Selamat Jalan Iban, Selamat Jalan Batak Keren, Selamat Jalan Robert Manurung…

Apa itu iban…? Iban adalah salah satu tutur (cara memanggil seseorang) dalam bahasa Batak. Iban atau lengkapnya  Pariban…

Robert Manurung 05.05.1964 - 05.05.2011

Buat seorang boru Batak, Iban artinya adalah anak saudara perempuan dari ayah alias anak namboru.. Sedangkan buat seorang lelaki Batak, pariban adalah boru alias anak perempuan dari saudara laki-laki  ibunya, alias boru tulang.  Menurut adat Batak, orang yang marpariban adalah pasangan hidup yang paling cocok.., namun di masa sekarang panggilan Iban bukan lagi semata2 seperti itu…

Seorang Robert Manurung yang menyebut dirinya sebagai “Raja Batak” di blognya yang bertajuk “Batak Keren” membahasakan aku sebagai ibannya..  Itu adalah panggilan panggilan menghormati, menghargai..  Padahal aku hanya seorang Boru Batak yang dia temukan di tengah belantara dunia maya.. Tak pernah bertemu muka, tak pernah berbicara melalui jaringan seluler kecuali pada pagi hari di ulang tahunnya yang terakhir, 05 May 2011, dua hari menjelang kepergiannya untuk selama-lamanya…

Siapa siyy Robert Manurung…? 

Deskrpisi tentang dirinya pernah dia tulis di blog Batak itu Keren sebagai berikut :

  1. Aku selalu diliputi perasaan heroik dan cinta yang mendalam terhadap negeri ini, setiap kali melihat Merah-Putih berkibar.
  2. Jiwa nasionalis tertanam dalam diriku selama bekerja sebagai wartawan di Harian Merdeka, yang waktu itu dipimpin oleh pendiri dan pemiliknya, BM Diah. Beliau ini salah satu tokoh pemuda dalam pergerakan kemerdekaan, sangat dekat dengan Bung Karno.
  3. Aku bersyukur dan bangga pernah bekerja di Harian Merdeka. Dinding kantor redaksi koran nasionalis ini dihiasi ratusan foto bernilai sejarah tinggi bagi Indonesia dan dunia, antara lain foto asli Proklamasi 17 Agustus 1945, foto Bung Karno dan BM Diah dengan tokoh-tokoh dunia seperti Jawaharlal Nehru, JF Kennedy dll.
  4. Merdeka adalah surat kabar terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Koran ini lahir hanya selang berapa minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya 1 Oktober 1945. Sampai akhir tahun 90-an, meskipun oplah kecil dan tak ada iklannya, Merdeka merupakan koran nomor satu.
  5. Sebagian besar wartawan hebat yang pernah lahir di negeri ini adalah “lulusan” Merdeka, sebutlah misalnya Rosihan Anwar, Harmoko dan generasi yang belakangan Goenawan Mohammad, Christianto Wibisono dan Fuad Hasan.
  6. Pada umur 30 tahun, aku merasa tujuan hidupku telah tercapai, yaitu keliling dunia. Memang belum semua tempat di dunia ini aku kunjungi satu per satu. Tapi dari segi kawasan, atau benua, telah aku kunjungi semua. Di antara semuanya, India paling mengesankan, karena belum digerus budaya artifisial barat.
  7. Karena merasa cita-citaku sudah tercapai, aku pernah berdoa agar Tuhan mencabut nyawaku. Tapi ternyata Tuhan punya kehendak lain, yang kuartikan bahwa aku masih diberikan tugas untuk mengabdi bagi keluargaku, teman-temanku dan masyarakat. Namun profesi wartawan kuanggap tak menarik lagi, karena pers Indonesia sudah benar-benar bobrok. Pemilik media mengisap darah wartawan, kemudian si wartawan melacurkan profesi, memeras dan mengemis.
  8. Aku mengundurkan diri dari profesi wartawan pada usia 34 tahun. Setelah itu aku sempat membantu petenis kelas dunia, Yayuk Basuki, meloncat ke peringkat 19 dunia dan lolos ke babak delapan besar turnamen akbar Wimbledon. Tapi secara bisnis, usaha itu kurang berhasil. Namun, aku tetap merasa berterima kasih pada Kang Wimar Witoelar, atas kesediaannya bekerjasama denganku mengurus manajemen Yayuk.
  9. Dalam banyak hal aku belajar secara otodidak. Aku kurang menghargai lembaga pendidikan formal, karena menurutku sistem pendidikan kita, dunia kerja, penghargaan masyarakat terhadap pendidikan, semuanya masih belum menghargai manusia sebagai mahluk yang cerdas, berkepribadian, dan independen.
  10. Aku menentang separatisme dan politik sektarian, serta diskriminasi dalam berbagai bentuk. Bagiku, setiap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana diatur oleh Undang Undang Dasar 1945.
  11. Aku bikin blog ini sebagai upaya kecil untuk menggugah kecintaan masyarakat Batak pada budaya dan kampung halaman. Ini sejalan dengan keyakinanku : untuk membangun Indonesia kita harus lebih dulu membangun suku-suku dan daerah. Sejak Kemerdekaan, Bangso Batak sudah menyumbang banyak pejuang, tentara, guru, penegak hukum, dokter, wartawan, dan ahli-ahli di berbagai bidang; demi kemajuan Indonesia.
  12. Fokus utama blog ini : seni budaya, sospol, lingkungan, info dan timbangan buku. Tentu tak terelakkan masalah agama pun akan kusorot di blog ini. Tapi, kepedulianku lebih pada kebebasan beragama, dan humanisme. Buatku, agama adalah urusan pribadi.
  13. Sastrawan favorit : Jean Paul Sartre, Kahlil Gibran, Chairil Anwar, Pablo Neruda, Yasunari Kawabata, Ahmad Tohari dan Multatuli.
  14. Novelis favorit : Sidney Seldon, Agatha Christi, Alistair McLean, Ashadi Siregar dan Mochtar Lubis.
  15. Tokoh idola : Bung Karno, Gandhi, JF Kennedy, Kahlil Gibran, Tan Malaka, Bunda Teresa.
  16. Pemain bola favorit : Christiano Ronaldo (MU), Penambucano (Lyon)
  17. Klub : Manchester United.
  18. Tim Nasional : Brazil & Perancis.
  19. Musisi/penyanyi favorit : Sebastian Bach, Vivaldi, Gordon Tobing, Joan Baez, Leo Kristi, Queen, Scorpion, The Beatles, ABBA, Bimbo, Santana, Tongam Sirait, Elvis Presley, Viky Sianipar, Los Morenos, GNR, Demis Roussos, Ann Murray, Rolling Stones, Von Groove, Ungu & Celine Dion.
  20. Makanan favorit : tongseng, sate padang, sangsang, naniura, sop konro, ikan rica-rica.

Iban Robert menemukan ku, lebih tepatnya lagi menemukan tulisan ku yang berjudul “Batak Berekor atau Berbelalai?” yang ku release di blog ku tanggal 23 Agustus 2007.. Tulisan tentang kenangan akan kebatakan ku, tentang beberapa pertanyaan yang ada di benak ku..  Lalu postingan  itu beliau reposting kembali  judul yang sama pada tanggal 15 Mei 2008 di blog punya beliau “Batak Itu Keren“…

Terus terang apresiasinya terhadap tuilisan ku itu mengagetkan ku.. Karena buat aku itu hanya tulisan remeh temeh dari seorang Sondha Siregar.., Boru Batak yang melayang-layang di Negeri Melayu…  Apresiasinya membuat aku melihat ke komunitas Batak yang digalangnya di dunia maya untuk membangkitkan rasa percaya diri orang Batak, agar mereka tidak lagi malu mengaku sebagai Orang Batak, karena sebenarnya Batak itu Keren, karena Batak itu punya warisan Budaya yang Luar Biasa, yang tak kalah dengan suku lainnya di negeri ini…

Lalu setelahnya kami beberapa kali ngobrol melalui Yahoo Messenger..

Kemudian Iban Robert mengkolaborasikan foto hasil jeprat jepret ku dengan tulisan yang sangat indah dari kak Halida Srikandini boru Pohan yang dirilis di “Batak Itu Keren” tanggal 29 September 2008 dengan judul “Lomang (Bukan Ketupat!), Makanan Khas Lebaran di Tapanuli Selatan“.  Foto itu merupakan foto yang ku buat saat pulang kampung di medio 2008 saat mengikuti pesta adat perkawinan iboto (adik laki2ku), David Siregar…

Apa yang Iban Robert lakukan terhadap karya2 kecilku itu kemudian menggelitik hati ku…, menggelitik darah Batak yang mengalir di tubuhku…  Kenapa  ?  Karena sampai saat itu, meski nama Siregar, yang merupakan stempel kebatakan, melekat erat pada diri ku sejak aku lahir, aku sebenarnya tidak merasakan ikatan yang kuat terhadap kebatakan ku itu..  Aku cinta keluarga ku, keluarga besar ku.. Aku punya buuuuaaaannnyyyaaakkk kenangan tentang Sipirok, Sibadoar dan Hanopan,yang merupakan tanah tumpah darah leluhurku…  Tapi apa aku merasakan ikatan yang kuat sebagai orang Batak…?  Enggak juga…  Aku merasa lebih terikat erat pada Kota Pekanbaru, Tanah Melayu yang menjadi tempat aku tumbuh besar…  Namun di satu sisi aku pun sadar bahwa masih ada orang di Negeri Melayu itu yang menganggap aku adalah si Batak pendatang…

Dalam beberapa kali percakapan di YM itu lah yang aku katakan pada Iban Robert..

Aku : “Iban, aku cinta sama keluarga ku.. Aku cinta sama Sipirok, Sibadoar dan Hanopan…  Ketiga kampung itu acap kali membuatku terindu-rindu.. Tapi aku tidak terlalu merasa sebagai orang Batak.. Rasanya setengah  dari diri ku mencintai Negeri Melayu, tempat ku tumbuh dan dibesarkan…

Iban Robert : “Gak ada yang salah sama itu semua Iban… Jadi lah kau Boru Batak Keren dari Pekanbaru…  Jadi lah kau orang Melayu berdarah Batak yang tak pernah kehilangan jati diri mu  sebagai Boru Batak...”

Lalu aku pun kembali tenggelam dalam kesibukan ku.. Sesekali ku lihat dari FB iban Robert  betapa dia sangat memikirkan Tanah Batak dan Tao Toba..  Sementara acap kali iban Robert men-tag ku untuk foto2nya mengenai Tanah Batak dan Tao Toba..

Di sekitar Oktober 2010, di sebuah thread di FB bertiga dengan Ito Ucok Blue Eagle Simanjuntak , kami berdiskusi mengenai pariwisata yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk pengentasan kemiskinan bagi masyarakat Batak yang kaya akan budaya dan alam, terutama menghubungkan Sipirok ke jalur pariwisata Tao Toba yang sudah mendunia itu.   Iban Robert bilang, “Kapan iban ke Jakarta, kita ketemuan lah untuk berdiskusi tentang apa yang bisa kita lakukan untuk negeri leluhur kita itu

Lalu ku jawab “Iban, aku tak mau berbicara tanpa aku punya data mengenai potensi pariwisata yang ada di Sipirok.. Aku usahakan pun bisa pulang ke Sipirok untuk melihat2..”

Tapi sampai hari ini rencana melihat2 itu belum juga sempat ku lakukan… Pulang ke Medan berkali-kali dalam 6 bulan terakhir ini sepenuhnya  untuk menemui ibu ku yang memang memerlukan perhatian anak2nya..

Lalu, di awal April lalu…, aku melihat iban Robert mengupload foto dirinya yang disebutnya Narcis..  Foto diri setelah lebih dari 30 hari berhenti merokok dan sudah 8 malam tak bisa tidur..  Aku yang jail, masih berusaha ngeledek dengan bilang, “Tapi kalau siang, tidur kan, Iban..?”  Aku tidak memahami bahwa itu adalah awal dari perjalanan sakit selama 1 bulan lebih yang  membawa dia ke akhir hidupnya… Itu adalah awal cancer hadir nyata dalam hidupnya.. Bahkan di komentar2 foto itu pula ito Ucok Blue Eagle Simanjuntak menyemangati Iban Robert agar cepat sembuh agar kami dapat mengadakan kumpul2 dengan kak Halida Srikandini, Eda Paulina Sirait dan kak Marini Sipayung, yang keduanya juga sangat dekat dengan Iban Robert..

Dua hari yang lalu, sekitar jam 7 pagi dalam perjalanan menuju ke kantor, aku menelpon Iban Robert.. Telpon ku yang pertama dan sekaligus terakhir..  Aku menelpon untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke 47, mendoakan agar dia tetap semangat dan berjuang untuk sembuh…  Masih bergema rasanya suara beliau di pendengaranku.. “Aku akan berjuang melawan penyakit ini Iban.. Aku tidak mau kemo.. Aku akan minum air daun sirsak itu untuk pengobatan..”

Tapi kenyataan berkata lain.. Hari ini Sabtu 07 May 2011 jam 06.10 wib Iban Robert pergi menghadap Sang Pemilik Semesta Alam….

Selamat jalan Iban.. Beristirahat lah dalam damai..

Terima kasih sudah hadir dalam hidup  ku, sudah mengingatkan ku agar berupaya menjadi Boru Batak yang Keren.. Boru Batak yang bisa berbuat banyak bagi masyarakat dimana pun berada tanpa kehilangan jati diri sebagai Boru Batak yang tidak pernah melupakan tanah leluhurnya…  ***

Visiting Our Beloved Uncle..

Kemaren, begitu ngobrol by phone dengan David adikku sesaat aku menginjakkan kaki di Bandara Soeta, David bilang “Kak, sempatin ke Tanah Kusir yaa… Kunjungin Pak Tuo…”

Our beloved uncle...

So, this morning, dengan diantar oleh sahabatku Veny, yang selalu menawarkan kamar tamu di rumahnya buat tempat aku menginap kalau ke Jakarta, aku pergi ke Tanah Kusir… Menziarahi makam abang Papa ku, Janthi Anwar Siregar..

Beliau adalah anak ke 3 dari 4  Siregar bersaudara, anak kedua dari 3 anak laki-laki Pieter Siregar gelar Sutan Barumun Muda, yang berasal dari Sibadoar – Sipirok, seorang guru SMP yang pernah mengabdi di Pematang Siantar, Sibolangit dan terakhir  di SMP Sipirok.. Ibu beliau adalah Menmen Harahap, putri Mangaraja Elias Harahap, seorang pemborong di zamannya, yang berasal dari Hanopan – Sipirok.

Setelah bersekolah di Sipirok, beliau melanjutkan kuliah di UGM.  Awalnya mengambil Jurusan Arsitektur, lalu pindah ke Fakultas Ekonomi dan menyelesaikannya di situ..

Perjalanan karir beliau, tidak banyak detil yang aku tahu… Yang aku ingat dari cerita2 orang tua, beliau tahun 1960-an sempat bekerja di PN Irian Bakti di Irian Jaya.  Lalu mengabdikan diri menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia di Angkatan Darat.  Hanya ada di serpihan ingatan saat aku masih kecil bahwa beliau datang ke Pekanbaru di tahun 1970-an ikut dengan tim pak Soedomo yang memberantas para renternir yang menggerogoti para pensiunan yang mengambil uang pensiun mereka di KPN di Pekanbaru zaman itu…

Lalu setelah aku beranjak dewasa, aku ingat bagaimana beliau menyuruh 4 saudara laki-lakiku, 2 saudara kandung dan 2 saudara sepupu yang merupakan putra kandung beliau untuk hadir pada hari wisudaku di Bogor, dengan harapan kelulusanku akan memotivasi 3 abang dan 1 adik laki2ku itu untuk segera menyelesaikan studi mereka..  Kebayang gak siyyy betapa ramainya anggota keluarga yang menghadiri wisudaku…?

Lalu percakapan2 setelah makan malam sampai larut di meja makan di rumah beliau, ketika kami berkunjung ke sana..  Percakapan2 yang menanamkan rasa cinta pada keluarga, fighting spirit yang kuat untuk maju…  Rasanya akan selalu jadi kenangan yang manis..

Di akhir tahun 1993 beliau sakit dan sempat dirawat di RS. Tebet Jakarta,  Lalu di awal tahun 1994, beliau kembali dirawat..  Pada saat aku membezuk beliau di RS Tebet, beberapa hari sebelum beliau dibawa ke Singapur untuk berobat, dan kemudia berpulang di sana, beliau berkata padaku “Hidup saya gak akan lama lagi, Sondha.. Kamu si kakak buat  adik-adikku.., harus bisa menjaga adik2mu…” Iya saat itu aku adalah anak perempuan tertua dengan 1 abang & 2 adik perempuan yang kuliah di Jakarta, serta 1 adik laki-laki yang kuliah di Bandung.

Lalu, setelah sakit beberapa bulan.., beliau pergi di usia 60 tahun 2 bulan… 06 Januari 1934 – 06 Maret 1994..  May you rest in peace.., We love you… ***

Boru Panggoaran

Boru panggoaran itu dalam masyarakat Batak artinya anak pertama yang berjenis kelamin perempuan, yang namanya digunakan sebagai nama panggilan orang tuanya.. Secara dalam adat Batak, kalau sepasang suami istri sudah punya anak, tidak sopan untuk dipanggil dengan nama mereka, melainkan dipanggil dengan Mama atau Papa nya si “Ucok” (kalo nama anaknya Ucok).  Seperti abangku misalnya, nama panggilan yang sopan buat dia adalah Papa Vania karena anaknya  benama Vania Lardes Siregar.  Adikku David dipanggil Papi Aldy karena anak pertamanya bernama Arden Thoman Denaldy Siregar dengan nama panggilan sehari-hari Aldy.  Dan adikku Uli dipanggil Mami Samuel, karena anaknya yang pertama bernama Samuel Sisoantunas Sinambela.

Aku & Mama years ago...

Karena aku anak kedua, meski anak perempuan tertua, aku jelas bukan boru panggoaran… Namaku tidak digunakan dalam panggilan orang-orang pada Papa dan Mamaku…  Tapi Mama sering sekali menyanyikan lagu Boru Panggoaran di depanku…

Bahkan sekitar 2 tahun yang lalu, saat teman2 adik ku Ivo ramai2 kumpul di rumah dan ada membawa gitar dan biola, mereka mengiringi Mama menyanyikan lagu ini…  Jangan tanya…, sudah pasti air mataku mengalir tanpa bisa dicegah…  Aku hanya bisa menikmati alunan suara Mama yang bening (perempuan Batk, bo…!!) dengan duduk di kursi di kamar kerja adikku Ivo.. Aku tidak ingin menangis di depan teman2 adikku…

Sebenarnya aku tidak mengerti secara utuh arti kata demi kata lagu ini, secara aku tidak fasih berbahasa Batak…  Tapi aku mengerti, kalau lirik lagu ini mengungkapkan harapan orangtua pada anak perempuannya, yang diharapkan akan menjadi penjaga mereka ketika usia menua dan tubuh merapuh…  Ada diantara teman2 yang mau ngasi aku artinya secara utuh…? Aku tunggu lho…

Here d VC of d song yang dinyanyiin Victor Hutabarat…

BORU PANGGOARAN

Ho do boruku tampuk ni ate-ateki
Ho do boruku tampuk ni pusu-pusuki
Burju burju ma ho
Namarsikkola i
Asa dapot ho na sininta ni rohami

Reff
Molo matua sogot ahu
Ho do manarihon ahu
Molo matinggang ahu inang
Ho do na manogu-nogu ahu

Ai ho do boruku boru panggoaranki
Sai sahat ma da na di rohami
Ai ho do boruku boru panggaoaranki
sai sahat ma da na di rohami**

Satu Bangsa….

Ide tulisan ini sebenarnya sudah muncul di benak Tati berkali-kali..  Saat peringatan Hari Jadi Provinsi Riau tahun 2007, lalu tahun 2008 ini, juga saat hari jadi Kota Pekanbaru beberapa bulan yang lalu.  Tapi selalu gak sempat ditulis karena ada hal yang lain yang harus dilakukan… Akhirnya moment-nya lewat…  Mau di-publish, kok kayaknya basi yaaaa… Nah, di moment hari Sumpah Pemuda, Tati kepikiran lagi buat nulis tentang hal ini..  Tulisan tentang apa siyyy?

Hmmmm…. Ini tulisan yang topiknya rada sensi, karena banyak terjadi di negeri ini terutama setelah reformasi terjadi di tahun  1998..  Sebenarnya sebelum tahun 1998 juga terjadi, tapi biasanya dalam kesenyapan dan tidak transparan…

Ini cerita tentang pengalaman Tati si nona berdarah batak yang tumbuh besar dan mengisi sebagian besar hidupnya di tanah Melayu, Riau, tepatnya di kota Pekanbaru..

Tati sejak kecil gak pernah dididik untuk bersifat sukuisme..  Orang tua mengajarkan untuk menghormati orang tua dan leluhur, tapi tidak sukuisme..  Orang tua Tati memberikan contoh yang luar biasa, karena rumah kami sangat terbuka bagi anak-anak tetangga dan anak-anak teman mereka.  Bahkan ada anak tetangga yang tinggal dan besar di rumah kami, menjadi bagian keluarga kami, padahal tidak ada hubungan darah sama sekali, mereka berasal dari Sumatera Barat sementara kami dari Sipirok.  Dan bukan sekali dua tetangga kami yang bukan orang Batak ikut keluarga kami pulang ke Sipirok.

Rasa tidak sukuisme ini didukung pula oleh lingkungan tempat tinggal Tati saat dibesarkan, perumahan kompleks Gubernur Riau di Kota Pekanbaru yang tahun 1970-an sangat heterogen karena dihuni berbagai suku : Melayu, Batak, Minang, Jawa bahkan Manado, Ambon dan Irian meski dalam jumlah yang gak banyak.  Bahkan orang Melayu-nya pun berbeda-beda, ada orang Rengat, orang Siak, orang Kepulauan, orang Bengkalis, orang Tembilahan dan sebagainya.

Di lingkungan sekolah sejak TK sampai  SMA di Pekanbaru, teman Tati juga gak banyak yang orang Batak.  Sahabat Tati, Syahida adalah orang Solok, Sumatera Barat.  Juga teman main Tati saat SMA yang lain, Inda dan I-in.  Inda adalah orang Riau, kampungnya di Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, sedangkan I-in orang Palembang campur Lampung.

Rasa kesukuan ini semakin tidak ada setelah Tati kuliah di Bogor, secara teman dekat Tati sedikit yang orang Batak.  Avita..? Ayahnya Sumatera Barat, Ibunya Batak.  Mia Bachtiar? Orang Makassar.  Opi, Miko dan Riza orang Sumatera Barat, Diana Chalil orang Batak campur Melayu, namun Melayunya lebih dominan.   Linda Omar? Arab campur Belanda campur Jawa.  Chi2, orang Sunda..

Tati dengan cara pandang yang tidak sukuisme ini terkaget-kaget, saat mengurus melengkapi syarat administrasi untuk proses penerbitan SK pengangkatan PNS tahun 1996-an. Zaman itu masuk PNS sudah mulai pake ujian2 plus wawancara.  Tapi tetap pada tahapan tertentu, link menentukan diterima  atau tidak.  Jujur saja, Tati mendapat kemudahan untuk menjadi PNS karena abang Papa yang menjadi orang tua Tati di sini adalah salah seorang PNS yang mengabdi di negeri Melayu ini sejak Propinsi Riau dilepas dari Propinsi Sumatera Timur.  Untuk itu pada tahun 1950-an beliau pindah dari Medan ke tanah Melayu.  Mula-mula ke Tanjung Pinang, lalu setelahnya ke Pekanbaru.

Saat Tati sudah diterima sebagai PNS di lingkungan Pemda Riau, tapi Sk belum keluar,  Tati harus mengantarkan berkas yang perlu dilengkapi ke Bagian Kepegawaian di lingkungan pemerintah kota tempat Tati tinggal dan mendaftarkan diri jadi PNS.   Setelah menyerahkan berkas,  Tati berbincang-bincang dengan salah seorang staff di situ yang sudah Tati kenal.  Tiba-tiba Kepala Bagian Kepegawaian keuar dari ruang kerjanya.  saat dia melihat Tati, dia lalu menunjuk ke arah Tati seraya berkata dengan keras sehingga terdengar ke sepenjuru Bagian Kepegawaian, “Itu tuh… Mestinya dia gak masuk pegawai di daerah sini..!  Dia kan Batak, mestinya dia daftar di Medan saja…!!”.

Tati kaget banget mendengar ucapannya…  Karena orangtua Tati kenal dengan beliau.  Bahkan he was my agent insurance, karena alm ibu mengambil asuransi pendidikan Tati sama dia, sebelum dia menjadi PNS.  Tati yang rada-rada gokil, dengan wajah dipasang sepolos mungkin (padahal sumpe pake ngamuk2 di dalam hati) menjawab ucapan beliau dengan suara lembut sembari tersenyum, “Maaf pak… Saya memang pakai marga.  Tapi setahu saya, saya adalah orang Pekanbaru.  Saya besar di sini, sekolah dari TK sampai dengan SMA di sini.  Kalo saya daftar jadi PNS di Medan, saya rasa saya gak akan diterima karena rasanya gak ada orang di pemerintahan di Medan yang kenal dengan saya.” Setelah mengucapkan sederet kalimat itu, Tati lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dan pulang…

Sempat siyy Tati meminta pada orangtua untuk tidak ditempatkan di lingkungan itu saat penempatan tugas.  Tapi orangtua memberikan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal, dan juga mendorong untuk tegar menghadapi orang seperti itu.  Akhirnya Tati bisa melewati tekanan-tekanan yang beliau lancarkan selama kurang lebih 1.5 tahun di awal masa PNS Tati.  Tapi kemudian beliau dimutasikan dari bagian kepegawaian, pindah ke unit kerja lain dan hampir tidak pernah ketemu lagi.  Pernah, sebelum beliau pensiun dan masih menjadi kepala unit kerja, beliau (terpaksa kali yaaaa…..) datang ke meja kerja Tati untuk minta dibuatkan bahan presentasi bagi kepala daerah untuk menyambut tamu dari Singapore.  Saat itu Tati bersikap seakan tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu.., dan emang gak ada rasa dendam di hati Tati..

Itu satu peristiwa yang terjadi secara terbuka…  Tati untungnya gak pernah lagi mengalami hal yang seperti itu…  Cuma sekali itu saja..   Tapi Tati sering lihat dan dengar ada banyak peristiwa sukuisme yang terjadi di lingkungan kerja di daerah secara tertutup, terutama di lingkungan Pemda.  Gak cuma di lingkungan Tati, tapi hampir di seluruh Indonesia.  Tidak ada ucapan atau pernyataan apapun, tapi ada double, triple bahkan seribu standard dalam promosi dengan alasan kesukuan..

Padahal buat Tati dan juga teman2 lain yang senasib, tanah tempat kita tinggal adalah  habitat kita.  Enggak kepikiran lah untuk mengeruk harta di situ lalu dibawa pulang ke tanah leluhur..  Kalaupun ada yang dibawa pulang ke kampung, paling sebatas pemberian buat sanak keluarga dalam jumlah yang gak seberapa…

Pekanbaru, adalah hometown-nya Tati… Di sini Tati tumbuh dan berkembang..  Di sini ada komunitas Tati..  Ada ikatan yang luar biasa dengan kota ini…  Di sisi lain, Sipirok adalah tanah leluhur Tati, tanah orang-orang yang mewariskan berjuta-juta sifat dalam wujud genetik ke tubuh Tati.  Tanah orang-orang yang berjuang untuk masa depan yang lebih baik bagi anak dan keturunannya..  Apa tidak pantas Tati punya keterikatan yang luar biasa dengan Sipirok?

Apakah kita hanya boleh berkembang di negeri yang diwariskan oleh leluhur kita? Apa kita tidak berhak tinggal dan mencari kehidupan di negeri yang bukan negeri leluhur kita?  Tidak berhak kah kita berkarya di situ?  Toh tanah itu juga masih dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia..   Masih dalam SATU NUSA, SATU BANGSA.. Tidak bisakah orang-orang seperti Tati menyatakan diri sebagai ORANG PEKANBARU BERDARAH BATAK…????

Note :

Sampai saat ini Tati masih menggunakan nama “SONDHA SIREGAR” di name-tag yang  setiap hari dipasang di bagian dada kanan pakaian dinas Tati.  Bukan buat pamer “GUE BATAK” tapi untuk menghormati leluhur yang mewariskan nama itu pada Tati, untuk mereka yang telah berjuang dan berkorban demi masa depan yang lebih baik bagi anak dan keturunannya…

Hari Batak…

Kita biasanya kan mendengar ada hari ulang tahun, hari Kartini, hari ibu atau di negeri sono disebut sebagai Mother’s Day.  Naaahhh hari ini buat Tati adalah HARI BATAK..  Karena Tati seharian ini berurusannya dengan orang Batak melulu…  Hahahaha… Kok bisa…?

Ceritanya, Tati hari ini lagi pengen masuk ke cangkang..  Gak pengen keluar rumah, malas ngapa2in…  Jadi seharian ya di rumah, kalo gak mau disebut di kamar doank kecuali ke kamar mandi, atau ke ruang depan karena ada yang ngetuk pintu..  Hehehe..

Di kamar seharian ngapain…?  Kok betah…  Ya di depan laptop lah yaaa…  Fisik bisa gak kemana2.., tapi pikiran teteup melanglang buana…  Terbang ke dunia luassss….  Hehehe…

Pagi2, Tati chatting conference bertiga dengan bang Rio, abang Tati atu2nya, dan David, adik laki2 Tati juga atu2nya..  Mereka sebagaimana juga Tati bermarga siregar, artinya Tati berurusan dengan orang Batak..

Tati sempat juga sebentar ngobrol di facebook dengan jeung yang ini…  Lalu siangan dikit Tati dapat 2 notification di Facebook.   Notification untuk di-add sebagai friend.  Ternyata kedua2nya juga orang  Batak : satu dari ibu ini dan satu dari si bapak ini…  Keduanya adalah anggota milis Saroha, milisnya orang-orang Tapanuli Selatan..  Tati juga terdaftar jadi anggota milis itu, cuma lebih milih jadi penonton para Bataks ngobrol by milis..  Ngobrol yang seru dan hueeebbbbohhhh…, sampai bikin keder Tati buat ikutan masuk gelanggang…  Karena kalo mau ikutan mesti kuat nyali, kuat otak dan kuat mental…  Hehehe…

Si ibu yang ini dimata Tati adalah tipikal orang dengan pribadi petasan renceng…  Tulisan-tulisannya di milis persis kayak petasan renceng yang kalo meledak, dasyat, bererot-rerot,  gak putus-putus…  Hehehe..  Tapi ada 2 tulisannya yang di muat di blog ini tentang ramadhan dan hidangan lebaran di Sipirok yang sangat bagus  dan dijamin memikat hati orang2 yang tahu persis tentang kehidupan di kampung Tati tersebut…  I love those posts, Eda…!!!

Tati sempat ngobrol sama si ibu ini tentang milis Saroha yang benar-benar merefleksikan sifat orang Batak, “ngomongnya kencang  dan sulit buat mengalah pada saat berbicara…” Gubrak aja deh pokoknya… Huahahaha…  Kedua sifat yang membuat orang Batak cenderung terlihat rude alias kasar..  Padahak kalo udah tau, hati orang Batak itu selembut salju..  Wakakak…   Kedua sifat yang menjadi streotype ini pula yang membuat “Tati Muda” lebih senang menyembunyikan Kebatakan-nya, dan gak mau berlama-lama kongkow2 dengan sesama Batak..  Hehehe..

Tapi sejalan dengan kedewasaan berpikir dan perjalanan hidup… Tati bisa melihat menjadi Batak tidak lah memalukan..  Gak ada bedanya dengan suku-suku lain di muka bumi ini..  Bahkan orang tua dari suku Batak terkenal sebagai orang tua yang bekerja keras untuk memberi anak-anaknya kesempatan meraih pendidikan setinggi-tingginya..

Jangan heran kalo  teman-teman pergi ke Pajak Pringgan (sebuah pasar di Medan) trus ngeliat inang2 (ibu2) berjualan tomat, yang jauh dari keren bahkan cenderung lusuh.., tapi kalo ditanya anaknya dimana, dia bisa bilang dengan suara penuh bangga dan mata berbinar-binar  “Anakku yang paling besar kuliah di ITB, anakku yang nomor 2 di UI dan sebaginya dan sebagainya”.  Itu yang di Medan.. Coba kalo kita pergi ke daerah-daerah di Sumatera Utara, kita akan menemukan hal yang sama.  Ada banyak Amang2 (bapak2) dan Inang2 yang jauh dari keren, dengan baju seadanya, telapak kaki yang pecah2 karena kerja di sawah,  tangan yang kasar, kulit yang legam karena selalu mandi cahaya matahari, mengunyah sugi (tembakau) pula.  Tapi kalo ditanya anaknya dimana, dia akan menjawab dengan kebanggaan yang luar biasa “Si Ucok kita kuliah di IPB, si Butet kita sudah tahun kesekian di UI.”  What great parents…!!!!   Mereka mengorbankan dirinya demi masa depan yang lebih baik bagi anak dan keturunannya… Salah satu kejadian yang menyentuh hati sehingga membuat Tati merasa semakin wajib menghargai leluhur Tati yang asli Batak dari empat penjuru, pernah Tati tulis di sini

Gak lama, si bapak  yang ini ninggalin comment di “wall” Tati di facebook..  ternyata beliau yag saat ini bekerja dan menetap di Riyadh adalah teman seangkatan Tati di IPB.  Angkatan 23 alias 1986 tapi beda Kelompok. Dia Kelompok 10, Tati Kelompok 5.   Tapi sumpeee sampai saat menulis ini Tati masih belum bisa mengingat sosoknya di masa kuliah yang lebih dari 20 tahun yang lalu itu…  Meski begitu, perasaan seangkatan di sekolah yang sama membuat  kita langsung nyambung…   Kita lalu chit chat di Facebook…

Gak lama Tati ngeliat di friend list si ibu ini ada nama si bapak yang ini..  Bapak ini adalah pemilik blog Toba Dreams yang pernah me-reposting tulisan Tati yang berjudul “Batak Berekor atau Berbelalai..?” .  Tati lalu meng-add friend nama beliau..  Gak lama Tati dapat notification dari beliau…  Kita lalu ngbrol di Facebook..  Obrolan yang ringan tapi inspiring… Karena beliau selalu mendorong orang-orang di sekitarnya untuk membuang rasa inferior yang sering kali hadir di diri akibat pola didikan kuno tinggalan penjajahan.. Beliau selalu bilang “Batak Keren”.  Kalo sekilas orang bisa melihatnya sebagai suatu sikap arogansi.., tapi sama sekali enggak.. Itu adalah suatu upaya membuang rasa inferior, membangkitkan rasa percaya diri..  Karena sebenarnya setiap pribadi, termasuk orang-orang Batak, telah diberi “kelebihan” yang membuatnya setara dengan manusia lainnya di muka bumi ini…  Lalu…, sikap dan tingkah lakunya lah yang membuat statusnya bergeser..  Bisa menjadi manusia yang lebih baik, atau sebaliknya…

Percakapan kami terhenti karena listrik di rumah Tati mati, modem gak bisa nyala, line internet jadi putus…

So…, coba lihat dari pagi sampai sore Tati berkomunikasinya sama orang Batak semua kecuali  jeung yang ini..  Topik yang dibahas juga tentang orang Batak..  Wajar doonk kalo hari ini Tati anggap sebagai adalah Hari Batak…

My Favorite Road…

Jalan Balige - Parapat

Ini beberapa pics lagi hasil jeprat jepret saat pulang kampung beberapa waktu yang lalu.. Pics pemandangan yang dapat kita nikmati pada ruas jalan favorite Tati kalau menempuh perjalanan dari Medan ke Sipirok atau sebaliknya…

Ruas favorite..? Yaappppp…. Ruas jalan di sekitar Toba Samosir

Pemandangan di ruas ini (kalo kita dari arah Sipirok menuju Medan) mulai menjelang Balige sampai setelah Parapat benar-benar memanjakan mata.. Sawah dengan latar belakang Danau Toba atau Danau Toba dengan latar belakang kota Parapat benar-benar indah..

Pemandangannya gak kalah deeh kayaknya dengan pemandangan danau-danau di Eropa yang bisa kita lihat di postcard-postcard…

Pemandangan di ruas ini membuat Tati gak sudi memejamkan mata meski tubuh lelah dan mata ingin ditutup…

Temans… silahkan dinikmati suguhan Tati kali ini, semoga bisa menggugah hati teman2 untuk menikmati ruas perjalanan ini.. Jangan lupa membayangkan perjalanan ini sambil diiringi lagu O Tano Batak...

O, TANO BATAK

O, Tano Batak, haholongakku
Sai namalungun, do au tu ho
Ndang olo modom, Ndang nok matakku
Sai namasihol do au, Sai naeng tu ho

 

O, Tano Batak, Sai naeng hutatap
Dapothonokku, Tano hagodangakki
O, Tano Batak, Andigan sahat
Au on naeng mian di ho, sambulokki

Molo dung bitcar, matani ari
Lao panapuhon, hauma i
Godang do ngolu, siganup ari
Dinamaringan di ho, sambulokki

Danau Toba

Danau Toba

Pics Danau Toba menjelang Kota Balige


Sawah yang bertingkat-tingkat di pinggir Danau Toba

Pasar Balige. Bentuknya itu lho... Unik banget... Sayang Tati belum sempat singgah di situ. Katanya sih di pasar ini banyak sekali jual ulos yang cantik-cantik. I hope someday bisa ngubek2 pasar ini..

Danau Toba dengan Kota Parapat di latar belakang... It's sooooo beautiful... Melihat pemandangan ini menimbulkan rasa bangga dan syukur akan keindahan negeri kita...


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,649 other followers

%d bloggers like this: