Selamat Jalan Iban, Selamat Jalan Batak Keren, Selamat Jalan Robert Manurung…

Apa itu iban…? Iban adalah salah satu tutur (cara memanggil seseorang) dalam bahasa Batak. Iban atau lengkapnya  Pariban…

Robert Manurung 05.05.1964 - 05.05.2011

Buat seorang boru Batak, Iban artinya adalah anak saudara perempuan dari ayah alias anak namboru.. Sedangkan buat seorang lelaki Batak, pariban adalah boru alias anak perempuan dari saudara laki-laki  ibunya, alias boru tulang.  Menurut adat Batak, orang yang marpariban adalah pasangan hidup yang paling cocok.., namun di masa sekarang panggilan Iban bukan lagi semata2 seperti itu…

Seorang Robert Manurung yang menyebut dirinya sebagai “Raja Batak” di blognya yang bertajuk “Batak Keren” membahasakan aku sebagai ibannya..  Itu adalah panggilan panggilan menghormati, menghargai..  Padahal aku hanya seorang Boru Batak yang dia temukan di tengah belantara dunia maya.. Tak pernah bertemu muka, tak pernah berbicara melalui jaringan seluler kecuali pada pagi hari di ulang tahunnya yang terakhir, 05 May 2011, dua hari menjelang kepergiannya untuk selama-lamanya…

Siapa siyy Robert Manurung…? 

Deskrpisi tentang dirinya pernah dia tulis di blog Batak itu Keren sebagai berikut :

  1. Aku selalu diliputi perasaan heroik dan cinta yang mendalam terhadap negeri ini, setiap kali melihat Merah-Putih berkibar.
  2. Jiwa nasionalis tertanam dalam diriku selama bekerja sebagai wartawan di Harian Merdeka, yang waktu itu dipimpin oleh pendiri dan pemiliknya, BM Diah. Beliau ini salah satu tokoh pemuda dalam pergerakan kemerdekaan, sangat dekat dengan Bung Karno.
  3. Aku bersyukur dan bangga pernah bekerja di Harian Merdeka. Dinding kantor redaksi koran nasionalis ini dihiasi ratusan foto bernilai sejarah tinggi bagi Indonesia dan dunia, antara lain foto asli Proklamasi 17 Agustus 1945, foto Bung Karno dan BM Diah dengan tokoh-tokoh dunia seperti Jawaharlal Nehru, JF Kennedy dll.
  4. Merdeka adalah surat kabar terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Koran ini lahir hanya selang berapa minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya 1 Oktober 1945. Sampai akhir tahun 90-an, meskipun oplah kecil dan tak ada iklannya, Merdeka merupakan koran nomor satu.
  5. Sebagian besar wartawan hebat yang pernah lahir di negeri ini adalah “lulusan” Merdeka, sebutlah misalnya Rosihan Anwar, Harmoko dan generasi yang belakangan Goenawan Mohammad, Christianto Wibisono dan Fuad Hasan.
  6. Pada umur 30 tahun, aku merasa tujuan hidupku telah tercapai, yaitu keliling dunia. Memang belum semua tempat di dunia ini aku kunjungi satu per satu. Tapi dari segi kawasan, atau benua, telah aku kunjungi semua. Di antara semuanya, India paling mengesankan, karena belum digerus budaya artifisial barat.
  7. Karena merasa cita-citaku sudah tercapai, aku pernah berdoa agar Tuhan mencabut nyawaku. Tapi ternyata Tuhan punya kehendak lain, yang kuartikan bahwa aku masih diberikan tugas untuk mengabdi bagi keluargaku, teman-temanku dan masyarakat. Namun profesi wartawan kuanggap tak menarik lagi, karena pers Indonesia sudah benar-benar bobrok. Pemilik media mengisap darah wartawan, kemudian si wartawan melacurkan profesi, memeras dan mengemis.
  8. Aku mengundurkan diri dari profesi wartawan pada usia 34 tahun. Setelah itu aku sempat membantu petenis kelas dunia, Yayuk Basuki, meloncat ke peringkat 19 dunia dan lolos ke babak delapan besar turnamen akbar Wimbledon. Tapi secara bisnis, usaha itu kurang berhasil. Namun, aku tetap merasa berterima kasih pada Kang Wimar Witoelar, atas kesediaannya bekerjasama denganku mengurus manajemen Yayuk.
  9. Dalam banyak hal aku belajar secara otodidak. Aku kurang menghargai lembaga pendidikan formal, karena menurutku sistem pendidikan kita, dunia kerja, penghargaan masyarakat terhadap pendidikan, semuanya masih belum menghargai manusia sebagai mahluk yang cerdas, berkepribadian, dan independen.
  10. Aku menentang separatisme dan politik sektarian, serta diskriminasi dalam berbagai bentuk. Bagiku, setiap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana diatur oleh Undang Undang Dasar 1945.
  11. Aku bikin blog ini sebagai upaya kecil untuk menggugah kecintaan masyarakat Batak pada budaya dan kampung halaman. Ini sejalan dengan keyakinanku : untuk membangun Indonesia kita harus lebih dulu membangun suku-suku dan daerah. Sejak Kemerdekaan, Bangso Batak sudah menyumbang banyak pejuang, tentara, guru, penegak hukum, dokter, wartawan, dan ahli-ahli di berbagai bidang; demi kemajuan Indonesia.
  12. Fokus utama blog ini : seni budaya, sospol, lingkungan, info dan timbangan buku. Tentu tak terelakkan masalah agama pun akan kusorot di blog ini. Tapi, kepedulianku lebih pada kebebasan beragama, dan humanisme. Buatku, agama adalah urusan pribadi.
  13. Sastrawan favorit : Jean Paul Sartre, Kahlil Gibran, Chairil Anwar, Pablo Neruda, Yasunari Kawabata, Ahmad Tohari dan Multatuli.
  14. Novelis favorit : Sidney Seldon, Agatha Christi, Alistair McLean, Ashadi Siregar dan Mochtar Lubis.
  15. Tokoh idola : Bung Karno, Gandhi, JF Kennedy, Kahlil Gibran, Tan Malaka, Bunda Teresa.
  16. Pemain bola favorit : Christiano Ronaldo (MU), Penambucano (Lyon)
  17. Klub : Manchester United.
  18. Tim Nasional : Brazil & Perancis.
  19. Musisi/penyanyi favorit : Sebastian Bach, Vivaldi, Gordon Tobing, Joan Baez, Leo Kristi, Queen, Scorpion, The Beatles, ABBA, Bimbo, Santana, Tongam Sirait, Elvis Presley, Viky Sianipar, Los Morenos, GNR, Demis Roussos, Ann Murray, Rolling Stones, Von Groove, Ungu & Celine Dion.
  20. Makanan favorit : tongseng, sate padang, sangsang, naniura, sop konro, ikan rica-rica.

Iban Robert menemukan ku, lebih tepatnya lagi menemukan tulisan ku yang berjudul “Batak Berekor atau Berbelalai?” yang ku release di blog ku tanggal 23 Agustus 2007.. Tulisan tentang kenangan akan kebatakan ku, tentang beberapa pertanyaan yang ada di benak ku..  Lalu postingan  itu beliau reposting kembali  judul yang sama pada tanggal 15 Mei 2008 di blog punya beliau “Batak Itu Keren“…

Terus terang apresiasinya terhadap tuilisan ku itu mengagetkan ku.. Karena buat aku itu hanya tulisan remeh temeh dari seorang Sondha Siregar.., Boru Batak yang melayang-layang di Negeri Melayu…  Apresiasinya membuat aku melihat ke komunitas Batak yang digalangnya di dunia maya untuk membangkitkan rasa percaya diri orang Batak, agar mereka tidak lagi malu mengaku sebagai Orang Batak, karena sebenarnya Batak itu Keren, karena Batak itu punya warisan Budaya yang Luar Biasa, yang tak kalah dengan suku lainnya di negeri ini…

Lalu setelahnya kami beberapa kali ngobrol melalui Yahoo Messenger..

Kemudian Iban Robert mengkolaborasikan foto hasil jeprat jepret ku dengan tulisan yang sangat indah dari kak Halida Srikandini boru Pohan yang dirilis di “Batak Itu Keren” tanggal 29 September 2008 dengan judul “Lomang (Bukan Ketupat!), Makanan Khas Lebaran di Tapanuli Selatan“.  Foto itu merupakan foto yang ku buat saat pulang kampung di medio 2008 saat mengikuti pesta adat perkawinan iboto (adik laki2ku), David Siregar…

Apa yang Iban Robert lakukan terhadap karya2 kecilku itu kemudian menggelitik hati ku…, menggelitik darah Batak yang mengalir di tubuhku…  Kenapa  ?  Karena sampai saat itu, meski nama Siregar, yang merupakan stempel kebatakan, melekat erat pada diri ku sejak aku lahir, aku sebenarnya tidak merasakan ikatan yang kuat terhadap kebatakan ku itu..  Aku cinta keluarga ku, keluarga besar ku.. Aku punya buuuuaaaannnyyyaaakkk kenangan tentang Sipirok, Sibadoar dan Hanopan,yang merupakan tanah tumpah darah leluhurku…  Tapi apa aku merasakan ikatan yang kuat sebagai orang Batak…?  Enggak juga…  Aku merasa lebih terikat erat pada Kota Pekanbaru, Tanah Melayu yang menjadi tempat aku tumbuh besar…  Namun di satu sisi aku pun sadar bahwa masih ada orang di Negeri Melayu itu yang menganggap aku adalah si Batak pendatang…

Dalam beberapa kali percakapan di YM itu lah yang aku katakan pada Iban Robert..

Aku : “Iban, aku cinta sama keluarga ku.. Aku cinta sama Sipirok, Sibadoar dan Hanopan…  Ketiga kampung itu acap kali membuatku terindu-rindu.. Tapi aku tidak terlalu merasa sebagai orang Batak.. Rasanya setengah  dari diri ku mencintai Negeri Melayu, tempat ku tumbuh dan dibesarkan…

Iban Robert : “Gak ada yang salah sama itu semua Iban… Jadi lah kau Boru Batak Keren dari Pekanbaru…  Jadi lah kau orang Melayu berdarah Batak yang tak pernah kehilangan jati diri mu  sebagai Boru Batak...”

Lalu aku pun kembali tenggelam dalam kesibukan ku.. Sesekali ku lihat dari FB iban Robert  betapa dia sangat memikirkan Tanah Batak dan Tao Toba..  Sementara acap kali iban Robert men-tag ku untuk foto2nya mengenai Tanah Batak dan Tao Toba..

Di sekitar Oktober 2010, di sebuah thread di FB bertiga dengan Ito Ucok Blue Eagle Simanjuntak , kami berdiskusi mengenai pariwisata yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif untuk pengentasan kemiskinan bagi masyarakat Batak yang kaya akan budaya dan alam, terutama menghubungkan Sipirok ke jalur pariwisata Tao Toba yang sudah mendunia itu.   Iban Robert bilang, “Kapan iban ke Jakarta, kita ketemuan lah untuk berdiskusi tentang apa yang bisa kita lakukan untuk negeri leluhur kita itu

Lalu ku jawab “Iban, aku tak mau berbicara tanpa aku punya data mengenai potensi pariwisata yang ada di Sipirok.. Aku usahakan pun bisa pulang ke Sipirok untuk melihat2..”

Tapi sampai hari ini rencana melihat2 itu belum juga sempat ku lakukan… Pulang ke Medan berkali-kali dalam 6 bulan terakhir ini sepenuhnya  untuk menemui ibu ku yang memang memerlukan perhatian anak2nya..

Lalu, di awal April lalu…, aku melihat iban Robert mengupload foto dirinya yang disebutnya Narcis..  Foto diri setelah lebih dari 30 hari berhenti merokok dan sudah 8 malam tak bisa tidur..  Aku yang jail, masih berusaha ngeledek dengan bilang, “Tapi kalau siang, tidur kan, Iban..?”  Aku tidak memahami bahwa itu adalah awal dari perjalanan sakit selama 1 bulan lebih yang  membawa dia ke akhir hidupnya… Itu adalah awal cancer hadir nyata dalam hidupnya.. Bahkan di komentar2 foto itu pula ito Ucok Blue Eagle Simanjuntak menyemangati Iban Robert agar cepat sembuh agar kami dapat mengadakan kumpul2 dengan kak Halida Srikandini, Eda Paulina Sirait dan kak Marini Sipayung, yang keduanya juga sangat dekat dengan Iban Robert..

Dua hari yang lalu, sekitar jam 7 pagi dalam perjalanan menuju ke kantor, aku menelpon Iban Robert.. Telpon ku yang pertama dan sekaligus terakhir..  Aku menelpon untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke 47, mendoakan agar dia tetap semangat dan berjuang untuk sembuh…  Masih bergema rasanya suara beliau di pendengaranku.. “Aku akan berjuang melawan penyakit ini Iban.. Aku tidak mau kemo.. Aku akan minum air daun sirsak itu untuk pengobatan..”

Tapi kenyataan berkata lain.. Hari ini Sabtu 07 May 2011 jam 06.10 wib Iban Robert pergi menghadap Sang Pemilik Semesta Alam….

Selamat jalan Iban.. Beristirahat lah dalam damai..

Terima kasih sudah hadir dalam hidup  ku, sudah mengingatkan ku agar berupaya menjadi Boru Batak yang Keren.. Boru Batak yang bisa berbuat banyak bagi masyarakat dimana pun berada tanpa kehilangan jati diri sebagai Boru Batak yang tidak pernah melupakan tanah leluhurnya…  ***

Visiting Our Beloved Uncle..

Kemaren, begitu ngobrol by phone dengan David adikku sesaat aku menginjakkan kaki di Bandara Soeta, David bilang “Kak, sempatin ke Tanah Kusir yaa… Kunjungin Pak Tuo…”

Our beloved uncle...

So, this morning, dengan diantar oleh sahabatku Veny, yang selalu menawarkan kamar tamu di rumahnya buat tempat aku menginap kalau ke Jakarta, aku pergi ke Tanah Kusir… Menziarahi makam abang Papa ku, Janthi Anwar Siregar..

Beliau adalah anak ke 3 dari 4  Siregar bersaudara, anak kedua dari 3 anak laki-laki Pieter Siregar gelar Sutan Barumun Muda, yang berasal dari Sibadoar – Sipirok, seorang guru SMP yang pernah mengabdi di Pematang Siantar, Sibolangit dan terakhir  di SMP Sipirok.. Ibu beliau adalah Menmen Harahap, putri Mangaraja Elias Harahap, seorang pemborong di zamannya, yang berasal dari Hanopan – Sipirok.

Setelah bersekolah di Sipirok, beliau melanjutkan kuliah di UGM.  Awalnya mengambil Jurusan Arsitektur, lalu pindah ke Fakultas Ekonomi dan menyelesaikannya di situ..

Perjalanan karir beliau, tidak banyak detil yang aku tahu… Yang aku ingat dari cerita2 orang tua, beliau tahun 1960-an sempat bekerja di PN Irian Bakti di Irian Jaya.  Lalu mengabdikan diri menjadi anggota Tentara Nasional Indonesia di Angkatan Darat.  Hanya ada di serpihan ingatan saat aku masih kecil bahwa beliau datang ke Pekanbaru di tahun 1970-an ikut dengan tim pak Soedomo yang memberantas para renternir yang menggerogoti para pensiunan yang mengambil uang pensiun mereka di KPN di Pekanbaru zaman itu…

Lalu setelah aku beranjak dewasa, aku ingat bagaimana beliau menyuruh 4 saudara laki-lakiku, 2 saudara kandung dan 2 saudara sepupu yang merupakan putra kandung beliau untuk hadir pada hari wisudaku di Bogor, dengan harapan kelulusanku akan memotivasi 3 abang dan 1 adik laki2ku itu untuk segera menyelesaikan studi mereka..  Kebayang gak siyyy betapa ramainya anggota keluarga yang menghadiri wisudaku…?

Lalu percakapan2 setelah makan malam sampai larut di meja makan di rumah beliau, ketika kami berkunjung ke sana..  Percakapan2 yang menanamkan rasa cinta pada keluarga, fighting spirit yang kuat untuk maju…  Rasanya akan selalu jadi kenangan yang manis..

Di akhir tahun 1993 beliau sakit dan sempat dirawat di RS. Tebet Jakarta,  Lalu di awal tahun 1994, beliau kembali dirawat..  Pada saat aku membezuk beliau di RS Tebet, beberapa hari sebelum beliau dibawa ke Singapur untuk berobat, dan kemudia berpulang di sana, beliau berkata padaku “Hidup saya gak akan lama lagi, Sondha.. Kamu si kakak buat  adik-adikku.., harus bisa menjaga adik2mu…” Iya saat itu aku adalah anak perempuan tertua dengan 1 abang & 2 adik perempuan yang kuliah di Jakarta, serta 1 adik laki-laki yang kuliah di Bandung.

Lalu, setelah sakit beberapa bulan.., beliau pergi di usia 60 tahun 2 bulan… 06 Januari 1934 – 06 Maret 1994..  May you rest in peace.., We love you… ***

Boru Panggoaran

Boru panggoaran itu dalam masyarakat Batak artinya anak pertama yang berjenis kelamin perempuan, yang namanya digunakan sebagai nama panggilan orang tuanya.. Secara dalam adat Batak, kalau sepasang suami istri sudah punya anak, tidak sopan untuk dipanggil dengan nama mereka, melainkan dipanggil dengan Mama atau Papa nya si “Ucok” (kalo nama anaknya Ucok).  Seperti abangku misalnya, nama panggilan yang sopan buat dia adalah Papa Vania karena anaknya  benama Vania Lardes Siregar.  Adikku David dipanggil Papi Aldy karena anak pertamanya bernama Arden Thoman Denaldy Siregar dengan nama panggilan sehari-hari Aldy.  Dan adikku Uli dipanggil Mami Samuel, karena anaknya yang pertama bernama Samuel Sisoantunas Sinambela.

Aku & Mama years ago...

Karena aku anak kedua, meski anak perempuan tertua, aku jelas bukan boru panggoaran… Namaku tidak digunakan dalam panggilan orang-orang pada Papa dan Mamaku…  Tapi Mama sering sekali menyanyikan lagu Boru Panggoaran di depanku…

Bahkan sekitar 2 tahun yang lalu, saat teman2 adik ku Ivo ramai2 kumpul di rumah dan ada membawa gitar dan biola, mereka mengiringi Mama menyanyikan lagu ini…  Jangan tanya…, sudah pasti air mataku mengalir tanpa bisa dicegah…  Aku hanya bisa menikmati alunan suara Mama yang bening (perempuan Batk, bo…!!) dengan duduk di kursi di kamar kerja adikku Ivo.. Aku tidak ingin menangis di depan teman2 adikku…

Sebenarnya aku tidak mengerti secara utuh arti kata demi kata lagu ini, secara aku tidak fasih berbahasa Batak…  Tapi aku mengerti, kalau lirik lagu ini mengungkapkan harapan orangtua pada anak perempuannya, yang diharapkan akan menjadi penjaga mereka ketika usia menua dan tubuh merapuh…  Ada diantara teman2 yang mau ngasi aku artinya secara utuh…? Aku tunggu lho…

Here d VC of d song yang dinyanyiin Victor Hutabarat…

BORU PANGGOARAN

Ho do boruku tampuk ni ate-ateki
Ho do boruku tampuk ni pusu-pusuki
Burju burju ma ho
Namarsikkola i
Asa dapot ho na sininta ni rohami

Reff
Molo matua sogot ahu
Ho do manarihon ahu
Molo matinggang ahu inang
Ho do na manogu-nogu ahu

Ai ho do boruku boru panggoaranki
Sai sahat ma da na di rohami
Ai ho do boruku boru panggaoaranki
sai sahat ma da na di rohami**

Satu Bangsa….

Ide tulisan ini sebenarnya sudah muncul di benak Tati berkali-kali..  Saat peringatan Hari Jadi Provinsi Riau tahun 2007, lalu tahun 2008 ini, juga saat hari jadi Kota Pekanbaru beberapa bulan yang lalu.  Tapi selalu gak sempat ditulis karena ada hal yang lain yang harus dilakukan… Akhirnya moment-nya lewat…  Mau di-publish, kok kayaknya basi yaaaa… Nah, di moment hari Sumpah Pemuda, Tati kepikiran lagi buat nulis tentang hal ini..  Tulisan tentang apa siyyy?

Hmmmm…. Ini tulisan yang topiknya rada sensi, karena banyak terjadi di negeri ini terutama setelah reformasi terjadi di tahun  1998..  Sebenarnya sebelum tahun 1998 juga terjadi, tapi biasanya dalam kesenyapan dan tidak transparan…

Ini cerita tentang pengalaman Tati si nona berdarah batak yang tumbuh besar dan mengisi sebagian besar hidupnya di tanah Melayu, Riau, tepatnya di kota Pekanbaru..

Tati sejak kecil gak pernah dididik untuk bersifat sukuisme..  Orang tua mengajarkan untuk menghormati orang tua dan leluhur, tapi tidak sukuisme..  Orang tua Tati memberikan contoh yang luar biasa, karena rumah kami sangat terbuka bagi anak-anak tetangga dan anak-anak teman mereka.  Bahkan ada anak tetangga yang tinggal dan besar di rumah kami, menjadi bagian keluarga kami, padahal tidak ada hubungan darah sama sekali, mereka berasal dari Sumatera Barat sementara kami dari Sipirok.  Dan bukan sekali dua tetangga kami yang bukan orang Batak ikut keluarga kami pulang ke Sipirok.

Rasa tidak sukuisme ini didukung pula oleh lingkungan tempat tinggal Tati saat dibesarkan, perumahan kompleks Gubernur Riau di Kota Pekanbaru yang tahun 1970-an sangat heterogen karena dihuni berbagai suku : Melayu, Batak, Minang, Jawa bahkan Manado, Ambon dan Irian meski dalam jumlah yang gak banyak.  Bahkan orang Melayu-nya pun berbeda-beda, ada orang Rengat, orang Siak, orang Kepulauan, orang Bengkalis, orang Tembilahan dan sebagainya.

Di lingkungan sekolah sejak TK sampai  SMA di Pekanbaru, teman Tati juga gak banyak yang orang Batak.  Sahabat Tati, Syahida adalah orang Solok, Sumatera Barat.  Juga teman main Tati saat SMA yang lain, Inda dan I-in.  Inda adalah orang Riau, kampungnya di Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, sedangkan I-in orang Palembang campur Lampung.

Rasa kesukuan ini semakin tidak ada setelah Tati kuliah di Bogor, secara teman dekat Tati sedikit yang orang Batak.  Avita..? Ayahnya Sumatera Barat, Ibunya Batak.  Mia Bachtiar? Orang Makassar.  Opi, Miko dan Riza orang Sumatera Barat, Diana Chalil orang Batak campur Melayu, namun Melayunya lebih dominan.   Linda Omar? Arab campur Belanda campur Jawa.  Chi2, orang Sunda..

Tati dengan cara pandang yang tidak sukuisme ini terkaget-kaget, saat mengurus melengkapi syarat administrasi untuk proses penerbitan SK pengangkatan PNS tahun 1996-an. Zaman itu masuk PNS sudah mulai pake ujian2 plus wawancara.  Tapi tetap pada tahapan tertentu, link menentukan diterima  atau tidak.  Jujur saja, Tati mendapat kemudahan untuk menjadi PNS karena abang Papa yang menjadi orang tua Tati di sini adalah salah seorang PNS yang mengabdi di negeri Melayu ini sejak Propinsi Riau dilepas dari Propinsi Sumatera Timur.  Untuk itu pada tahun 1950-an beliau pindah dari Medan ke tanah Melayu.  Mula-mula ke Tanjung Pinang, lalu setelahnya ke Pekanbaru.

Saat Tati sudah diterima sebagai PNS di lingkungan Pemda Riau, tapi Sk belum keluar,  Tati harus mengantarkan berkas yang perlu dilengkapi ke Bagian Kepegawaian di lingkungan pemerintah kota tempat Tati tinggal dan mendaftarkan diri jadi PNS.   Setelah menyerahkan berkas,  Tati berbincang-bincang dengan salah seorang staff di situ yang sudah Tati kenal.  Tiba-tiba Kepala Bagian Kepegawaian keuar dari ruang kerjanya.  saat dia melihat Tati, dia lalu menunjuk ke arah Tati seraya berkata dengan keras sehingga terdengar ke sepenjuru Bagian Kepegawaian, “Itu tuh… Mestinya dia gak masuk pegawai di daerah sini..!  Dia kan Batak, mestinya dia daftar di Medan saja…!!”.

Tati kaget banget mendengar ucapannya…  Karena orangtua Tati kenal dengan beliau.  Bahkan he was my agent insurance, karena alm ibu mengambil asuransi pendidikan Tati sama dia, sebelum dia menjadi PNS.  Tati yang rada-rada gokil, dengan wajah dipasang sepolos mungkin (padahal sumpe pake ngamuk2 di dalam hati) menjawab ucapan beliau dengan suara lembut sembari tersenyum, “Maaf pak… Saya memang pakai marga.  Tapi setahu saya, saya adalah orang Pekanbaru.  Saya besar di sini, sekolah dari TK sampai dengan SMA di sini.  Kalo saya daftar jadi PNS di Medan, saya rasa saya gak akan diterima karena rasanya gak ada orang di pemerintahan di Medan yang kenal dengan saya.” Setelah mengucapkan sederet kalimat itu, Tati lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dan pulang…

Sempat siyy Tati meminta pada orangtua untuk tidak ditempatkan di lingkungan itu saat penempatan tugas.  Tapi orangtua memberikan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal, dan juga mendorong untuk tegar menghadapi orang seperti itu.  Akhirnya Tati bisa melewati tekanan-tekanan yang beliau lancarkan selama kurang lebih 1.5 tahun di awal masa PNS Tati.  Tapi kemudian beliau dimutasikan dari bagian kepegawaian, pindah ke unit kerja lain dan hampir tidak pernah ketemu lagi.  Pernah, sebelum beliau pensiun dan masih menjadi kepala unit kerja, beliau (terpaksa kali yaaaa…..) datang ke meja kerja Tati untuk minta dibuatkan bahan presentasi bagi kepala daerah untuk menyambut tamu dari Singapore.  Saat itu Tati bersikap seakan tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu.., dan emang gak ada rasa dendam di hati Tati..

Itu satu peristiwa yang terjadi secara terbuka…  Tati untungnya gak pernah lagi mengalami hal yang seperti itu…  Cuma sekali itu saja..   Tapi Tati sering lihat dan dengar ada banyak peristiwa sukuisme yang terjadi di lingkungan kerja di daerah secara tertutup, terutama di lingkungan Pemda.  Gak cuma di lingkungan Tati, tapi hampir di seluruh Indonesia.  Tidak ada ucapan atau pernyataan apapun, tapi ada double, triple bahkan seribu standard dalam promosi dengan alasan kesukuan..

Padahal buat Tati dan juga teman2 lain yang senasib, tanah tempat kita tinggal adalah  habitat kita.  Enggak kepikiran lah untuk mengeruk harta di situ lalu dibawa pulang ke tanah leluhur..  Kalaupun ada yang dibawa pulang ke kampung, paling sebatas pemberian buat sanak keluarga dalam jumlah yang gak seberapa…

Pekanbaru, adalah hometown-nya Tati… Di sini Tati tumbuh dan berkembang..  Di sini ada komunitas Tati..  Ada ikatan yang luar biasa dengan kota ini…  Di sisi lain, Sipirok adalah tanah leluhur Tati, tanah orang-orang yang mewariskan berjuta-juta sifat dalam wujud genetik ke tubuh Tati.  Tanah orang-orang yang berjuang untuk masa depan yang lebih baik bagi anak dan keturunannya..  Apa tidak pantas Tati punya keterikatan yang luar biasa dengan Sipirok?

Apakah kita hanya boleh berkembang di negeri yang diwariskan oleh leluhur kita? Apa kita tidak berhak tinggal dan mencari kehidupan di negeri yang bukan negeri leluhur kita?  Tidak berhak kah kita berkarya di situ?  Toh tanah itu juga masih dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia..   Masih dalam SATU NUSA, SATU BANGSA.. Tidak bisakah orang-orang seperti Tati menyatakan diri sebagai ORANG PEKANBARU BERDARAH BATAK…????

Note :

Sampai saat ini Tati masih menggunakan nama “SONDHA SIREGAR” di name-tag yang  setiap hari dipasang di bagian dada kanan pakaian dinas Tati.  Bukan buat pamer “GUE BATAK” tapi untuk menghormati leluhur yang mewariskan nama itu pada Tati, untuk mereka yang telah berjuang dan berkorban demi masa depan yang lebih baik bagi anak dan keturunannya…

Hari Batak…

Kita biasanya kan mendengar ada hari ulang tahun, hari Kartini, hari ibu atau di negeri sono disebut sebagai Mother’s Day.  Naaahhh hari ini buat Tati adalah HARI BATAK..  Karena Tati seharian ini berurusannya dengan orang Batak melulu…  Hahahaha… Kok bisa…?

Ceritanya, Tati hari ini lagi pengen masuk ke cangkang..  Gak pengen keluar rumah, malas ngapa2in…  Jadi seharian ya di rumah, kalo gak mau disebut di kamar doank kecuali ke kamar mandi, atau ke ruang depan karena ada yang ngetuk pintu..  Hehehe..

Di kamar seharian ngapain…?  Kok betah…  Ya di depan laptop lah yaaa…  Fisik bisa gak kemana2.., tapi pikiran teteup melanglang buana…  Terbang ke dunia luassss….  Hehehe…

Pagi2, Tati chatting conference bertiga dengan bang Rio, abang Tati atu2nya, dan David, adik laki2 Tati juga atu2nya..  Mereka sebagaimana juga Tati bermarga siregar, artinya Tati berurusan dengan orang Batak..

Tati sempat juga sebentar ngobrol di facebook dengan jeung yang ini…  Lalu siangan dikit Tati dapat 2 notification di Facebook.   Notification untuk di-add sebagai friend.  Ternyata kedua2nya juga orang  Batak : satu dari ibu ini dan satu dari si bapak ini…  Keduanya adalah anggota milis Saroha, milisnya orang-orang Tapanuli Selatan..  Tati juga terdaftar jadi anggota milis itu, cuma lebih milih jadi penonton para Bataks ngobrol by milis..  Ngobrol yang seru dan hueeebbbbohhhh…, sampai bikin keder Tati buat ikutan masuk gelanggang…  Karena kalo mau ikutan mesti kuat nyali, kuat otak dan kuat mental…  Hehehe…

Si ibu yang ini dimata Tati adalah tipikal orang dengan pribadi petasan renceng…  Tulisan-tulisannya di milis persis kayak petasan renceng yang kalo meledak, dasyat, bererot-rerot,  gak putus-putus…  Hehehe..  Tapi ada 2 tulisannya yang di muat di blog ini tentang ramadhan dan hidangan lebaran di Sipirok yang sangat bagus  dan dijamin memikat hati orang2 yang tahu persis tentang kehidupan di kampung Tati tersebut…  I love those posts, Eda…!!!

Tati sempat ngobrol sama si ibu ini tentang milis Saroha yang benar-benar merefleksikan sifat orang Batak, “ngomongnya kencang  dan sulit buat mengalah pada saat berbicara…” Gubrak aja deh pokoknya… Huahahaha…  Kedua sifat yang membuat orang Batak cenderung terlihat rude alias kasar..  Padahak kalo udah tau, hati orang Batak itu selembut salju..  Wakakak…   Kedua sifat yang menjadi streotype ini pula yang membuat “Tati Muda” lebih senang menyembunyikan Kebatakan-nya, dan gak mau berlama-lama kongkow2 dengan sesama Batak..  Hehehe..

Tapi sejalan dengan kedewasaan berpikir dan perjalanan hidup… Tati bisa melihat menjadi Batak tidak lah memalukan..  Gak ada bedanya dengan suku-suku lain di muka bumi ini..  Bahkan orang tua dari suku Batak terkenal sebagai orang tua yang bekerja keras untuk memberi anak-anaknya kesempatan meraih pendidikan setinggi-tingginya..

Jangan heran kalo  teman-teman pergi ke Pajak Pringgan (sebuah pasar di Medan) trus ngeliat inang2 (ibu2) berjualan tomat, yang jauh dari keren bahkan cenderung lusuh.., tapi kalo ditanya anaknya dimana, dia bisa bilang dengan suara penuh bangga dan mata berbinar-binar  “Anakku yang paling besar kuliah di ITB, anakku yang nomor 2 di UI dan sebaginya dan sebagainya”.  Itu yang di Medan.. Coba kalo kita pergi ke daerah-daerah di Sumatera Utara, kita akan menemukan hal yang sama.  Ada banyak Amang2 (bapak2) dan Inang2 yang jauh dari keren, dengan baju seadanya, telapak kaki yang pecah2 karena kerja di sawah,  tangan yang kasar, kulit yang legam karena selalu mandi cahaya matahari, mengunyah sugi (tembakau) pula.  Tapi kalo ditanya anaknya dimana, dia akan menjawab dengan kebanggaan yang luar biasa “Si Ucok kita kuliah di IPB, si Butet kita sudah tahun kesekian di UI.”  What great parents…!!!!   Mereka mengorbankan dirinya demi masa depan yang lebih baik bagi anak dan keturunannya… Salah satu kejadian yang menyentuh hati sehingga membuat Tati merasa semakin wajib menghargai leluhur Tati yang asli Batak dari empat penjuru, pernah Tati tulis di sini

Gak lama, si bapak  yang ini ninggalin comment di “wall” Tati di facebook..  ternyata beliau yag saat ini bekerja dan menetap di Riyadh adalah teman seangkatan Tati di IPB.  Angkatan 23 alias 1986 tapi beda Kelompok. Dia Kelompok 10, Tati Kelompok 5.   Tapi sumpeee sampai saat menulis ini Tati masih belum bisa mengingat sosoknya di masa kuliah yang lebih dari 20 tahun yang lalu itu…  Meski begitu, perasaan seangkatan di sekolah yang sama membuat  kita langsung nyambung…   Kita lalu chit chat di Facebook…

Gak lama Tati ngeliat di friend list si ibu ini ada nama si bapak yang ini..  Bapak ini adalah pemilik blog Toba Dreams yang pernah me-reposting tulisan Tati yang berjudul “Batak Berekor atau Berbelalai..?” .  Tati lalu meng-add friend nama beliau..  Gak lama Tati dapat notification dari beliau…  Kita lalu ngbrol di Facebook..  Obrolan yang ringan tapi inspiring… Karena beliau selalu mendorong orang-orang di sekitarnya untuk membuang rasa inferior yang sering kali hadir di diri akibat pola didikan kuno tinggalan penjajahan.. Beliau selalu bilang “Batak Keren”.  Kalo sekilas orang bisa melihatnya sebagai suatu sikap arogansi.., tapi sama sekali enggak.. Itu adalah suatu upaya membuang rasa inferior, membangkitkan rasa percaya diri..  Karena sebenarnya setiap pribadi, termasuk orang-orang Batak, telah diberi “kelebihan” yang membuatnya setara dengan manusia lainnya di muka bumi ini…  Lalu…, sikap dan tingkah lakunya lah yang membuat statusnya bergeser..  Bisa menjadi manusia yang lebih baik, atau sebaliknya…

Percakapan kami terhenti karena listrik di rumah Tati mati, modem gak bisa nyala, line internet jadi putus…

So…, coba lihat dari pagi sampai sore Tati berkomunikasinya sama orang Batak semua kecuali  jeung yang ini..  Topik yang dibahas juga tentang orang Batak..  Wajar doonk kalo hari ini Tati anggap sebagai adalah Hari Batak…

My Favorite Road…

Jalan Balige - Parapat

Ini beberapa pics lagi hasil jeprat jepret saat pulang kampung beberapa waktu yang lalu.. Pics pemandangan yang dapat kita nikmati pada ruas jalan favorite Tati kalau menempuh perjalanan dari Medan ke Sipirok atau sebaliknya…

Ruas favorite..? Yaappppp…. Ruas jalan di sekitar Toba Samosir

Pemandangan di ruas ini (kalo kita dari arah Sipirok menuju Medan) mulai menjelang Balige sampai setelah Parapat benar-benar memanjakan mata.. Sawah dengan latar belakang Danau Toba atau Danau Toba dengan latar belakang kota Parapat benar-benar indah..

Pemandangannya gak kalah deeh kayaknya dengan pemandangan danau-danau di Eropa yang bisa kita lihat di postcard-postcard…

Pemandangan di ruas ini membuat Tati gak sudi memejamkan mata meski tubuh lelah dan mata ingin ditutup…

Temans… silahkan dinikmati suguhan Tati kali ini, semoga bisa menggugah hati teman2 untuk menikmati ruas perjalanan ini.. Jangan lupa membayangkan perjalanan ini sambil diiringi lagu O Tano Batak...

O, TANO BATAK

O, Tano Batak, haholongakku
Sai namalungun, do au tu ho
Ndang olo modom, Ndang nok matakku
Sai namasihol do au, Sai naeng tu ho

 

O, Tano Batak, Sai naeng hutatap
Dapothonokku, Tano hagodangakki
O, Tano Batak, Andigan sahat
Au on naeng mian di ho, sambulokki

Molo dung bitcar, matani ari
Lao panapuhon, hauma i
Godang do ngolu, siganup ari
Dinamaringan di ho, sambulokki

Danau Toba

Danau Toba

Pics Danau Toba menjelang Kota Balige


Sawah yang bertingkat-tingkat di pinggir Danau Toba

Pasar Balige. Bentuknya itu lho... Unik banget... Sayang Tati belum sempat singgah di situ. Katanya sih di pasar ini banyak sekali jual ulos yang cantik-cantik. I hope someday bisa ngubek2 pasar ini..

Danau Toba dengan Kota Parapat di latar belakang... It's sooooo beautiful... Melihat pemandangan ini menimbulkan rasa bangga dan syukur akan keindahan negeri kita...


Sipirok….

Sipirok adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Selatan, dan sekarang termasuk Kabupaten Angkola Sipirok, dengan ibukota kecamatan Pasar Sipirok, yang lebih populer disebut juga Sipirok.

Tati enggak ingat kapan pertama kali menginjakkan kaki ke daerah ini, secara sejak masih kecil banget Tati sudah dibawa pulang ke rumah Opung yang berada di Sipirok. Tati bahkan enggak pernah ingat sudah berapa kali pulang kampung ke Sipirok. Sipirok rasanya sudah menjadi bahagian hidup Tati, meski setelah dewasa frekuensi pulang ke sana tidak lagi se-intens pada masa kanak-kanak.

Ngapain sering-sering ke Sipirok?

Meski kampung keluarga Tati sebenarnya ada di Sibadoar, sekitar 3 km dari Pasar Sipirok ke arah Simangambat, tapi keluarga kami pulang kampungnya ya ke Sipirok, karena di situlah rumah Opung, orang tuanya Papa. Tepatnya di jalan menuju Simangambat. Secara Papa bersaudara sangat dekat dengan Opung (ibu Papa, ayah-nya Papa sudah duluan meninggal pada tahun 1965), jadi Papa bersaudara sering sekali pulang kampung, dan kami anak-anaknya juga diangkut buat pulang kampung… Bahkan bisa dua kali setahun, yaitu saat tahun baru dan saat ultah Opung di bulan Juli. Akibatnya Sipirok benar-benar menjadi bahagian hidup keluarga Tati.

Sekarang pun setelah Opung meninggal sekitar 19 tahun, kami tetap saja cinta dan rindu untuk pulang ke Sipirok.. Meski rumah tidak lagi sehangat dulu… Karena tidak ada lagi suara Opung yang menyambut kami di teras rumah kalau kami tiba dengan ucapan “Ma ro hamu, Amang (nak)? Ma ro hamu, Opung (cucu)? Keta-keta tu bagas (ayo, ayo cepat masuk rumah)… Na ngalian do di son (di sini dingin banget)…”. Tidak ada lagi Opung yang gak pernah diam, selalu sibuk menyediakan keperluan anak cucunya yang seabrek-abrek.. Tidak ada lagi Opung yang selalu berteriak pada sepupu-sepupu yang tinggal bersamanya agar segera membereskan keperluan kami dengan ucapan “Pasigop (cepetan)….!!!”. Tidak ada lagi yang membuat dodol dari tepung beras dengan menggunakan kuali yang sangaaaatttt besar di bagian samping rumah… Tidak ada lagi yang menyediakan sup tulang lengkap dengan kentang dan wortel yang masih ngebul di meja makan setiap kali kita makan…

Sipirok tuh daerah yang dingin… Kalo kita bernapas bisa keliatan asap keluar dari rongga hidung kita.. Tati ingat waktu Tati kecil, selama di Sipirok, berurusan dengan mandi adalah hal yang menjengkelkan, karena airnya dingiiiiiiiinnnnnn buanget.. Jadi kalo mo mandi tuh nunggu matahari sudah tinggi, itu pun pakai air panas yang dimasak atau pergi mandi ke permandian air panas (belerang), Aek Milas Sosopan (pulang kali ini Tati sempat pergi mandi air panas, tapi yang di Padang Bujur).

Permandian Aek Milas Sosopan, Juli 2008

 

Permandian Aek Milas Sosopan, Juli 2008

 

Permandian Aek Milas Sosopan, Juli 2008

 

Sipirok juga punya pemandangan yang indah… Kemanapun kita memandang, yang selalu nampak di latar belakang adalah warna hijau pegunungan…, perbukitan… Membuat adem hati yang memandangnya…

Suatu sisi Sipirok yang dipotret dari Pesanggrahan (Mess Pemda Sumut)

 

Dulu, di Sipirok kita akan menemukan rumah-rumah panggung berbahan kayu, yang eksotis di mata Tati.. Tapi kini mulai berganti dengan rumah berbahan batu bata… Bahkan biskop yang dulu terletak sekitar 50 meter dari rumah lama Opung sudah tidak ada lagi, berganti dengan bangunan rumah dari bata.

Sebuah rumah kayu yang sejak Tati kecil "cantik" di mata Tati. Mana lokasinya di tebing pula.. This house must have beuatiful view.. Sayang Tati gak pernah sampai ke terasnya karena gak kenal dengan pemiliknya..

Sebuah rumah kayu yang juga indah di mata Tati. Lokasinya tepat di seberang rumah Opung yang di bawah (Opung punya 2 rumah. Rumah yang lama dari kayu berada di lokasi yang lebih tinggi, sehingga kita menyebutnya dengan rumah atas. Rumah yang dibangun belakangan terbuat dari bata berada lebih rendah sehingga kita menyebutnya sebagai rumah bawah (bagas na di lombang). Tapi modernisasi udah menyentuh rumah ini, ada parabolanya, di depan rumah pula.. Agak2 merusak keindahan rumah ini.. Hehehe. Btw pic ini diambil dari atas mobil saat mau pergi, agak terburu-buru jadi keliatan ada spion mobil. Kalo di-cropping gambar rumahnya yang terpotong..

 

Temans… Silahkan dinikmati beberapa pics Sipirok yang sempat Tati ambil saat pulang ke sana minggu lalu.. Mungkin pics ini juga bisa menjadi pengobat rindu bagi temans dan kerabat yang telah lama tidak kembali ke sana.. Siapa tahu pics ini bisa mengetuk hati temans dan kerabat untuk berkunjung kembali ke sana…

Pertigaan Pasar Sipirok, lengkap dengan bus Sibualbuali yang lagi parkir. Bus dengan nama ini merupakan angkutan masyarakat di Sipirok selama puluhan tahun. Nama bus ini diambil dari nama gunung dimana daerah Sipirok berada di kaki gunung tersebut.

Dua buah pics pasar Sipirok pada saat Poken (pekan) Kamis, hari yang ditunggu-tunggu masyarakat, karena pada hari ini jenis dan jumlah barang yang diperdagangkan lebih bervariasi dan banyak. Biasanya penjual dan pembeli yang bertransaksi di poken ini tidak hanya berasal dari Pasar Sipirok, tetapi juga daerah-daerah di sekitarnya. Tati dan saudara-saudara sangat menunggu poken ini, karena hanya pada poken ini ada yang menjual makanan tradisionil secara komplit, seperti panggelong, lemang dll.

 

Suasana di lingkungan Hotel Tor Sibohi, hotel yang representatif di Sipirok, meski layanannya masih lelet. Saat musim liburan (seperti waktu Tati dan keluarga ke Sipirok) kamar-kamar di hotel ini penuh. Tati juga melihat ada bule juga yang menginap. Kebetulan adik Tati, Nhoy, punya teman yang kerja di travel yang bisa memberikan kita voucher untuk menginap di sini dengan harga yang lumayan, sekitar 60% dari harga kalo reservasi di hotel.

 

Pemandangan ke arah pegunungan di Sipirok dari teras kamar di hotel Tor Sibohi. Setiap pagi dan sore selama di sana Tati gak bosan-bosan memandangnya... Kebayang gak siyy kalo kita bisa duduk di teras hotel ini di pagi dan malam hari with our beloved one...? Hmmm... it's so romantic, isn't it..?

 

Mangadati .. (2)

Papi David & Mami Nana

Ini lanjutan postingan Mangadati edisi pertama.. Tati gak bisa cerita detil tentang semua kegiatan yang dilakukan, karena selama acara berlangsung berhari-hari Tati lebih banyak berada di hotel Tor Sibohi, menemani Mama yang karena kondisi kesehatannya hanya mengikuti acara2 utama aja. Tapi Tati udah minta Papa buat menulis tentang semua kegiatan yang telah dilakukan untuk Tati posting di blog-nya Papa, agar dapat berguna bagi kaum batak muda yang berada jauh dari daerah asalnya.

Sehari setelah Mami Nana diangkat anak oleh keluarga Pardede, yaitu tanggal 28 Juni 2008, keluarga tersebut melakukan acara paborhaton boru (melepas anak perempuan/pengantin perempuan). Setelahnya di Sibadoar, di halaman depan rumah Buyut (Tulang) Tati, alm Samuel Siregar gelar Baginda Parhimpunan, yang sekarang dihuni oleh sepupunya Papa, Uda Kahar, dilakukan pemasangan taraktak (tenda) dan beberapa persiapan pesta.

Lalu tanggal 30 Juni setelah beberapa acara adat, diadakan acara adat penyambutan Mora. Yaitu ritual menyambut keluarga orang tua pengantin perempuan di ujung jalan masuk rumah. Untuk acara penyambutan tersebut Papa dan sepupunya Uda Kahar menggunakan pakaian adat batak lengkap dengan pernak perniknya. Lalu Papa dan Uda Kahar yang ditudungi payung kuning diiringi oleh rombongan keluarga kami berjalan dari depan rumah Tulang (buyut) yang Sibadoar ke ujung jalan. Di sana pakaian adat lengkap yang dipakai Papa dan Uda Kahar dilepas dan dipakaikan ke Akung, ayahnya Mami Nana, dan Tulang Pardede (ayah angkat Mami Nana), yang menjadi Mora keluarga kami. Lalu 1 set pakaian lagi yang telah dipersiapkan dipakaikan ke Tulang Dani (adik Mama) yang juga merupakan Mora keluarga kami.

Papa bergerak dari rumah Tulang (buyut) menuju ujung jalan depan rumah buat menyambut Mora yang baru, Akung dan Uti (orang tua Mami Nana), serta Tulang Pardede (ayah angkat Mami Nana) dan Tulang Dani (adik Mama) yang juga menjadi Mora keluarga kami.


 

 

Menyambut Mora di ujung jalan dengan manortor (perhatikan arah telapak tangan yang menghadap atas, yang artinya menyambut)

Setelah rombongan Mora berpakaian lengkap, mereka dibawa menyusuri jalan ke arah rumah. Uniknya perjalanan ini dilakukan dengan cara manortor diringi musik batak lengkap dengan penyanyi-nya, sedangkan keluarga kami selaku tuan rumah berjalan mundur sambil manortor mulai dari tempat bertemu Mora sampai dengan depan rumah. Rombongan tuan rumah tidak diperkenankan berjalan membelakangi Mora, yang posisinya begitu dihormati. Setelah rombongan Mora sampai di traktak di halaman rumah, dilakukan lagi serangkaian acara penyambutan mereka.

 

Rombongan Mora (L-R : Tulang Pardede, Akung, Uti dan Tulang Dani) berjalan menuju rumah Buyut sambil manortor (lihat arah telapak tangan yang menghadap bawah, yang artinya memberi)


 

 

Rombongan kelurga kami menyambut dan mengiringi Mora ke rumah buyut dengan cara manortor sambil berjalan mundur dari ujung jalan sampai dengan ke rumah. Segitu terhormatnya posisi Mora sehingga kita tidak diperkenankan berjalan membelakangi mereka.

Lalu, di hari yang sama dilakukan acara Marosong-osong, yang dilengkapi dengan ritual membawa sepasang anak kecil yang punya hubungan pariban yang dipakaikan perlengkapan pengantin Batak berkeliling kampung. Katanya siyy ini semacam upacara meminta pada Yang Maha Kuasa agar kampung ini diberkahi generasi penerus yang banyak dan hebat.

Tati 30 tahun yang lalu juga pernah mengikuti upacara Marosong-osong, waktu itu keluarga Tati mengadakan horja (pesta) dalam rangka peresmian bale (bangunan beratap tak berdinding yang memayungi makam beberapa orang leluhur keluarga Tati, lengkap dengan pasangan-pasangannya, termasuk makam Opung Helena boru Pardede). Foto Tati 30 tahun yang lalu itu yang Tati upload di postingan yang ini.

Keesokan harinya, tanggal 1 Juli 2008, pagi-pagi sekali dilakukan upacara pemotongan kerbau, yang dagingnya akan dimasak dan dimakan pada pesta di siang harinya. Kerbau ini juga menandai pengesahan pemberian marga Pardede pada Mami Nana dan pemberian gelar bagi beberapa anggota keluarga, termasuk Papi David.

Aldy (putra tertua Papi David, jacket putih celana kutung) menyaksikan pemotongan kerbau

 

Siangnya pasangan pengantin dibawa ke rumah peninggalan Opung di Sipirok. Di sini mereka disambut oleh seluruh anggota keluarga dalam tarian tor-tor, suatu cara menyampaikan restu bagi pasangan pengantin. It’s really beautiful tradition.. Air mata Tati aja sampai menetes melihatnya..

Papa dan Mama menyambut pengantin di rumah dengan manortor


 

 

Papi David dan Mami Nana manortor mengelilingi Mama, mengharapkan keberkahan bagi orang tua

Setelahnya mereka menerima nasihat dari para orang tua, dan diberikan nasi upah-upah, yaitu nasi yang dilengkapi dengan ayam lengkap, ikan, udang dan telur dan dihidangkan di daun pisang yang utuh dengan pelepahnya. Semua unsur yang ada di nasi upah-upah punya makna berupa nasihat dan harapan bagi pasangan pengantin.

Pengantin

 

 

Semoga perkawinan Papi David dan Mami Nana bahagia sampai di akhir hayat

Semoga melahirkan generasi penerus yang lebih baik dari generasi sebelumnya

Semoga membawa kebahagiaan bagi keluarga besar kedua pihak

Semoga segalanya indah, seindah tradisi yang telah diajarkan oleh leluhur kita….

Amin…

 

Mangadati… (1)

Aapa siyy maksudnya MANGADATI? Mangadati artinya meng-adat-i, melakukan upacara adat terhadap suatu proses kehidupan.. Bisa dalam bentuk ritual sederhana ataupun dalam bentuk pesta.. nah kali ini Tati akan cerita tentang proses mangadati yang baru saja berlangsung di keluarga Tati yang Batak banget …

di rumah keluarga Op. Pardede Partigatiga Juhut

Seperti yang udah Tati ceritain di posting yang ini, minggu lalu Tati tuh pulang kampung ke Sipirok buat menghadiri pesta adat perkawinan adik laki-laki Tati, Papi David. Perkawinan Papi David dan Mami Nana sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu, bahkan telah dikarunia 4 putra-putri : Aldy, Abby, Abner dan Ajere, tapi mereka belum melakukan ritual adat perkawinan orang Batak. So, mereka melakukannya minggu lalu dengan tujuan, seperti yang diucapkan Papi David di depan keluarga dan kerabat di Sibadoar saat mengucapkan terima kasih setelah acara berlangsung dengan sukses, untuk menjalankan kewajiban sebagai orang batak yang berusaha mempertahankan adat istiadat yang telah diajarkan oleh opung dan orang tua selama ini, bukan karena mereka telah punya uang yang sangat-sangat berlebih. Ditambah lagi dengan adanya rasa sukacita atas kehadiran seorang anak perempuan dalam keluarga mereka.

Sukacita atas kehadiran seorang anak perempuan? Bukannya orang Batak lebih mementingkan kehadiran anak laki-laki sebagai penerus keluarga? Ternyata tidak sepenuhnya begitu…

Mami Nana, Papi David & bayi Ajere

Kehadiran anak perempuan dalam keluarga Batak akan membuat orang tuanya punya kesempatan menjadi Mora (yang dihormati) bagi keluarga menantunya pada suatu hari nanti. Posisi Mora dalam keluarga Batak sangat terhormat. Jadi kehadiran anak perempuan dalam keluarga Batak itu penting, bahkan sama pentingnya dengan kehadiran anak laki-laki. Makanya kata Papa ada peribahasa yang mengatakan kalo keluarga Batak itu disebut kaya bila dia punya 11 anak laki-laki dan 12 anak perempuan. Artinya dia akan mempunyai 11 mora dan menjadi mora bagi 12 keluarga. Jadi masih untung satu, hehehe…

Nah salah satu langkah dalam proses mangadati perkawinan ini adalah dengan menjadikan Mami Nana yang wong Magelang tapi besar di Samarinda dan Surabaya, menjadi Boru Batak. Caranya adalah dengan mencarikan orang tua angkat yang mau memberikan marganya bagi Mami Nana.

Untuk marga Mami Nana, Papi David minta pada Papa agar memohon kesediaan keluarga Pardede yang partiga-tiga juhut (penjual daging) di Sipirok agar mau mengangkat Mami Nana sebagai anak mereka dan memberikan marga Pardede pada Mami Nana. Kenapa keluarga Pardede tersebut? Kenapa bukan mengambil marga Harahap dari Hanopan seperti Mama dan Opung kita? Ada beberapa alasan….

Alasan pertama, keluarga Pardede tersebut sebenarnya adalah Mora keluarga kami, tapi telah jauh sekali di generasi atas, yaitu ibu dari buyut kami (Samuel Siregar gelar Baginda Parhimpunan) adalah boru Pardede yang bernama Helena. Dengan meminta keluarga Pardede tersebut menjadi orang tua angkat Mami Nana, hubungan dengan keluarga Pardede akan kembali terajut, dan posisi meraka sebagai Mora dari keluarga kami akan menguat kembali.

Alasan kedua lebih kepada kenangan masa kecil Papi David. Dimana di masa kecil kalo pulang ke Sipirok dia seringkali di suruh Opung kami, Opung Lintje (alm), ikut membeli daging ke pasar dengan salah seorang sepupu yang memang tinggal bersama Opung di kampung. Ceritanya, Opung selalu menyuruh membeli daging 1 kg, jadi ya uangnya hanya cukup untuk membeli sekilo daging. Tapi Opung Pardede yang partiga-tiga juhut selalu memberikan daging satu keranjang besar, lengkap dengan tulang buat dibikin sup, yang untuk membawa pulangnya aja sulit karena berat banget. Mana setelah Papi David memberikan uangnya, Opung Pardede selalu menyuruh tunggu sejenak, dan kembali dengan memberikan bungkusan yang berisikan panggelong (sejenis kue tradisional di Sipirok) kepada Papi David. Papi David lalu mempertanyakan hal ini kepada Opung, lalu Opung menjelaskan adanya hubungan kekerabatan yang telah terjalin dari generasi ke generasi.

Selain itu keluarga Pardede yang menjadi muslim di beberapa generasi terakhir juga selalu hadir pada saat Opung (alm) mengadakan jamuan makan siang menyambut tahun baru pada setiap tanggal 1 Januari. Mereka tidak pernah absen dari kebiasaan keluarga kami ini. Kekerabatan yang berlangsung dari generasi ke generasi dan menembus batas agama ini lah yang membuat Papi David menginginkan Mami Nana menjadi anak angkat keluarga Pardede, dan otomatis menjadikan kembali keluarga Pardede tersebut sebagai Mora keluarga kami.

Untungnya keluarga Pardede menyambut dengan gembira maksud keluarga kami. Bahkan sambutan mereka lebih dari yang keluarga kami harapkan. Mami Nana diangkat menjadi anak salah satu keluarga Pardede, yang merupakan anak dari opung yang partiga-tiga juhut, yang dulu selalu memberikan daging ekstra plus panggelong pada Papi David, Keluarga Pardede lalu memberikan nama HELENA KRISTIANA PARDEDE pada Mami Nana, mengikut nama ibu dari buyut kami.

Berlumpur di Aek Latong

Hari Kamis 26 Juni 2008, jam 12.30-an pesawat Linus yang membawa Tati dari Pekanbaru mendarat di Medan. Ternyata Enek (Mamanya Tati) dan Mami Uli beserta pasukan sudah beres-beres… So, menjelang magrib kita bergerak menuju Sipirok..

Kita bergerak dengan 2 mobil. Di mobil pertama penumpangnya adalah Enek, Tati, Samuel, Mbak Mintje (yang bantu-bantu ngurus Enek), penumpang di mobil kedua Mami Uli, Esther, Ananda, Monnic dan Kak Evi (baby sitter-nya Monnic). Di tengah jalan, Ananda pindah ke mobil pertama.

Dari Medan sampai Tarutung jalannya ok, meski ada beberapa lubang2 di beberapa ruas jalan.. Tapi begitu keluar dari Tarutung, mulai deehhh…. Jalannya ancur dan berkabut pula… Sejak kita dari Medan, kita udah rada confused, dari Tarutung ke Sipirok apa mau lewat jalur Pahae atau mau lewat Sibolga-Padang Sidempuan. Jalur Pahae jalannya rusak, terutama di Aek Latong. Sedangkan jalur Sibolga-Padang Sidimpuan jarak tempuhnya lebih jauh dan jalannya sempit…

Papi David dan rombongan yang berangkat sehari sebelumnya sempat terjebak di situ. Ada beberapa truck yang nyangsang di lumpur dan gak kuat nanjak, akibatnya mobil lain gak bisa lewat. Sementara mesin derek yang memang disediakan pemerintah di jalur tersebut pada waktu itu sulit difungsikan karena hujan yang turun terus menerus membuat petugas sulit bekerja.

Rombongan Papi David yang terdiri dari Mami Nana, Aldy, Abner, Ajere, Baby sitter-nya Ajere, Akung & Uti (orang tuanya Mami Nana), Amanda (adik bungsunya Mami Nana), terjebak di situ selama beberapa jam.

Ajere yang baru berusia 2 bulan 3 minggu, terpaksa dibungkus popok tebal-tebal dan selimut karena dingiinnn banget…. Umur 2 bulan aja dia udah dibawa Papi-nya off road. Benar-benar boru hasian Papi. Hehehe.. Untungnya kondisi Ajere prima, jadi  di cuaca yang sangat dingin tidak berdampak apa-apa pada kesehatannya.. Ajere benar-benar orang Sipirok… biar masih bayi juga gak apa-apa dibawa berdingin-dingin di alam terbuka..

Aldy dan Abner…? Jangan ditanya… Kata Papi David mereka malah sorak-sorakan waktu melintasi lumpur.. Mereka bilang, “Asyik ya Pi, kita off-road.. Coba kalo mobil kita yang di Samarinda bisa kita bawa ke sini, pasti asyik banget off-road-nya…!!”. Dasar barudak…, mereka gak tau kalo Uti aja ketar ketir sampai tensinya naik.

Naahhhh giliran rombongan kita niyy… Kita cemas, karena nggak bisa ngebayangin akan ngedorong Enek di kursi roda melintasi Aek Latong, kalo ternyata jalurnya macet karena lumpur dan hujan. Tapi sms Odang menjelang kita masuk Tarutung membuat kita memutuskan menempuh jalur Tarutung-Pahae-Sipirok, karena pantauan Odang malam itu jalur Aek Latong lancar…

Ternyata oh ternyata, saat kita sampai di Aek Latong sekitar jam 04.30 pagi, ada dua buah bus besar yang menuju arah Tarutung yang nyangsang di Lumpur. Kedua bus tersebut menutup kedua jalur yang ada… Waduuuuhhhhh…. Kita kebingungan… Mau ngasi tau Odang, gak ada sinyal sama sekali… Akhirnya kita berdiam di dalam mobil menunggu matahari terbit, sambil membiarkan anak-anak tetap terlelap…

Jam 05.30, saat matahari mulai terbit, Mami Uli mengajak Tati mencari Odang untuk meminta bantuan agar romobongan bisa dievakuasi.. Kami berdua lalu keluar dari mobil, berjalan kaki di bawah rintik hujan menyusuri turunan pertama yang berlumpur… Kami berdua melepaskan sendal2 kami, dan berjalan menginjak lumpur tanpa alas kaki. Tati melipat celana panjang sampai ke lutut.. Mami Uli…? Dia pakai rok jeans selutut…, kebayang gak siyy repotnya doski… Jangan Tanya betapa sulitnya berjalan di atas tanah berlumpur…, licin banget… Tati takut sekali, takut terjatuh lalu terbanting… I’m old now… Kayaknya tubuh udah gak kuat kalo kebanting-banting.. Sementara beberapa lelaki “tak berhati” meneriaki dan menyorak-nyoraki Tati dan Mami Uli yang berjalan tertatih2 di atas lumpur…

Kami berdua akhirnya bisa melewati 2 turunan dan 2 tanjakan dengan selamat… Jangan tanya bagaimana penampilan kita… Baju basah karena hujan bercampur keringat, kaki berlumpur… Udah gitu, ternyata handphone Mami Uli mati karena low batt, sementara hp Tati gak ada sinyal sama sekali. Jadi setelah melewati Lumpur, kami tetap belum bisa menghubungi Odang. Kami lalu mendekati sebuah mobil Sibual-buali kecil, yang sedang berhenti di ujung Aek Latong.. Ternyata si supir sedang menjemput seseorang. Kami lalu membujuknya untuk mengantarkan kami ke rumah Opung di Sipirok, yang cuma berjarak beberapa belas kilo. Si bapak supir meminta kami untuk membayar Rp.100 ribu. Karena gak punya pilihan kami pun mengiyakan..

Sampai di Sipirok ternyata Papa udah gak ada di rumah.. Biasanya Papa pagi-pagi pergi mandi air panas (air belerang) di Padang Bujur. Kita lalu memutuskan untuk pergi ke hotel Tor Sibohi, karena Papi David dan rombongan nginap di sana. Ternyata supir gak mau nganterin kita ke hotel karena dia katanya ada urusan lain. Kami lalu minta di turunkan di pertigaan Pasar Sipirok, lalu naik becak ke hotel Tor Sibohi… Waduuuhhh… Rasane rak keru2an… Dua emak-emak gendut duduk dalam becak yang sempit, mana kondisi kita berantakan banget… Menjelang sampai di pintu gerbang hotel, kita melihat sebuah Innova keluar dari hotel.. Insting Tati membuat Tati berteriak dan melambai-lambaikan tangan, padahal Tati gak tau mobil apa yang digunakan rombongan Papi David. Innova tersebut lalu menepi dan berhenti…, dan dari bagian tempat duduk pengemudi keluar…. PAPI DAVID… Udah lama banget gak ngalami rasa lega seperti ini saat menemukan salah seorang anggota keluarga kita.. Hehehe…

Papi David ternyata mau ke permandian air panas di Padang Bujur karena udah janjian dengan Odang di sana. Kami lalu dibawa ke sana. Papa lalu menyuruh Tulang Lubis dan Lukas (orang Lombok yang kerja pada keluarga kita dan ditugaskan menjaga rumah di Sipirok) menemani Mami Uli pergi ke tempat makan langganan Odang, membeli sarapan buat rombongan plus membawakan setermos air panas buat susu anak2 yang terkurung di Aek Latong. Tati dan Papi David menyusul ke Aek Latong setelah Odang dan Papi David selesai mandi, dan mengantarkan Odang pulang ke rumah.

Alhamdulillah, saat kita kembali ke Aek Latong jalan sudah terbuka kembali. Salah satu bus yang nyangsang di lumpur telah ditarik, sehingga mobil rombongan kita bisa melewati jalan yang dasyat tersebut. Rombongan langsung dibawa ke hotel Tor Sibohi yang udah kita reservasi.. Kita mutusin buat nginap di sana karena fasilitas di rumah Opung rasanya sulit buat menampung rombongan circus (anak-anak) yang rame banget..

Begitu ngeliat Papi David, Enek langsung ngomel-ngomel.. Enek bilang “Udah tau Mama mau datang, kok kamu gak nungguin di Aek Latong dari tadi malam…?!!” Hayaaahhhh…. Dasar ibunda Ratu… Kita memang paling cemas dengan kondisi Mama, karena setelah serangan stroke setahun yang lalu Mama belum pernah berjalan sejauh ini.. Mana Mama tuh hanya bisa menggunakan closet yang duduk, karena lutut kanan gak bisa ditekuk.. Bisa ngitung gak siyyy kira2 ada berapa tempat makan di sepanjang jalan antara Medan-Sipirok yang punya closet duduk? Kebayang gak siyy gimana kalo Mama harus terkurung di Aek Latong berjam-jam…? Alhamdulillah perjalanan kami berakhir dengan baik, meski ada sedikit petualangan.. Hehehe..

 

 

Ini foto-foto Aek Latong yang Tati ambil saat mau kembali ke Medan, tanggal 4 Juni yang lalu. Menurut Pak Zuharnen dosen Tati di penginderaan Jauh UGM, yang pernah survey di daerah ini, Aek Latong merupakan daerah sesar, sehingga selalu terjadi pergeseran kulit bumi, ditambah lagi dengan gempa beberapa waktu yang lalu, plus hujan yang turun… Mantap sudah… (ini ucapan Samuel yang logatnya Samarinda banget, kalo berkomentar tentang sesuatu yang luar biasa… hehehe..). Tapi kejadian ini tidak membuat kapok untuk tetap kembali dan kembali ke Sipirok, atau malah mengambil jalan muter lewat Sibolga-Padang Sidimpuan.. Kami tetap cinta Sipirok dan jalur perjalanan Tarutung-Pahae-Sipirok alias lewat Aek Latong .. Hehehe..

Kalo Gak Malu…

Minggu depan, tanggal 30 Juni dan 1 Juli, keluarga Tati ada acara di Sibadoar, Kecamatan Sipirok, kampungnya keluarga Tati.

Ceritanya, Papi David dan Mami Nana bikin pesta adat pernikahan mereka. Pesta adat? Iya.. Papi David dan Mami Nana nikahnya sudah beberapa tahun yang lalu di Surabaya, cuma waktu itu gak pake upacara adat. Secara keluarga Tati tuh masih Batak banget… rasanya belum melakukan upacara adat tuh jadi ganjelan di hati. Dalam acara ini Mami Nana yang Arek-arek Suroboyo, akan diberi marga sehingga akan menjadi Boru Batak. Acara itu juga sekalian kita ngerayain ultah Papa yang ke 70 tahun.

Jadwal acara ini disesuaikan dengan jadwal libur anak-anak. Dengan demikian diharapkan semua anggota keluarga bisa datang tanpa terkecuali. Papi David dan rombongan, lengkap dengan keluarganya Mami Nana sudah sampai di Medan tadi siang. Rencananya mereka akan berangkat ke Sipirok, sekitar 8 jam dari Medan lewat Pahae, tanggal 25 Juni. Mami Uli dan pasukan akan tiba di Medan tanggal 25 Juni, lalu berangkat ke Sipirok lengkap dengan keluarga suaminya pada tanggal 26 Juni. Papi David dan Mami Uli akan bertugas mendampingi Papa dalam menjalankan serangkaian acara adat pendahuluan, seperti meminta marga pada keluarga Pardede, karena Mami Nana akan dikasi marga Pardede seperti salah satu buyut kita yang perempuan.

Adapun Tati, Tante Po dan Mama Nhoya rencana akan menjadi rombongan yang berangkat terakhir dari Medan, yaitu hari Sabtu tanggal 28 Juni, dengan tugas membawa Mama, Ananda dan Mbak Mintje (yang bantu2 Mama di rumah). Kita jadi rombongan terakhir karena kita tuh jadwalnya terbatas… Pada kerja, bow..!!!

Tati tadi pagi ngajuin cuti di kantor.. Rencana berangkat dari Pekanbaru hari kamis tanggal 26 Juni, karena Mama Nhoya bilang pengen jalan2 dulu sama Tati sebelum kita berangkat ke Sipirok hari Sabtu.

So Tati tadi siang menghubungi travel langganan buat pesan tiket.. Ternyata oh ternyata, tiket Pekanbaru – Medan di musim libur ini berkisar antara 700 s/d 800 ribu.. Busseettt daaahhhh… Biasanya cuma antara 350 s/d 500 ribuan, termasuk saat lebaran. Mentok-mentok selama ini harga tiket untuk jalur tersebut tuh di 600 ribuan dehhh… Itu juga udah terhitung mahal kalo dibanding harga tiket pekanbaru – Jakarta yang sekita r 300 s/d 500 ribuan, secara jarak yang ditempuh lebih jauh…

Geleuh dehh dengernya harga di 700 s/d 800 ribuan. Tapi Tati kan gak punya pilihan… Tati wajib hadir di acara keluarga, kalo gak mau dicoret dari daftar anak-nya Papa. Kalo mo naik bus ke Medan keburu teler dulu.., karena jalan lagi rusak… Padahal acara di kampung akan memerlukan banyak energi. Kita gak bakalan bisa duduk manis… Mana para kurcaci yang lucu2 dan jarang jumpa itu juga akan menjadi teman main yang mengasyikan… Apalagi ada Ajere si new comer… Rugi atuh kalo nyampe di Medan dan Sipirok dalam keadaan teler.. Hehehe..

Tati lalu telpon Papi David buat berbagi ke-geleuh-an..

Tati : Vid.., kakak gak datang aja ya ke pesta David…

David : Kenapa kak? Ada apa? Gak bisa cuti dari kantor?

Tati : Enggak ada apa-apa siyy… Cuma karena musim liburan tiket pulang ke Medan jadi mahal banget… Sayang duitnya… Hehehe..

David : Aku juga kena tiket mahal kak. One way Samarinda – Medan aja udah 1.9 jeti per orang. Rombongan ku berapa orang… (Tati : Papi David, Mami Nana, Aldy, Abner, Ajere dan Ajere’s nanny). Hehehe… Tapi gini aja lah kak…, kakak kasi aja nomor rekening kakak ke aku, biar ta tranfer uang tiket. Dengan catatan, kalo kakak gak malu… Hehehe..

Tati : Sialan lu….!! Hehehe… Iya, iya gue pulang.. Tapi gue gak mau tau, bensin mobil buat bulak balik Medan – Sipirok plus uang makan rombongan David yang urus.. Hehehe..

David : Iya, iya… Nanti aku titipin di Ivo.. Dasar kakak pelit… Hehehe…

Tati : Kakak kan pegawai negeri, gak ada duitnya… Hehehe..

David : Gayamu itu lho kak, kak…!! Hehehe…

Pics diambil dari sini

Masih Tentang Nai Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang…

Postingan Tati yang ini, yang aslinya diposting di sini, kayaknya jadi punya cerita yang panjang niyy..

Setelah di-reposting di Toba Dream oleh Raja Huta, ternyata juga dihubung-hubungkan dengan suatu yang “hipotesis yang ajaib” oleh seseorang yang “luar biasa pelupa”. Tati mengasumsikan orang tersebut “luar biasa pelupa”, dari pada berburuk sangka menuduh beliau memang menyembunyikan identitasnya. Karena orang tersebut ingat untuk menulis comment di postingan ini tentang sesuatu hal secara begitu panjang lebar, tapi dia lupa menulis identitasnya. Mudah2an beliau memang lupa, bukan lempar batu sembunyi tangan setelah dengan menebar isu chauvinism tak berdasar melalui blog Tati.

Dengan sepenuh hati Tati sampaikan, postingan ini gak ada tujuan mendiskreditkan varian2 Batak yang lain. Tulisan ini hanya Tati buat berdasarkan rasa dan pikiran yang ada pada Tati selama ini.. Dengan segala kerendahan hati Tati mohonkan maaf..

Tati di usia muda sebenarnya gak peduli dengan “kebatakan” Tati. Karena tidak merasa itu sebagai sesuatu yang istimewa, yang luar biasa. Apalagi di keluarga, ortu sebagaimana para lelaki Batak meski sayang banget sama boru-nya tapi kan cenderung gak eskpresif, malahan cenderung terlalu protektif. Akibatnya di usia belia Tati terkadang mikir, “Gue disayang atau cuma dijaga supaya gak melanggar segala keinginan, cita2 dan mimpi para ortu, ya?”. Sementara kalangan Batak yang ada di lingkungan tempat tinggal (setelah pindah rumah ke daerah Sukajadi-Pekanbaru), yang Tati lihat sebagian besar adalah kalangan Batak yang ngomong “suke2 die” (kata orang Melayu), dengan suara yang kencang pula.  Seakan gak mikir perasaan orang. Bahkan sebagian dari mereka menghabiskan waktu di lapo tuak yang menjual tuak dari kelapa dan juga menjual masakan berbahan “biang”, yang buat kerabat Tati tidak tergolong bahan makanan.

Butuh waktu untuk memahami cara mencintai para orang tua berdarah batak pada anak cucunya.. Butuh perjalanan yang panjang untuk memahami bahwa orang batak itu punya integritas pribadi yang luar biasa, punya komitmen yang kuat tentang upaya memajukan generasi penerus…

Masa kecil Tati sama sekali tidak didominasi oleh budaya Batak. Tati besar di lingkungan yang majemuk. Meski di lingkungan rumah di kompleks Gubernur Pekanbaru cukup banyak orang Batak, tapi keluarga kami lebih dekat dengan keluarga Hasan Basri yang orang Payakumbuh. Anak2 keluarga Hasan Basri ikut membantu mengurus Tati hari ke hari. Kami juga dekat dengan orang2 Melayu, bahkan Tati seringkali menghabiskan akhir pekan di acara2 pernikahan keluarga Melayu.

Begitu pun saat menjalani kehidupan di Kampus Rakyat Tati lebih cenderung untuk tidak berkumpul dengan orang2 Batak. Gak ada alasan spesifik kenapa begitu. Kayaknya hanya karena berasal dari Riau, Tati lebih cenderung ikut perkumpulan mahasiswa asal Riau yang sebagian anggotanya Tati kenal, karena mereka teman atau kakak kelas sejak di Sekolah Dasar. Tapi itu pun gak mendominasi hari2 Tati. Saat itu Tati lebih berpikir untuk mengenal kehidupan yang lebih dari yang pernah Tati ketahui. Bergaul dengan teman2 dari daerah lain, dengan latar budaya yang berbeda untuk memperkaya wawasan. So, teman2 Tati saat itu lebih banyak anak2 bukan Batak dan bukan Riau.

Upaya untuk memahami tentang keluarga yang keturunan Batak muncul saat keluarga mengadakan upacara Upah2 ketika Tati lulus S1. Di acara itu para orang tua menyampaikan selamat atas apa yang udah Tati capai, sekaligus mengingatkan bahwa apa yang Tati capai dalam hidup Tati sebenarnya hanya sebagian kecil saja yang merupakan hasil perjuangan Tati. Selebihnya adalah hasil jerih payah orang tua dan generasi demi generasi sebelumnya. Alhamdulillah keluarga Tati adalah keluarga yang peduli dengan kemajuan anak cucunya. Dan kepedulian mereka terbentuk dari ajaran generasi sebelum mereka, yang berdarah Batak.

So, kenapa Tati tidak harus bangga menjadi orang Batak? Mungkin istilah yang lebih tepat adalah tidak merasa malu menjadi orang Batak, dan menghargai leluhur atas apa yang sudah mereka lakukan buat kita. Tapi tentu saja bukan bangga yang berlebihan, yang melahirkan chauvinism tak berdasar. Karena etnis lain pun pasti punya kelebihan juga, yang justru mungkin bisa membantu kita menjadi orang-orang yang lebih baik. Kayaknya pikiran ini sejalan dengan semangat nasionalis yang sedang digaungkan kembali dalam rangka Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Lagi pula semua manusia sama di mata Alloh SWT, yang membedakannya hanyalah iman dan ketaqwaannya kepada Alloh SWT. Bukan begitu teman-teman?

My Posting Has Been Re-posted..

Siang tadi Tati nemu comment dari seseorang yang menamakan dirinya Raja Huta (Bahasa Indonesia : Raja Kampung) di postingan Tati yang ini

Ternyata beliau me-reposting tulisan Tati tentang asal usul Tati, yang beliau harapkan bisa menginspirasi anak-anak Batak lainnya yang lahir dan besar di kota, supaya jangan malu mengakui identitasnya sebagai manusia Batak.

Ini postingan beliau yang me-reposting tulisan Tati..

Semoga aja tulisan itu memang bisa bermanfaat ya…

Btw, I’m proud of being Boru Batak, tapi aku juga bangga menjadi orang Indonesia yang beraneka… Membuat kita kaya akan teman2 yang beraneka suku, kita kaya akan budaya, termasuk kuliner… Hehehe…

Sesama Batak…

Di dunia baru, ada seorang senior yang juga punya marga, sama seperti Tati… Waktu Tati baru2 datang di situ dia excited banget, karena menurut dia orang2 bermarga langka dan sulit berkembang di lingkungan dunia baru… Tati sendiri gak merasa begitu ya… Karena biarpun punya marga dan gak mau kehilangan jati diri sebagai boru Batak, Tati merasa kota di negeri Melayu ini, lingkungan ini, adalah habitat Tati.. This is the place where I was grown up.. This is the place where I belong… Bahkan di dunia baru banyak orang yang Tati kenal sejak Tati masih cilik mentik… Ada yang anaknya kenalan keluarga, ada mantan tetangga, ada teman sekolah waktu SD, SMP dll…

Beberapa waktu yang lalu si senior ini menghampiri Tati.. Ternyata dia minta supaya Tati memberikan pekerjaan yang dipercayakan pada Tati untuk diserahkan kepada pihak ketiga, kenalannya yang orang pake marga juga.. Kerjaan yang diminta itu memang bukan pekerjaan besar..

Buat Tati.., permintaannya itu gak masalah.. Semua orang boleh mengajukan permintaan toohhh…? Tapi karena ini urusannya kerjaan dan menyangkut pertanggungjawaban Tati nantinya, tentu Tati harus mencari orang yang bisa memberikan hasil yang terbaik dengan waktu secepat mungkin… Lagi pula Tati kan cuma bagian dari suatu sistem, mana bisa Tati memutuskan segala sesuatu sendiri, harus berunding lah dengan atasan…

Ketika, Tati bilang ke si senior, “Saya lihat dulu ya, pak. saya gak bisa memutuskan sekarang”.

Ehhh si senior bilang dengan suara yang agak kencang “Bu Sondha, ibu orang Batak kan..? Siapa lagi yang mau nolong orang Batak kalo enggak orang Batak..?

Tati lalu bilang, “Jangan begitu lah, pak. Saya mencoba untuk melihat persoalan ini secara profesional. Saya ingin yang terbaik dari pekerjaan saya, karena saya harus mempertanggungjawabkannya. Kalo memang teman bapak itu bagus kerjaannya, bisa saja nanti diserahkan pada dia. Tapi saya gak bisa memutuskan karena pertimbangan suku. Lagi pula saya bukan pengambil keputusan tunggal. Ada orang2 di atas saya yang harus saya dengar pertimbangannya”

Si Senior lalu menjawab, “Lalu ibu mau bilang apa kalo orang yang di atas ibu melarang ibu mengambil kebijakan?”

Tati : “Enggak masalah, pak. Selagi kebijakan beliau itu pun bisa dipertanggungjawabkan dan membawa kebaikan buat hasil pekerjaan.”

Si senior : “Kok sebagai orang Batak, kamu gak mau menolong sesama Batak siyy…? Dimana solidaritas kamu sebagai sesama Batak?”

Tati : “Pak… saya bukan gak mau kasi kesempatan. Saya bilang nanti dulu, saya belum bisa mengambil keputusan, karena saya harus mengenali dulu siapa2 aja yang ingin mengerjakan pekerjaan ini, dan bagaimana kualitas mereka. Kalau teman bapak kerjaannya bagus, bisa saja saya menyerahkan pekerjaan ini pada dia. Cobalah mengerti situasi ini… Jangan bawa2 suku…. “

Si bapak lalu ngeloyor dengan tampang asam… Tati cuma bisa menghela nafas panjang, dengan harapan semoga orang itu mengerti pikiran Tati nantinya…

Tulisan di Depan Rumah..

Hari ini Tati ngeliat ada comment di postingan ini…, dari Andy Pangihutan Harahap. Ternyata Andy ini masih ada hubungan keluarga dengan Tati.. Tepatnya, Papa-nya Andy adalah sepupu Papa & Mama Tati.

Andy nanya apa tulisan asli (dalam bahasa Batak) dari quotation yang ditulis oleh buyut kita dan kemudian digantung di dinding rumah beliau di Hanopan, seperti yang Tati tulis di postingan ini

Nah… ini pic dari tulisan tersebut yang dicrop dari pic Mama, Kak Lintje dan Ira saat kita berkunjung ke sana pada akhir Desember 2006…


Buat Andy, keep contact ya.. Salam buat Tulang Pasti dan keluarga..

Pulang Kampung Yuukkk……!!! (2)

Rumah Opung @ Sipirok...

Papi David akan pulang ke Medan selama 10 hari mulai tanggal 5 Oktober besok. Papi David rencananya akan pulang kampong bersama Papa. Papa mau ziarah sekaligus ngeliat rumah peninggalan Opung di sana. Karena Tati baru akan ke Medan tanggal 13 Oktober sore, kayaknya Tati gak akan bisa ikut pulang kampong deh.. Rasanya sayang, tapi gpp deh.. Lain kali mungkin….

Kenapa sih setelah pada besar gini masih senang aja pulang kampong..? Justru, setelah dewasa, Tati sudah lebih bisa menghargai arti keluarga serta generasi2 sebelum Tati. Maksudnya..? Iya, tanpa perjuangan Opung2 terdahulu, kita pasti gak akan sampai pada tahap kehidupan saat ini..

Sekitar tahun 2003 Tati, Papa, Mami Uli dan Tante Po pulang kampong. Papa, Mami Uli dan Tante Po berangkat dari Medan, sementara Tati sendirian naik bus dari Pekanbaru. Waktu kita ziarah ke Bale Ja Barumun di Sibadoar, kita melihat seorang perempuan yang mengendong anaknya dengan kain di punggung masuk ke daerah semak belukar. Kira2 hampir sejam kemudian, perempuan itu keluar dari semak belukar itu masih dengan menggendong anaknya di punggung serta menjunjung setumpuk kayu bakar di kepalanya. Tiba2, terlintas di pikiran Tati.. “Seandainya, Buyut Tati, Samuel gelar Baginda Parhimpunan, yang seorang petani itu gak memberi kesempatan pendidikan bagi anaknya, Opung Piter gelar Sutan Barumun Muda, maka Opung gak akan menjadi guru. Lalu, kalau Opung tidak memberi kesempatan bagi anak2nya untuk mengenyam pendidikan, maka Papa beserta kakak dan abang2nya tidak akan bisa jadi pegawai di berbagai instansi Pemerintah. Lalu, kalau Papa serta kakak dan abang2nya tidak memberikan kesempatan pendidikan bagi Tati dan saudara2.., maka bukan mustahil saat ini Tati bermukim di Sibadoar dan melakukan aktivitas kehidupan seperti perempuan yang mencari kayu bakar di semak2 itu. Tapi karena perjuangan dan pengorbanan dari generasi ke genarasi, Tati dan saudara2 bisa mengenyam pendidikan di berbagai universitas, lalu bisa bekerja di berbagai sektor yang lebih mementingkan pikiran bukan otot, bisa menikmati cara hidup yang lebih nyaman.

Saat Tati menyatakan apa yang terlintas di pikiran Tati itu pada Papa, Mami Uli dan Tante Po.. Mami Uli dan Tante Po sejenak terpana, lalu Mami Uli berkata “Iya, ya kak. Uli gak pernah berpikir seperti itu sebelumnya. Uli gak pernah membayangkan, kalo Uli harus menjalani hidup dengan aktivitas mencari kayu bakar, mencuci di sungai, mengerjakan sawah, dan semua harus dilakukan sambil menggendong anak di punggung. Kita sering kali berpikir, bahwa hidup kita memang sudah seharusnya seperti ini. Kita sering kali lupa, bahwa hidup kita saat ini bukan hanya hasil upaya kita, tetapi adalah kumulatif hasil upaya generasi2 sebelum kita.

Ya…, pikiran2 itu lah yang membuat Tati punya rasa keterikatan yang sangat kuat dengan kampong setelah Tati berusia dewasa, selain sejuta kenangan masa kecil yang menyenangkan saat pulang kampung.

Saat ini, sebagai orang tua dari 13 kurcaci.. Tati beserta abang, kakak dan adik2 berusaha menanamkan rasa cinta kampong pada anak2 kami. Berusaha membuat mereka menghargai generasi terdahulu yang telah berjuang dan berkorban demi kemajuan anak dan keturunannya.

Kak Lintje, beberapa tahun terakhir selalu menceritakan kisah2 keluarga Siregar pada Parlin, Nanda, Olan dan Ira. Efeknya, anak2 tersebut mulai tergila2 dengan yang namanya “Pulang ke Sipirok” dan selalu mendesak Mamanya untuk pulang ke Sipirok saat mereka libur sekolah. Mama Nhoya juga telah “meracuni” pikiran Ananda dengan kenangan2 manis saat Mama Nhoya kecil mengisi liburannya di kampong, Sehingga, Nanda juga sudah mulai tergila2 dengan pikiran mandi di Aek Silo, mandi di Aek Milas Sosopan, dan berbagai aktivitas lainnya yang bisa dilakukan di Sipirok. Demikian juga dengan Mami Uli yang “meracuni” pikiran Samuel dan Esther… Heboh deh pokoknya. Hehehe.

Kalo pulang kampong, ngapain aja siyyy?

Aktivitas rutin yang wajib adalah ziarah ke Bale Jabarumun yang berlokasi di Sibadoar. Ini merupakan makam keluarga, mulai dari Buyutnya Papa (5 generasi di atas Tati) sampai dengan orang tuanya Papa.

Lalu ziarah ke Hanopan, ke makam keluarga Harahap. Karena ibunya Papa merupakan boru dari keluarga Harahap, demikian juga Mama yang ayahnya merupakan saudara kandung ibunya Papa. Kalo di Hanopan, kita biasanya singgah ke rumah peninggalan Tuongku Mangaraja Elias Harahap, buyut Tati dari garis Harahap. Rumah ini masih terawat dengan baik.

Biasanya kalo di Hanopan kita seneng beli pecel dan goreng2an yang dijual di warung kecil yang berlokasi di seberang tugu marga Harahap, yang dibangun oleh Opung MD Harahap, salah seorang warga negera Indonesia yang dulu sempat bekerja untuk UNTEA (badan PBB yang bertugas melakukan bantuan dalam proses penyerahan Irian Barat dari tangan Pemerintah Belanda ke tangan Pemerintah Indonesia).

Biasanya dalam perjalanan ke Hanopan, kita selalu singgah di Bunga Bondar untuk mengunjungi Opung Parningotan, sepupu Opung Tati yang perempuan, dan sekaligus sahabat Papa karena mempunyai minta yang sama pada kebudyaan. Opung ini telah meninggal dunia pada bulan Juli 2007.

Aktivitas lain…, berburu makanan khas kampong. Selain, makan ikan mas goreng, sambal trauma, panggelong, kita juga berburu daging (rebus) yang dibakar, lalu diiris2 dan disiram sambal. Makanan ini dijual di salah satu rumah makan di pasar Sipirok.

Kita juga senang mandi air panas ke aek milas Sosopan yang sekarang kondisinya sudah lebih rapi, atau ke permandian air panas di Padang Bujur.

Buat Tati pribadi, aktivitas yang mengasikkan adalah jalan2 pagi.. menyusuri jalan Simanganmbat, lalu belok ke Kampung Tinggi dan keluar di samping SMP Negeri 1 Sipirok. Biasanya Tati suka bawa ponakan yang ikutan pulang kampong. Waktu Samuel masih berusia 1.5 tahun, Tati pernah bawa dia melakukan aktivitas ini.. Seru banget…!! Di sepanjang jalan, Samuel bulak balik berhenti untuk mengamati bunga2 dan kupu2 yang indah berwarna warni.. Tapi setelah melewati tanjakan ke arah Kampung Tinggi, mulai deh dia mogok…, minta gendong..! Kecapekan karena nyusurin jalan yang nanjak. Gak peduli diiming2in sebotol susu kalau bisa sampai di rumah tanpa digendong. Terpaksa deh Tati mengendong si Karung Beras, 15 kilo. Hehehe.

Waktu pulang kampong bulan Desember 2006 lalu, Tati juga mengajak Ananda jalan pagi. Begitu melewati tanjakan ke arah Kampung Tinggi, Ananda ngomong ke Tati, “Wowo, bisa gak kita pulang aja atau kalo enggak naik becak. Kaki Nanda pegel niyy!!” Hehehe.

Kalo Esther, gak mau diajak jalan kaki. Miss fashionable yang selalu rapi jali ini, waktu liburan ke kampong bulan Juli 2006 maunya muter2 kampung naik becak. Selain karena gak mau capek dan keringatan, Nona ini memang suka banget sama becak yang gak ada di Samarinda. Hehehe.

Selain berbagai aktivitas di Sipirok, kita juga biasanya ke Padang Sidempuan. Selain ngambil ikan di Batunadua (udah lama tuh gak ada acara buka kolam, abis pulanngnya kan gak lama2, jadi gak sempat buat buka kolam yang butuh waktu 1 hari penuh), kita biasanya beli salak, atau nyari ikan sale di Pajak Batu dan makan di Bufet Anda di Jl. Merdeka. Restoran ini punya banyak kenangan buat kita karena waktu kecil Mama selalu membawa kita makan di situ. Dan buat Papi David kenangannya lebih dalam lagi.. Kok? Iya.., di sebelah restoran itu ada optik yang namanya Sidempuan Optikal. Anak perempuan pemilik Optikal itu, namanya Mega, adalah kecengan Papi David waktu di TK Katholik di Sidempuan tahun 1975an… Hehehe. Kalo gak salah, foto Papi David Kecil bersama Mega menggunakan busana pengantin saat karnaval masih ada di album jadul simpanan Mama di rumah Medan. Tati jadi pengen liat lagi. Hehehe.

Terakhir Tati pulang kampong bulan Desember 2006. Waktu itu perginya dari Medan sama Papa, Mama, Tulang Sahrin (sepupu Papa dan Mama), Bang Rio alias AU, Papi David dan Ananda. Kak Lintje dan Ira nyusul langsung dari Pekanbaru. Pulang kampong yang seru abiizzz…

Apalagi buat Ananda, ini pertama kalinya di pulang ke Sipirok. Dia sangat antusias, apalagi Mama Nhoya telah membekali dengan cerita2 yang seru… Dia gak rewel sama sekali, meski perginya tanpa Mama Nhoya. Hanya saja, Tati memang harus taking care si cantik yang baru pertama kali naik mobil untuk jarak sejauh ini (8 jam dari Medan).

Ananda sempat sih mabuk dan muntah2 beberapa kali… Kalo udah gitu, kita berhenti dulu.., numpang duduk di selasaran rumah penduduk setempat untuk menghirup udara segar dan menenangkan perasaan Ananda. Lucunya, orang2 yang rumahnya kita tumpangi selalu menawarkan minum atau bunga2 indah di halaman rumahnya yang dipelototi Ananda dengan antusias. Ananda sampai bilang ke Tati, “Wowo, kenapa sih orang2 ini baik2 banget sama kita. Di Medan, aku jarang lho liat orang2 yang kayak gini…”. Hehehe. Itu lah yang namanya kepolosan dan ketulusan orang2 yang masih menetap di kampong, Nak.. Di sana, masih banyak kesederhanaan berpikir yang memunculkan kebaikan hati dan ketulusan, salah satu hal yang membuat kita selalu rindu pulang kampong.

Tati jadi ingat sama saudara2 di Sibadoar yang selalu memberi kita beberapa kilogram beras pulut, beras merah dan gula bargot saat kita berkunjung ke Sibadoar. Pemberian itu kalo dinilai dengan rupiah yang diperoleh dari bekerja di kota mungkin gak seberapa…, tapi buat mereka yang tinggal di kampong, itu adalah hasil keringat mereka. Semua benar2 hasil kerja mereka sendiri. Kebayang gak sih berapa banyak energi yang mereka keluarkan pada saat bertani menanam padi dan pulut? Kebayang gak sih berapa banyak energi yang mereka keluarkan buat mengumpulkan nira untuk kemudian diolah menjadi gula bargot? Tapi mereka rela memberikannya pada keluarga yang datang berkunjung…
Semoga Allah melimpahkan rahmat bagi mereka.***

Here some pics….

Ananda dengan latar belakang Gunung Nanggarjati, yang jadi icon-nya Hanopan...

Kak Lintje, Ira dan Mama di depan rumah Hanopan, sedang mengamati “quotation” yang ditulis oleh Tuongku Mangaraja Elias Harahap, dan digantung di dinding depan rumah sebagai pengingat bagi keluarganya dan orang2 kampong...

Tulang Sahrin Harahap, Uda Kahar Siregar (sepupu Papa), Papi David dan Papa di Bale Ja Barumun, Sibadoar...

Bang Rio dan Uda Kahar Siregar dengan latar belakang Bale Ja Barumun...

Pulang Kampung Yuukkk……!!!

Adik Tati, si Papi David beberapa waktu yang lalu bilang, “Kak, bisa gak ngeset waktu buat pulang ke Medan samaan dengan aku. Supaya kita bisa sama2 ke kampong. Papa juga pengen pulang kampong niyy.”

“Pulang kampong yuukk!!” adalah kalimat yang selalu menggoda Tati.. Entah mengapa Tati selalu rindu buat pulang dan pulang lagi ke Sipirok..

Keluarga kita punya kebiasaan pulang kampong sejak dulu kala. Waktu Opung (ibu-nya Papa) masih ada, dan kita para cucu belum pada kuliah ke Jawa, kita biasa pulang kampong minimal 2 kali setahun, yaitu pada waktu tahun baru dan waktu ulang tahunnya Opung tanggal 1 Juli. Kebetulan tanggal2 segitu kan anak sekolah libur, jadi bisa dibawa pulang ke kampung. Bahkan Papa juga selalu pulang pada hari Paskah.

Setelah sekolah di Jawa, kita memang jadi jarang pulang ke Sipirok, karena biasanya cuma pulang sampai ke Pekanbaru. Tapi setelah selesai sekolah lalu kerja, kebiasaan pulang kampong kembali dilakukan…

Apa sih enaknya pulang kampong…? Enggak tau ya.. Sulit dijelaskan… Rasanya seru aja… Tapi serunya pulang kampong waktu masih kanak2 dengan sekarang beda.. Selain karena suasana kampong yang sudah berbeda, juga karena di kampong udah gak ada lagi opung dan bou, yang dulu selalu repot ngurusin kita… Opung udah passed away bulan Maret tahun 1989, sedangkan Bou yang sekarang penglihatannya sudah berkurang menetap di Jakarta bersama anaknya, Bang Hasiholan Pasaribu.

Kenangan pulang kampong waktu masih kecil …..

Menmen Harahap, putri Mangaradja Elias Harahap dari Hanopan gelar Op. Lintje


Sosok Opung yang gak pernah diam… Selalu sibuk mengurus keperluan semua orang. Opung juga hampir gak pernah lepas dari sugi (tembakau)-nya. Opung orang sangat religius. Setiap mau tidur beliau selalu berdoa, begitu juga saat bangun tidur, beliau tidak akan turun dari tempat tidur sebelum berdoa…

Berdiri L-R : Sarma Pasaribu (anak Namboru), Sondha Siregar, David Siregar. Yang duduk di meja, Uli Siregar


Rumah Opung yang hangat.
Rumah ini adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu.. Secara periodical, lantai dan dinding rumah ini digosok pake solar. Jadi lantai dan dindingnya selalu kinclong..

Karena Sipirok berada di daerah pegunungan Sibualbuali yang dingin banget.. Kalo kita ngeluarin napas mulai senja sampai pagi hari, pasti ada asapnya…

Tidurnya ramai2 sama kakak dan abang2 di kamar Opung atau di kamar belakang. Kalo ramai banget yang ikutan pulang kampong, kita malah tidurnya di kasur yang dibentang di ruang tamu.. Seru.., tidur bersusun2 kayak ikan dencis… Hehehe. Opung punya beberapa lemari, yang kalo dibuka isinya adalah setumpuk bantal dan selimut. Buat cadangan kalo anak cucu pada datang…

Tempat tidur Opung model bed foster (punya empat tiang buat menggangtungkan kelambu) yang terbuat dari besi.. Seru tidur sambil denger bunyi kerinyit kerinyit.. Hehehe. Apalagi kalo yang naik pasukan si berat.., Tati, Bang Ade (Godlief Iriano Siregar) dan Bang Nyong (Pieter Irianta Nusantara Siregar).. Bunyi kerinyit2nya makin kencang… Hehehe.

Gak mandi2 kecuali ke permandian air panas “Aek Milas Sosopan”, karena udara di Sipirok dingin banget.. Eh, di sono juga mandinya gak berani nyebur, paling cuma kakinya doank yang dicelup2in… Air panasnya didinginkan dulu di ember2.., baru diguyurin ke badan.. Hehehe. Kadang2 kalo hari cukup hangat, Mama suka diam2 bawa kita mandi2 ke Aek Silo di Hanopan..

Bak di kamar mandi dalam dan kamar mandi luar di rumah Opung ukurannya extra besar dan tinggi. Kayaknya sih lebih berfungsi buat nyimpan cadangan air. Kalo mau mandi, keran dari bak itu diputar, lalu airnya ditampung dulu di ember2..

Nungguin Mama ngegiling daging dan kentang buat bikin perkedel pake penggilingan dari besi yang diputer. Penggilingan itu biasanya dipasang di bagian ujung meja makan.

Dapur opung dengan tungku pake kayu, plus alat tiupnya yang dari besi. Di sekitar tungku bergantungan bawang merah yang di ikat2 dalam pintalan2 besar..

Ngambil sayur dari kebun Opung di daerah Pasar Malam.. Opung tuh jarang beli sayur di pasar. Jadi kalo mau masak, petik dulu sayurnya dari kebun.. Gimana gak segar dan sehat makanannya..?

Makan rame2 di meja panjang (2 meja disusun jadi satu). Opung, para Bapak & Ibu serta tamu duduk di bagian yang dekat pintu ke ruang tamu, kami anak2 di bagian yang dekat ke dapur. Menu wajibnya… sup daging yang baru mendidih, perkedel dan ikan mas…!!!

Main2 dan duduk2 di tangga empat puluh yang berada tepat di depan rumah Opung. Lalu, kalo Opung dan para orang tua lalai, kita ngabur.. Jalan2 sampai ke Kampong Tinggi. Pulangnya dijamin kena omel… Hehehe. Tapi tetap aja diulang lagi..

Petualangan lebih seru, kalo bisa jalan2 sore sampai ke daerah pesanggrahan.. Daerahnya terbuka, sepi dan banyak lalang.. Angin di daerah ini benar sejuk, dan menyapu2 wajah.. Pulangnya, ya itu…, kena omel.. Hehehe.

Kelakuan paling bandel, adalah nonton.. Bioskop di Sipirok hanya sekitar 70 meter dari rumah Opung yang lama. Bioskop ini gak tiap hari muter film. Kalau malamnya akan ada film yang diputer, siang harinya ada mobil yang muter2 sampai ke kampung2 di sekitar Sipirok. Mobil itu digantungin spanduk film yang mau diputer plus speaker yang suaranya nyaring banget. Orang yang duduk di samping supir akan teriak2 pakai microphone, memberitahukan judul film yang akan diputar serta nama2 bintang film yang main di film tersebut.
Kalo udah denger teriakan akan ada film di bioskop malam itu, kita semua jadi pada gatel dan gelisah. Pada pengen nonton gak peduli film apa yang akan diputer, pokoknya nonton. Tapi kita juga tau persis, gak akan dapat exit permit dari Opung. Dan Opung juga sigap lho.. Begitu acara makan malam selesai, pintu pagar rumah dikunci, dan kuncinya dikantongin Opung di dasternya. Halllaaahhhh.
Gimana mau ngabur…? Jangan salah.., kita punya sejuta akal.. Kalo udah gini, Mami Uli Cilik yang jadi umpan peluru… Mami Uli kita suruh mijit kaki Opung.., dan Opung akan segera terlelap kena sentuhan tangan kecil Mami Uli Cilik yang empuk.. Lalu, para senior yang lebih gape akan mengambil kunci dari kantong daster Opung, dan kita2 keluar mengendap2 ke bioskop. Mami Uli Cilik yang beneran masih bocah gak mau ketinggalan ikut nonton. Apalagi doski udah jadi umpan peluru… Hehehe..

Biasanya begitu nyadar cucu2nya hilang, Opung akan nyuruh siapa aja yang masih ada di rumah buat jemput kita di bioskop. Biasanya, yang ngejemput bukannya membawa kita pulang, tapi malah bergabung nonton.. Hehehe. Yang nonton sih gak peduli dengan apa yang terjadi di luar bioskop. Urusan kena marah urusan nanti.. Yang penting nonton dululah.. Padahal, filmnya pasti film jadul dibanding dengan yang diputar di Pekanbaru atau Medan. Mana bioskopnya antic banget.. Dinding dalam bioskop itu dilapis dengan goni…, tempat duduknya banyak bangsat (kepinding)nya… Hehehe.. Pulang nonton, kita akan menemukan Opung berdiri di depan rumah menunggu kita pulang… Cucunya yang senior, akan mendapat hadiah istimewa berupa omelan yang assoyyyy… Hehehe.

Kalo liburan di kampong…, kita paling antusias nunggu hari poken (pasar). Kalo di Pasar Sipirok, pokennya hari Kamis. Tapi jangan harap boleh ke pasar buat jajan… Gak ada ceritanya tuh… Hanya Opung atau Namboru atau kak Mega (anak Namboru) yang boleh belanja kue2 di pasar.. Katanya sih gak boleh sembarangan, karena masih ada orang2 tertentu yang suka iseng, nyoba ilmu… Waduuuhhh.. Padahal kita paling seneng makan panggelong, lapet (lepat) dan kue angka lapan.. Sebenarnya kita pengen bisa pilah pilih sendiri di pasar… Tapi karena aturan Opung begitu, ya pasrah lah ya.. Nunggu yang belanja pulang aja …

Makanan lain yang dicari2 kalo pulang kampong adalah Sambal Taruma. Apa itu? Sambal Taruma itu keripik singkong yang diaduk dengan sambel yang terbuat dari cabe yang diulek dengan udang.. Kalo dibanding dengan “kerupuk cabe tangguh” buatan Eko, sahabat Tati, rasa Sambal Taruma” kalah enak.. Tapi mungkin nilai memoris-nya yang bikin kita sampai sekarang masih mencari makanan yang satu ini kalo pulang kampong…

Ada lagi acara keluarga yang seru kalo pulang kampong.. Apaan…? Pergi ke Batunadua , sekitar 30 km dari Sipirok ke arah Padang Sidempuan. Tepatnya daerah ini berada sekitar 7 km dari pusat kota Padang Sidempuan. Di situ ada tanah keluarga berupa saba (sawah) dan tobat (kolam ikan). Tanah ini bentuknya ngantong, kecil di bagian depan dan besar di bagian belakang. Di tanah bagian depan yang berada di tepi jalan lintas Sumatera terdapat rumah panggung dari kayu. Di belakang rumah itu terdapat irigasi yang memisahkan halaman rumah dengan sawah dan tobat (kolam ikan).

Dulu kalo pulang kampong, biasanya kita buka kolam… Setelah kolamnya dikeringkan dan airnya tinggal sebetis orang dewasa, kita yang anak2 boleh masuk ke kolam untuk ikutan nangkap ikan dan main lumpur.. Hehehe. Nangkap ikannya bisa pakai tangan atau pakai durung (tangguk). Seru bisa main lumpur…!! Cuma kasian deh ama yang nyuci baju yang dipake… Hehehe. Setelah capek main lumpur, kita mandi…. Mandinya bisa di sumur di belakang rumah, atau….. ke sungai besar yang gak sampai 100 meter dari sawah kita. Sungainya dangkal dan berbatu2 besar.., airnya gak deras.. Asik buat main2…

Setelah capek main2, kita biasanya makan siang di halaman belakang rumah.. Di situ biasanya udah dibentang tikar lebar2… Kita makan rame2, gak pakai piring, tapi pake daun pisang yang gak dilepas dari pelepahnya. Disusun2 sedemikian rupa, sehingga jadi piring yang panjang… Nasi dan segala lauk pauk disusun di atas daun pisang tersebut… Seru makan sambil becanda2 sama orang tua, kakak2, abang2 dan adik2. Nikmat banget… ditambah lagi dengan sentuhan angin semilir dari persawahan… Menunggu sore, biasanya yang penjaga rumah dan sawah (Mang Rajuk) akan nurunin kelapa muda dari pohon2 kelapa yang berjejer di pematang sawah…

What a perfect day, deh kayaknya….. Kok air mata Tati jadi merebak ingat masa2 yang indah itu ya…?***

Rame2 di depan rumah Opung di Sipirok, sekitar tahun 1973-1974an...

Blog Papa….

Minggu sore, waktu ngobrol2 di rumah Sei Bingei No. 41, Papa cerita kalo Papa ada menulis beberapa buku tentang Sibadoar dan daerah2 sekitarnya berdasarkan hikayat dan cerita orang2 tua yang pernah Papa dengar. Tulisan Papa ini sebelumnya hanya dipublikasikan di kelompok tertentu, yaitu Punguan Anak/Boru/Bere-Pisang Raut Bonabulu Parhutaon Sibadoar di Medan.

Tati lalu menawarkan pada Papa untuk membuatkan beliau blog, dan mempostingkan tulisan2 Papa secara bertahap, dengan harapan dapat dibaca oleh generasi Angkola Sipirok, terutama yang berada di perantauan yang mungkin tidak mengenal hikayat tentang daerah asal mereka. Blog Papa, Tati beri nama BAGINDA HABIARAN, sesuai dengan gelar Papa yang diberikan di Sibadoar pada tahun 1978.

Kiranya blog ini bermanfaat bagi orang banyak, terutama generasi muda Angkola Sipirok, serta memberikan kebahagian bagi Papa sehingga beliau panjang umur dan dapat menjadi pengayom bagi kami anak2nya. Amin***

Upah-upah…

Apa itu Upah2…?

Dalam adat batak, kalau seseorang akan atau telah melalui satu tahap kehidupan biasanya diberi “upah2″ oleh keluarganya.. Misalnya lulus sekolah, menikah atau lain-lainnya. Upah2 kayaknya berasal dari kata “upah” ya..?
Mungkin ini sebabnya kalo becanda orang batak tuh suka dibilang.. “Dasar Batak Upah!!!”. Hehehe.. Abis apa2 diupah sih..

Upah-nya apaan ?
Nasi lengkap dengan ayam bakar utuh (gak dipotong2 plus hati & kalang-nya), lalu ikan mas yang diarsik (yang ini khas-nya orang angkola, secara kita gak makan si piggy ekor melintir), telur rebus, udang yang gede2.., semua dihidangkan di piring besar.. Hmmmmm bikin air liur menitik… Biasanya pada saat Upah2 itu diberikan…, para orang tua menyampaikan nasehat2 kehidupan buat bekal kita di masa yang akan datang..

Waktu Tati, lulus S1..
Keluarga besar, 3 anak laki2nya Opung Lintje (Opungnya Tati) kumpul semua di rumah abangnya Papa, (alm) Anwar Siregar, di Bangka Jakarta Selatan. Lucunya semua abang2 (3 orang) yang waktu itu pada belum lulus sekolah (karena pada kerja dan ada juga yang keasikan main..), diwajibkan untuk hadir di acara wisuda di Widya Graha Bogor… juga adik2. Mungkin maksudnya supaya pada termotivasi, ya..? Tati lah yang beberapa hari sebelumnya mabok nyari undangan tambahan. Karena jatah dari kampus kan cuma 1. Para ponakan yang masih imut2 pada ikut juga ke Bogor, cuma mereka nunggu sambil berenang di hotel Pangrango, di depan tempat kost Tati. Heboh gak siihhh keluargaku….?

Nah…, malamnya… Yang wisuda dikasi jatah “Upah2″..
Selain anggota 3 keluarga Siregar.. Hadir juga para Opung2 dan Uwak2, Tulang2, Tante2, Bujing2 dari keluarga Harahap Hanopan, lengkap dengan pasangannya masing2 plus anak2nya.. Kok, banyak keluarga Hanopan? Karena Opung (ibunya Papa) boru Harahap dari Hanopan. Lalu, Mama juga boru Harahap dari Hanopan. Papa dan Mama tuh sepupuan alias pariban. Ramai, seru dan heboh… Rasanya setelah itu kita gak pernah kumpul selengkap itu lagi.. Karena satu per satu telah berpulang…, yang tersisa pada sibuk dengan rutinitas masing2 serta tinggal di kota2 yang terpisah… Hiks..

Sebelum acara makan bersama, Tati yang disuruh duduk di pusat pandangan semua anggota keluarga, lalu di depannya diletakkan Upah2 yang udah disiapin Mama dan Mak Tuo Jakara (Ny. Anwar Siregar). Pemberian Upah2 disertai nasehat dari para orang tua, mulai dari yang paling senior… dan ditutup oleh Papa. Papa juga memberi penjelasan arti dari semua jenis makanan yang dihidangkan dalam Upah2. Tati lalu disuruh mencicipi semua jenis makanan yang ada dalam Upah2, sesuai arahan Papa. Setelahnya, Upah2 tersebut dimakan bersama abang2 dan adik2 serta saudara2 lain, terutama yang juga masih sekolah.. Dengan harapan mereka juga akan memperoleh berkat dari Upah2 tersebut. What a beautiful family tradition…***

Here some old and memorable pics…

Tati lagi dikasi Upah2 sama Papa

Tati nyicipin Upah2 ditontonin sama Opung2, Uwak2, Abang2 dan Adik2


Keluarga yang hadir…



L to R : Bujing Dewi (Adik bungsu Mama), Tante Grace (sepupu Mama), Mama, Wak Ida (Kakak Mama paling tua)

Selamat Ulang Tahun Opung BS…

Opung BS...

Kemaren sore setelah pulang kantor, Tati ingat pembicaraan dengan Papa beberapa hari yang lalu. Papa bilang Opung BS ulang tahun ke 83 tahun tanggal 23 Agustus, pesta ulang tahun akan diadakan tanggal 26 Agustus. Papa diundang, tapi kita minta Papa untuk tidak pergi dulu lah.. Kan dokter bilang harus total rest selama 3 bulan.

Karena ingat kemaren sore tanggal 23 Agustus, Tati lalu meraih telpon yang teletak di samping tempat tidur, lalu mendial nomor telepon rumah Opung, 0217500 sekian sekian..
Gak lama telepon diangkat oleh Opung Tiur, yang sudah datang dari Medan buat menghadiri ultah Opung. Opung Tiur lalu ngasi tau ke Opung BS kalo ada telpon dari Tati. Gak lama telpon diangkat…

Opung BS : “Halo…!!!”
Tati dengan suara becanda : “Selamat sore Opung, ini Sondha. Katanya hari ini ada yang ulang tahun, ya Opung?”
Opung BS dengan suara riang: “Iya…, saya ulang tahun. Ke 83 tahun, Pung.”
Tati : “Selamat ya, Opung. Semoga panjang umur dan sehat2. Waduh, Sondha setengahnya aja belum, Pung.”
Opung BS : “Iya….?.”
Tati : “Opung, maaf ya Papa gak bisa menghadiri ulang tahun Opung. Papa masih harus istirahat dulu.”
Opung BS : “Iya, kalian rawat Papamu itu baik2 supaya sehat lagi. Jangan kasi lasak2, ya Pung?”
Tati : “Iya, Pung. Mudah2an tahun depan Opung panjang umur, Papa panjang umur, kita semua panjang umur dan ada rezeki, kami akan datang saat Opung ulang tahun. Janji, Opung.”
Opung BS : “Iya lah Opung. Baik2 kau, ya. Terima kasih sudah telepon Opung, ya,. Horas..!!!”
Tati : “Iya Opung. Horas…”
Klik telepon ditutup.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun ke 83, ya Opung. Semoga Panjang Umur, Sehat2 selalu. Mudah2an ada rezeki, kita bisa jumpa lagi… Amin. ***

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,649 other followers

%d bloggers like this: