Keberagaman di Kampus..

ira.jpgTulisan ini diinspirasi oleh aktivitas Ira, ponakan Tati, akhir2 ini… Nona yang satu ini sekarang kelas 3 SMU, sedang siap2 buat ujian akhir, dan itu artinya doski juga mulai nyari2 tempat kuliah.. Secara Nona yang satu ini doyannya masak dan gosip2i.., doski pengennya kuliah di bidang kuliner atau klo enggak di bidang komunikasi..

Hari Sabtu yang lalu.. sore2 sekitar jam 16-an Ira pergi ke sekolahnya lagi buat ujian masuk universitas swasta terkenal di Yogyakarta. Dia milih fakultas komunikasi (klo gak salah). Buat ikut ujian itu setiap peserta harus membayar Rp.150.000,-. Menurut Tati itu masih wajar lah.., secara universitas itu kan sekolah swasta. Dan klo petugasnya pelaksananya juga datang dari Yogya kan butuh biaya transportasi dan akomodasi yang gak sedikit..

Beberapa hari sebelumnya Ira juga ikut ujian masuk salah satu universitas negeri di Jawa Barat. Ira ujian untuk masuk fakultas komunikasi. Nah untuk ikut ujian masuk yang diselenggarakan di Pekanbaru ini, setiap peserta harus bayar Rp.500.000,- Bayangin…., buat ujian masuk aja mesti bayar Rp.500.000,-. Terus gimana donk dengan anak2 dari keluarga yang pas2an atau bahkan anak2 dari keluarga ekonomi lemah…? Mana bisa ikut ujian…

dsc00059.jpgHal ini membawa pikiran Tati ke pertengahan tahun 2004… Waktu itu Olan, abangnya Ira, lulus di fakultas teknik sipil di universitas negeri di kota gudeg. Olan lulus ujian masuk yang diselenggarakan perwakilan universitas tersebut di Pekanbaru. Untuk registrasi sebagai mahasiswa Olan harus membayar sekitar Rp.13 juta-an. Sebenarnya siyy Olan pengennya kuliah di institut teknologi negeri terkenal di kota kembang. So, dia juga ikut ujian masuk institut tersebut. Ujiannya di kota kembang. Naah.., pengumuman lulus ujian masuk institut tersebut dijadwalkan setelah masa registrasi universitas yang di kota gudeg. Olan kebingungan… Kalo gak daftar, takut ternyata gak lulus di institut teknologi. Mau daftar takut uang Rp.13 juta-an melayang, karena kalo membatalkan uang registrasi tidak bisa ditarik kembali.

Keluarga mendorong Olan untuk melakukan registrasi di universitas di kota gudeg karena dia kan belum tentu lulus di institut teknologi di kota kembang. Ternyata Olan juga lulus di institut teknologi impiannya itu… Dan untuk registrasi di institut tersebut Olan dikenai biaya hampir Rp.40 juta. Nahhhh Olan benar2 kebingungan deeh… Dia gak mau kehilangan uang Rp.13 juta-an. TIGA BELAS JUTA RUPIAH… lebih kurang sama dengan gaji setahun Pegawai Negeri Sipil Golongan III/a. Tapi Olan juga gak mau meninggalkan kesempatan untuk kuliah di institut impiannya…

Mama Olan mendorong anaknya mengejar impian dan tidak usah memikirkan uang Rp.13 juta-an yang akan hilang lenyap tak berbekas… Karena pilihannya kali ini akan menentukan masa depannya, kebahagiannya… Olan akhirnya memilih untuk mengejar mimpinya kuliah di institut teknologi di kota kembang. Namun itu pun ternyata gak mudah buat dia… Selama beberapa minggu Olan mengalami diare tanpa sebab yang jelas… Setelah konsultasi ke dokter, ternyata itu dipicu oleh rasa tertekan karena menghabiskan uang lebih dari Rp.60 juta-an (uang registrasi 2 universitas, uang SPP dll dll) untuk memulai kuliah… Setelah Mama-nya menjelaskan bahwa semua dana yang keluar telah dipersiapkan melalui asuransi pendidikannya… Barulah Olan merasa tenang, merasa tidak terlalu membebani orangtua.

Bagaimana pun Olan termasuk anak yang beruntung… Bagaimana dengan anak2 lain yang berasal dari keluarga dengan level ekonomi pas2an atau bahkan kekurangan…? Bagaimana mereka bisa mengakses pendidikan yang berkualitas yang akhir2 ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi… ? Kok kesannya pendidikan berkualitas hanya tersedia untuk orang2 berkantong tebal..? Bukankah pendidikan merupakan jalan untuk memperbaiki taraf kehidupan? Bagaimana mereka bisa memperbaiki taraf kehidupannya kalau akses mereka terhadap pendidikan yang berkualitas sangat terbatas…

Tati jadi ingat masa2 kuliah di Bogor… Masa2 yang sangat menyenangkan karena hidup dalam keberagaman… Saat itu mahasiswa baru tingkat persiapan dibagi dalam sepuluh kelompok. Di setiap kelompok, mahasiswa dgn nomor induk terkecil berasal dari DI Aceh (sekarang Nanggroe Aceh Darussalam), sedangkan mahasiswa dgn nomor induk terbesar berasal dari Indonesia Bagian Timur atau anak2 lulusan sekolah Indonesia di luar negeri. Jadi setiap kelompok merupakan cerminan Indonesia yang Bhinneka Tungal Ika. Dan mahasiswanya benar2 heterogen.. Ada mahasiswa yang berasal dari desa, ada yang berasal dari metropolitan, bahkan ada yang besar dan tumbuh di luar negeri. Ada yang anak petani, anak pegawai sampai dengan anak menteri bahkan anak presiden. Bahkan ada mahasiswa yang untuk bayar kuliah perlu keringanan dengan membawa surat keterangan tidak mampu…

Tapi gak masalah tuh…, kampus bisa menerima siapa aja tanpa melihat status ekonomi keluarga dan asalnya. Saat itu kami benar2 merasakan keberagaman di Kampus IPB, Kampus Rakyat.. Keberagaman yang memperkaya cara pandang tentang orang lain, keberagaman yang memperkaya wawasan kita..

Masih adakah keberagaman itu di kampus2 di negeri ini…? Masih ada kah keberagaman saat kampus dijalankan nyaris sebagai sebuah bisnis..? Masihkah pendidikan bisa menjadi sebuah cara untuk memperbaiki tingkat kehidupan di negeri yang kita cintai ini…?

Btw Tati sempat kaget lho waktu ujian Matematika Dasar I. Kaget karena petugas pengawas ujian yang mengulurkan kertas absen ke Tati adalah Mamik Suharto, yang waktu itu masih mahasiswa Jurusan Statistika. Bayangin, pengawas ujian anda adalah putri presiden yang selama ini wajahnya hanya anda lihat di media massa atau di buku2. Tati rasa kejadian seperti ini hanya terjadi di lingkungan kampus yang menghargai keberagaman, keheterogenan… Kalo enggak, mana mungkin kita2 yang berasal dari daerah dengan latar belakang keluarga biasa2 aja bisa ujian diawasi putri presiden Indonesia, yang zaman itu begitu diangungkan..?

Setoran buat Tante Po…

tante-po3.jpgSore ini by phone, Tante Po ngomong ke Tati..

Tante Po (P) : Kak, kakak kok udah lama gak nyetor ke Ivo?

Tati (T) : Nyetor apaan? Emang kakak ada utang apa?

P : Kripik kak, kripik…!

T : Kripik apaan?

P: Kripik cabe dan peyek, lah kak..! Kakak ggak usah pun pulang, asal kirimin Ivo keripik…!!

Busset deeeh…. Gak sopan banget..!! Hehehe… Masa kehadiran Tati di keluarga bisa digantikan keripik cabe dan peyek..? Penghinaan yang luar biasa… Hehehe

Kripik apa siyy yang di-gila2-in Tante Po..? Kripik cabe buatan Eko dan rempeyek buatan kak Eni, mantan cleaning service di kantor lama Tati.

Kripik cabe buatan Eko memang enak banget.. Singkongnya tuh rapuh, bumbunya enak dan meresap.. Pokoknya kalo udah mulai makan, susah berhenti.. Apalagi kalo dimakan sama mie… Hmmmmm… Sampai sama ponakan2 Tati dibilang keripik tangguh.. Tangguh banget gak ada taranya… Hehehe.. Anak2 yang pada kuliah di Bandung dan Jakarta aja suka minta dikirimin… Tapi keripik ini gak selalu ada.. Eko gak mau buat kalo gak nemu singkong yang beneran bagus.. jadi nasib2an juga buat dapatin makanan yang satu ini..

Rempeyek buatan kak Eni juga enak banget, bumbunya berasa.. Biasanya ada dua macam.. Peyek teri dan peyek kacang. Keduanya sama enak.. Makanan yang satu ini juga mesti diorder dulu.. Gak setiap saat ada..

Tante Po dan Papa tuh doyan banget ama keripik cabe buatan Eko dan rempeyek buatan kak Eni. Jadi klo pulang ke Medan, Tati tuh selalu bawa kedua jenis makanan itu.. Keripik tangguh biasanya Tati bawa dalam shopping bag dan ditenteng ke cabin pesawat.. Tapi klo rempeyek yang biasanya dianterin dalam kemasan kaleng marie regal terpaksa dimasukin ke bagasi.. Supaya gak malu2in biasanya kaleng dibungkus lagi pake sampul kado atau kertas koran… Cuma kalo terlepas dari tangan atau saat ditimbang waktu nyerahin bagasi di airport tetap aja kedengeran bunyi… krompyaaaanng….!! Hehehe. Biarin dehh demi Ivo dan Papa…

Eh.. udah Tati penuh perjuangan gitu buat bawain rempeyek, Tante Po malah dengan assoy-nya ngomong.. “Kak, dari pada malu2in bawa kaleng masuk bagasi pesawat mendingan kakak ke Medan-nya naik bus aja.. Lagian selisih duit tiketnya kan lumayan tuuhh, bisa buat beli keripik dan peyek lebih banyak…” Gak sopan banget deehhh, adik ku yang satu ini..

Sementara, tanpa setahu Tante Po dan Papa, Mama malah wanti2 ke Tati supaya kalo datang jangan bawa2 keripik dan rempeyek, karena gak bagus buat kesehatan. Berminyak, kacang2an dan bisa bikin konstipasi… !!! Mama bilang, bawa mentahnya aja… Hehehe…

Terima Kasih Pak Andi..

Di “Album” majalah Tempo edisi 18-24 Februari 2008 ada berita bahwa 66 orang Guru Besar IPB memperoleh penghargaan Sewaka Winayaroha karena dinilai berjasa dalam memajukan dan meningkatkan peran perguruan tinggi. Dan salah satu yang menerima penghargaan ini adalah bapak Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion, Msc. (alm). Beliau dinilai berjasa dalam pengembangan mata kuliah Statistik, dan beliau juga pelopor pemberlakuan studi sarjana 4 tahun, pembentukan sekolah pasca sarjana dan sistem penerimaan mahasiswa baru tanpa ujian masuk, yang kini dikenal sebagai Program Penelusuran Minat dan Kemampuan.

Artikel ini membawa Tati kembali ke masa 22 tahun yang lalu… Haahh…, 22 tahun yang lalu..? Udah lama banget ya…? Kemana aja tahun2 berlalu… Kok rasanya baru kemaren Tati pake rok abu2…? Kok rasanya belum lama menyalurkan energi masa remaja yang luar biasa dengan sejuta aktivitas dan kejailan…? Hehehe..

Iya, Tati adalah satu dari berpuluh2 ribu anak di Indonesia yang mendapat kesempatan masuk perguruan tinggi, dalam hal ini IPB, tanpa tes.. Suatu program recruiting mahasiswa yang dirintis dan dikembangkan oleh Bapak Andi Hakim Nasoetion (alm).

Tati bukanlah anak yang cemerlang2 amat di masa SD-SMA… Gak pernah jadi juara umum sekolah.., paling cuma sekitar 5 besar di kelas.. Gimana mau cemerlang, orang isi otaknya main dan main melulu… Hehehe. Tapi selalu begitu sejak SD.. Nah waktu akhir semester 5 di SMA Tati ditawarkan oleh guru di sekolah untuk mengisi form mahasiswa undangan IPB dan juga memilih IPB waktu mengisi form PMDK (Penulusuran Minat Dan Kemampuan). Karena ngebayangin betapa serunya suatu saat nanti bisa bekerja di perkebunan, yang selalu Tati lihat2 dalam berpuluh kali perjalanan pulang kampung, ya Tati enggak menolak tawaran tersebut… Meski belum pernah punya bayangan kayak apa sistem perkuliahan di sono.. Kecuali kata kakak2 kelas yang udah duluan ke sana, “ujiannya tiap hari sabtu”…

Beberapa hari setelah pengumuman kelulusan SMA, hasil PMDK juga diumumkan…. Tati ternyata diterima di IPB bersama 3 anak lain dari sekolah Tati.. Tapi sahabat2 Tati yang juga ikut mendaftar ternyata gak lulus… Waduuuuhhhhh…, dakyu beneran berjalan sendirian niyy ke dunia baru…!!

Setelah terlebih dahulu pergi ke Bogor buat nyari tempat kost di akhir bulan Mei 1986, sekitar 2 hari sebelum jadwal registrasi Tati pun berangkat ke Bogor. Tati berangkat ke Jakarta sendirian, karena jadwal-nya gak pas dengan jadwal para ortu. Lalu ke Bogornya diantar sepupu Tati, Bang Nyong (alias Pieter Siregar) dan sohibnya bang Gedong (dimana ya niyy orang sekarang?). Dasar anak cowok dan masih muda pula (kalo gak salah, si abang waktu itu masih kuliah di Sipil Trisakti tahun ke 3), setelah nganterin Tati belanja berbagai keperluan (sesuai dengan daftar belanja yang dibekali Ibu dan kak Lintje), plus pergi makan siang dan nunjukin dimana lokasi kantor telkom (supaya bisa nelpon ke rumah atau ke Jakarta klo ada apa2, karena hp saat itu masih ada dalam semesta impian, wartel aja belum menjamur kayak sekarang), Tati ditinggal deeh di tempat kost di Cirahayu 4… Huuuuuuuuu…….!! Tati waktu itu rasanya mau nangis jejeritan……!!!

Everything was completely strange for me at that time… Bahkan Tati gak punya kenalan satu orang pun kecuali bapak & ibu kost alias Oom Biyan dan istrinya. Tati juga belum tau teman2 sesama anak Pekanbaru tinggal dimana… Bahkan biar Tati tau lokasi kantor Telkom, Tati tuh gak tau mesti naik angkot nomor berapa ke sana. I wanted to go home.. !! Tapi Tati gak punya pilihan… Masa mau kalah sebelum perang…? Tapi perasaan itu hanya hadir beberapa hari aja…. Kehadiran Miko dan Riza sebagai teman kost membuat Tati merasa lebih baik…, lebih nyaman…

kampus-baranang-siang.jpgSo… tanggal 15 Juni 1986 pagi, Tati, Miko dan Riza pergi ke Aula Kampus Pusat (AKP) IPB buat registrasi.. Proses registrasinya panjang banget…. Gak ingat tuuhhhh mesti ngelewatin berapa meja… Mulai dari nyerahin surat panggilan di meja pertama, lalu nyerahin berkas (ijazah SMA yang asli, copyan rapor SMA dll) sampai photo-an buat kartu mahasiswa..

Selama proses registrasi yang panjang dan melelahkan, karena yang bertugas pada lumayan galak (gak tau kenapa…!) Tati melihat seorang bapak yang mundar mandir di AKP yang luas itu.. Beliau berkeliaran dengan membawa sebuah kamera dan memotret berbagai aktivitas di ruangan tersebut.. Setelah Tati amat2i dan mengingat2 referensi yang ada di otak.. ternyata beliau adalah bapak Andi Hakim Nasoetion sang rektor IPB pada saat itu. Belakangan Tati dengar dan baca di buku dan majalah, ternyata beliau memang hobby dengan photography… Pantessan…!!

Lalu kehidupan perkuliahan dimulai dengan matrikulasi… Hari2 dimana Tati harus menyusuri ruang2 kuliah P1 sampai dengan P12, laboratorium Fisika dan Kimia yang peninggalan zaman Belanda. Hari2 duduk di bawah pohon randu yang sexy dengan kapuk2 yang beterbangan di Taman Koleksi, buat ngerjain tugas rame2 dengan teman2 sekelompok… Hari2 bersama Ncin dan Mprit…

Jadwal kuliah dan praktikum yang padat, segera menimbulkan rasa sebel.. Hehehe.. Gimana enggak,..? Teman2 SMA yang suka pada nyuratin tuh bikin sirik karena masih pada bebas main2.., sementara Tati udah harus sibuk dengan diktat2, buku petunjuk & laporan pratikum plus ujian tiap sabtu.. Mana kebiasaan SKS (Sistem Kebut Semalam) semasa SMA kayaknya sulit buat dilakukan di sini… Materi kuliahnya banyak banget… Rasanya pengen nangiiiiiizzzzz….. Hehehe.

Belum lagi hasil2 ujian yang benar mengejutkan… Gimana enggak…? Teman2 anak2 Jakarta yang udah bertahun2 ikutan bimbel punya pengalaman banyak ngutak ngatik soal.. Hasil ujian teman2 anak2 Jakarta tuh bukan satu dua orang yang dapat nilai seratus…, seratus saudara2…!!! Sementara kita anak daerah yang gak kenal bimbel di zaman itu, dapat nilai antara 60-70 aja udah lumayan banget….!! Tati aja waktu ujian pertama Fisika cuma dapat nilai 32… Waduuhhh… keder deh rasanya..

Buat teman2 ketahui.. ada lho teman sekelompok Tati di Tingkat Persiapan yang waktu ditanya asalnya, katanya dari Balige (salah satu kabupaten di Sumatera Utara). Dia ternyata sebelumnya gak pernah ke Medan, bahkan ke kota Balige-nya aja jarang2. Jadi dia ke Medan itu, ya karena mau berangkat ke Bogor lewat Belawan (pelabuhan lautnya Medan). Jadi dia benar2 BTL (Batak Tembak Langsung…!!!). Dan orang2 yang seperti ini bukan satu dua orang di IPB, karena mahasiswanya berasal dari berbagai pelosok Indonesia. Untuk tahun pertama alias tingkat persiapan, biasanya mereka dan juga Tati memang terhege2 dan keder menghadapi anak2 Jakarta yang canggih..

Rasanya kalo bersaing dengan anak2 Jakarta, yang zaman itu sebagian besar keluaran bimbel Siki Mulyono dan Santa Lucia, di forum Sipenmaru, kami yang anak daerah akan kecil sekali peluangnya untuk bisa menikmati kuliah di Perguruan Tinggi Negeri papan atas negeri ini… Bayangkan kalo tidak ada program yang dibikin pak Andi, bagaimana teman2 yang lahir dan tumbuh di pelosok tapi punya talenta luar biasa ini punya kesempatan untuk meraih pendidikan yang baik?

Tapi sejalan dengan waktu, setelah kita bisa melewati seleksi alam, lalu menyerap dan mengembangkan pola pikir di kampus ini…, alhamdulillah kita para anak daerah bisa menyelesaikan kuliah di kampus ini.. Kuliah di kampus ini benar2 memberikan sesuatu yang luar biasa dalam hidup Tati dan pasti juga buat teman2 yang pernah kuliah di sana…. Untung ada program yang dikembangkan oleh pak Andi Hakim Nasoetion…

Program yang pak Andi bikin memang memberikan solusi untuk mengatasi keterbatasan anak2 daerah akibat kesenjangan kualitas & fasilitas pendidikan di pusat dan daerah. Terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan kepada kami, ya Pak Andi.. Insya Alloh apa yang telah bapak lakukan buat kami menjadi penerang bagi bapak saat ini dan di yaumil akhir nantinya… Amin ya Rabbal Amin..

Ke Rumbai Lagi…

Hari ini Tati janji sama Opi untuk berkunjung ke rumahnya. Opi yang ABAS (Anak Bandung Asli) adalah teman Tati sama2 alumni ESQ dan sama2 jadi ATS (Alumni Training Support) di beberapa training ESQ di Pekanbaru. Opi selama 8 tahun terakhir menetap Pekanbaru, persisnya di camp Rumbai, mengikuti suaminya yang bekerja di salah satu perusahaan minyak besar di negeri ini.

Tati udah lama banget gak ke camp Rumbai, meski daerah ini masih termasuk wilayah administratif kota Pekanbaru, dan hanya sekitar 15 km dari pusat kota. Ya mau ngapain juga ke sana kalo gak ada juga yang mau dituju..?

Camp Rumbai adalah suatu wilayah yang dikelola oleh sebuah perusahaan minyak besar di negeri ini sejak tahun 1950an (kalo gak salah). Di wilayah ini terdapat perkantoran plus pemukiman dan segala fasilitas hidup lainnya. Dulu di media massa sering muncul tulisan2 “Rumbai itu America-nya Indonesia“, karena penataan lingkungan & fasilitasnya emang berorientasi ke sono dan modern banget untuk zaman itu…

Dulu siyy waktu belia Tati senang banget kalo dibawa ke sana.. karena tahun2 1970-1980 fasilitas di sana tuh lengkap banget, sementara Kota Pekanbaru belum ada apa2… Misalnya, tahun2 segitu di Pekanbaru tuh belum ada kolam renang, nah di camp Rumbai sejak tahun 1950an (kalo gak salah) udah ada kolam renang ukuran kurang lebih 50m x 25m dengan guards yang ready di empat penjuru mata angin.. Jadi safe banget deh buat anak2 main di sono…

gank-pku2.jpgTerus di Rumbai Country Club (RCC), tempat dimana kolam renang berlokasi, juga ada Snack & Bar yang nyediain burger, sandwich, kentang goreng & ice cream yang beneran ueeennnaaakkk.. !!

Sampai sekarang tuh rasanya gak ada deh yang bisa ngalahin enaknya makanan2 di RCC. Terserah orang mau bilang sejuta nama outlet fast food yang nyediain burger, sandwich, kentang & ice cream…. Semua lewwwaaattttt…. !! Kayaknya siyy semua bahan2nya impor.. Mana harganya murah pula karena disubsidi perusahaan. Tati aja masih ingat nama salah satu tukang masak di situ, Pak Bayan… Hehehe. Dimana ya itu bapak sekarang..?

Yang lebih asyiknya lagi.., selain duduk di teras RCC yang luas dan lega serta menghadap kolam renang, kita juga bisa menikmati makanan2 tersebut sambil duduk2 di taman di sekitar kolam renang, di bawah2 payung2 besar yang juga menghadap ke lapangan golf yang berbukit2… Asyik gak..? Padahal itu masih tahun 1970-an, bow….!!!

Di camp ini juga tersedia sekolah dgn kualitas yahud, bowling center, library dll. Sekarang selain TK s/d SMA Cendana bahkan ada American School..! Pokoknya lengkap dehhh buat bikin penghuni camp hidup nyaman. Segala fasilitas di camp ini hanya bisa dinikmati oleh keluarga pekerja di perusahaan tersebut plus segolongan orang2 pemerintahan dan keluarganya yang diberi izin oleh perusahaan… Zaman masih pecicilan selain ke RCC, Tati dan teman2 juga seneng banget muter2 ke daerah ini karena lingkungannya yang asri… Bahkan bisa2nya kita naik sepeda rame2 di minggu pagi ke daerah ini… Pulangnya, gempooorr….!! Pegel banget lageee…!!

Ternyata untuk masuk ke camp saat ini repot juga, gak kayak zaman bahuela.. Tadi aja Tati mesti registrasi dulu plus ninggalin ID di post satpam. Kayaknya dulu gak gitu2 banget deh, meski emang ditanya2in juga kalo mau masuk ke daerah tersebut.. Mungkin karena kondisi keamanan negeri kita yang juga semakin gak jelas, dan emang mobil Tati gak punya sticker khusus buat kendaraan yang boleh masuk ke lingkungan camp..

Suasana di camp masih seperti beberapa tahun yang lalu.. cuma kayaknya lebih sepi.. Kalo dulu tuh kayaknya cukup banyak aktifitas, terutama kalo weekend gini kita akan menemukan para teens keliaran di sekitar RCC. Mungkin karena main office perusahaan ini enggak di Rumbai lagi, melainkan udah pindah ke Duri. Mungkin juga mall2 yang ada di kota lebih menarik dari pada menghabiskan waktu menikmati fasilitas2 camp. Tapi lingkungan di sekitar perumahan masih asri dan teratur…

Rumah Opi berada di pojokan jalan utama, tapi depannya masih hutan di lingkungan camp… Udaranya segar, jauh dari sesaknya perumahan di pusat kota Pekanbaru… Rumah yang lapang dan lingkungan yang nyaman…, tempat yang ideal buat membesarkan anak2.. Tapi ya itu, masyarakatnya yang terlalu homogen juga bisa bikin kepekaan sosial anak jadi enggak berkembang… (Tapi itu mah tergantung, gimana orang tua ngarahin kali yaa…??)…

Camp Rumbai ternyata masih jadi tempat yang asyik buat dikunjungi meski tahun2 telah berganti…

Perhaps Love…

Tati tiba2 ingat lagu ini.. Salah satu lagu yang sering banget Tati dengerin saat tinggal di Cirahayu 5.. Biasanya muternya malam2… Jendela kamar yang gede banget dibuka lebar2.. Hmmmm… asyiknya memandang langit yang berbintang dari tempat tidur.. Mana lampu yang dinyalain cuma lampu tidur aja.. Dan angin yang datang dari arah jalan Tol Jagorawi, hhmmmm sejuk bahkan cenderung dingin…, brrrrrrr….. It made me feel romantic… Halaaaaahhhh….!!!



PERHAPS LOVE

(Placido Domingo)
Perhaps love is like a resting place
A shelter from the storm
It exists to give you comfort
It is there to keep you warm
And in those times of trouble
When you are most alone
The memory of love will bring you home

(John Denver)
Perhaps love is like a window
Perhaps an open door
It invites you to come closer
It wants to show you more
And even if you lose yourself
And don’t know what to do
The memory of love will see you through

(Placido Domingo)
Oh, Love to some is like a cloud
To some as strong as steel

(John Denver)
For some a way of living
For some a way to feel

(Placido Domingo)
And some say love is holding on
And some say letting go
And some say love is everything
And some say they don’t know

(John starts joined by Placido)
Perhaps love is like the ocean
Full of conflict, full of pain
Like a fire when it’s cold outside
Thunder when it rains
If I should live forever
And all my dreams come true
My memories of love will be of you

(Placido Domingo)
And some say love is holding on
And some say letting go

(John Denver)
And some say love is everything
Some say they don’t know

(John starts joined by Placido)
Perhaps love is like the ocean
Full of conflict, full of pain
Like a fire when it’s cold outside
Or thunder when it rains
If I should live forever
And all my dreams come true
My memories of love will be of you

by : John Denver & Placido Dominggo

What is the Secret of the Red Thread…?

Tati udah berapa minggu ini pengen jahit baju kerja, secara dapat jatah tahunan bahan baju dari kantor. Sayang kalo gak dijahitin.. Mana tahun ini bahan2nya lumayan bagus dan ketok’e bakal nyaman dipakai.. Tapi Atin, penjahit langganan Tati sejak 12 tahun yang lalu, lagi enggak bisa terima jahitan.. Atin dan keluarga pulang ke daerah asalnya Pulau Rupat (salah satu kepulauan yang berada di Selat Malaka, yang termasuk Kabupaten Bengkalis, Riau) untuk merayakan Lunar New Year alias Imlek pada tanggal 6 Februari yang lalu, kemudian dilanjutkan dengan merayakan Cap Go Mei kemaren tanggal 21 Februari… Mudah2an Atin udah pulang dan terima jahitan lagi minggu depan, ya…?

Perayaan Lunar New Year dan Cap Go Mei selalu dimeriahkan dengan warna serba merah. Merah, merah dan merah dimana2.. Kenapa ya sahabat & kerabat kita yang keturunan Chinese senang sekali menggunakan warna merah? Apa siyy makna warna merah buat mereka?

Tati jadi ingat saat berkunjung Chinatown Heritage Center di sekitar Lunar New Year beberapa waktu yang lalu. Di dinding depan heritage center ini terdapat tulisan “What the Secret of The Red Thread” yang mengundang orang yang membaca untuk masuk… Di situ antara lain tertulis…


What is the secret of the red thread?
What’s the mystery behind the red thread?
Did the migrants realy carry red thread when the came from China?
Does the red thread weave through the many stories of Chinatown?

Apa arti warna merah buat kalian para sahabat dan kerabatku..? Katakan pada kami agar kami bisa lebih mengerti tentang kebudayaan yang juga menjadi bagian dari kebududayaan negeri ini…

Titik Api..

Berita di koran lokal, Riau Pos, hari ini 20 Februari 2008 adalah sebagai berikut :

Hampir seluruh kabupaten dan kota di Riau saat ini ditemukan titik api. Jumlah titik api (hotspot) yang dipantau satelit National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) 18, di Sumatera saat ini terpantau 163 titik api. Sebanyak 89 di antaranya atau lebih dari separuh, ditemukan di Riau.

Berdasarkan data NOAA 18 yang dihimpun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Pekanbaru sekitar pukul 13.50 WIB Selasa (19/2), penyebaran hotspot di Riau cukup merata. Angka ini juga mengalami lonjakan fantastis dibanding sehari sebelumnya yang hanya ditemukan 37 titik.

Pantas aja ya pagi2 bau asap udah tercium.. Pantas aja udara terlihat gelap.. Bahkan matahari dan bukan terlihat merah…

Para pemilik modal yang berkuasa, please pertimbangkan lah kami2 ini, yang juga warga negara sama seperti anda. Anda tau kan kalo ada banyak anggota masyarakat yang untuk makan aja susah, apalagi mesti keluar duit buat beli obat karena mengalami ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)?

Anda tau gak, kalo menikmati segarnya udara pagi merupakan kebahagian yang luar biasa…? Coba pagi2, Anda bangun lalu keluar ke halaman rumah sembari membawa secangkir teh anget atau kopi.. Kemudian injakkan kaki anda di rumput yang berembun, dan tarik nafas dalam2… Hmmmmmmm…. Anda akan bisa merasakan kedamaian yang luar biasa…

Kebahagian di Pagi Hari

Setiap pagi… begitu bangun dari tempat tidur, Tati selalu membuka pintu rumah terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas lain.. Supaya bisa merasakan udara pagi yang menimbulkan rasa segar dan kebahagian kecil… Ritual ini membuat Tati merasa semangat untuk memulai hari..

Tapi pagi ini….., begitu pintu dibuka, bukan udara segar yang masuk, melainkan bau asap akibat kebakaran hutan.. Hmmm… mulai lagi niyy… Padahal udah lama bau yang begini gak muncul..

Sumatera bagian tengah seperti juga Kalimantan rentan banget dengan kebakaran hutan, secara daerah ini sebagian besar merupakan lahan gambut yang sangat mudah terbakar.. Penyebab kebakaran bisa jadi karena unsur kesengajaan maupun tidak.. Lahan di daerah sini biasanya dibakar dalam rangka land clearing dengan harga murah. Maksudnya? Ya buat pembersihan lahan tanpa mengeluarkan biaya untuk tenaga dan sewa alat berat. Karena di daerah ini masih banyak dilakukan pengembangan kebun2 sawit yang secara ekonomi bernilai tinggi. Yang menyedihkan para pemilik modal suka gak memepertimbangkan bahwa tanaman sawit menyerap air sangat tinggi dan akan merusak siklus dan supply air dalam jangka panjang… Belum lagi dampak dari kebakaran hutan.. Banyak masyarakat yang gak tau apa2 mengalami ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), belum lagi resiko kecelakaan lalu lintas bila asap membuat jarak pandang menjadi terbatas…

Kalo udah sampai bau-nya kemana2 seperti kali ini, pasti luasan lahan yang terbakar cukup significant.. Rasanya ini adalah kegiatan yang punya nilai ekonomi yang tinggi.. Kenapa ya, orang2 masih aja lebih mendahulukan kepentingan jangka pendek.. Apa kurang tuh kampanye “Global Warming” buat mereka…? Kenapa mereka gak mau berpikir bahwa dunia ini bukan hanya milik mereka..? Dunia ini bukan hanya tempat mencari keuntungan sebanyak2nya..? Kenapa mereka tidak membiarkan kita merasakan kebahagian kecil di pagi hari yang bisa membuat kita bersemangat beraktivitas sampai sore hari..

Para pemilik modal, biarkan kami menikmati dunia kami.. Biarkan kami menghirup udara segar di pagi hari…. Biarkan kami sejenak merasakan kebahagian di pagi hari..

Pertanyaan STD…

Secara di kantor baru lebih banyak orang yang belum pernah Tati kenal sebelumnya… So, Tati berusaha untuk selalu tersenyum “2cm kiri dan 2cm kanan” pada semua orang2 yang ada di lingkungan kantor.. Itung2 ibadah.. Hehehe..

Kalo senyum Tati dibalas dan kita berada dalam jarak yang tidak jauh.., biasanya akan dilanjutkan dengan saling sapa dan beberapa pertanyaan STD alias standard…..

Ini beberapa pertanyaan STD yang biasa Tati dengar beberapa hari terakhir ini, beserta jawabannya..

Penanya (P, kenalan baru di kantor baru) : Baru ya? Siapa namanya?
Tati (T) : Iya (sambil senyum semakin lebar…!! Hehehe). Sondha. Kalo Ibu/Kakak?
P : Saya Ibu/Kak ANU. Tadinya kerja dimana?
T : Tadinya di kantor SANA… Ibu/Kakak di bagian mana?
P : Oh saya di bagian A/B/C atau D. Kamu ditempatkan dimana?
T : Oh.. saya ditempatkan di bagian Penyusunan Rencana Kerja.
P : Anaknya udah berapa ‘Ndha? (Naahhh… mulai seru niyyy…!!)
T : Oohhh, saya belum nikah Bu/Kak..
P : Kok bisa? Ada apa? Kayaknya gak ada yang kurang deh di kamu (sambil MENGAMATI Tati dari ujung kerudung sampai ujung sepatu BERULANG2). Kamu-nya yang gak mau nikah, ya ? Kamu patah ati, ya…?

Gubbbrrrraaaakkkkkk…… !!! Tati melongo pongok….!!! Gak tau mau jawab apa… Hehehe..

Jadi ingat postingan ini

This Weekend..

Hari Sabtu dan Minggu kali ini jadi akhir pekan yang full aktivitas.. Gak seperti beberapa minggu terakhir dimana akhir pekan dihabiskan dengan rest di rumah.. Capek…? Jangan ditanya… Tapi seneng tuh… Jadi kayaknya gak masalah…

So, karena malam ini juga rasanya udah lelah… Jadi pengen tidur cepat.. Nulis postingan baru…? Besok2 aja kali yaaa… Mata udah 1/2 watt niyyy…