Bagaimana Baiknya, Ya…?

Di lingkungan kerja kita sering kali berhadapan dengan berbagai macam manusia… Perbedaan latar belakang keluarga, budaya, lingkungan pergaulan menyebabkan perbedaan yang seringkali mengagetkan, terkadang lucu dan bisa juga menyebalkan.. Ini beberapa pengalaman yang mengagetkan Tati di kantor yang baru…

Saat baru masuk ke kantor baru, suatu hari Tati disuruh salah satu pegawai yang udah lebih lama di situ buat bikin surat. Tati sebenarnya jarang banget ngonsep surat pake tulis tangan, karena biasanya langsung bikin aja di komputer atau laptop. Tapi karena waktu itu statusnya masih anak baru, yang baru terhitung hari di kantor, Tati gak bawa laptop ke tempat kerja.. Takut dipikir, sombong dan sok gaya… So, waktu disuruh ngonsep, ya Tati coret2 aja di selembar kertas..

Setelah selesai dan Tati tunjukin ke si ibu yang ngasi kerjaan, Tati disuruh ngetik itu surat. Karena gak bawa laptop, Tati terpaksa pake komputer yang ada di ruangan kerja (kalo komputer di kantor siyy, ya asset kantor lah yaa.. bukan milik pribadi seseorang). Tati lalu menghampiri sebuah komputer yang lagi gak dipakai di ruangan tersebut. Ternyata di-password.

Tati lalu bertanya pada salah seorang teman baru yang memang selalu duduk di depan komputer tersebut. Dia masih muda banget dibanding Tati.

Tati : Saya mau pake komputer, tapi komputer-nya di-password. Apa ya passwordnya?

Teman baru, dengan nada ketus yang mengagetkan.. : Mau ngapain?!!!!!!!

Tati : Saya disuruh ngetik surat.

Teman baru itu lalu menghampiri komputer tersebut, memasukkan password, lalu pergi.

Ya ampun, Tati dianggap orang baru yang belum boleh menyentuh peralatan di kantor tersebut. Padahal Tati jauh jauh jauh lebih senior dari teman baru tersebut, sementara dia adalah anak honor yang baru setahun kerja di kantor itu. Dia gak masuk data base Pegawai Honor yang secara bertahap akan diangkat jadi PNS. Masih bisa diberhentikan dengan mudah oleh pihak yang berwenang di kantor.

Kejadian yang sama berulang 2 kali dengan orang yang sama… Saat itu Tati cuma diam, gak bereaksi apa2 terhadap tingkahnya. Tati cuma mengelus dada dan dalam hati berkata, “Aku sudah tua, lebih senior pula., dan aku masuk ruangan ini kan karena ditempatkan di sini. Kok dia gak mikir, ya..?”

Belakangan Tati akhirnya malah melihat bahwa si teman tersebut ternyata benar2 orang muda yang “perjalanannya belum panjang”… Dia suka bersikap seenaknya sama teman2 yang dia pikir “gak ada apa2nya”. Padahal teman yang dia pikir “gak ada apa2nya” itu kedudukannya di lingkungan kantor jauh lebih kuat, karena udah diangkat jadi PNS dengan masa kerja sekian belas tahun jadi pegawai honor. Sementara si teman yang suka bersikap seenaknya baru setahun jadi anak honor… What a shallow person..!!

Kemaren ada kejadian lagi… Ada seorang teman, yang lain lagi. Tapi yang ini udah PNS, usianya lebih muda sekitar 8 tahunan dari Tati & juga lebih pendek masa kerja-nya dari Tati. Hubungan kita gak dekat2 amat. Biasa2 ajalah hubungannya, cuma sesekali ngobrol di lingkungan kantor. Topik pembicaraan juga cuma sekitar kantor, gak lebih. Jadi kayaknya juga belum pantas buat becanda semberengan deeh..

Kemaren dia datang ke ruangan karena ada urusan dengan atasan Tati, ngurus administrasi keuangan dari kegiatan yang mereka kelola. Jadi gak ada hubungannya dengan Tati.. Tati saat itu sedang asyik di depan laptop, membuat telaah staff terhadap suatu usulan kerjaan. Tiba2.. si teman yang lebih muda ini berjalan ke arah Tati dengan ketawa-tawa ngakak dan berkata : Punya materai gak…? Kalau gak punya, aku tekek (jitak bahasa Minang) kepala kau…!!

Tati kaget dengan bahasanya. Mungkin maksudnya siyy becanda.. Tapi pemilihan katanya itu lho.. Kok kayak orang gak tau bagaimana harus berbicara dengan orang yang lebih tua? Kepala itu kan anggota tubuh yang paling dihormati dalam tata krama berbahasa. Kalo dia bilang mau menjitak kepala Tati, itu artinya eksistensi diri Tati gak ada “harga”nya di mata dia. Weiiitttssss…, tunggu dulu. Siapa dia..? Emang gue udah bikin apa sampe gak punya “harga” di mata dia? Emang dia udah bikin apa sampe bisa menganggap gue gak ber”harga”? Tati rasa Tati gak punya hak untuk sombong dalam hidup.. Karena semua yang ada di diri Tati bukan punya Tati. Semua cuma pinjaman dari Sang Maha Pemilik. Tapi, ya gak mau juga lah pinjaman dari Sang Maha Pemilik ini dilecehkan… Kalo dia bilang “ntar kakak saya cubit..!” siyy masih lucu… Lagian dia cari materai ke Tati, yang bukan orang administrasi keuangan, ya kecil lah kemungkinan untuk ada.

Saat kejadian itu, Tati hanya diam dan menunjukkan wajah datar.. Tati berharap “wajah datar tanpa ekspresi” Tati bisa menyampaikan pada teman tersebut bahwa Tati keberatan dengan pilihan kata2nya..

Menurut teman2, gimana baiknya ya ngadapin teman2 kita yang seperti ini…? Hal seperti ini merupakan small stuffs di kantor, tapi tetap aja menimbulkan rasa gak nyaman saat terjadi…

Lalu ada kejadian yang “makna”nya lebih berat lagi.

Seorang teman yang suka ngobrol dengan Tati, yang tahu upaya Tati untuk lebih hati2 dalam melangkah, minta dimasukkan namanya dalam Surat Perjalanan Tugas (SPT) yang udah di-approve boss besar buat Tati dan seorang senior di kantor. Kita rencananya minggu depan akan pergi ke luar kota untuk konsultasi ke sebuah lembaga pusat kajian mengenai suatu pekerjaan. Ceritanya, teman Tati ini lagi diserahi tanggung jawab yang luar biasa besar, tapi belum kelihatan duitnya. Dia berharap kalau dia disetujui untuk masuk dalam SPT tersebut, dia bisa mendapatkan uangnya tanpa harus ikut berangkat. Dan dia udah menyampaikan keinginannya pada si senior yang akan berangkat dengan Tati, dan si senior sudah setuju.

Wadduuuhhhh.., Tati gak pengen ikutan dalam urusan yang begini… Tati bingung mesti gimana.. Di satu sisi Tati ngerti kalo mungkin teman Tati ini lagi BU, butuh uang.. Tapi apa kah memang gak ada jalan lain untuk mengetuk pintu rezeki? Entahlah…

Yang bisa Tati lakukan adalah menelpon teman tersebut, lalu mengatakan bahwa kalo dia mau seperti itu, mohon dia menambahkan sendiri namanya di draft SPT. Nanti suratnya dititip aja di ajudan untuk ditandatangani Boss. Dengan demikian Tati berharap Tati tidak terlibat..

Astagafirullahaladzim, ternyata baru ini yang bisa Tati lakukan dalam menghadapi hal-hal yang “ajaib” dalam di dunia kerja… Tati masih belum bisa mencegah dengan tangan, belum bisa mencegah dengan lisan…

Kalo sama teman yang begini, gimana ngomongnya ya…? Kan gak enak juga kalo sampai dikatain “Sok alim, lu… Kayak gak pernah bermain aja..!!” Waddduuuhhhh… gimana ya supaya teman gak tersinggung?

pics diambil dari http://www.fotosearch.com/photos-images/question-mark.html

Penyanyi kamar Mandi, Return..

Setelah beberapa bulan (persisnya 4 bulan kurang 7 hari), Tati mulai bisa melihat situasi percaturan di dunia baru.. Terus terang…, mengagetkan.. Kadang2 rasanya seperti sedang di Texas, karena banyak cowboy berkeliaran.. Kadang serasa lagi di hutan karena seakan2 no rules.. Padahal tau sendiri, di dunia pemerintahan peraturannya kan di sekeliling pinggang dan di sekujur tubuh… Kok bisa serasa gak ada aturan?

Tapi yang paling membuat kepala Tati berdenyut2 karena Tati harus menjalankan pekerjaan yang perencanaannya tidak terencana… Waaaaaddduuuuuuhhhhh… Gimana mo njalaninya, wong ra genah..! Belum lagi harus berurusan dengan orang2 yang so far di mata Tati hati mereka tuh terlihat baik dan tulus, tapi leletnya minta ammmmmpuuuuunnnnn… Seakan2 kata “tenggat waktu” enggak ada dalam semesta pemikirannya.. Udah gitu, gak berani pula menyampaikan hal2 pahit yang harus disampaikan ke pihak yang lebih tinggi.. Tinggal lah daku yang harus bersabar manarik2 beliau untuk melangkah sesegera mungkin… Tinggal lah daku menerima sindiran boss tentang kerjaan yang gak maju2…. Wayawayawaya….

Keadaan ini membuat pagi hari menjadi tidak menyenangkan karena mikirin gimana caranya supaya ada kemajuan dalam pekerjaan.. Sedangkan sore hari saat keluar kantor merupakan saat Tati merasa lega sesaat… Tapi Tati harus bisa menerima keadaan dan menganggap ini adalah sebuah tantangan.. Lagian dimana siyy di dunia ini ada pekerjaan yang 100% enak dan nyaman… Cuma ya itu… Tati tiap pagi harus berjuang mengalahkan rasa enggan yang ada di diri…

Tadi pagi, seperti biasa Tati berangkat kantor dengan rasa ogah2an.. Berangkat dari rumah jam 07.05 wib. Entah mengapa Tati pengennya muter album Yovie dan Nuno.. Nah pas lagu kedua, Menjaga Hati, mengalun… Tati lalu ikutan nyanyi… NYANYI SEKENCANG-KENCANGNYA…

Tati pikir sbodo amat…. Kan di dalam mobil., siapa juga yang dengar suara Tati yang yahuuuddddd… ? Hehehe… Gak lama, Tati tiba2 MERASA RINGAN, MERASA RILEKS…. RASA BERAT HATI MENUJU KANTOR HILANG… Saat sampai di parkiran, lalu berjalan menuju kantor, rasanya Tati melenggang dengan riang… Subhanallah… TERNYATA OBAT PERIANG HATI ITU GAK SUSAH… CUKUP KEMBALI KE KODRAT… KODRAT sebagi PENYANYI KAMAR MANDI.. Hehehe… So, bukan cuma Batman yang bisa return… Penyanyi Kamar Mandi juga bisa lho…!!

Yess.. DOING “WHAT YOU LOVE TO DO” IS ALWAYS ABLE TO CHEER YOU UP…

A Belated Birthday Wish For Mia…

Beberapa hari yang lalu Tati baru ingat kalo tanggal 17 May 2008 yang lalu, Palmira Permata Bachtiar alias Mia, salah satu sahabat terdekat Tati masa kuliah di Bogor, ultah ke 41..

Beberapa tahun terakhir, sejak Mia pergi ke Belanda buat ngambil PhD-nya kita cuma kontak by email. Itu pun jarang banget.. Masing2 sibuk dengan kehidupannya masing2. Saat ini Mia udah kembali ke Jakarta, tapi komunikasi kita tetap aja cuma by email or MP.

Tati lalu mendrop a birthday wishes di Multiply-nya Mia, tapi kok kelihatannya MP Mia gak di-update sejak beberapa waktu yang lalu… Tati lalu memutuskan buat nelpon.. tapi kayaknya Tati udah gak punya catatan nomor telpon rumahnya di Kompleks Kodam Jatiwaringin, Jakarta. Tati berusaha membongkar memory di otak untuk mengingat nomor tersebut.. Lalu keluar lah nomor 021-861 sekian sekian.. Tapi rasanya ragu… Enggak yakin..

So, sore ini Tati nyoba menghubungi nomor tersebut.. Setelah sekian kali nada panggil, telpon diangkat.. dari sana terdengar suara yang lembut dan ramah.. Suara TANTE JANE, mama-nya Mia.

Tante Jane : Halo…

Tati : Selamat sore, Mia-nya ada Tante..?

Tante Jane : Mia lagi ke NTT, ini siapa ya?

Tati : Ini Sondha, Tante Jane..

Tante Jane : Ya ampun Sondha, kamu kemana aja…? Bertahun-tahun Tante gak pernah dengar kabar kamu? Kamu sudah gak ingat Tante, ya? Sudah gak mau lihat Tante lagi ya?

Tati : Enggak Tante. Terakhir2 kalo ke Jakarta waktu-nya selalu singkat, cuma 2 atau 3 hari.

Tante Jane : Ya sudah, kalo kamu ke Jakarta kamu nginap di sini aja. Dana dari kantor yang untuk bayar hotel bisa kamu simpan..

Tati : Hehehe… Mau-nya siyy begitu Tante. Tapi kalo ke Jakarta kan sering kali juga sama teman2 kantor. jadi ya gak bisa nginap2 sendiri.

Tante Jane : kalo gitu kamu liburan lah ke sini…

Tati : Karena Mama agak kurang sehat hampir 1 1/2 tahun terakhir, Sondha hampir gak pernah liburan ke Jakarta akhir2 ini Tante. Lebih sering pulang ke Medan kalo libur atau long weekend. Ke Jakarta lebih sering karena tugas. Mudah2an segera ada kesempatan, ya Tante.. Saya bisa minta no telpon Mia, Tante ?

Tante Jane : 0816 sekian sekian. Kamu hubungi lah Mia, dia akan senang sekali…

So, setelah memutuskan hubungan telepon dengan Tante Jane, Tati mendial nomor hp Mia… Setelah beberapa nada panggil…

Suara dari sana : Hallooo…..

Tati : Mia, apa kabar…?

Mia : Siapa ini… Sondha, ya?

Tati : Selamat ultah, ya Mi.. semoga panjang umur dan sehat. Gue baru ingat ultah lu beberapa hari yang lalu. Terus gue drop pesan di MP lu. tapi kayaknya lagi gak di-update2.. Apa kabar ?

Mia : Thank you ya. Kabar gue baik. Gue lagi di NTT, jadi-nya MP gue gak di-update2..

Tati : Gue nemu beberapa photo kita di 2 kali ultah lu. satu yang di restoran yang di depan Fakultas Peternakan Jl. Gunung Gede Bogor. Gue gak ingat lagi apa nama resto-nya. Yang sekali lagi di rumah lu, di Jakarta. Lu masih punya photo2 itu..?

Mia : Masih, gue masih punya.

Lalu Tati dan Mia ngobrol beberapa menit tentang perjalanan hidup kita beberapa tahun terakhir, baru mengakhiri pembicaraan dengan janji untuk keep contact.

Sekali lagi, Selamat ultah ya Mia.. Wish you all the best… Ini beberapa dari sekian pics ultah lu yang gue temuin di tumpukan pics jadul gue…

Makan2 ultah ke 20 Mia. Menghadap kamera, ki – ka : Mas Papang, Sondha, Mia dan Opi (sekarang istri Mas Papang).

 

Mengahadap kamera, ki – ka : A-am (si muke baby), mas… (lupa namanya), kak Andri, kak Ismet.

makan2 ultah Mia ke 22 (kalo gak salah). Ki – ka : Kak Sigit, kak ismet, Mia, Sondha, Miko, kak Andri dan Roy (adik Mia)

 

Ki – ka : Riza, kak Sigit, kak Lexy, Sondha dan Mia

 

The 5 Trouble Makers in Cirahayu 4 (kalo Mas Papang bilang, the Gremlins). Ki – ka : Ambriana Novitri Sawil (Opi), Mikosari, Sondha Monalisa Siregar, Palmira Permata Bachtiar (Mia), Riza (siapa ya nama lengkapnya, kok Tati lupa..)

Nonton Bareng "Apa Kata Dunia?" …..

Di awal minggu ini Tati nelpon Venny, secara udah 2 minggu kita gak ketemu setelah pergi nonton Tarix Jabrix di suatu minggu sore.. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kita janjian buat Nonton Nagabonar di akhir pekan kali ini.. Tati pengen nonton, setelah ngeliat berita tentang adanya upaya memproses film Nagabonar lama menjadi layak tayang di masa kini…

Eh, dua hari yang lalu Venny nelpon, ngasi tau kalo dia dapat dari Mamanya 2 (dua) tiket Nontong Bareng Nagabonar dengan Gubernur Riau hari Sabtu, 24 Mei 2008 di Riau 21. So, kita bisa nonton film yang kita inginkan dengan gratizzz…. Asyyiikkk….!!!

So, kemaren sore Tati pergi deh dengan Venny ke Mal Seraya tempat dimana Riau 21 berada… Nyampe sana.., ternyata ada boss Tati dan keluarganya juga.. Ternyata, untuk sore ini pemutaran film Nagabonar di studio 1 Riau 21 memang di-block oleh Pemerintah Provinsi Riau dalam rangka memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, dan tiketnya dibagi2kan ke masyarakat..

Beberapa menit menjelang jam 17.00, Gubernur Riau bersama beberapa pemeran tokoh2 di film tersebut, antara lain Dedi Mizwar (Nagabonar), Nurul Arifin (Kirana) dan Afrizal Anoda (si Bujang yang mati dimakan cacing), muncul di lobby bioskop. Tampak hadir juga Mi’ing Bagito dan seorang pelawak yang kerap muncul di TV tapi Tati gak ingat namanya..

Setelah didahului dengan kata sambutan Gubernur, yang telah direkam sebelumnya, acara nonton dimulai..

Film ini benar2 jadi makin asyik buat ditonton.. Apalagi sound-nya jadi luar biasa setelah memanfaatkan teknologi saat ini. Ada di suatu scene, saat Emak si Nagabonar memanggil2 anaknya yang “jendral”, suara si Emak yang cempreng muncul dari speaker yang berada di belakang penonton, sehingga kesannya suara itu datang dari luar layar yang sedang menayangkan gambar Nagabonar.. Kerja yang luar biasa dari pihak yang memproses ulang film ini…

Buat Tati, ada rasa tersendiri menonton kembali film ini. Saat film ini dibuat tahun 1987, adalah masa2 Tati masih mahasiswa dan tergila2 dengan yang namanya bioskop. Masa dimana hampir tiada minggu yang tidak diisi dengan acara nonton. Tati udah gak ingat di bioskop mana Tati menonton film ini.. Entah di bioskop Sukasari atau di Galaxy-Century Tajur. Juga entah dengan siapa…

Kalo dulu rasanya film ini dimata Tati adalah film humor dengan setting perang kemerdekaan, dengan tokoh pencopet yang dodol dan menjadi pahlawan karena situasi perang. Kali ini Tati melihat bahwa Nagabonar adalah tokoh yang cerdas, punya hati dan sensitif dibalik segala ke-dodol-annya.. Naga adalah sosok cerdas yang gak makan sekolahan tapi jauh lebih cerdas dari anak buahnya yang makan sekolahan (Tati lupa siapa nama tokoh yang diperankan oleh Wawan Wanizar ini). Nagabonar juga mewakili sosok yang gak makan sekolahan tapi jauh lebih punya hati dari anak buahnya yang makan sekolahan tapi otaknya lebih mikirin keuntungan pribadi di zaman susah, dengan bisnis beras dan muasin syahwat sehingga menyebabkan anak gadis orang hamil di luar nikah. Semoga tokoh Nagabonar bisa menjadi cerminan bagi kita2 generasi Indonesia saat ini yang jauh lebih makan sekolahan dari pada Nagabonar, agar kita bisa menjadi lebih cerdas dan punya hati dalam berpikir dan bertindak…

Aktingnya Dedi Mizwar di film ini memang luar biasa… Salut banget… Bahasa tubuhnya bener2 menghidupkan sosok Nagabonar sehingga benar2 terlihat dodol banget.. Sekali lagi salut buat abang kita yang satu ini.. Semoga beliau diberi umur yang panjang, keteguhan hati dan energi yang besar untuk berperan dalam menjayakan film Indonesia kembali. Sehingga industri film kita tidak hanya memproduksi film2 hantu dan komedi sex (mengutip kata2 Dedi Mizwar dalam sambutannya).

Tapi di sisi lain, Tati mikir apa masih ada ya sosok dengan pikiran seperti Kirana di masa sekarang, di masa tuntutan akan “penampilan” dan materi yang semakin kuat..? Mudah2an masih ya.. Mudah2an manusia2 Indonesia bisa menjadi manusia 2 yang bisa membaca dengan hati, tidak sekedar melihat segala sesuatu dari cover-nya…

Puas dengan film yang luar biasa ini, para penonton memberikan standing ovation bagi para pendukung film yang hadir dalam acara nonton bareng ini. Mereka didampingi Gubernur Riau maju ke bagian depan studio, untuk menerima penghormatan dari penonton. Dedi Mizwar dalam kesempatan ini menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Riau yang sudah mendukung upaya menghidupkan kembali industri film Indonesia. Dan menurut Dedi bukan tidak mungkin suatu saat Riau akan bisa menjadi salah satu daerah di Indonesia yang berperan besar di dalam industri film Indonesia.

Waduh gimana reaksi Nanda (besar) kalo denger omongan Dedi Mizwar ini ya…? Sorry ya Nan, Tati nonton bareng sama tokoh idola Nanda, di Pekanbaru pulaaa…. Hehehe..


Selamat Ulang Tahun Papa..

Our beloved Papa...

Kemaren Papa ulang tahun ke 70… Rencananya kita akan merayakannya di awal Juli 2008 di Sipirok, saat anak2 libur sekolah, jadi semua anggota keluarga bisa kumpul…

Selamat ulang tahun ya Pa.. Semoga selalu dalam lindungan Alloh, selalu sehat dan bisa menikmati2 hari2 yang menyenangkan.. Semoga masih diberi usia yang berkah, agar kami anak2 Papa bisa membahagiakan Papa…  Semoga kami masih bisa merasakan hari2 dimana kami punya tempat bersandar dalam menghadapi perjalanan kehidupan…

I love you….

Asisten (Tak) Luar Biasa…

Waktu ke Medan beberapa hari yang lalu, Tati sempat nganteri Mama dan 2 orang yang kerja di rumah (mbak Mintje dan Matias) buat bersih2 rumah. Nahh… di satu rak Tati ngeliat kotak yang ketika dibuka ternyata berisi banyak foto2 jadul Tati zaman kuliah di Bogor… Beberapa lembar di antaranya adalah Pics Tati dengan teman2 sesama Asisten Tak Luar Biasa Pengantar Ilmu Kependudukan. Mata kuliah ini diajarkan oleh pak Said Rusli di Fakultas Pertanian di IPB.

Kenapa dikasi istilah Asisten Luar Biasa, ya? Kalo menurut Tati gak ada kok tugas yang luar biasa dalam menjalankan tugas sebagai Asisten di mata kuliah ini… Gak ada yang beresiko tinggi, atau membutuhkan pengorbanan yang besar dalam menjalankan tugas ini. Sebaliknya malah fun2 aja tuh buat kita.. Emang ngapain aja siyy kalo jadi asisten ? Ya seperti asisten dosen biasa… : ngebantuin para adik tingkat saat praktikum, berlatih hitung menghitung rumus2 yang ada di ilmu kependudukan, dsb.

Ada satu cerita seru saat sempat dua semester jadi asisten di mata kuliah ini.. Ceritanya waktu itu ada salah satu praktikan yang punya beban masalah pribadi. Mungkin karena beban pikiran yang udah mbulet…, dia selalu bersikap memusuhi lingkungan.. Sekali waktu, saat para asisten udah membagikan bahan praktikum kepada dia dan juga praktikan2 lain, beliau bukannya mengerjakan tugas praktikum, tapi malah merobek kertas soal yang telah diberikan padanya… Waddduuuhhh…. Teman2 sesama asisten langsung saling larak lirik, melihat reaksi sesama kita terhadap persoalan tersebut.. Lalu salah satu dari kita menghampiri dan memberikan pengertian bahwa yang rugi karena dia merobek tugasnya adalah dirinya sendiri, bukan kita para asisten.., dan kami gak keberatan kalo harus memberi waktu dan perhatian yang extra buat membantu dia memahami pelajaran ini. Mula2 dia diaaaaammmmmm, tapi beberapa waktu kemudian dia menghampiri salah satu asisten dan minta diberikan soal2 tersebut sekali lagi.. Kita ya seneng banget doonnkk…. Alhamdulillah… Btw. dimana praktikan itu sekarang, ya..? Mudah2an dia jadi orang yang sukses ya…

Btw pics ini kan lokasinya di Jurusan Sosek Faperta di Baranang Siang Bogor. Beberapa tahun yang lalu, Tati sengaja ke kampus itu lagi.. Kangen pengen liat lagi… Ternyata bangunan2 di situ udah gak digunakan lagi buat perkuliahan, karena udah pindah ke Kampus Dramaga. Bangunan2 tersebut digunakan buat kantor Pusat Studi apa gitu… Tati merasa ada yang berubah, ada yang hilang… Lorong2 di kampus itu sepi… Jiwa kampus yang dulu mengisi hari2 Tati dan teman2 udah gak ada lagi… kenapa ya…? Setelah Tati pikir2… Kayaknya itu karena gak ada suara gelak tawa dan canda mahasiswa dan mahasiswi yang duduk2 di pelataran menunggu saat masuk kuliah, saat konsultasi dengan dosen dll. Gak ada teriakan2 para trouble maker yang suka semberengan… Hehehe… Ternyata… jiwa kampus itu diisi oleh jiwa2 mahasiswanya…

Saat itu rasanya Tati jadi rindu sama teman2 se-jurusan, terutama teman2 main selama di Sosek (Linda, Idin, Venny dll), terutama para trouble maker yang suaranya selalu bergema ke sepenjuru Sosek. Hehehe. Tati jadi kangen banget sama Linda Omar, teman sekamar di Pangrango 16 dan sekaligus sejurusan, sehingga kita selalu jalan bareng selama saat2 penyusunan skripsi. Saling menemani saat harus berjam-jam bahkan berhari2 menunggu dosen buat konsultasi.. Dimana ya teman2ku itu…? Mudah2an sehat2 dan bahagia ya…

Si Nona Bergigi 1 1/2..

Seperti biasanya kalo Tati ke Medan, bisa dipastikan Nanda akan jadi buntut Wowo-nya… Nah saat ke Medan akhir pekan lalu, begitu nyampe di Medan Jum’at siang, Tati langsung telpon Nanda buat ngasi tau kalo Wowo-nya udah di Medan.. Nanda siyy langsung minta dijemput.. Tapi Tante Po dan Enek bilang jangan dulu, supaya Tati bisa fokus ke ujian WAPERD. So, Nanda baru dijemput hari Sabtu sore di tempat les robotik.

Begitu liat Tati, Nanda langsung menghampiri dan teriak…. “Wowo……………………..!!!!!” Hhhhhmmmmm…..  Hati Tati langsung senang banget rasanya…  Saat Nanda mendekat dan tersenyum, Tati baru ngeliat bahwa putri Wowo ini sedang mengalami proses regenerasi gigi.. Gigi susu bagian atasnya yang satu udah ganti, dan yang satunya lagi SETENGAH, alias baru keluar dan belum penuh… Lucu banget… dan malah bikin Nanda kelihatannya jadi lebih imut-imut… Hehehe..

Kebetulan pas kita main2 di Sun Plaza hari Senin sore, Nanda ngajak Wowo-nya bikin foto di foto box.. Di foto yang satu Nanda berusaha menutupi gigi 1 1/2-nya dengan mingkem abis…. Tapi di foto yang satunya lagi, dia gak bisa menahan senyum manis-nya, sehingga kelihatan deh tuh si gigi yang masih 1 1/2.. Hehehe.. Kalo menurut Tati siyy senyum Nanda kelihatan lebih cantik dengan gigi 1 1/2…

Hmmmmmm dasar emak2… Mau anaknya lagi kayak apa, pasti di mata-nya, di hatinya, di pikirannya, ANAK TERSEBUT ADALAH ANAK YANG TERCANTIK DI MUKA BUMI…. Hehehe…

 

Rezeki….

Sebagai orang yang juga bekerja sebagai freelance marketing Tati juga berurusan dengan yang namanya tenggat waktu, kalo di Manulife istilahnya close off. Terkadang Tati terhege2 juga kalo udah dikejar close off day sementara urusan di kantor juga membutuhkan pikiran yang banyak. Kalo udah gitu kadang2 pikiran stress juga…

Hari ini adalah close off day untuk bulan May 2008 di Manulife. Sejak 2 minggu yang lalu salah seorang kenalan yang Tati prospek sejak 2 bulan yang lalu menyatakan berminat untuk mengambil produk unit link dari Tati. Cuma dia masih butuh waktu buat meyakinkan dirinya bahwa pilihan investasinya ini adalah pilihan yang tepat. Tati lalu memberikan spare time buat beliau supaya keputusan yang dilakukannya benar2 mantap. Namun Tati juga membuat target agar transaksi beliau masuk di bulan ini. Tapi sampai pertengahan minggu lalu, beliau masih belum bisa ngasi keputusan.. Karena harus pergi buat ujian WAPERD ke Medan akhir pekan yang lalu, dan sekaligus mengunjungi Papa dan Mama, maka urusan dengan nasabah ini terpaksa Tati pending sampai pulang dari Medan. Keputusan yang risky banget.. karena anything can happened at anytime… Memang siyy selama di Medan Tati tetap berupaya memberikan pengertian2 yang mendorong kenalan tsb bisa segera mengambil kepurusan.

So begitu nyampe Pekanbaru kemaren, Tati mengirim sms kepada kenalan tersebut untuk membuat janji jam berapa Tati bisa datang menemui beliau hari ini. Tapi tak satu sms pun dijawab. Tadi pagi Tati mencoba kembali menghubungi, tapi gak dijawab, meski berkali2 ditelpon. Pikiran negatif mulai menyerbu pikiran, tapi Tati mencoba bertahan untuk berpikir positif dan tetap berusaha menghubungi. Sekitar jam 13-an baru telpon tersebut diangkat, oleh ibundanya. Ternyata hp beliau ketinggalan di rumah. Ooaaaallllllaaaaaaaaahhhhhh…. Pantas gak diangkat2. Tati lalu mencoba menghubungi nomor telepon kantornya, ternyata beliau lagi online. Sekali lagi Tati belum mau menyerah… Jam 13.30 Tati mencoba kembali menelpon, ternyata beliau sendiri yang menerima dan beliau mempersilahkan Tati untuk datang ke kantornya untuk memproses transaksi.

Tati langsung pergi ke kantor beliau dan sampai di sana sekitar jam 14-an.. Setelah memeriksa kelengkapan berkas beliau, Tati langsung mengarahkan mobil ke BCA, karena kalo mau terhitung sebagai transaksi bulan May, premi sudah harus ditransfer hari ini. Saat sampai di depan BCA jam di dashboard mobil menunjukkan jam 14.55. Waddduuuhhh, jam operasional BCA kan cuma sampai 14.30.. Tati jadi deg2an. Ternyata BCA masih buka, dan Tati dipersilahkan bertransaksi. Kayaknya Tati adalah nasabah terakhir hari ini di BCA Juanda Pekanbaru, karena begitu Tati masuk, pintu bank ditutup oleh satpam sebagi tanda tidak menerima nasabah lagi.

Melihat apa yang terjadi hari ini, Tati pikir luar biasa banget ya yang namanya REZEKI.. Alhamdulillah. Selagi itu memang rezeki kita, akan ada aja caranya sehingga terealisasi… Di sisi lain, kitanya juga harus berjuang tanpa rasa putus asa dan melawan pikiran negatif sehingga tidak membelenggu diri dan menghentikan usaha kita.. WHAT A GREAT LESSON…

Terima kasih atas rezekinya ya Allah, terima kasih juga akan pelajarannya…

Coba Lihat Langit di Luar Sana…

Postingan seorang teman membuat Tati ingat pada suatu masa.. Ketika di suatu malam tanpa ada preambul seorang lelaki yang masih ada hubungan kerabat tapi tinggal di kota yang berbeda mengirimkan sms yang berbunyi : “Dek, coba lihat langit di luar sana, indah kan?”

Asli, Tati terpongok bingung bin gak ngerti kamsud nya sms ini apa. Orang ini tidak pernah menyapa Tati dengan “dek”, biasanya selalu memanggil nama. Dengan cuek dan sablenk Tati balas : “Maksudnya apa niyyy? Salah kirim, ya?”

Beliau : “Cobalah lihat ke luar rumah. Lagi bulan purnama juga kan di sana? Indah bukan?”

Waaaddddduuuuhhhh, makin gak ngerti ajah niyyy.. Tapi kok hati jadi ketar ketir ya?

Tati : “Saya lagi di dalam rumah, lagi nonton TV, dan malas banget keluar rumah. Ada apa ya?”

Beliau lagi : “Kamu kok gak ngerti sih? Atau pura2 gak ngerti..? Saya pengen bicara serius dengan kamu. Cobalah untuk mengerti perasaan saya”

Tati : “Saya gak ngerti. Kamu mau ngomong apa?”

Lagi2 beliau : “Kamu mau gak jadi istri saya? Membantu saya mengurus anak2 saya..?”

Guubbbbbbrrrrrrrrraaaaaaaakkkkkk…… Tati kaget banget…. Jantung serasa mau copot. Secara Tati menganggap beliau udah seperti saudara. Gak kepikir punya hubungan di luar yang ada selama ini… Tati ngerti hidupnya cukup rumit dan berat karena harus mengurus 2 anak perempuan yang sudah mulai remaja setelah beberapa tahun yang lalu dia memutuskan berpisah dengan mantan istrinya.

Tati : “Kita tuh udah kayak adik beradik, lho. Saya gak kepikiran punya hubungan di luar yang sudah ada.”

Beliau : “Tapi kamu juga belum menikah di usia segini, kan? Apalagi yang kamu tunggu? Saya percaya kamu akan bisa menjadi ibu yang baik buat anak2 saya.”

Sekali lagi guuuubbbrrrrrraaaaakkkkkk….. Tati yang dodol abis begini…? Aihhh mata ini orang kemana siyyy? Masa dia gak tau kalo Tati tuh dodol surodol…? Tapi sebagai orang yang udah mulai tua, Tati berusaha menjawab sebijak tidak mungkin…

Tati : “Terima kasih kamu udah percaya dengan saya. Saya merasa sangat dihormati, tapi saya gak punya perasaan yang lebih buat kamu. Lagi pula ada suatu perbedaan yang sangat mendasar di antara kita. Sesuatu yang gak bisa ditawar-tawar menurut saya. Kamu tau tentang itu kan?”

Beliau : “Kalau perbedaan yang itu, saya tahu. Tapi saya pikir kamu akan bisa berubah dan mengikuti jalan saya.”

Sekali lagi gubraaakkkk… gubraaaakkkk…. gubbbbrrrrraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk…. Subhanallah, ini cobaan, ini ujian buat Tati. But, he really2 doesn’t know me…

Tati : “Kamu berarti gak kenal dengan saya. Cobalah mengerti saya, pilihan hidup saya. Percayalah kamu akan menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari saya, yang lebih cocok dengan kamu.”

Beliau : “Kalau kamu saja, yang saya udah lihat bisa dekat dengan anak2 saya, gak mau jadi istri saya. Perempuan mana lagi yang bisa saya percaya untuk mendampingi saya dan mengurus anak2 saya? Perempuan mana lagi yang bisa bikin saya yakin dia gak akan menghianati saya, menyakiti saya dan anak2 saya? Saya pikir saya tidak akan menikah lagi kecuali dengan kamu”

Tati : “Mohon mengertilah tentang saya. Jangan pojokkan saya dengan keinginan kamu. Tetaplah menjadi saudara laki-laki buat saya.”

Beliau : “Saya benar2 kesepian dan butuh perempuan yang saya yakin bisa menjadi istri saya, ibu anak2 saya. Dan saya yakin perempuan itu kamu”

Tati benar2 gak yau mau balas apa sms terakhir itu… So, obrolan by sms malam itu terputus sampai di situ, tapi masih ada beberapa komunikasi senada by phone dalam beberapa bulan. Butuh waktu untuk meyakinkan beliau bahwa akan ada perempuan lain yang lebih sesuai baginya. Butuh waktu untuk “memaksa” beliau menerima pilihan hidup Tati, pilihan akan sesuatu yang sangat esensial dalam hidup.

Semoga beliau segera menemukan pasangan yang tepat bagi dirinya dan bagi anak2nya.. .

Dan semoga Alloh selalu berkenan melindungi Tati, memberikan hidayah untuk berjalan di jalan yang dikehendaki-Nya. Semoga Alloh berkenan memberikan pasangan hidup yang akan membawa Tati menjadi hamba Alloh yang lebih baik. Amin ya Rabbal Alamin.

Masih Tentang Nai Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang…

Postingan Tati yang ini, yang aslinya diposting di sini, kayaknya jadi punya cerita yang panjang niyy..

Setelah di-reposting di Toba Dream oleh Raja Huta, ternyata juga dihubung-hubungkan dengan suatu yang “hipotesis yang ajaib” oleh seseorang yang “luar biasa pelupa”. Tati mengasumsikan orang tersebut “luar biasa pelupa”, dari pada berburuk sangka menuduh beliau memang menyembunyikan identitasnya. Karena orang tersebut ingat untuk menulis comment di postingan ini tentang sesuatu hal secara begitu panjang lebar, tapi dia lupa menulis identitasnya. Mudah2an beliau memang lupa, bukan lempar batu sembunyi tangan setelah dengan menebar isu chauvinism tak berdasar melalui blog Tati.

Dengan sepenuh hati Tati sampaikan, postingan ini gak ada tujuan mendiskreditkan varian2 Batak yang lain. Tulisan ini hanya Tati buat berdasarkan rasa dan pikiran yang ada pada Tati selama ini.. Dengan segala kerendahan hati Tati mohonkan maaf..

Tati di usia muda sebenarnya gak peduli dengan “kebatakan” Tati. Karena tidak merasa itu sebagai sesuatu yang istimewa, yang luar biasa. Apalagi di keluarga, ortu sebagaimana para lelaki Batak meski sayang banget sama boru-nya tapi kan cenderung gak eskpresif, malahan cenderung terlalu protektif. Akibatnya di usia belia Tati terkadang mikir, “Gue disayang atau cuma dijaga supaya gak melanggar segala keinginan, cita2 dan mimpi para ortu, ya?”. Sementara kalangan Batak yang ada di lingkungan tempat tinggal (setelah pindah rumah ke daerah Sukajadi-Pekanbaru), yang Tati lihat sebagian besar adalah kalangan Batak yang ngomong “suke2 die” (kata orang Melayu), dengan suara yang kencang pula.  Seakan gak mikir perasaan orang. Bahkan sebagian dari mereka menghabiskan waktu di lapo tuak yang menjual tuak dari kelapa dan juga menjual masakan berbahan “biang”, yang buat kerabat Tati tidak tergolong bahan makanan.

Butuh waktu untuk memahami cara mencintai para orang tua berdarah batak pada anak cucunya.. Butuh perjalanan yang panjang untuk memahami bahwa orang batak itu punya integritas pribadi yang luar biasa, punya komitmen yang kuat tentang upaya memajukan generasi penerus…

Masa kecil Tati sama sekali tidak didominasi oleh budaya Batak. Tati besar di lingkungan yang majemuk. Meski di lingkungan rumah di kompleks Gubernur Pekanbaru cukup banyak orang Batak, tapi keluarga kami lebih dekat dengan keluarga Hasan Basri yang orang Payakumbuh. Anak2 keluarga Hasan Basri ikut membantu mengurus Tati hari ke hari. Kami juga dekat dengan orang2 Melayu, bahkan Tati seringkali menghabiskan akhir pekan di acara2 pernikahan keluarga Melayu.

Begitu pun saat menjalani kehidupan di Kampus Rakyat Tati lebih cenderung untuk tidak berkumpul dengan orang2 Batak. Gak ada alasan spesifik kenapa begitu. Kayaknya hanya karena berasal dari Riau, Tati lebih cenderung ikut perkumpulan mahasiswa asal Riau yang sebagian anggotanya Tati kenal, karena mereka teman atau kakak kelas sejak di Sekolah Dasar. Tapi itu pun gak mendominasi hari2 Tati. Saat itu Tati lebih berpikir untuk mengenal kehidupan yang lebih dari yang pernah Tati ketahui. Bergaul dengan teman2 dari daerah lain, dengan latar budaya yang berbeda untuk memperkaya wawasan. So, teman2 Tati saat itu lebih banyak anak2 bukan Batak dan bukan Riau.

Upaya untuk memahami tentang keluarga yang keturunan Batak muncul saat keluarga mengadakan upacara Upah2 ketika Tati lulus S1. Di acara itu para orang tua menyampaikan selamat atas apa yang udah Tati capai, sekaligus mengingatkan bahwa apa yang Tati capai dalam hidup Tati sebenarnya hanya sebagian kecil saja yang merupakan hasil perjuangan Tati. Selebihnya adalah hasil jerih payah orang tua dan generasi demi generasi sebelumnya. Alhamdulillah keluarga Tati adalah keluarga yang peduli dengan kemajuan anak cucunya. Dan kepedulian mereka terbentuk dari ajaran generasi sebelum mereka, yang berdarah Batak.

So, kenapa Tati tidak harus bangga menjadi orang Batak? Mungkin istilah yang lebih tepat adalah tidak merasa malu menjadi orang Batak, dan menghargai leluhur atas apa yang sudah mereka lakukan buat kita. Tapi tentu saja bukan bangga yang berlebihan, yang melahirkan chauvinism tak berdasar. Karena etnis lain pun pasti punya kelebihan juga, yang justru mungkin bisa membantu kita menjadi orang-orang yang lebih baik. Kayaknya pikiran ini sejalan dengan semangat nasionalis yang sedang digaungkan kembali dalam rangka Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Lagi pula semua manusia sama di mata Alloh SWT, yang membedakannya hanyalah iman dan ketaqwaannya kepada Alloh SWT. Bukan begitu teman-teman?