keripik kambang itu adalah kue kembang goyang.., yaitu kue tradisional yang terbuat dari adonan tepung beras diberi gula dan setelah cetakan yang berbentuk bunga dicelupkan di adonan, dan kemudian cetakan yang bertangkai itu dicelupkan di minyak panas…  Ternyata oh ternyata, keripik kambang itu rasanya tidak manis, melainkan gurih, karena diberi bumbu dan memakai ikan-ikan kecil dalam adonan tepung berasnya…

Secara keseluruhan, makanan di rumah makan Cahaya itu memang luar biasa, selain karena bumbunya yang manstap banget, juga karena bahannya yang segar…., langsung dari laut…  Enggak nyesel meski jarak yang ditempuh  cukup jauh…  Coba hitung, Pekanbaru – Padang 6 jam, Padang – Kinali (rumah Yulisman), 2 jam, Kinali – Pantai Sasak 30 menit.. Total 8,5 jam… Jauh banget kan… ???? :) :) :) ***

Reunion Travelling…, part 1

Hari  Rabu 30  Maret 2011 yang lalu, aku mengahadap ke atasanku.. Mohon izin untuk tidak masuk kantor tanggal 31 Maret dan 01 April…, karena mau travelling  ke Sumatera Barat  tanggal 31   Maret sampai dengan 3 April  2011.  Alhamdulillah atasanku mengizinkan…

Travelling…?  Sama siapa…?  Dalam rangka apa…?

Aku janjian travelling sama teman2 mainku saat kuliah di Bogor sekitar tahun 1986 – 1992…  They’ve been my friends for 25 years….

Ceritanya, aku, Veny, Linda dan Ati ingin travelling bareng lagi setelah kami travelling bareng ke Sing bulan Februari 2010..  Sebenarnya travelling ke Sumatera Barat sudah beberapa kali kami bicarakan pada saat kami ketemuan, yang selalu disempatkan kalau aku tugas ke Jakarta..  Topik ini semakin menguat ketika Venny, Linda dan Idien ketemu dengan Yulisman saat reunian Program Studi EPS beberapa bulan yang lalu…

Setelah itu Yulisman beberapa kali menelpon aku, menawarkan padaku dan teman2 untuk berlibur ke Sumatera Barat..

Siapa siyy Yulisman…?

Yulisman adalah teman gila ku di masa muda… Hehehehe…  Sama seperti aku, Linda, Veny, Ati dan Idien, Yulisman juga kuliah di Jurusan Sosek, kami kuliah bareng selama tingkat 2.  Tapi di tingkat 3, Linda, Veny, Idien dan Yulisman mengambil Program Studi EPS, sementara aku dan Ati megambil Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian.

Sondha dan Yuli, 20 tahun yang lalu...

Tapi di luar perkuliahan, Yulisman, aku dan Avita adalah teman main sehari-hari… Kok bisa…? Ya, Vita yang kuliah di Jurusan Gi zi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga  seangkatan dengan Yulisman di Menwa IPB.  Secara aku sekost dan akhirnya bersahabat dengan Vita, aku pun terseret berteman dengan Yulisman…  Aku selalu mereka seret2 dalam berbagai kegiatan mereka.. Mendaki gunung, salah satunya…

Buat aku si anak rumahan yang sebelumnya gak pernah berurusan dengan dunia luar, mendaki gunung jauh dari semesta kehidupanku. Tapi preman yang dua ini menyeret2 aku.. Ketika aku  menangis karena kelelahan dan ingin meyerah karena rasanya gak mampu lagi berjalan, mereka tetap membujuk aku untuk meneruskan langkah mendaki gunung… Jadi ingat ucapan Vita di saat2 itu.. “Come on Sondha, no pain no gain…!!”

Bahkan dalam suatu  pendakian bertiga ke Gunung Gede yang iseng tanpa rencana dan persiapan, apa lagi izin dari pengelola kawasan, kami tersesat di gunung…  Ceritanya, karena tidak mengurus izin, kami yang memulai pendakian dari Gunung Putri, Cipanas, melambung (mengambil jalan yang bukan path pendakian) untuk menghindari Pos Jaga.  Ternyata kami melambung terlalu jauh…, dan setelah jalan berjam-jam tetap tidak menemukan kembali path yang seharusnya kami susuri untuk sampai ke puncak Gunung Gede..  Aku si nona manja, mulai menangis ketakutan…  Kami lalu memutuskan untuk berhenti.., membuka bekal seadanya, menyalakan kompor parafin dan membuat kopi dan teh untuk menghangatkan diri…  Sambil duduk dan dan mereguk minuman, kami hanya mampu memandang sinaran lampu2 dari kawasan Cipanas di kejauhan….  Yulisman lalu membujuk aku dan Vita untuk tidur dan dia tetap berjaga sampai pagi..  Dan setelah hari benar2 terang, kami kembali berjalan tapi tidak lagi mendaki, melainkan pulang…  Jangan tanya apa yang kami tempuh…  Hehehehe…

Sehari-hari, Avita dan Yulisman adalah temanku berjalan kaki menyusuri pojok2 Kota Bogor terutama di malam hari, saat sebagian besar angkot2 dan bemo sudah tidur..  Jalur favorite kami adalah menyusuri lingkar luar Kebun Raya…, mulai dari Jl. Raya pajajaran, masuk ke Jl. Jalak Harupat, lalu ke Jl. Jend. A. Yani, lalu ke Jl. Otista… Sebelum pulang, biasanya kami duduk-duduk bahkan bisa sampai berbaring leyeh-leyeh di pelataran Tugu Kujang di pertigaan Jl. Raya Pajajaran dan Jl. Otista…  Hehehehe…  Sambil berbaring jejeran, kami memandangi bintang-bintang di langit  dan bercerita tentang angan seperti apa kami 15 tahun kemudian… Hehehehe…  Bahkan untuk memberi kesan kita adalah 3 girls (not 2 girls and 1 boy), aku dan Vita memanggil Yulisman dengan Yuli.. Hahahaha…

Lalu saat jalan berempat dengan Ati, Linda dan Veny pertengahan Februari 2011 yang lalu.., ketika kami lagi di mobil muter2 Kebayaoran buat nyari tempat buat duduk,  Ibu2 yang 3 mendorong aku untuk menelpon si Yuli..

Dari hasil pembicaraan, Yulisman menawarkan kami untuk berlibur bareng di Sumatera Barat dan dia dengan senang hati akan menjadi tuan rumah….  Bahkan untuk membicarakan rencana lebih kongkrit, Yulisman akan ketemuan dengan teman2 yang di Jakarta beberapa hari setelah pembicaraan di telpon.

Hasil pembicaraan lebih lanjut, kami tidak hanya berempat ke Sumatera Barat, tapi Idien, sahabat kami yang menetap di Bogor juga akan ikut.  Juga Aries, d only man di kelompok arisan kami “Bersahabat Sampai Tua”.  Belakangan bergabung juga Gufron, teman sekelas kami yang berasal dari Sumatera Barat, tapi sekarang menetap di Jakarta, dan Nana teman main kami juga yang bahkan pada tahun 1988 ikut travelling bareng Linda, Ati, Idien dan Aries ke Yogya dan Bali.  Selanjutnya di Sumatera Barat akan bergabung teman kami Fidaus “Vampire” yang asli Sumbar dan saat ini menetap di Batu Sangkar…

Sosek 2, Tahun 1988 - 1989. Sembilan orang yg ikut travelling ada di foto ini kecuali Veny.. Try 2 find us... Hehehehehe...

Ada satu kesamaan dari kami semua…  Kami semua pernah mengalami penundaan kenaikan kelas selama di IPB.  Bahkan kami semua, kecuali Veny merasakan 2 tahun di tingkat 2 Sosek pada tahun yaitu tahun 1987 – 1989.  Saat itu lebih dari 40 anak mengalami hal yang sama…, mengulang seluruh mata kuliah yang telah diambil pada tahun sebelumnya kecuali yang sudah dapat nilai B ke atas…  Perasaan senasib membuat kami  merasa kompak…  Kami belajar lebih serius dan sungguh-sungguh, tapi yang namanya main…, teteuuuuppp… Sehingga kata teman2, RCD membuat masa kuliah lebih fun…  Kata Aries “RCD Jaminan Kesuksesan dan Kesenangan…!!!”  Hahahaha… ***

Ngobrol @ Dijan’s

Dijan’s… Apa itu…?

@ Dijan's pannekoeken & poffertjes, Kemang.. L - R : Ati Lubis, Sondha Siregar & Linda Ramalah Omar

Dijan’s atau lengkapnya Dijan’s pannekoeken & poffertjes adalah nama sebuah cafe yang berlokasi di Jl. Kemang Selatan, Jakarta..

Ceritanya setelah kelar dari Cafe Zamrud, aku, Linda, Veny & Ati pengen nyari tempat duduk2 santai buat ngobrol.. Setelah bingung dan bingung, Linda menyarankan untuk ke Dijan’s…

Tapi karena malam minggu, hujan pula.. Tidak mudah bagi kami untuk mencapai daerah Kemang Selatan.. Mana kami sempat jalan2 dulu ke Tebet dan Kebayoran Baru, sambil ngobrol di mobil… Hebat bukan, 4 emak2 keliaran malam minggu.. Hehehehe…

seperti rumah kost di Jl. Pangrango 16 Bogor... L - R : Linda Ramalah Omar, Veny Angrijani, Ati Lubis & Sondha Siregar

Begitu sampai di parkiran Dijan’s aku langsung tersepona eh terpesona.. Why…? Karena arsitektur bangunan yang digunakan untuk Dijan’s persis seperti rumah tempat kost aku dan Linda saat kuliah di Bogor.. Rumah di Jl. Pangrango 16 yang sekarang dijadikan Met Liefde Caffee… Bedanya lahan Dijan’s berkontur dan bangunannya berlokasi di bagian yang tinggi di sebelah dalam lahan, sementara rumah di Pangrango 16 berlahan relatif datar di bagian depan, berkontur justru di bagian belakang yang merupakan service area..

Dijan's poffertjes...

Dijan’s menawarkan Holland Cuisine…, antara lain sebagimana yang tercantum di nama caffeenya, pannekoeken & poffertjes.  Interior dan perangkat hidangnya juga Holland bangetzzz… Di salah satu pojok ruangan terdapat lemari pajang yang berisi koleksi miniatur windmill.. Lucu2…

Suasananya nyaman bangetzz buat ngobrol… Karena sebenarnya udah kenyang setelah menikmati Arabian Cuisine di Cafe Zamrud, kami hanya memesan 3 teh anget, 1 lemon tea anget, plus seporsi biterballen dan poffertjes untuk teman ngobrol…

ngobrol @ Dijan's.. L - R : Veny, Linda, Ati & Sondha...

Kami lalu ngobrol ke sana ke mari… Berputar2 antara masa kini dan masa lalu di Bogor… Bercerita tentang teman2… Rasanya nyaman sekali berkumpul dengan teman2 yang 3 ini.. Sebagaimana Ati bilang, “Ngobrolnya enak, santai, apa adanya.. Sementara dengan teman2 lama dari suatu kelompok lain rasanya melelahkan karena ada yang snob, ada yang ngomong seenak perut tanpa mikirin perasaan orang lain…” Hehehe..  Ya iya lah.. Kami telah berteman lama sekali, lebih dari 20 tahun.. Kami sudah tahu pasang surut kehidupan masing-masing, dan gak perlu lagi bergengsi-gengsi yang gak perlu… We are friends for each other.. Persahabatan yang langka di hari gini, yang perlu dipertahankan sampai tua…

bersahabat... semoga sampai tua yaaa...

Kembali ke Dijan’s…

Dijan's biterballen

Biterballen-nya enak… Rasanya mirip banget dengan biterballen di Resto Puncak Pass yang terkenal itu… Poffertjes-nya juga enak.. Jadi ingat beberapa tahun yang lalu di Pondok Indah Mall ada caffee yang juga jual masakan jadul termasuk poffertjes.., tapi kayaknya sekarang udah gak ada lagi…

Belum puas ngobrol, tapi karena udah lewat jam 11 malam (kami takut jam keburu berdentang sehingga kereta kencana kami menjadi labu.. hehehehe..) Kami pun pulang.., secara kami semua sudah sangat lelah setelah beraktivitas sejak pagi… Lagi pula sebelum pulang ke rumahnya di daerah Tebet, Ati  mengantar aku dan Veny ke daerah Fatmawati, Linda ke Kampung Rambutan.. Kasian dia klo pulang terlalu larut…, terlalu riskan…***

UAE Trip (Part Two)

Hari Selasa 23 November 2010… Pagi ini aku bangun sekitar jam 04.30.. Bangun karena mendengarkan lagu Insya Alloh nya Maheer Zein dari E71 ku yang memang telah berbulan-bulan diset-up sebagai waker..  Tapi kali ini wakernya tidak berbunyi pukul 04.30 WIB melainkan 04.30 waktu Dubai.. Iya, aku menyesuaikan jam di E71 ku ke waktu UAE, dari pada bingung..  Hehehehe…

Dubai Mall Hotel in d night as a background

Setelah terbangun dan menyadari bahwa aku sedang tidak di rumahku, dan waktu subuh juga belum sampai, aku tetap berdiam diri di tempat tidur.. Lalu memandang jejeran pencakar langit yang memancarkan cahaya di kegelapan malam..  Sekali lagi aku terpana akan rahasia keajaiaban rezeki.. Tidak pernah ada dalam semesta pemikiranku bahwa pada akhir tahun 2010 ini aku akan berada di sini, menikmati cahaya gemerlap Dubai..

Gak lama aku mendengar suara bell … Hhhhmmmm… somebody’s coming… Itu pasti teman sekamarku yang telat datang karena visanya terlambat terbit..  Aku lalu bangun dan mengintip dari kaca pengintip yang ada di pintu kamar… Aku melihat wajah bang Ferry, tour leader kami, wajah seorang perempuan dan petugas hotel..  Itu pasti bang Ferry mengantarkan teman sekamarku yang baru tiba di Dubai..  Aku lalu membuka pintu dan mempersilahkan teman sekamarku masuk tanpa menampakan diriku.., soalnya cuma pakai baju tidur tanpa kerudung..  Hehehe… Aku lalu mendengar bang Ferry berkata, “Ini mba Afni, teman sekamarnya ya mba Sondha.”.  Aku lalu menjawab, “Ok, bang Ferry.”`

Aku dan Afni lalu saling memperkenalkan diri.  Aku lalu menunjukkan padanya pemandangan indah dari balkon kamar.  Lalu dia melanjutkan dengan bebersih dan bergegas istirahat…, dan aku melanjutkan berbaring di tempat tidur sambil memandang deretan pencakar langit…

Aku terbangun kembali sekitar pukul 05.30… , dan kembali bermalas2 setelah solat subuh dan mengambil foto2 skyscrapers pada pagi hari…

Sekitar jam 07.30 waktu Dubai, aku dan Afni turun ke Lobby Floor, tempat dimana resto buat sarapan berada… Hmmmmm…. Makanan yang dsediakan mengundang selera… Setelah tubuh lebih beradaptasi dengan waktu yang lebih telat 3 jam, setelah makan malam sebelumnya yang rada ajaib… Jelas perutku lapaaarrrr banget…

Ngomong2 soal makan malam yang ajaib… hehehe… Iya, malam sebelumnya kami dibawa oleh tour leader local yang berdarah Pakistan ke Rainbow Restaurant, yang aku gak tau lokasinya dimana.  Yang jelas lokasinya di lantai 3 sebuah gedung di pusat kota.  Apanya yang ajaib…? Menunya.. Hehehe..  Restaurant ini menawarkan Chinese, India, Malaysia Cuisine.. Hasilnya….???? Hahahaha… Ada cream soup yang sangat mengoda selera saat memandangnya, tapi setelah diicip…, kok ada rasa asamnya yaaa….??? Dan hal yang sama terjadi juga dengan beberapa menu yang lain… Tapi pudding caramel nya ok bangetsss..

Back 2 Selasa pagi…

Residences @ Palm Jaumaerah

Setelah sarapan, kami menuju bis.. Acaranya…: city tour…!!!

Perjalanan pertama, kami menuju Palm Jumaeraah… Sebuah pulau hasil reklamasi d tepi Arabian Gulf yang berbentuk pohon palem..  Di bagian puncak, terdapat Atlantis Hotel yang terkenal itu… Sementara di bagian yang merupakan “pelepah” terdapat residences.. Sedangkan di antara pelepah, terdapat laut… Bahkan dibeberapa ruas yang menghubungkan bagian2 dari pohon palem itu merupakan terowongan yang berada di bawah permukaan laut..  Keren bangetsss…..

Apa yang bisa dilihat di Atlantis Hotel…? Ada aquarium, Aladin’s cave, swimming pool yang berbentuk lagoon.. Tapi karena hanya dikasi waktu 45 menit, ya hanya sempat muter sana sini…

@ a corner of Atlantis Hotel, Palm Jumaeraah

@ Atlantis Htl, Palm Jumaeraah

Tapi di salah satu lorong aku menemukan sebuah counter yang menjual pasir gurun yang ditata sedemikian rupa di dalam botol sehingga berbentuk lukisan… Di samping counter tersebut duduk si seniman yang mempertunjukkan keterampilannya.  Sungguh keterampilan yang keren… Ketika ku tanya dimana dia mempelajari keterampilan ini, dia bilang di Yordania..

Penyusun Pasir dalam botol...

@ Burj Al Arab

Dari Palm Jumaeraah, kami dibawa menuju  Burj Al Arab.. Sebuah bangunan  di tepi pantai Arabian Gulf yang menjadi icon kota Dubai.. Bangunan ini berbentuk layar… Di bagian atasnya ada helipad dan restaurant berbentuk rectangle dimana para pengunjung bias bersantap sambil menikmati laut…  Sementara di pantai di sekitar Burj Al Arab banyak sekali tourist yang bejemur dengan swimsuite beraneka warna dan model….

Dari Burj Al Arab, kami dibawa menyusuri jalan yang sejajar dengan garis pantai.. Jalan yang di kiri kanannya terdapat rumah-rumah mewah, termasuk rumah salah satu putra sheikh yang menikah dengan putrid Raja Jordan…  Kami lalu menuju kawasan yang dulunya merupakan pusat kota Dubai sebelum jejeran skyscrapers mengisi kawasan Bur Dubai…

Kami juga sempat melewati Jumaerah, sebuah masjid yang merupakan salah satu lanmark  Dubai.. Masjid yang indah.. Sayang karena merasa lelah dan lapar, sebagian besar  peserta tour tidak ingin singgah dan melihat masjid tersebut.. Tapi sungguh masjid itu dari luar pun terlihat sangat indah.. Tidak masuk ke masjid ini merupakan salah satu yang aku sesali dari perjalanan ini..  Semoga ada kali yang lain…, dan semoga kalau ada kesempatan tour kemana pun lagi, aku tidak kehilangan kesempatan melihat rumah Alloh lagi…

Jumaerah Mosque @ Deira Dubai

Jumaerah Mosque @ Deira Dubai

Setelah melihat Masjid Jumaerah, kami lalu makan siang di sebuah restaurant India..  Makanannya lumayan lezat…. Gak ngecewain lidah… Hehehe…  Selesai makan kami segera kembali ke hotel, karena harus istirahat sebelum ikutan Desert Safari…

Desert Safari…? Apa itu…? Desert  Safari itu safari di padang pasir dengan menggunakan kendaraan 4 wheel drive… Hmmmm, gak sabar dan deg-deg-an… Karena aku pernah baca di sini, kalau gak kuat, ikutan desert safari bisa mabok sampai muntah2…

Desert Safari kami mulai jam 16.30-an.. Telat dari jadwal yang seharusnya, jam 15.30, karena menunggu sesama anggota rombongan tapi gak muncul2…  Padahal sejam jam 15-an di depan hotel sudah tersedian 6 unit mobil 4 wheel drive berwarna putih, yang masing2 dikendarai oleh seorang supir berbusana khas lelaki setempat, jubah putih, beberapa di antaranya memakai tutup kepala yang juga sangat khas Arab..  Mana wajahnya cakep2 pulaaa…. Hahahaha…

Karena jumlah mobil yg sudah di-reserve ada 6, yang jumlah penumpang seharusnya 4 orang, sementara yang ikut cuma 11 orang, dan cuma 5 diantaranya laki-laki,  mobil kami menjadi sangat longgar..  Pokoknya di tiap mobil harus ada satu laki-laki dari rombongan.  Jadinya satu mobil tidak ada penumpangnya.. Sayang banget.., padahal supirnya cuakep banget lho… Hahahaha…  Tapi gak berani lah ya naik mobil tanpa ada lelaki dari rombongan yang menemani…

Mengurangi tekanan angin pada ban sebelum surfing di antara sand dunes..

Mobil diarahkan oleh supir ke arah utara dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dan berhenti di rest area..  Di situ para penumpang dipersilahkan bongkar muatan, alias pipis, sebelum perjalanan dilanjutkan..  Sementara para supir mengurangi volume udara yang mengisi ke-empat ban mobil..

Setelah semua ok, perjalanan dilanjutkan… Gak lama supir membawa mobil keluar dari jalan aspal  masuk ke sand dunes… Rasanya seperti naik jet coaster… Tegang, cemas, ngagetin…  Seruuu aja pokoknya….. !!! Hehehe…  Tapi menurut kak Lisda yang semobil dengan aku dan juga Roy, ini belum maksimal… Safari yang pernah diikuti kak Lisda sebelumnya jauh lebih hebooohhh…, karena beneran bisa bikin mabok dan muntah orang yang gak kuat…   Mungkin jalur yang diambil lebih pendek dan simple karena waktunya yang pendek yaaa…  Menjelang magib, para supir memberhentikan mobil2 di salah satu sand dune.. Memberikan kesempatan bagi kami untuk berfoto-ria di padang pasir sambil menikmati sunset… Yuuuuppppp….. sunset on d desert.. Biasanya sunset yang ditunggu-tunggu kan di pantai yaa…  Sama seperti di pantai, di gurun pun enaknya bertelanjang kaki… Dan karena sudah menjelang malam, pasir gurun terasa sejuk di kaki.. Hmmm nyamannya….

Meluncur di antara sand dune...

Sunset on d desert...

Mejeng di gurun pasir... heheheh..

Selesai berfoto-foto dan menikmati sunset, perjalanan dilanjutkan…  Beberapa puluh menit kemudian kami sampai di sebuah kawasan yang dibatasi pagar kawat duri dan di tengah-tengahnya terdapat tenda berukuran besar… Di sampingnya terparkir sebuah mobil ATV buat yang ingin merasakan nyetir di padang pasir, juga terdapat beberapa ekor onta.. ONTA…? Iyaaa… Onta itu disediakan bagi peserta yang mau mencoba rasanya mengendarai onta..

Ridin' a camel..

Apa emang rasanya naik onta…? Hahahahahahahahahahhahaha…. Pas naiknya siyyy deg-degan… Takut dengan reaksinya… Tapi ternyata waktu naik, cukup aman, ontanya tenang2 aja..  Kitanya ja yang deg2an.. Bahkan mengendarainya juga fine-fine aja…  Yang ngagetin itu pas turun… Onta itu main njegruk aja turun tanpa aba-aba, tanpa tanda2… Bussseeeeettttttt daaaahhhhhh……. Hehehehe…

Selesai kami naik onta, kami masuk ke area dalam kemah…  Di sana sudah disiapkan tempat2 duduk berupa busa yang menghadap ke meja-meja panjang..  Selain itu juga ada tempat duduk melingkar yang dibatasi pelepah kering di sekelilingnya..  Juga ada tempat duduk di tepi2 tenda.., serta toko souvenier di dekat pintu masuk yang sekaligus berfungsi sebagai pintu keluar…  Selain itu, di dekat pintu masuk terdapat tenda di kiri kanan yang menyediakan cemilan khas padang pasir, yaitu semacam pancake dan roti goring dicelup gula aren…

Begitu masuk ke tenda, kami bergegas mencari perempuan tukang bikin henna.. Karena menurut tour guide yang orang Pakistan, di dalam paket desert safari peserta perempuan boleh minta dihias dengan henna.  Setelah bertanya, kami segera menemukannya duduk di sebuah karpet di salah satu sisi tenda.. Perempuan pemasang henna itu ternyata berdarah Iran, yang sejak lahir sudah tinggal di Dubai, dan sudah bekerja di kemah tersebut lebih dari 10 tahun…  Pemasangan henna untuk satu kali, apakah di tangan atau di kaki, tidak dipungut bayaran, alias bagian dari paket.  Untuk pemasangan kedua dikenakan biaya DRH 10, atau sekitar Rp.24.000,-.  Aku memutuskan untuk menghias tangan dan kaki kanan ku… Gadis penghias henna itu begitu terampil menggoreskan henna langsung dari tube dan membentuk gambar-gambar yang feminim dan artistic… Keren bangetsss… Dan tiap-tiap orang mendapat gambar yang berbeda, tidak menggunakan pola atau pattern seperti yang pernah ku lihat di Little India, Singapore.  Setelah selesai digambar, henna harus dibiarkan minimal 30 menit, baru dibersihkan…

dihias dengan henna..

Henna on my foot... Does it make my foot look sexier...? Hahahaha...

Selesai memakai henna, kami segera mengambil tempat duduk yang disusun mengitari sebuah persegi yang akan menjadi tempat pertunjukan.. Pertunjukan apa…? Belly dance… Tari perut…? Are U sure…? Yeesss….  Kami pun duduk2 menikmati cemilan yang disedikan : kebab, goreng2an sejenis pastel dengan isi khas Arab dan teh atau kopi..  Gak lama, ada pemebritahuan melalui sound system kalo kami dipersilahkan mengambil Jatah makan malam berupa makanan barbeque khas arab..  Dagingnya boleh pilih, mau chicken atau beef, yang dihidangkan dengan beberapa jenis salad khas arab dan roti prata…  Sembali menikmati makan malam, kami diputarkan video tentang sejarah UAE, perjuangan rakyatnya dan kepemimpinan Sheikh Zayed bin Sultan Ali Nahayan..

Desert Dance...

Selesai makan malam, para peserta safari diminta duduk disekitar segi empat tempat pertunjukan…, dannnnn pertunjukan dimulai…  Pertunjukan pertama adalah seorang penari pria yang memakai rok lebar dan menari berputar2 selama beberapa belas menit.. Kuat banget tuuhh orang.. Gak pusing, apalagi mabok dan muntah.. Padahal kalo kita disuruh begitu, 3 puteran aja udah keleyengan… Hahaha… Rok yang dipakai ternyata 2 lapis dan ada lampunya..  Bahkan rok yang terakhir diangkat dan diputar-putar di atas kepalasemua penonton satu persatu.. Rasanya seperti berada di bawah kipas angin..

Di akhir pertunjukannya, penari pria itu menjemput seluruh peserta perempuan untuk menari bersama di tempat menari, kecuali………… perempuan-perempuan yang berbusana muslimah..  Alhamdulillah… Ini adalah salah satu saat dimana aku merasakan betapa terhormatnya menjadi perempuan berbusana muslim… Orang tidak berani mengajak kita menari di tempat umum… Sementara penari tersebut meminta semua peserta satu persatu menari, meliukkan tubuh di depan umum…

Setelah penari laki-laki itu selesai menari, akhirnya muncul juga belly dancer..  Perempuan bertubuh tinggi dengan wajah khas arab dan rambut panjang terurai sampai melebihi pinggang.  Busananya, hanya bra dan underwear yang ditutupi oleh kain tule beberapa lapis..  Perempuan itu menari dan menggerakkan otot2 perutnya… Mungkin buat sebahagian kesannya sexy dan indah ya.. Tapi di mataku, kok rasanya gak pantas ya perempuan mencari nafkah dengan seperti itu.. Aku juga merasa   gak benar dengan menonton  tarian ini… Semoga ini adalah yang pertama dan terakhir.. Hanya utnuk tahu, bukan untuk dinikmati, apalagi diulangi…

It's time 2 go home...

Selesai pertunjunkan belly dance, selesai pula lah acara desert safari.. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 waktu Dubai, alias jam 00.30 WIB.  Kami kembali naik mobil yang menjemput kami, lalu diantar oleh supir yang sama ke hotel..  Rasa lelah membuat aku tertidur pulas begitu roda mobil menyentuh jalan aspal… Sekitar jam 22.30 waktu Dubai kami sampai di depan pintu masuk hotel… Dengan tubuh lelah dan mata mengantuk, kami beriring2 masuk ke lobby hotel, dan naik ke lantai 2 di sayap lain hotel untuk ngecek tempat acara investment opportunity besok pagi akan dilaksanakan…  Setelahnya kami kembali ke lobby dan masuk ke lift dan keluar di lantai tempat kamar kami masing2…

Hari ini benar2 hari yang menyenangkan.. Hari melihat berbagai  “dunia” yang baru… Banyak pengalaman yang tak terpikirkan sebelumnya… Alhamdulillah….

1st Day of Long Weekend

Hmmm…  senengnya dapat libur 3 ari..  Secara sejak masuk kerja setelah liburan akhir tahun, aku selalu di kantor sejak jam 7.30 pagi, pulangnya jam 18.00-an bahkan lebih..  Klo untuk ukuran Jakarta siyy itu biasa yaa..  Belum lagi klo terjebak macet saat pulang kantor..

Trus ngapain ajahhhh…?

Hari Sabtu, pengennya dari pagi bisa masuk ke ruang training ESQ dari pagi..  Tapi karena ada acara kantor, aku mutusin buat hadir di acara kantor dulu..  Kenapa? Karena mungkin dari mengikuti acara itu, ada masukan2 untuk perbaikan kegiatan di masa depan..

bm-syam-awardKegiatan apa siyy…? Kegiatan penganugrahan BM Syam Award kepada anak2 SLTP/SLTA se-Riau yang jadi pemenang lomba menulis hikayat tentang kampung mereka.  Kayaknya kegiatan ini sangat positif ya..  Mendorong generasi muda untuk mencari tahu tentang kampung halamannya serta hikayat2 yang ada di sana..  Karya2 siswa SLTP/SLTA yang menjadi pemenang dan beberapa cerita yang dikirmkan peserta yang dianggap menarik oleh Dewan Juri diterbitkan oleh Gurindam Press dalam sebuah buku yang yang mengambil judul dari pemenag pertama  “Pulau Kijang Asal Mula Ibu Kota Kecamatan Reteh”.  Sebagai feedback, mereka memperoleh royalti.   Kayaknya perlu dilanjutkan di tahun2 mendatang…   Untuk memotivasi generasi kita supaya mau kreatif menulis, terutama yang menyangkut budaya daerahnya…

Aku rada heran juga siyy..  Kok sekarang tuh jarang liat buku cerita daerah untuk anak2 yang bagus2 ya..  Secara waktu aku kecil aku punya banyak buku yang bagus tentang cerita daerah, selain cerita2 anak2 dari manca negara yang dirilis dalam Seri Cerita Dari 5 Benua, trus ada juga seri buku cerita “Sekian Gambar Dalam 2 Warna”, yang keduanya diterbitkan oleh Gramedia, kalo gak salah.   Kalo sekarang ke toko buku, yang banyak tuh komik Jepang, kalo pun ada cerita2 daerah tampilannya gak memikat..  Bikin malas membeli…  Mudah2an akan banyak terbit buku2 tentang cerita daerah dengan tampilan memikat di masa2 yang akan datang ya..  Supaya anak2 kita nantinya bisa mengenal budaya kita melalui cerita2 tersebut..

Btw, siapa sihh Alm. BM Syam lengkapnya Bujang Mat Syamsuddin yang namanya dipakai untuk award ini..?  Aku juga gak tau persis..  Karena aku sebelum ini nyaris gak ngikutin perkembangan sastra Indonesia terutama Sastra Melayu..    Aku cuma ingat aku pernah sekelas sama salah satu putrinya, Rita Rupiati,  saat kelas 1 di SMA 1 Pekanbaru.  Tapi teman2 bisa mendapat sekilas info tentang beliau di sini

Selesai dari acara kantor… Aku dan kak In, salah seorang senior di kantor, menikmati acara perempuan…  Ngapain? Ngubek2 toko kain yang lagi sale…  Ceritanya, di daerah ini kalo aniversary provinsi atau kota, para PNS tuh diwajibkan pakai baju Melayu selama 10 hari..  trus buat acara2 kondangan, orang2 juga biasa pakai baju Melayu atau baju kurung..  So, kita harus punya beberapa stel, sekedar buat ganti..  Kan bosan juga kalo pake baju cuker alias cuci kering…

Apa siyy baju Melayu.. .? Untuk perempuan potongan bajunya longgar, gak ada kupnat, jauh dari body fit and tight.. Trus di bagian keteknya, ada sambungan berbentuk persegi yang disebut kekek, sedangkan di bagian samping ada sambungan yang disebut sabar.

Selesai dari berburu kain dan ngater kain2 tersebut ke tukang jahit, aku nerusin jalan ke hotel Pangeran, tempat training ESQ Proffesional Angk 37 Pekanbaru dilakukan..  Selesai training sampai menjelang magrib, kita yang alumni diajak untuk mengikuti Renungan 165 yang dilakukan setelah magrib sampai sekitar jam 21-an..  Di renungan kali ini yang disampaikan adalah tentang malaikat, salah satu dari 6 prinsip ESQ, Angle Principle.  Yang ngasi materi mas Imam, salah satu trainer ESQ.  Dengan kali ini, aku udah 3 kali ikut kelasnya Mas Imam.  Satu kali saat datang sebagi alumni di Basic Training, satu kali saat di kelas Mission Statement.  Btw, minggu depan ada kelas CB alias Character Building.., tahap ketiga dari ESQ Training..  Mudah2an aku bisa ikut yaa…

Selesai perenungan baru deh pulang…  Pengen cepat2 tidur karena besoknya pengen ikut ESQ seharian..  Nge-charge batteray… Supaya pikirannya tetap positif menghadapi hari2 di depan…  Supaya bisa tetap senyum menghadapi teman2.. , bisa tegar menghadapi berbagai persoalan…

SMILE……………….!!!