Tugu Batakland English School…

Hari Kamis, 15 Desember 2011 aku melakukan perjalanan bersama Papaku..  Perjalanan yang akan penuh kenangan buat kami nantinya..  Ya kami melakukan perjalanan dari Sipirok ke Medan lewat  jalur Pangaribuan..  Jalur yang sama sekali tak populer bagi para penempuh jalan Sipirok – Medan, atau sebaliknya..

Buat keluarga kami, jalur yang biasa kami tempuh adalah Sipirok – Tarutung – Siborong2 – Balige – Parapat – Tebing Tinggi – Lubuk Pakam – Medan.  Tapi di jalur ini ada ruas yang sangat tidak nyaman, yaitu ruas Aek Latong, yang berada di antara Sipirok dan Tarutung, hanya sekitar 15 km dari Sipirok.  Ruas semakin membuat tak nyaman di hati setelah beberapa bulang yang lalu di lokasi tersebut terjadi kecelakaan, sebuah bus ALS tergelincir dan menyebabkan 14 orang penumpangnya tewas.  Jalur lain adalah Sipirok – Padang Sidempuan – Sibolga – Tarutung dst.  Buat kami jelas jalur ini sangat tidak popuker karena…., muter bok…!! Perjalanan bertambah panjang sekitar 3 jam… Ogah laaahhh ya, kecuali gak ada pilihan.. :)

Naaahhh, jalur Sipirok – Pangaribuan – Siborong2 – Balige dst lah yang menjadi pilihan…  Dari Sipirok, kami bergerak ke arah Sibadoar, Bunga Bondar, Hanopan, Sipogu dan seterusnya…  Tak lebih 2 kilometer dari kampung Sipogu, Papa tiba-tiba menyuruh supir yang mengendarai mobil kami berhenti…  Papa lalu mengajak aku turun… Lalu menuju semak-semak yang padat di pinggir jalan…

Papa sambil menerabas semak2 di sekitar kami : “Di sini inang (= ibu, tapi dalam bahasa Batak sehari-hari biasanya digunakan oleh orang tua untuk memanggil anak perempuannya) ada tugu peringatan Batakland English School..  Sekolah Batak berbahasa Inggris..

Di balik semak-semak yang padat itu, kami menemukan tugu berwarna hijau tak terawat…. Mengenaskan…

Tugu Batakland English School di Sipogu - Sipirok dikelilingi semak...

Di tugu tersebut tertulis :

THE FIRST SCHOOL OF SEVENTH-DAY

ADVENTIST CHURCH IN SUMATERA

BATAKLAND ENGLISH SCHOOL

(BES)

1921

Jadi tempat tugu  ini berada merupakan bekas  lokasi Batakland English School, sekolah misi pertama di Sumatera.  Hasil surfing di dunia maya, ada seseorang yang  bernama Jan S. Aritonang yang menulis tentang sekolah ini.. dan menurut beliau sekolah ini berlangsung pada tahun 1861 – 1940.  Terlepas dari ini merupakan sekolah misi, kehadiran sekolah ini menurut cerita yang didengar Papaku, berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa Inggris dan wawasan berpikir generasi muda Sipirok di zaman tersebut…  Sayangnya kalau tugu ini diabaikan begitu saja dan terbenam dalam rimbun semak dan ilalang… ***

Berkunjung ke Istana Maimoon….

Istana Maimoon adalah salah satu peninggalan Kerajaan Melayu Deli yang terdapat di Kota Medan…  Buat aku berkunjung ke istana ini pada tanggal 01 September 2011 yang lalu merupakan perjalanan yang sangat istimewa..  Mengapa….?

Karena aku tidak pernah tahu dan ingat kapan pertama kali aku menginjak Kota Medan dan melihat istana yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso ini..  Ya, sejak masih bocah cilik mentik aku sering sekali ke Medan.. Aku tidak bisa lagi menghitung dan mengingat berapa kali aku ke Medan dan melihat istana ini. Bahkan sebelum kelas 4 SD boleh dibilang setengah dari hari-hari ku, aku berada di Medan dan setengahnya lagi di Pekanbaru.. Tapi, dari kunjungan yang entah berapa kali dan sejak usia sangat belia itu….., AKU BELUM PERNAH BERKUNJUNG KE ISTANA MAIMOON sampai tanggal 01 September 2011 itu..  Aneh yaaa….???

Istana Maimoon, 01 September 2011

Tapi aku yakin, I’m not the only person on the world yang mengalami begini…, terutama di Indonesia… :D .  Karena kita memang lebih sering memandang sesuatu yang jauuuhhhh…., tapi kurang aware dengan sesuatu yang ada di sekitar kita, sesuatu yang dekat dengan jangkauan pandang kita…  Buktinya, ada pepatah orang tua-tua kita yang bilang  “Semut di seberang lautan nampak, tapi gajah di pelupuk mata tak terlihat”.  Rasanya pepatah ini tak hanya bisa dimaknai “lebih mudah melihat kesalahan orang lain dari pada kesalahan diri sendiri” tapi juga bisa dimaknai sebagai “lebih terhadap menghargai apa-apa yang jauh dari diri kita, tapi abai terhadap apa yang ada di sekitar kita…”

Menurut aku, sudah saatnya kita harus berubah… Kita harus lebih menghargai warisan (heritage)  leluhur kita, menyisihkan waktu untuk mengapresiasinyaerap nilai-nilai luhur yang terpahat di tinggalan-tinggalan tersebut…

Buku Sejarah Singkat Istana Maimoon...

Menurut buku Sejarah Singkat Istana Maimoon yang dijual pengelola istana seharga Rp.15.000,- / eksemplar, Kerajaan Melayu Deli bermula dari Kerajaan Aru di abad 16, yang ditaklukkan  oleh pasukan Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Panglima Hisyamuddin seorang keturunan Hindustan pada tahun 1612.  Panglima ini lah yang kemudian diangkat oleh Sultan Iskandar Muda dari Kerajaan Aceh sebagai wakil kerajaan untuk wilayah Sumatera Timur dengan gelar Tuanku Panglima Gocah Pahlawan.  Selanjutnya wilayah tersebut menjadi Kerajaan Deli dan Tuanku Panglima Gocah Pahlawan menjadi Sultan Deli I.

Selanjutnya, setelah generasi demi generasi berganti.., ibu kota kerajaan pun berkali-kali berpindah lokasi.   Bersama dengan kejayaan dan kemakmuran Kerajaan Deli dari perdagangan tembakau,  Sultan Deli IX, Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang memerintah tahun 1873 – 1924, memindahkan ibu kota kerajaan dari Labuhan Deli ke Medan dan mendirikan Istana Maimoon mulai tanggal 26 Agustus 1988 dan diresmikan pada tanggal 18 Mei 1891.

Menurut buku Sejarah Singkat Istana Maimoon, Istana  yang bernuansa Persia, India dan Eropa ini mempunyai luas 2.772 m2 di atas lahan seluas 217 x 200 m2, yang biaya pembangunannya menghabiskan dana sebesar Fl.100.000.  Ada pun arsiteknya adalah seorang tentara KNIL yang bernama  Kapten TH. van Erp.

Selain membangun Istana Maimoon, Sulthan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah ini juga membangun Masjid Raya Al Mashun pada tahun 1906.  Berrdasarkan catatan di rumah peninggalan Tjong A Fie,  Kapitan masyarakat Tionghoa di Medan pada zamannya itu, pembangunan masjid raya tersebut pendanaannya dibantu oleh Tjong A Fie…

Beratus-ratus bahkan mungkin beribu kali melintasi jalan di depan Istana Maimoon memang menghadirkan kesan akan adanya warisan budaya di situ, tapi kesannya tidak sekuat ketika kita melintasi kawasan Keraton Yogya atau Keraton Solo, hal ini mungkin karena eksistensi Keluarga Kerajaan Deli di masyarakat tidak lagi sekuat keluarga Keraton Yogya dan Keraton Solo…

Begitu memasuki halaman istana, kita bisa merasakan adanya sisa-sisa kejayaan masa lampau yang kurang terawat :  rumput yang tinggi, halaman yang tak tertata baik.. Bahkan tempat parkir pengunjung pun tidak cukup representatif…  Aku cukup kebingungan saat mau memarkirkan mobil, karena lokasi parkir tidak teduh, sementara istana yang berundak-undak tidak memungkinkan Mama yang menggunakan kursi roda untuk ikut masuk ke istana. Setelah berdiskusi dengan Mama, aku akhirnya memarkirkan mobil dekat “green house” penjual bunga yang ada di halaman istana..  Mobil diparkir dengan mesin dan AC tetap menyala, jendela di sisi tempat duduk Mama yang dekat “green house” dibuka separuh…  Jadi selama menunggu kami mengunjungi  istana, Mama bisa menikmati pemandangan bunga-bunga yang ada di “green house”.  Setelah membuat Mama dalam kondisi yang agak nyaman, aku pun berjalan menuju istana, menyusul rombongan Mami Nana, kak Erni dan anak-anak yang sudah aku turunkan di depan pintu masuk istana sebelumnya..

Tangga masuk istana serta prasasti pembangunan istana..

Untuk masuk ke istana yang bernuansa kuning dan hijau ini, kita harus melewati sederetan anak tangga… Yaa…, istana ini merupakan rumah panggung.., karena berada tak jauh dari Sungai Deli yang  membelah Kota Medan..  Di bagian kaki pilar terbawah tangga istana terdapat prasasti 2 prasasti.  Prasasti di pilar sebelah utara berbahasa Belanda yang bertuliskan tanggal pendirian istana ini.., sedangkan di pilar bagian selatan terdapat prasasti bertulisan Arab.

Di ujung tangga istana, kita akan sampai di beranda istana yang cukup luas dan sangat nyaman… Beranda ini menyatu dengan balkon-balkon yang cantik…  Aku membayangkan betapa menyenangkannya beranda ini untuk duduk-duduk santai bagi Sultan dan keluarganya, sambil menikmati teh di pagi dan sore hari….

Teras dan Balkon Istana....

Dari teras, kita bisa mencapai ruang penerima tamu.. Di ruang ini hanya tersisa 2 buah sofa tua di sisi selatan dan lemari antik khas China di sebuah pojok di sisi utara.. Selebihnya hanya ada beberapa buah foto-foto di dinding…  Dari ruang penerima tamu ini kita bisa menuju ruang yang besar, yang di sisi utaranya terdapat singgasana Sultan, dengan nuansa kuning dan hijau…  Tak banyak yang tersisa di ruang ini, hanya ada beberapa furniture dan lukisan para Sulthan dan keluarganya..

Interior Istana....

Dari ruang besar kita bisa mencapai bagian belakang istana.. Bagian belakang in digunakan untuk penjualan souvenir, juga untuk berfoto bagi pengunjung yang ingin berfoto menggunakan baju kerajaan..  di ruang belakang ini pula terdapat sepasang kursi kerajaan…

Istana ini indah…, terlalu indah untuk diabaikan oleh zaman…

Untuk lebih bisa mengenal dan menikmati tinggalan budaya yang satu ini, ada baiknya teman-teman menyediakan waktu untuk berkunjung ke sini bila teman-teman ke Medan… Tiket masuknya sama sekali tidak mahal sama sekali.. Kalau tidak salah Rp.1.000,- per orang saja..***

Bergaya di Istana...

Selamat Jalan Tulang Sahrin…

Hari Jum’at malam  tanggal 5 Agustus 2011, aku dapat bbm di group keluarga kami dari Ivo, adik ku..  Isinya “Tulang  (Oom dari pihak ibu) Sahrin dirawat di ICU rumah sakit Materna (Medan) karena …….. ” Innalillah….

Siapa siyy Tulang Sahrin.. ?? Tulang Sahrin, lengkapnya Sahrin Halomoan Harahap  adalah sepupu  Mama ku..  Ayahnya Tulang Sahrin, Opung Bagon Harahap gelar Baginda Hanopan adalah abang dari Jamin Harahap gelar Baginda Soripada Paruhum, ayah Mamaku..  Mereka berdua adalah anak dari Tuongku Mangaraja Elias Hamonangan Harahap dari Hanopan dengan istrinya Petronella boru Siregar dari Bungabondar. Sehingga secara tutur (cara memanggil) dalam adat Batak aku memanggil “tulang” alias saudara laki-laki dari ibu kepada Tulang Sahrin.

Sebenarnya, aku terkait dengan Tulang Sahrin bukan cuma dari pihak Mama, tapi juga dari pihak Papa, karena ibunya Papa juga kakak beradik dengan Baginda Hanopan, ayah tulang Sahrin.  Bahkan saat belia tulang Sahrin pernah tinggal bersama-sama keluarga Papa, sehingga dia bagaikan adik bagi Papa yang merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara.  Karena itulah tulang Sahrin memanggil Papa dengan sebutan “abang” bukan “ipar” sebagaimana seharusnya dalam tutur adat Batak.

Buat aku, tulang Sahrin bukan cuma sekedar sepupu Papa dan Mama yang sesekali bertemu di acara-acara keluarga..  Memang, lebih dari 30 tahun terakhir itu yang terjadi.., kami hanya bertemu sesekali karena kami tinggal di kota yang berbeda..  Tapi di saat aku berusia sekitar 9 sampai dengan 11 tahun, aku dan tulang Sahrin yang saat itu bertugas di Kejaksaan Tingg Riau, tinggal di rumah yang sama di jalan Kundur Pekanbaru.

Lalu hari Rabu, 10 Agustus 2011 siang, setelah tulang dirawat 5 hari, Papaku mengabari kami anak-anaknya kalau tulang akhirnya berpulang.. Innalillahi wa innailaihi roji’un… Selanjutnya Papa mengabari kalau pemakaman yang didahului dengan acara adat akan dilalukan di Hanopan pada hari Sabtu 13 Agustus 2011..



Setelah berunding dengan adik ku David, diputuskan aku akan pulang kampung untuk menghadiri acara adat dan pemakaman itu..  Karena David, baru saja kembali dari Medan, dan sempat mengunjungi Tulang Sahrin saat dirawat di rumah sakit.  So, berangkat lah aku pada tanggal 12 Agustus 2011 menjelang magrib dengan menggunakan mobil rental sekaligus sopirnya, karena si sparky adalah city car yang bukan untuk digunakan di jalur trans sumatera..

Setelah menyelesaikan pekerjaan sampai dengan Jum’at 12 Agustus 2011 siang.. Menjelang magrib aku berangkat menuju negeri leluhur ku, Sipirok…  Kami pergi melalui jalur Pasir Pangaraian – Aek Godang.  Di beberapa ruas, jalannya memprihatinka, tapi masih tetap ini adalah jalur tersingkat dan tercepat.. Jalur alternatif adalah dari Sibuhuan belok ke arah Gunung Tua, lebih jauh sekitar 150-an km dengan jarak tempuh lebih lama sekitar 2 1/2 jam..

Perjalanan ini cukup berat rasanya, karena dilakukan di bulan Ramadhan, saat tubuh butuh konsumsi lebih di malam hari.  Sementara setelah lewat kota Pasir Pangaraian tidak ada tempat makan yang representatif..  Sahur kami lakukan di Palsabolas,  sekitar 20 km dari Sipirok.  Itu pun yang disantap hanya roti yang kami bawa dari Pekanbaru, serta teh yang kami buat dengan meminta air panas di warung yang hanya menjual indomie…  Selama dalam perjalanan, kami hanya menyantap roti dan roti plus kue bawang dan jeruk..

Kami sampai di rumah Opung di Sipirok menjelang jam 5 pagi…   Tapi kami tidak bisa menginap di sini, karena di rumah Opung hanya satu kamar yang dibiarkan kosong buat Papa menginap kalau pulang ke Sipirok.  Kamar-kamar lain digunakan oleh anak-anak dari desa-desa di sekitar Sipirok yang bersekolah di Sipirok.  Mereka sekaligus bertanggung jawab untuk bersih-bersih rumah..  Sementara rumah Opung yang satunya, bagas lombang sedang disewakan supaya ada yang menghuni dan merawat.  Papa lalu membawa kami ke Mess Pemda SUMUT di Pesanggrahan, yang lokasinya tak jauh dari rumah Opung.

Setelah istirahat, sekitar jam 09 pagi kami berangkat ke Hanopan, yang berjarak sekitar 14 km ke arah Simangambat, untuk mengikuti acara adat pemakaman tuang Sahrin..  Ya, upacara adat pemakaman tulang Sahrin dilakukan di rumah peninggalan leluhur kami Tuongku Mangaraja Elias Hamonangan Harahap yang berada di kampung Hanopan.

Bagas Parsadaan Hanopan, peninggalan Tuongku Mangaraja Elias Hamonangan Harahap, buyutku..

Saat kami sampai di Hanopan, persiapan melepas jenazah sudah rampung dilakukan..

Bendera-bendera duka cita sudah melambai-lambai di udara…  Ada yang terdiri dari gabungan kain tiga warna khas Batak, putih – hitam – merah.  Ada juga yang empat warna, putih – hitam – merah – kuning.  Ada juga yang bergambar bulang, penutup kepala laki-laki yang bentuknya seperti mahkota, yang biasanya dipakai pengantin laki-laki.  Ada juga yang bergambar pedang dan ular..  Aku belum sempat bertanya pada Papa ku apa makna semua itu..

Bendera-bendera Adat melambai di udara...

Di jalan di depan rumah sudah tersedia hombung, keranda khas Batak, yang dilapisi ulos.  Pada hombung tersebut juga  terdapat ukiran2 penuh makna..  Di belakang hombung terdapat tandu dari bambu, yang khusus dibuat untuk mengangkat peti jenazah tulang Sahrin…

Persiapan... Hombung dan Tandu Bambu...


Kami lalu masuk ke rumah…  Aku menyusuri sampai ke belakang rumah…  Di halaman belakang rumah aku lihat para ina (ibu-ibu) dan ama (bapak2) sedang mangaloppa (memasak), ada juga yang masih memotong-motong juhut (daging)…

Dalam adat Batak, bila seseorang meninggal di usia yang sudah tua, punya anak keturunan dan mapan secara ekonomi dianggap meninggal saur matua..  Kalau orang meninggal saur matua, keluarganya akan melakukan pemotongan seekor binatang ternak yang dagingnya (juhut) sebagian akan dimasak untuk makan tamu dan orang-orang yang bekerja selama upacara adat, sebagian lagi dibagikan kepada kerabat dan orang kampung tempat upacara adat dilaksanakan.  Khusus untuk masyarakat Batak Angkola, yang sejak lama sebagian menganut agama Islam dan sebagian lagi menganut agama Kristen, binatang ternak yang dipotong adalah kerbau.  Sedangkan yang memasak makanan adalah kerabat dan orang-orang kampung yang muslim dibantu dengan yang non muslim, sehingga pihak tamu dan kerabat yang muslim tidak ragu sama sekali akan kehalalan makanan yang dihidangkan…  Mengingat acara adat kali ini berlangsung di bulan Ramadhan, maka para tamu dan keluarga yang non muslim semua makan di dalam rumah, sedangkan yang muslim diberi makanan untuk disantap setelah berbuka puasa… penuh toleransi…

memotong juhut...

Mangaloppa…. Dilakukan oleh keluarga yang Muslim di Bulan Ramadhan bagi kerabat yang Non Muslim..

Acara adat dimulai dengan acara keluarga, yaitu penyampaian rasa kasih terhadap yang pergi dari para anggota keluarga yang ditinggalkan, yaitu istri, anak, menantu, mora, anak boru dan lain-lain, juga mengekspresikan rasa duka serta kalimat-kalimat saling menguatkan dalam menghadapi kehilangan ini…  Lalu karena sudah waktunya makan siang, maka para kerabat dan tamu yang non muslim dipersilahkan makan siang di bagian dalam rumah..

Setelah acara makan siang selesai…, acara pelepasan jenazah dimulai… Jenazah yang sejak kedatangannya di Hanopan diletakkan di tempat  tidur besi bertiang 4 (bed foster) peninggalan buyutku yang dihias dengan kain batik di tiang-tiangnya, dibawa ke luar rumah dan diletakkan di atas tandu yang dibuat dari bambu…, kemudian ditutup dengan hombung…

Membawa peti jenazah ke depan rumah...

Lalu disampaikan kata sambutan dari pihak keluarga, oleh Tulang Pasti, yang dilanjutkan dengan pembacaan riwayat hidup oleh Tulang Mei, adik bungsu Tulang Sahrin…  Kemudian sambutan yang tak putus-putus dari Mora, Anak Boru, Pisang Raut, Kahanggi, Raja Adat Hanopan lalu para Raja-raja Adat dari kampung-kampung di sekitar Hanopan.

Selesai kata sambutan yang sangat panjang dan lama, akhirnya tandu jenazah diangkat dengan didahului oleh seorang pemuda bermarga Harahap yang dipakaikan bulang dan perlengkapannya serta diiringi  payung kuning..  Untuk tahap awal, keranda tidak diangkat begitu saja.. tapi setelah beberapa langkah maju, dilakukan pula beberapa langkah mundur yang diiringi dengan tebaran beras kuning bercampur uang-uang logam… Langkah maju mundur dilakukan beberapa kali, baru kemudian keranda dibawa dengan langkah maju sepenuhnya menuju gereja untu dilakukan kebaktian pelepasan dan dibawa ke kuburan keluarga Harahap di pinggir pemukiman kampung Hanopan..

Melepas jenazah...

Mengantar jenazah ke gereja untuk kebaktian dan selanjutnya ke pemakaman..

Setelah pemakaman selesai, acara adat ditutup dengan tahapan Paulak Mora..  Semacam acara pelipur lara bagi keluarga yang ditinggalkan, serta menyerahkan tuppak (kontribus untuk membantu menutupi biaya yang telah keluar untuk acara adat) kepada keluarga yang ditinggalkan…

Semoga Tulang Sahrin beristirahat dalam damai.. Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa bersabar dan menyelesaikan apa yang masih menyangkut dengan damai… Terutama di hati mereka.. Aku tahu itu tidak mudah.. Tapi percaya lah, menyerahkan segalanya ke tangan Allah adalah jalan terbaik… ***

Ke Pampang Lagi…

Pampang….??? Iya Pampang... Desa Budaya milik masyarakat Dayak Kenyah yang berada tak jauh dari Kota Samarinda, ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur… Hanya beberapa belas kilometer dari pusat kota..

Aku sudah beberapa kali berkunjung ke desa ini, dan rasanya selalu menyenangkan…  Menatap tinggalan budaya dan membuat potret-potretnya menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi ku jika berkunjung ke sana.. Bahkan aku sangat senang menatap tiang dengan patung burung enggang di ujungnya, yang terdapat di halaman depan rumah panjang… Menatapnya selalu membuat lagu Kalimantan karya Guruh Soekarno Putra yang dinyanyikan Chrisye kembali mengalun di benak ku…

KALIMANTAN

Sungai Mahakam terbentang
Bagai membelah dunia
Berkayuh ku ke seberang
Mencari dambaan jiwa

Gunung biru menghijau
Berhutan bagai beludru
Juwita dimana engkau
Hatiku semakin sendu

Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana
Kemana, kan kucari
Kemana, oh kemana

Kudengar kicau burung
Dipohon bercanda riang
Menghilang rasa murung
Hatikupun merasa senang

Wahai kau burung enggang
Bolehkah daku bertanya
Dimana kucari sayang
Dambaanku tak kunjung datang

Dipadang belantara
Terdapat rumah panjang
Mungkinkah kasih disana
Jika ada kan kujelang

Ternyata kudapati
Hanyalah bekas bara
Kemana lagi kau kucari
Mungkin kita tak pernah jumpa

Kemana, oh kemana (3x)

composed by Guruh Soekarno Putra, sung by Chrisye

Bahkan beberapa waktu yang lalu, David, adik ku yang menetap di Samarinda mengabarkan lewat telpon bahwa Foto Rumah Panjang di Desa Pampang yang kubuat dan ku posting di sini bahkan digunakan pada buku pelajaran anak-anak SD di Kalimantan Timur.  Foto itu dimuat tanpa seizin ku, bahkan tidak mencantumkan sumber dari mana foto itu diambil penulis.

David  mengetahuinya dari seorang teman  yang melihat-lihat buku pelajaran anaknya, dan menemukan bahwa anak yang ada di depan Rumah Panjang di buku  itu sepertinya Abner, anak laki-laki David, yang sering dia temui saat kedua keluarga saling berkunjung.  Dia heran kok bisa ujug-ujug Abner jadi foto model dalam buku pelajaran sekolah.. Hahahaha.. Lalu teman David itu menelpon David untuk mengecek kebenaran bahwa yang ada di foto itu benar-benar Abner.

David malah bingung karena merasa tidak pernah membuat foto itu apalagi mempulikasinya, apa lagi menyerahkan ke penerbit.. David akhirnya nanya ke Abner, apa dia ingat kapan foto itu dibuat.. Abner yang bilang “Itu kan foto ku yang dibuat Bou, waktu kita sama-sama ke Pampang, PiI.”  David dan Nana, istrinya lalu mengecek blog ku, daaaaannnnn voilaa…..!!  Mereka menemukan foto yang sama dengan yang dimuat di buku pelajaran tersebut…

Buat aku mesti ada rasa gak nyaman karena karyaku diambil untuk sesuatu yang bernilai ekonomi tanpa izin, tapi mengingat karyaku dipakai untuk mengenalkan kebudayaan kepada generasi penerus bangsa, aku ikhlas… Semoga mamapu membuat mereka sadar betapa tingginya budaya bangsa kita..

So, saat kunjungan ke Samarinda pada tanggal 2 – 5 Juni lalu aku pun pergi ke Pampang.. Ngapain lagi…?  Secara kali ini saat aku ke Samarinda ada teman yang ikut, yaitu BG alias GP, yang belum pernah ke Pampang, ya aku menemani beliau ke sana..  Gak bosan…?  Ennggggaaaaaakkkkk tuuuuhhhh…..  Enngggaakkkk bangetssss….

Rumah Panjang, 04.06.2011

Tapi ada yang berubah saat aku sampai di depan jalan masuk ke halaman Rumah Panjang.. Ada proses pembangunan pagar keliling… Bagus siyyy untuk mengamankan tinggalan budaya itu, tapi efeknya Rumah Panjang seakan berada di lahan yang sempit…, kemegahannya berkurang….

Dagangan di Rumah Panjang...

Begitu turun dari mobil yang diparkir di depan Rumah Panjang, beberapa anak perempuan menghampiriku dan BG, menyapa dengan ramah.., menanyakan dari mana aku datang.. Hmmmmm…, anak2 yang punya kesadaran pariwisata… Good effort kids…!!!

Kami lalu menaiki beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu tua menuju bagian dalam Rumah Panjang… Tidak seperti saat aku berkunjung sebelum-sebelumnya.. Di dalam rumah itu sudah adagebeberapa perempuan yang berjualan cendera mata, berupa gelang-gelang, kalung, ikat pinggang dan ikat kepala, rompi khas Dayak Kenyah.., terbuat dari manik-manik dengan kombinasi warna yang meriah…

Lalu aku juga melihat melihat gendongan bayi dari manik-manik di antara barang-barang yang didagangkan tersebut… Salah seorang perempuan yang berjualan di situ menggunakan dari manik-manik untuk menggendong anaknya, sementara seorang perempuan lain menggunakan gendongan dengan model yang sama tapi terbuat dari rotan…

Gendongan Bayi dengan hiasan manik-manik..

Gendongan Bayi Berbahan Rotan

Di dalam Rumah Panjang itu juga terdapat bapak Kuping Panjang, yang ini orangnya berbeda dengan yang dulu kami pernah berfioto bersama David, Nana dan Abner.. Kali ini kostumnya lebih  lengkap dengan tombaknya..  Selain itu juga ada beberapa anak yang menggunakan baju khas Dayak Kenyah serta seorang ibu yang cukup lanjut usia dengan kuping yang panjang dan kedua lengan penuh tatto yang telah memudar…

Untuk berfoto dengan Bapak, Ibu Kuping Panjang dan anak-anak kecil tersebut kita harus membayar.  Untuk satu jepretan dikenakan Rp.25.000,-  Lumayan mahal juga yaa.. Tapi mungkin itu lah satu-satunya sumber penghasilan mereka, selain berladang.  Menurut aku siyy tidak apa-apa, toh dengan kita menghargai mereka dan kekayaan budaya mereka, akan memotivasi mereka untuk melestarikan budaya itu.. Why not, bukan begitu teman-teman…?

Ibu Kuping Panjang..

Ada pun si Ibu Kuping Panjang dan Bertatto di lengan sangat  ramah dan setengah mati merayu ku agar membeli barang dagangannya.. Tapi setelah aku jelaskan bahwa aku tak ingin lagi berbelanja agar rumah tak penuh dengan berbagai barang, dan dia pun telah mendapatkan uang dari ku sebagai model foto, akhirnya dia tersenyum… hehehehe…

Pampang memang selalu menyenangkan untuk dikunjungi…  Datang lah ke sana teman-teman.. Kita akan mengenali betapa kayanya budaya negeri ini…****

Berkunjung ke Negeri Indah di Balik Awan (2)

Candi Gatot Kaca...

Hujan ternyata tak kunjung reda di daerah yang dingin ini…. Brrrrrrr…. Dingin  dan semakin dingin… Apalagi sebagian baju agak2 basah kena tempias hujan saat berlari-lari meninggalkan Kompleks Candi Arjuna.  Setelah menunggu dan menunggu…, dan dengan mempertimbangkan waktu yang tersisa, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.  Meski masih hujan…, dan dengan bekal pinjaman 2 buah payung  dari pak Saroji pemilik warung di kawasan parkiran Kompleks Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan…

Kemana……………?

Kami melanjutkan perjalanan dengan mobil ke Museum Kailasa…  Tapi sebelum menuju ke museum, kami melangkahkan kaki dulu ke Candi Gatot Kaca yang berada di seberang jalan di depan museum…

Candi Gatot Kaca berada di lahan yang lebih tinggi dari lokasi Candi Arjuna dan kawan2…  Ukurannya juga lebih besar dan lebih tinggi… Entah mengapa…?  Candi Gatot Kaca ini ditemani 2 tumpukan batu candi berbentuk umpak di 2 sisinya…

Candi Gatot Kaca dan setumpuk umpak di latar depan...

Dari Candi Gatot Koco ini terlihat Telaga Balekambang yang lokasinya gak jauh dari kompleks Candi Arjuna, serta pemandangan ke pemukiman dan kebun2 sayur di dataran tinggi Dieng… Suasananya begitu hening…, nyaman dan menyejukkan hati….

Kami tak cukup lama di candi ini…, hujan yang semakin menderas dan udara yang semakin dingin memaksa kaki untuk segera melangkah ke Museum Kailasa yang ada di seberang jalan..

@ Museum Kailasa..

Museum Kailasa ternyata terdiri dari 2 unit gedung.., museum lama dan museum baru… Di museum Kailasa yang lama dipamerkan batu2 bagian candi yang ditemukan di sekitar daerah Dieng…  Tapi penataannya just so so, gak memberikan impressi yang lebih…

Denah Gedung Baru Museum Kailasa

Bagaimana dengan Museum yang baru…? Museum baru yang diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, pada tanggal 28 Juni 2008 mempunyai bangunan berbentuk juring dengan lantainya berlapis-lapis, smembuat kita bisa menyusuri seluruh bagian dengan mengalir secara continiu.. Di bagian paling dalam terdapat teater yang memutar film tentang riwayat Dieng…  Film ini diputar dengan soundtrack karangan Sujiwo Tejo  yang berjudul Pada Suatu Ketika… Lagu yang indah dan menyentuh kalbu…

Untuk bisa menikmati pemutaran film tersebut, setiap pengunjung dipungut biaya Rp.2.000,-/orang dengan jumlah penonton minimal 10 orang.. Karena kami datang cuma bertiga, plus ada 2 orang pengunjung lagi, dan jumlah tersebut tidak mencukupi.., maka kami memutuskan untuk memborong.., alias membayar untuk 10 penonton, meski cuma berlima…  Dan kami memutuskan untuk menonton terlebih dahulu sebelum menyusuri museum tersebut…

Selesai nonton film yang berdurasi sekitar 10 – 15 menit, dan mendapatkan gambaran mengenai riwayat Dieng, kami mulai menyusuri museum Kaliasa yang baru..

Si Rambut Gimbal.. A Uniquely of Dieng...

Galeri di museum ini dibuat begitu mengalir dengan informasi awal mengenai riwayat terbentuknya dataran tinggi Dieng secara geologi…, kondisi lingkungan, sosial dan budaya Dieng.., termasuk adanya anak2 berambut gimbal… Baru dilanjutkan dengan informasAdd an Imagei tentang kekayaan peninggalan budaya berupa candi2…

A Syiwa Corner @ Museum Kailasa...

Informasi di museum ini ditampilkan dalam bentuk baner2 yang sangat eye catching dan informatif…  Satu informasi yang sangat berkesan, informasi yang memberikan KOMPARASI TENTANG SELURUH CANDI-CANDI YANG TERSEBAR DI PULAU JAWA….

Komparasi Candi...

Still Komparasi Candi...

Setelah melihat2 beberapa kali keliling, kami pun meninggalkan Museum Kailasa dan melanjutkan perjalanan ke Kawah Sikidang…

Kawah…? Maksudnya bukaan gunung api yang mengeluarkan gas…? Iya…. Betul sekali…  Tapi kawah yang ini tidak seperti Kawah Bodas di Gunung Tangkuban Perahu yang membutuhkan perjuangan untuk sampai ke lokasi.  Aksesibilitas ke kawah ini begitu mudah…, ada jalan aspal.. hotmix pula… !! So, setelah menyusuri jalan dan sempat melintas di bawah pipa gas yang merupakan jaringan dari PLTG,  kami pun sampai ke area parkir Kawah Sikidang… Area parkir….???  Iya… Kawah Sikidang dilengkapi dengan area parkir plus beberapa fasum yang umumnya ada di obyek-obyek wisata yang dikelola dengan baik..  Selanjutnya dari area parkir,  kami tinggal jalan kaki beberapa puluh meter untuk sampai ke lahan dimana terdapat bukaan-bukaan yang menjadi jalan keluar gas bumi…..

di Kawah Sikidang..., dingin... bbbrrrrrrr..... dan bau..

Btw, begitu membuka pintu mobil, selain merasakan udara yang sejuk serta rinai gerimis yang memang selalu ada di daerah ini, kita juga akan mencium bau yang “keren abizzzz”,  hehehehe… Bau yang nyaris seperti bau k****t, yang merupakan bau gas sulfur…  Sebagai catatan, pengunjung tidak boleh terlalu dekat dengan kawah-kawah yang ada.., karena gas Sulfur itu bisa menjadi racun bila terhirup dalam konsentrasi tertentu…  Untuk mengingatkan pengunjung , Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara meletakkan tanda peringatan yang dilengkapi dengan gambar tengkorak…

Menurut legenda yang ada di masyarakat Dieng, Kawah Sikidang adalah seorang pangeran yang ditimbun dalam sebuah sumur yang digalinya sendiri atas permintaan seorang putri cantik yang telah dilamarnya.  Karena si pangeran tak cukup tampan di matanya, sang putri berusaha menyingkirkan sang pangeran buruk rupa dengan menguburnya di dalam sumur..  Namun akibat kesaktiannya sang Pangeran mampu tetap meronta-ronta dalam bentuk golakan lahar di kawah Sikidang….

Menikmati Gorengan di Pasar Sikidang...

Setelah melihat cairan yang bergolak di bukaan2 yang ada di tanah tersebut dari balik kekabutan, kami kembali ke parkiran mobil…  Di sekitar parkiran itu tersedia beberapa bangunan yang difungsikan sebagai pasar lengkap dengan toilet yang cukup bersih…  Sebelum pulang kami menghampiri sebuah warung di pojokan pasar tersebut.., waung yang menjual goreng tempe, tahu, pisang serta lengkap dengan minuman berupah teh, kopi dan purwaceng, sejenis minuman khas dieng yang terbuat dari rempah2..  Dalam cuaca yang dingin…, tempe dan tahu goreng yg dicocol sambel kecap rasanya nikmatttttt bangetttzzzzzz……

Merasa enakan setelah menyantap beberapa potong gorengan dan minuman…, kami melanjutkan perjalanan… Kemana lagi….? Ke Telaga Warna…, tapi sebelumnya kami singgah di Candi Bima yang berada di perbukitan di pertigaan jalan ke Kawah Sikidang yang telah kami lewati saat datang…

Candi Bima.. D biggest and d location is d highest one...

Candi Bima, seperti tokoh Bima yang bertubuh paling besar di antara anggota Pandawa, merupakan candi terbesar.. Lokasinya juga paling tinggi dibanding dua lokasi candi sebelumnya…, sehingga untuk mencapainya kita harus melewati  beberapa puluh anak tangga.    Aku amat-amati, bagian belakang candi ini mengarah ke Kawah Sikidang…, sehingga dalam candaanku ke teman2 satu rombongan, aku bilang kalo “Bau yang keren abiz dari Kawah Sikidang itu adalah bau k****t Bima.. Hahahahaha….

Telaga Warna...

Dari Candi Bima kami meneruskan perjalanan ke Telaga Warna..  Setelah membeli karcis di  di loket yang ada di pintu gerbang, kami menyusuri jalan setapak menuju telaga… Daannnn…, subhanallah, telaga itu berwarna hijau pupus dan ada yang kemerahan di bagian ujung. Warna telaga nampaknya disebabkan oleh lumut yang ada di dasar telaga, yang mungkin disebabkan pengaruh lahan yang vulkanis.  Dikelilingi tetumbuhan, suasana yang sunyi dan rinai hujan, telaga itu tampaknya disebabkan oleh tampak indah tapi juga syahdu…  Ada keheningan yang begitu dalam….

Dari Telaga Warna kami kembali ke Yogya…, setelah singgah untuk mengembalikan payung pinjaman ke warung pak Saroji dan juga singgah untuk makan sore di sebuah rumah makan di Wonosobo…

Perjalanan ini begitu indah…, begitu memuaskan mata dan bathin..  Dataran yang tinggi dan selalu berkabut benar2 bagai Negeri di Atas Awan…

Dalam hati aku berharap bisa kembali ke sini untuk waktu yang lebih lama.. Sehingga bisa menginap dan menikmati setiap sisi Dieng….

Di dalam mobil yang menyusuri jalan berliku menuju Yogya, pikiranku yang liar dan terkadang ajaib berkata…, “Seandainya aku mendapatkan pasangan hidup yang orangtuanya menetap di Dieng, tentu aku punya alasan untuk kembali dan kembali berkunjung ke Negeri Indah di Atas Awan ini… Aku akan punya “rumah” di sini….” Hehehehehe….***

Berkunjung ke Kailasa, Negeri Indah di Atas Awan (1)

Kailasa ? Dimana itu…? Kok rasanya nama itu gak pernah tercantum di peta.. Di Indonesia atau di negara lain ya…?

Kailasa itu di Indonesia… Beneran Indonesia.. Tepatnya di Dieng Plateu (Dataran Tinggi), di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.. Dieng karena keindahan dan ketentramannya diibaratkan sebagai Kailasa atau Khayangan, negeri para dewa, negeri yang indah di atas awan….

Ceritanya hari Sabtu 26 Maret 2011, aku pergi ke sana..

 

Menurut informasi di Museum yang diberi nama Kailasa, yang terdapat di Dieng, berdasarkan 22 buah prasasti berbahasa Jawa Kuna, Dieng yang berasal dari kata Dhi Hyang (tempat para roh), dahulu berfungsi sebagai pusat kegiatan religius, tempat para pendeta sekte Saiwa melakukan praktek asketik, dimana Dieng diibaratkan sebagai Kailasa artinya Kahyangan Siwa yang Suci, Pusat Dunia dan Tempat Para Arwah Bersemayam…

Ngapain ke Dieng…?

Aku pertama kali curious soal Dieng saat lebih dari 10 tahun yang lalu melihat video clip almarhum Chrisye yang disutradarai Jay Subyakto yang mengambil lokasi di candi2 di kawasan Dieng.. Rasanya eksotis banget ngeliat candi di antara kekabutan….

Sekitar tahun 1998 saat aku menginjakkan kaki di Yogya untuk suatu pendidikan selama 6 bulan, aku menyusuri jalan Prawirotaman, yang merupakan salah satunya wilayah beredar wisman di Yogya, aku melihat travel2 biro yang menyediakan paket perjalanan ke sana.  Tapi karena suatu dan lain hal maka keinginan tersebut terlupakan… , dan tetap terlupakan meski kemudian aku sempat menetap sekitar 2 tahun 5 bulan di yogyakarta untuk menyelesaikan studi pasca sarjanaku. Ini merupakan salah satu kebodohan besar buat aku… :)

Dua minggu yang lalu, saat aku tahu akan ditugaskan menghadiri rapat di Yogyakarta, aku bertekad akan pergi ke Dieng…  Aku mulai mencari2 informasi travel yang menyediakan paket perjalanan ke sana.., tapi seorang teman baik meminjamkan kenderaan lengkap dengan driver untuk pergi ke sana…

Hari Sabtu, 26 Maret 2011 jam 06.30 pagi aku beserta 2 teman yang bernama sama, Ika dan Ika, diantar Mas Joko, si driver yang baik hati, memulai perjalanan ke Dieng..

Kami jalan ke arah Sleman… melalui daerah Kali Putih.., daerah yang mengalami bencana berupa lahar dingin yang membawa material pasir dengan volume yang subhanallah banyaknya.., yang menyebabkan banyak rumah hancur….

Warung Ijo Bu Padmo, Salam, Sleman

Setelah singgah untuk sarapan brongkos di Warung Ijo Bu Padmo di bawah jembatan yang menghubungkan desa Salam dan desa Tempel, kami menuju Wonosobo melalui jalan pintas, melalui desa-desa di perbukitan selama sekitar 2,5 jam.  Udara di Wonosobo sejuk…, dengan pemandangan warna hijau dimana-mana…

Dataran Tinggi Dieng..

Dari Wonosobo harus ditempuh 25 km lagi untuk bisa sampai ke Dieng.. Namun ini perjalanan yang menyenangkan…, karena menyusuri bukit-bukit dan pegunungan… Iya, Dieng berada diantara pegunungan karena Dieng diperkirakan dulunya merupakan danau bekas kawah gunung api yang sudah mati..

Mobil lalu diparkir di pelataran parkir, yang di ujungnya terdapat semacam pintu ke arah sebuah taman… Tapi karena hari hujan, kami terpaksa menunda masuk ke taman tersebut dan duduk di warung Pak Saroji…  Warung yang antik…  Kenapa..? Karena penjualnya menghidangkan dagangannya berupa manisan carica, kentang goreng, kripik kentang, kacang, minuman purwaceng tanpa menagih pada pengunjung yang menikmati di tempat.. Yang ditagih hanya yang kita beli untuk dibawa pulang.. What a service…!!!!

Sementara menunggu hujan reda, sambil menikmati makanan dan minuman hangat di Warung pak Saroji, kami juga sempat melakukan sholat di musholla yang berada tepat di belakang warung..  Saat berwudhlu…. Subhanallah….. bbbbrrrrr………………… airnya sejuk banget…… gigi aja bergemeretuk dan ngilu ketika kumur2….  Rasanya malah pengen bergelung dalam mukena.. hehehehe…

Rekonstruksi Dharmasala

Setelah hujan agak reda, dan dengan dibekali payung pinjaman dari isteri pak Saroji, kami berjalan menuju taman yang tersembunyi di balik rerimbunan bunga…  Melewati pintu gerbang, kami melihat selapis rerimbunan tanaman lagi di depan.. Sedangkan di sisi kanan terlihat umpak, yaitu tumpukan batu2 candi tersusun rapi…, yang ternyata Rekonstruksi Dharmasala…, tempat istirahat para penziarah dan juga tempat persiapan upacara keagamaan..

Cerita Dharmasala...

Lalu kami meneruskan langkah menuju taman yang ditutupi pagar tanaman… Subhanallah…, di balik tanaman2 tersebut terbentang jejeran 5  buah candi yang indah… Disempurnakan  dengan udara yang sejuk dan kekabutan serta perbukitan hijau  yang menjadi latarnya… Subhanallah…. Sungguh indah… Tak salah bila diungkapkan bagai negeri indah di atas awan…

5 Candi.. Kiri - Kanan : Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sumbadra, Candi Arjuna dan Candi Semar

Candi tersebut oleh masyarakat diberi nama mengikuti tohoh2 pewayangan..  Candi Arjuna, Candi Semar (di depan Arjuna), lalu Candi Sumbadra, Candi Puntadewa dan Candi Srikandi.

Candi Arjuna...

Candi Semar...

L - R : Candi Sumbadra, Candi Puntadewa dan Candi Srikandi..

Nama-nama candi ini membawa aku pada kenangan masa kecil, ketika almarhumah ibu membelikan aku 4 jilid buku cerita bergambar yang sangat tebal (untuk ukuran anak kelas 4 SD) karya RA. Kosasih yang berjudul Mahabrata, lalu 3 jilid buku Barata Yudha, serta beberapa jilid (aku gak ingat persis lagi) buku yang tak terlalu tebal berjudul Pandawa Seda.. Entah dimana buku2 itu sekarang.. Aku ingin membeli lagi, tapi tak pernah menemukannya di toko buku..

Buku2 itu membuat aku mengenal tokoh2 wayang beserta karakternya… Buku-buku yang mengajarkan pilihan-pilihan hidup yang bernama kebaikan dan keburukan, serta segala konsekuensinya…

Tapi menurut deskripsi yang belakangan aku baca di Museum Kailasa, tidak ada hubungan antara nama dan karakter tokoh wayang2 tersebut dengan apa yang diekspresikan pada dinding-dinding candi itu…

Kami lalu menyusuri candi-candi tersebut satu persatu… Mengelus dan merasakan pahatan-pahatannya..  Kalau sudah begini, sedih rasanya tidak punya ilmu arkeologi sehingga tak mampu membaca apa makna yang tersurat dan tersirat pada setiap bahagian candi-candi tersebut…

Candi Arjuna dan Candi Sumbadra di latar belakang..

Ada banyak tanya di dalam hati.. Generasi seperti apa yang mampu menetukan lokasi yang begini indah untuk menjadi tempat melakukan aktivitas asketiknya…? Berapa banyak orang yang terlibat membuat semua ini, berapa lama..? Dari mana mereka datang…? Dari mana mereka mendatangkan bahan-bahannya.. Bagaimana teknologi arsitektur dan pahat batu mereka sehingga mampu menghasilkan karya yang begitu indah…?  Dan satu hal lagi, lokasi ini, diperkirakan dengan teknologi saat ini, berada tepat di tengah Pulau Jawa.. Kok bisa generasi abad keenam dan ketujuh menentukannya..? Rasanya zaman itu pengetahuan pemetaan masih sangat sangat sangat terbatas..  Gak ada GPS atau apalah yang bisa membantu mengukur.. Coincidence….? Rasanya enggak yaa…  Kalau enggak, terus bagaimana…? Pakai teknologi apa…?

Belum puas berkeliling, mengamati dan duduk menikmati suasananya, kami harus bergegas pergi karena hujan mengguyur dengan derasnya… Payung tak mampu melindungi diri dari terpaan air hujan..  Udara jadi terasa semakin dingin menusuk tulang… tapi, candi dan lingkungannya jadi semakin indah dan eksotis…. Membuat semakin enggan meninggalkannya…

Ketika hujan semakin tak bersahabat, kami terpaksa berlari dan berlari untuk kembali ke warung pak Saroji untuk menghangatkan tubuh dengan teh hangat dan kentang goreng serta secangkir purwaceng…

Kelima candi yang berada dalam satu kompleks ini ternyata belum semua… Di Dieng ini masih ada 2 candi lagi, yaitu Candi Gatot Kaca dan Candi Bima..  Perjalanan ke 2 candi lagi dan Museum Kailasa harus dilakukan setelah hujan agak reda…  ***

Boru Panggoaran

Boru panggoaran itu dalam masyarakat Batak artinya anak pertama yang berjenis kelamin perempuan, yang namanya digunakan sebagai nama panggilan orang tuanya.. Secara dalam adat Batak, kalau sepasang suami istri sudah punya anak, tidak sopan untuk dipanggil dengan nama mereka, melainkan dipanggil dengan Mama atau Papa nya si “Ucok” (kalo nama anaknya Ucok).  Seperti abangku misalnya, nama panggilan yang sopan buat dia adalah Papa Vania karena anaknya  benama Vania Lardes Siregar.  Adikku David dipanggil Papi Aldy karena anak pertamanya bernama Arden Thoman Denaldy Siregar dengan nama panggilan sehari-hari Aldy.  Dan adikku Uli dipanggil Mami Samuel, karena anaknya yang pertama bernama Samuel Sisoantunas Sinambela.

Aku & Mama years ago...

Karena aku anak kedua, meski anak perempuan tertua, aku jelas bukan boru panggoaran… Namaku tidak digunakan dalam panggilan orang-orang pada Papa dan Mamaku…  Tapi Mama sering sekali menyanyikan lagu Boru Panggoaran di depanku…

Bahkan sekitar 2 tahun yang lalu, saat teman2 adik ku Ivo ramai2 kumpul di rumah dan ada membawa gitar dan biola, mereka mengiringi Mama menyanyikan lagu ini…  Jangan tanya…, sudah pasti air mataku mengalir tanpa bisa dicegah…  Aku hanya bisa menikmati alunan suara Mama yang bening (perempuan Batk, bo…!!) dengan duduk di kursi di kamar kerja adikku Ivo.. Aku tidak ingin menangis di depan teman2 adikku…

Sebenarnya aku tidak mengerti secara utuh arti kata demi kata lagu ini, secara aku tidak fasih berbahasa Batak…  Tapi aku mengerti, kalau lirik lagu ini mengungkapkan harapan orangtua pada anak perempuannya, yang diharapkan akan menjadi penjaga mereka ketika usia menua dan tubuh merapuh…  Ada diantara teman2 yang mau ngasi aku artinya secara utuh…? Aku tunggu lho…

Here d VC of d song yang dinyanyiin Victor Hutabarat…

BORU PANGGOARAN

Ho do boruku tampuk ni ate-ateki
Ho do boruku tampuk ni pusu-pusuki
Burju burju ma ho
Namarsikkola i
Asa dapot ho na sininta ni rohami

Reff
Molo matua sogot ahu
Ho do manarihon ahu
Molo matinggang ahu inang
Ho do na manogu-nogu ahu

Ai ho do boruku boru panggoaranki
Sai sahat ma da na di rohami
Ai ho do boruku boru panggaoaranki
sai sahat ma da na di rohami**

UAE Trip (Part Two)

Hari Selasa 23 November 2010… Pagi ini aku bangun sekitar jam 04.30.. Bangun karena mendengarkan lagu Insya Alloh nya Maheer Zein dari E71 ku yang memang telah berbulan-bulan diset-up sebagai waker..  Tapi kali ini wakernya tidak berbunyi pukul 04.30 WIB melainkan 04.30 waktu Dubai.. Iya, aku menyesuaikan jam di E71 ku ke waktu UAE, dari pada bingung..  Hehehehe…

Dubai Mall Hotel in d night as a background

Setelah terbangun dan menyadari bahwa aku sedang tidak di rumahku, dan waktu subuh juga belum sampai, aku tetap berdiam diri di tempat tidur.. Lalu memandang jejeran pencakar langit yang memancarkan cahaya di kegelapan malam..  Sekali lagi aku terpana akan rahasia keajaiaban rezeki.. Tidak pernah ada dalam semesta pemikiranku bahwa pada akhir tahun 2010 ini aku akan berada di sini, menikmati cahaya gemerlap Dubai..

Gak lama aku mendengar suara bell … Hhhhmmmm… somebody’s coming… Itu pasti teman sekamarku yang telat datang karena visanya terlambat terbit..  Aku lalu bangun dan mengintip dari kaca pengintip yang ada di pintu kamar… Aku melihat wajah bang Ferry, tour leader kami, wajah seorang perempuan dan petugas hotel..  Itu pasti bang Ferry mengantarkan teman sekamarku yang baru tiba di Dubai..  Aku lalu membuka pintu dan mempersilahkan teman sekamarku masuk tanpa menampakan diriku.., soalnya cuma pakai baju tidur tanpa kerudung..  Hehehe… Aku lalu mendengar bang Ferry berkata, “Ini mba Afni, teman sekamarnya ya mba Sondha.”.  Aku lalu menjawab, “Ok, bang Ferry.”`

Aku dan Afni lalu saling memperkenalkan diri.  Aku lalu menunjukkan padanya pemandangan indah dari balkon kamar.  Lalu dia melanjutkan dengan bebersih dan bergegas istirahat…, dan aku melanjutkan berbaring di tempat tidur sambil memandang deretan pencakar langit…

Aku terbangun kembali sekitar pukul 05.30… , dan kembali bermalas2 setelah solat subuh dan mengambil foto2 skyscrapers pada pagi hari…

Sekitar jam 07.30 waktu Dubai, aku dan Afni turun ke Lobby Floor, tempat dimana resto buat sarapan berada… Hmmmmm…. Makanan yang dsediakan mengundang selera… Setelah tubuh lebih beradaptasi dengan waktu yang lebih telat 3 jam, setelah makan malam sebelumnya yang rada ajaib… Jelas perutku lapaaarrrr banget…

Ngomong2 soal makan malam yang ajaib… hehehe… Iya, malam sebelumnya kami dibawa oleh tour leader local yang berdarah Pakistan ke Rainbow Restaurant, yang aku gak tau lokasinya dimana.  Yang jelas lokasinya di lantai 3 sebuah gedung di pusat kota.  Apanya yang ajaib…? Menunya.. Hehehe..  Restaurant ini menawarkan Chinese, India, Malaysia Cuisine.. Hasilnya….???? Hahahaha… Ada cream soup yang sangat mengoda selera saat memandangnya, tapi setelah diicip…, kok ada rasa asamnya yaaa….??? Dan hal yang sama terjadi juga dengan beberapa menu yang lain… Tapi pudding caramel nya ok bangetsss..

Back 2 Selasa pagi…

Residences @ Palm Jaumaerah

Setelah sarapan, kami menuju bis.. Acaranya…: city tour…!!!

Perjalanan pertama, kami menuju Palm Jumaeraah… Sebuah pulau hasil reklamasi d tepi Arabian Gulf yang berbentuk pohon palem..  Di bagian puncak, terdapat Atlantis Hotel yang terkenal itu… Sementara di bagian yang merupakan “pelepah” terdapat residences.. Sedangkan di antara pelepah, terdapat laut… Bahkan dibeberapa ruas yang menghubungkan bagian2 dari pohon palem itu merupakan terowongan yang berada di bawah permukaan laut..  Keren bangetsss…..

Apa yang bisa dilihat di Atlantis Hotel…? Ada aquarium, Aladin’s cave, swimming pool yang berbentuk lagoon.. Tapi karena hanya dikasi waktu 45 menit, ya hanya sempat muter sana sini…

@ a corner of Atlantis Hotel, Palm Jumaeraah

@ Atlantis Htl, Palm Jumaeraah

Tapi di salah satu lorong aku menemukan sebuah counter yang menjual pasir gurun yang ditata sedemikian rupa di dalam botol sehingga berbentuk lukisan… Di samping counter tersebut duduk si seniman yang mempertunjukkan keterampilannya.  Sungguh keterampilan yang keren… Ketika ku tanya dimana dia mempelajari keterampilan ini, dia bilang di Yordania..

Penyusun Pasir dalam botol...

@ Burj Al Arab

Dari Palm Jumaeraah, kami dibawa menuju  Burj Al Arab.. Sebuah bangunan  di tepi pantai Arabian Gulf yang menjadi icon kota Dubai.. Bangunan ini berbentuk layar… Di bagian atasnya ada helipad dan restaurant berbentuk rectangle dimana para pengunjung bias bersantap sambil menikmati laut…  Sementara di pantai di sekitar Burj Al Arab banyak sekali tourist yang bejemur dengan swimsuite beraneka warna dan model….

Dari Burj Al Arab, kami dibawa menyusuri jalan yang sejajar dengan garis pantai.. Jalan yang di kiri kanannya terdapat rumah-rumah mewah, termasuk rumah salah satu putra sheikh yang menikah dengan putrid Raja Jordan…  Kami lalu menuju kawasan yang dulunya merupakan pusat kota Dubai sebelum jejeran skyscrapers mengisi kawasan Bur Dubai…

Kami juga sempat melewati Jumaerah, sebuah masjid yang merupakan salah satu lanmark  Dubai.. Masjid yang indah.. Sayang karena merasa lelah dan lapar, sebagian besar  peserta tour tidak ingin singgah dan melihat masjid tersebut.. Tapi sungguh masjid itu dari luar pun terlihat sangat indah.. Tidak masuk ke masjid ini merupakan salah satu yang aku sesali dari perjalanan ini..  Semoga ada kali yang lain…, dan semoga kalau ada kesempatan tour kemana pun lagi, aku tidak kehilangan kesempatan melihat rumah Alloh lagi…

Jumaerah Mosque @ Deira Dubai

Jumaerah Mosque @ Deira Dubai

Setelah melihat Masjid Jumaerah, kami lalu makan siang di sebuah restaurant India..  Makanannya lumayan lezat…. Gak ngecewain lidah… Hehehe…  Selesai makan kami segera kembali ke hotel, karena harus istirahat sebelum ikutan Desert Safari…

Desert Safari…? Apa itu…? Desert  Safari itu safari di padang pasir dengan menggunakan kendaraan 4 wheel drive… Hmmmm, gak sabar dan deg-deg-an… Karena aku pernah baca di sini, kalau gak kuat, ikutan desert safari bisa mabok sampai muntah2…

Desert Safari kami mulai jam 16.30-an.. Telat dari jadwal yang seharusnya, jam 15.30, karena menunggu sesama anggota rombongan tapi gak muncul2…  Padahal sejam jam 15-an di depan hotel sudah tersedian 6 unit mobil 4 wheel drive berwarna putih, yang masing2 dikendarai oleh seorang supir berbusana khas lelaki setempat, jubah putih, beberapa di antaranya memakai tutup kepala yang juga sangat khas Arab..  Mana wajahnya cakep2 pulaaa…. Hahahaha…

Karena jumlah mobil yg sudah di-reserve ada 6, yang jumlah penumpang seharusnya 4 orang, sementara yang ikut cuma 11 orang, dan cuma 5 diantaranya laki-laki,  mobil kami menjadi sangat longgar..  Pokoknya di tiap mobil harus ada satu laki-laki dari rombongan.  Jadinya satu mobil tidak ada penumpangnya.. Sayang banget.., padahal supirnya cuakep banget lho… Hahahaha…  Tapi gak berani lah ya naik mobil tanpa ada lelaki dari rombongan yang menemani…

Mengurangi tekanan angin pada ban sebelum surfing di antara sand dunes..

Mobil diarahkan oleh supir ke arah utara dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dan berhenti di rest area..  Di situ para penumpang dipersilahkan bongkar muatan, alias pipis, sebelum perjalanan dilanjutkan..  Sementara para supir mengurangi volume udara yang mengisi ke-empat ban mobil..

Setelah semua ok, perjalanan dilanjutkan… Gak lama supir membawa mobil keluar dari jalan aspal  masuk ke sand dunes… Rasanya seperti naik jet coaster… Tegang, cemas, ngagetin…  Seruuu aja pokoknya….. !!! Hehehe…  Tapi menurut kak Lisda yang semobil dengan aku dan juga Roy, ini belum maksimal… Safari yang pernah diikuti kak Lisda sebelumnya jauh lebih hebooohhh…, karena beneran bisa bikin mabok dan muntah orang yang gak kuat…   Mungkin jalur yang diambil lebih pendek dan simple karena waktunya yang pendek yaaa…  Menjelang magib, para supir memberhentikan mobil2 di salah satu sand dune.. Memberikan kesempatan bagi kami untuk berfoto-ria di padang pasir sambil menikmati sunset… Yuuuuppppp….. sunset on d desert.. Biasanya sunset yang ditunggu-tunggu kan di pantai yaa…  Sama seperti di pantai, di gurun pun enaknya bertelanjang kaki… Dan karena sudah menjelang malam, pasir gurun terasa sejuk di kaki.. Hmmm nyamannya….

Meluncur di antara sand dune...

Sunset on d desert...

Mejeng di gurun pasir... heheheh..

Selesai berfoto-foto dan menikmati sunset, perjalanan dilanjutkan…  Beberapa puluh menit kemudian kami sampai di sebuah kawasan yang dibatasi pagar kawat duri dan di tengah-tengahnya terdapat tenda berukuran besar… Di sampingnya terparkir sebuah mobil ATV buat yang ingin merasakan nyetir di padang pasir, juga terdapat beberapa ekor onta.. ONTA…? Iyaaa… Onta itu disediakan bagi peserta yang mau mencoba rasanya mengendarai onta..

Ridin' a camel..

Apa emang rasanya naik onta…? Hahahahahahahahahahhahaha…. Pas naiknya siyyy deg-degan… Takut dengan reaksinya… Tapi ternyata waktu naik, cukup aman, ontanya tenang2 aja..  Kitanya ja yang deg2an.. Bahkan mengendarainya juga fine-fine aja…  Yang ngagetin itu pas turun… Onta itu main njegruk aja turun tanpa aba-aba, tanpa tanda2… Bussseeeeettttttt daaaahhhhhh……. Hehehehe…

Selesai kami naik onta, kami masuk ke area dalam kemah…  Di sana sudah disiapkan tempat2 duduk berupa busa yang menghadap ke meja-meja panjang..  Selain itu juga ada tempat duduk melingkar yang dibatasi pelepah kering di sekelilingnya..  Juga ada tempat duduk di tepi2 tenda.., serta toko souvenier di dekat pintu masuk yang sekaligus berfungsi sebagai pintu keluar…  Selain itu, di dekat pintu masuk terdapat tenda di kiri kanan yang menyediakan cemilan khas padang pasir, yaitu semacam pancake dan roti goring dicelup gula aren…

Begitu masuk ke tenda, kami bergegas mencari perempuan tukang bikin henna.. Karena menurut tour guide yang orang Pakistan, di dalam paket desert safari peserta perempuan boleh minta dihias dengan henna.  Setelah bertanya, kami segera menemukannya duduk di sebuah karpet di salah satu sisi tenda.. Perempuan pemasang henna itu ternyata berdarah Iran, yang sejak lahir sudah tinggal di Dubai, dan sudah bekerja di kemah tersebut lebih dari 10 tahun…  Pemasangan henna untuk satu kali, apakah di tangan atau di kaki, tidak dipungut bayaran, alias bagian dari paket.  Untuk pemasangan kedua dikenakan biaya DRH 10, atau sekitar Rp.24.000,-.  Aku memutuskan untuk menghias tangan dan kaki kanan ku… Gadis penghias henna itu begitu terampil menggoreskan henna langsung dari tube dan membentuk gambar-gambar yang feminim dan artistic… Keren bangetsss… Dan tiap-tiap orang mendapat gambar yang berbeda, tidak menggunakan pola atau pattern seperti yang pernah ku lihat di Little India, Singapore.  Setelah selesai digambar, henna harus dibiarkan minimal 30 menit, baru dibersihkan…

dihias dengan henna..

Henna on my foot... Does it make my foot look sexier...? Hahahaha...

Selesai memakai henna, kami segera mengambil tempat duduk yang disusun mengitari sebuah persegi yang akan menjadi tempat pertunjukan.. Pertunjukan apa…? Belly dance… Tari perut…? Are U sure…? Yeesss….  Kami pun duduk2 menikmati cemilan yang disedikan : kebab, goreng2an sejenis pastel dengan isi khas Arab dan teh atau kopi..  Gak lama, ada pemebritahuan melalui sound system kalo kami dipersilahkan mengambil Jatah makan malam berupa makanan barbeque khas arab..  Dagingnya boleh pilih, mau chicken atau beef, yang dihidangkan dengan beberapa jenis salad khas arab dan roti prata…  Sembali menikmati makan malam, kami diputarkan video tentang sejarah UAE, perjuangan rakyatnya dan kepemimpinan Sheikh Zayed bin Sultan Ali Nahayan..

Desert Dance...

Selesai makan malam, para peserta safari diminta duduk disekitar segi empat tempat pertunjukan…, dannnnn pertunjukan dimulai…  Pertunjukan pertama adalah seorang penari pria yang memakai rok lebar dan menari berputar2 selama beberapa belas menit.. Kuat banget tuuhh orang.. Gak pusing, apalagi mabok dan muntah.. Padahal kalo kita disuruh begitu, 3 puteran aja udah keleyengan… Hahaha… Rok yang dipakai ternyata 2 lapis dan ada lampunya..  Bahkan rok yang terakhir diangkat dan diputar-putar di atas kepalasemua penonton satu persatu.. Rasanya seperti berada di bawah kipas angin..

Di akhir pertunjukannya, penari pria itu menjemput seluruh peserta perempuan untuk menari bersama di tempat menari, kecuali………… perempuan-perempuan yang berbusana muslimah..  Alhamdulillah… Ini adalah salah satu saat dimana aku merasakan betapa terhormatnya menjadi perempuan berbusana muslim… Orang tidak berani mengajak kita menari di tempat umum… Sementara penari tersebut meminta semua peserta satu persatu menari, meliukkan tubuh di depan umum…

Setelah penari laki-laki itu selesai menari, akhirnya muncul juga belly dancer..  Perempuan bertubuh tinggi dengan wajah khas arab dan rambut panjang terurai sampai melebihi pinggang.  Busananya, hanya bra dan underwear yang ditutupi oleh kain tule beberapa lapis..  Perempuan itu menari dan menggerakkan otot2 perutnya… Mungkin buat sebahagian kesannya sexy dan indah ya.. Tapi di mataku, kok rasanya gak pantas ya perempuan mencari nafkah dengan seperti itu.. Aku juga merasa   gak benar dengan menonton  tarian ini… Semoga ini adalah yang pertama dan terakhir.. Hanya utnuk tahu, bukan untuk dinikmati, apalagi diulangi…

It's time 2 go home...

Selesai pertunjunkan belly dance, selesai pula lah acara desert safari.. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 waktu Dubai, alias jam 00.30 WIB.  Kami kembali naik mobil yang menjemput kami, lalu diantar oleh supir yang sama ke hotel..  Rasa lelah membuat aku tertidur pulas begitu roda mobil menyentuh jalan aspal… Sekitar jam 22.30 waktu Dubai kami sampai di depan pintu masuk hotel… Dengan tubuh lelah dan mata mengantuk, kami beriring2 masuk ke lobby hotel, dan naik ke lantai 2 di sayap lain hotel untuk ngecek tempat acara investment opportunity besok pagi akan dilaksanakan…  Setelahnya kami kembali ke lobby dan masuk ke lift dan keluar di lantai tempat kamar kami masing2…

Hari ini benar2 hari yang menyenangkan.. Hari melihat berbagai  “dunia” yang baru… Banyak pengalaman yang tak terpikirkan sebelumnya… Alhamdulillah….

I am Burj Khalifa….

d burj from Souk Al Bahar, 26.11.2010

Rising gracefully from the dessert and honouring the city with a new glow.  I am extraordinary union of engineering and art, with every detailed considered and beautifully crafted.

I am the life force of collective aspirations and aesthetic union of many cultures.  I stimulate dreams, stir emotion and awaken creativity.

I am the magnets that attracts the wide- eyed tourist, eager catching their postcard moment, the centre for the world’s finest shopping, dining and entertainment, and home for the world’s elite.

I am the heart of the city and its people, the marker that defines Emaar’s ambition an Dubai’s shinning dream..

More than just a moment in time, I define moments for future generations.

I am Burj Khalifa

Tulisan ini aku temukan di salah satu dinding di lorong panjang yang aku susuri saat menuju lift berkecepatan 10 meter per detik yang akan membawaku ke At The Top, sebuah lantai di bagian puncak Burj Khalifa, yang dibuka untuk public.  Tulisan ini begitu berkesan buat aku, karena mengekspresikan arti dari Burj Khalifa… Sebuat burj alias menara yang diberi nama sesuai dengan nama penguasa UAE saat ini, penguasa yang merupakan putra dari Sheikh Zayed bin Sultah Ali Nahyan, sheikh yang membawa UAE menuju kemajuan yang luar biasa…

Hormatku bagi mu Sheikh Zayed.. Hormatku bagi mu Sheikh Khalifa.. Hormat ku atas kepemimpinan kalian yang membawa kemajuan bagi masyarakat negeri kalian…  Semoga negeri kami pun dikaruniai pemimpin yang visioner, yang akan membawa negeri kepada kejayaan…

d burj @ night, captured from d balcony of my room @ d hotel, 22.11.2010

burj in d morning, captured from d balcony of my room @ d hotel, 23.11.2010

d burj @ noon, captured from d balcony of my room @ d hotel, 23.11.2010

Randai Kuantan di Bali…

Randai Kuantan…? Apa itu….? Aku juga baru 2 tahun terakhir ini mendengar kata2 itu… sejak bertugas di kantor yang sekarang, yang memang bidang kerjanya di kebudayaan dan pariwisata.

So, apa itu Randai Kuantan…?

Randai Kuantan itu sejenis sandiwara rakyat yang berasal dari daerah Taluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi.  Menurut riwayatnya, penduduk daerah ini adalah masyarakat Minangkabau yang tersesat mengikuti aliran Sungai Kuantan yang berhulu di wilayah Sumatera Barat, lalu menetap di daerah ini.  Jadi budaya Kuantan ini berakar pada budaya Minangkabau yang kemudian beradapatasi dengan budaya lokal.   Demikian juga dengan Randai, katanya siyyy pada masyarakat Minagkabau juga ada kesenian Randai…  Tapi aku belum pernah liat pertunjukan yang ini.

Randai Kuantan adalah sandiwara yang dibagi dalam beberapa babak.. Di antara setiap babak, para pemain melakukan tarian yang khas, enggak sulit sebenarnya, dalam gerak melingkar dan diiringi oleh sekelompok pemain music yang memainkan lagu2 tradisional khas Kuantan.  Nah selama proses menari ini, para penonton boleh bahkan diharapkan berpartisipasi, sehingga penonton merasa terlibat dalam pertunjukan ini..

Sandiwara ini dimainkan di tengah2 lingkaran yang dibentuk oleh para pemain yang duduk melingkar..  Para penonton, duduk di sekitarnya…

Pada Pesta Kesenian Bali Tahun 2010 ini, Randai Kuantan merupakan pertunjukan kesenian yang ditampilkan oleh Provinsi Riau.  Adapun judul ceritanya Bujang Lapuk, suatu cerita klasik masyarakat Melayu tentang seorang lelaki dewasa yang belum juga menikah, sehingga keluarganya sibuk mencarikan jodoh.  Gak tahan dengan upaya keluarga yang menimbulkan rasa tertekan, si bujang lapuk pergi merantau dan bertemu dengan 5 bidadari yang sedang mandi di air terjun.  Setelah melakukan kelicikan ala Jaka Tarub, si bujang lapuk berhasil mendapatkan salah satu bidadari menjadi istrinya.  Tapi karena sombong dan angkuh, si bujang membuka rahasia asal usul istrinya kepada orang kampung, dan itu melanggar syarat yang ditetapkan sang bidadari, sehingga bidadari kembali ke negerinya.

Pada pertunjukan yang ditampilkan pada hari Jum’at 18 Juni 2010 itu, sambutan penonton luar biasa.. TidaK berkurang sampai akhir pertunjukan, bahkan seorang wisman, dengan bersemangat ikut menari di tiap antar babak..  Senang melihat apresiasi yang luar biasa terhadap kesenian tradisionil…