Praduga Bersalah…

Ketidaknyamanan menjadi perempuan single menjelang 40-an, seperti kejadian “Single…..?” yang nyebelin, bukan lah satu2nya kejadian yang gak enak yang pernah Tati alamin.. Sering kali Tati mengalami “praduga bersalah”.. baik dari orang yang kenal lama, tapi gak kenal pribadi Tati, maupun dari orang2 yang baru kenal Tati… Tapi buat Tati, itu lah kembang2 “tai kotok”-nya kehidupan… Kalo gak gitu hidup Tati jadi gak seru kaleeeee.. Gak ada ceritanya… Hehehe..

Tapi kejadian yang satu ini benar2 gawat… Karena kalau tidak punya kekuatan mental untuk menghadapi dan mengatasi… Bisa depresi berkepanjangan, bisa sekolah gak selesai.. Apa ceritanya sih…?

Cerita ini bersetting di suatu sore di bulan Maret tahun 2001… Lokasi? Di salah satu ruang di kampus tempat Tati mengambil program strata 2. Waktu itu Tati lagi ujian komperhensif… Yang diuji proposal penelitian yang sudah kita bikin, serta penguasaan terhadap teori2 pendukungnya…

Tati waktu itu bikin proposal “Integrasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Evaluasi Keseuaian Lahan untuk Pemukiman di Wilayah A”. Karena yang akan dilakukan adalah evaluasi kesesuaian lahan (land suitability), harus dibuat kriteria kesesuaian donk.. Gak sulit2 banget sebenarnya, karena Departemen Kimpraswil pernah merilis kriteria ini, juga ada beberapa peneliti2 lain yang juga sudah membuat.. Memang kriteria yang mereka buat cenderung kriteria dari segi fisik lahan, untuk kriteria sosial ekonomi lebih memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Intinya, Tati hanya perlu menyusun kriteria2 mana yang akan Tati gunakan.

Yang agak meragukan adalah Tati tidak menemukan buku2 yang menggunakan akses terhadap jaringan listrik dan jaringan air bersih sebagai kriteria kesesuaian lahan untuk permukiman, tetapi ada beberapa skripsi dan thesis yang mengunakan. Untuk memperoleh jalan keluar, Tati sengaja mencantumkan kedua kriteria tersebut pada proposal, dengan harapan dosen penguji bisa memberi masukan (kalo dosen pembimbing udah dari awal kan bulak balik konsultasi, dan mereka juga setuju kalo apa yang Tati ragukan dibawa ke forum untuk mendapat masukan dari dosen penguji).

Setelah Tati mempresentasikan secara ringkas isi proposal tersebut, dilakukan pembahasan oleh dosen2 penguji…

Salah seorang dosen penguji, mempertanyakan kedua kriteria yang Tati ragukan diatas..
Si Bapak Dosen bilang : “Mbak, kenapa mbak memasukkan kedua kriteria tersebut?”
Lalu tanpa memberi kesempatan pada Tati untuk menjawab, si Bapak Dosen melanjutkan lagi : “Kalo seperti ini, MAHASISWA GAK LAKU SAMA KAMU, YA? SEBENARNYA KALO MAU MENIKAH, SEMUA AKAN DIBANGUN BERSAMA? ATAU MAU YANG SUDAH JADI? KALO MODEL KAYAK KAMU BEGINI, KAYAKNYA MAU YANG SUDAH JADI, YA? BUKAN YANG MAU SUSAH BERSAMA-SAMA. Dst dst dst…”

Guuuubbbbrrrrrrraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkk.
Tati kaget, benar2 kaget dengan ucapan Bapak Dosen tersebut. Rasanya seperti ditampar habis2an… Mana di belakang 5 orang dosen (2 Dosen Pembimbing dan 3 Dosen Penguji) yang duduk berjajar, duduk teman2 sekelas, teman2 seangkatan tapi lain jurusan, kakak kelas yang belum selesai, adik kelas dan lain2 yang jumlahnya lebih dari 30 orang.. Masya Allah, apa kejadiannya kok begini…? Dosa apa yang sudah Tati perbuat sehingga dipermalukan di depan umum seperti ini? Tapi Tati berusaha tetap bisa mengendalikan diri, tidak meneteskan air mata setitik pun, tetap tersenyum meski Tati tau warna muka Tati pasti berubah jadi pucat pasi… Yang Tati ingat, Tati sempat melemparkan pandangan “APA SALAH SAYA SEHINGGA BAPAK MENGHINA SAYA SEPERTI INI” ke si Bapak Dosen tersebut.

Dosen Pembimbing Tati yang sangat senior, dengan kepribadian yang lembut, berdehem.. Sementara dosen2 lain, bergerak membetulkan posisi duduk yang mendadak menjadi tidak nyaman. Si Bapak Dosen yang barusan ngomong, mendadak sadar… Lalu melanjutkan ucapannya.

Bapak Dosen : “Maksud saya, jaringan listri dan PDAM itu kan bisa dibangun setelah lahan yang sesuai ditemukan. Bukan sebaliknya kita membangun di daerah yang dekat dengan ketersediaan jaringan listrik dan PDAM.”
Setelah manrik nafas dalam2 untuk mengumpulkan kekuatan yang tersisa, Tati bilang : “Bapak, saya mengerti apa yang Bapak maksudkan. Sebenarnya saya sependapat dengan Bapak, bahwa jaringan listrik dan PDAM bisa dibangun belakangan. Tapi karena saya menemukan di beberapa thesis dan skripsi kedua kriteria tersebut digunakan, makanya saya masukkan ke dalam kriteria yang akan saya gunakan. Justru, melalui ujian komperhensif ini, saya mengharapkan masukan dari Bapak2 sekalian, apakah kedua kriteria tersebut akan digunakan atau tidak.”

Ujian lalu berlanjut selama sekian jam… Tati gak ingat pastinya… Yang jelas dalam ingatan Tati, begitu selesai ujian tanpa kata ba bi bu, Tati langsung ngambil motor dan pulang…

Sampai di rumah.., setelah ganti baju dan bersih2, Tati naik ke tempat tidur dan mulai melepas air mata dan rasa sesak yang tertahan selama ujian…. Dalam hati Tati bertanya2 “Apa salah saya sama Bapak itu, sehingga Beliau bisa bicara seperti itu pada saya?”

Tati mencoba mengingat2 kelakuan Tati selama di kampus…

Rasanya, gak ada yang salah.. Tati bukan orang yang berpenampilan high-class sehingga bisa membuat orang berpikiran Tati tinggi hati. Setiap ke kampus Tati cuma pakai celana panjang dengan baju kaus/tank top yang dilapis jacket or cardigan plus sepatu keds. Rasanya dandanan paling gaya adalah pake jeans boot cut dengan kemeja kotak2, plus sepatu boots. Tas branded…? Gak tuh… Tas kuliah Tati cuma slingbag atau ransel.. Gak adalah gaya wanita mapan di usia 30 something, apalagi gaya emak2 tajir… Jauh..!! Selain emang gak doyan dandan aneh2.., Tati juga gak punya duit untuk hal2 seperti itu… Hehehe. Kalo punya duit mendingan buat jalan2, beli buku, beli kaset dll deh kayaknyanya…!!!

Apa karena Tati selama kuliah selalu berjalan ke sana ke mari dengan seseorang yang di mata si Bapak terlihat mapan? Padahal sungguh mati, Tati tidak melihat teman berjalan Tati itu sebagai laki2 mapan. Tati hanya tau bahwa dia selalu ada untuk menolong Tati, dia selalu membawa Tati ke dunia yang baru, dia selalu bisa bikin Tati tertawa (dan diatas segalanya, kita ngomongnya nyambung!!). Gak ada yang lain… Tati malah menikmati saat naik motor kemana2.. bahkan naik BMW (Bebek Merah Warnanya = Honda Cup 70) sekalipun…

Jadi sisi sebelah mana yang bisa bikin Tati dicap sebagai “Orang yang mau terima jadi?” Tati mikir dan tetap berpikir, “Apa yang bisa bikin si Bapak Dosen negative thinking ke Tati…?”

Dugaan lain…, apa karena Tati belum nikah setelah usia hampir 33 tahun (waktu itu), sehingga si Bapak berpikir, “Tati gak nikah karena terlalu pilah pilih dan banyak maunya?” Tapi kok rasanya cupat banget.. Si Bapak itu kan Dosen Senior, gak mungkin lah rasanya berpikiran sempit… Rasanya gak mungkinlah Si Bapak itu menduga orang bersalah tanpa pernah tahu siapa orang itu dan apa yang telah dilakukannya… Tapi kenyataannya, Si Bapak yang gak tau apa2 tentang hidup Tati dan juga gak tahu apa yang Tati cari, bisa bicara begitu di depan umum.

Tapi Tati gak nemu jawaban atas pertanyaan Tati .. Bener2 gak nemu…

Gak lama, terdengar suara Anna, teman main Tati yang juga anak Pekanbaru tapi lain jurusan, ngajak pergi makan malam. Kita pergi makan, tapi pikiran Tati gak bisa lepas dari accident yang terjadi di sore hari..

Selesai makan, dan Anna juga sudah pulang, Tati mencoba untuk tidur.. tapi rasanya sulit… Antara sadar dengan gak sadar… Tati seakan2 melihat kembali semua yang terjadi di ruangan ujian sore itu… Seperti nonton film dengan Tati sebagai pemeran utama.. Film itu berputar dan berputar lagi.. Lagi dan lagi… Lagi dan lagi… Sampai Tati merasa sangat lelah dan terbangun dengan tubuh basah berkeringat… Setelah ganti baju, lalu minum segelas air, Tati mencoba kembali tidur… tapi film itu kembali berputar… Gak bisa dihentikan…., sampai pagi…..
Sampai saat terdengar suara azan subuh…
Masya Allah… Dalam hati Tati bertanya, beginikah yang namanya depresi? Beginikah yang namanya sakit hati karena dipermalukan…?

Pagi… setelah melakukan aktivitas rutin. Tati mencoba duduk dan berpikir tenang… Karena Tati gak nemu jawaban “Apa salah Tati sama si Bapak Dosen?”, Tati pikir yang bisa Tati lakukan adalah “tetap berlaku baik, rendah hati, tanpa rasa marah”. Satu hal yang pasti, Tati merasa harus bisa mengatasi rasa sakit ini. Karena kalau tidak, prosposal tidak akan jadi dan disetujui oleh kelima dosen, lalu tidak akan maju ke tahap penelitian, pengolahan dan analisis data, tidak akan maju ke tahap penyusunan thesis, tidak akan sampai ke tahap ujian.., lalu TIDAK AKAN SELESAI SEKOLAH..

Tapi hati Tati sakit, terlalu sakit atas penghakiman yang telah terjadi…Tati lalu memutuskan untuk memberi waktu bagi diri Tati selama 3 hari, TIGA HARI, untuk menyembuhkan rasa sakit… Selama 3 hari Tati tidak menginjakkan kaki di kampus. selama 3 hari Tati tidak keluar rumah kecuali untuk pergi makan.. Selama tiga hari Tati mencoba menginventarisir semua masukan2 yang diberikan 2 dosen pembimbing dan 3 dosen penguji.., lalu merangkumnya menjadi 5 daftar (masing2 1 daftar untuk 1 dosen), membuat catatan2 kalau ada pendapat yang sama maupun berbeda dari 2 dosen atau lebih..

Hari keempat…, Tati melangkah ke kampus.. Menguatkan hati menemui si Bapak Dosen… Begitu Tati, mengucapkan salam untuk memberitahukan kehadiran Tati di depan ruangannya, Tati melihat si Bapak Dosen termangu sejenak… Entah apa yang ada dipikirannya.. Entah menyesal, entah heran karena setelah hantaman itu Tati bisa muncul di hari keempat… Yang jelas, waktu Tati memulai konsultasi dengan mengeluarkan daftar hasil inventarisir masukan2 dari beliau waktu ujian serta beberapa catatan yang Tati buat, Tati bisa melihat bahwa Beliau berusaha merespon secara baik, bahkan sangat baik… Alhamdulillah.. Mungkin semua yang terjadi hanya ujian, untuk melihat seberapa tegar hati Tati untuk menyelesaikan sekolah kali ini…

Peristiwa ini mungkin tidak akan pernah terlupakan seumur hidup Tati… Tapi alhamdulillah tidak ada rasa dendam dan sakit hati… Tati malah menganggap si Bapak Dosen saat itu sedang punya masalah, sehingga terlepas emosi membahas proposal Tati.. Tati dan si Bapak bisa tetap berbicara dengan baik… Bahkan Tati sempat ngobrol dengan beliau saat Tati tahun lalu singgah di kampus, waktu ada pelatihan di Yogya..

Dan… buat diketahui, si Bapak Dosen ini memberikan nilai A pada saat Tati ujian Thesis di bulan November 2001, seperti 3 Dosen lainnya… (Tati dikasi liat detail nilainya sama dosen2 tersebut pada saat akhir ujian) Terima kasih, ya Bapak.. Hanya Pembimbing Utama Tati yang memberikan nilai sedikit di bawah A, sehingga setelah dirata2, nilai akhirnya adalah A.

Soal Pembimbing Utama memberikan nilai sedikit di bawah A, menurut Tati adalah tindakan yang wajar… Kok ? Thesis Tati kan tidak sepenuhnya karya Tati…, ada kontribusi si Pembimbing Utama dan juga Pembimbing Kedua, baik dalam hal pola pikir, editorial dan sebagainya. Sebagai seseorang yang sangat senior dan sangat bijaksana, wajar beliau tidak memberikan nilai A bagi karya yang ada kontribusi dirinya. Tapi beliau justru memberikan kesempatan untuk dosen2 lain menilai, apakah karya ini layak dapat A atau tidak..

Pelajaran besar dari peristiwa ini buat Tati adalah tidak boleh menyerah dalam menjalani hidup, apapun yang terjadi.. Mau nangis dulu sampai termehek-mehek, silahkan aja…. Tapi jangan lama2. Kalo kelamaan, ‘ntar hanyut, sementara rantai yang melilit diri makin tebal dan panjang… Makin susah memutuskannya.

Satu hal…, biar kan saja orang2 melakukan praduga bersalah atas diri kita.. Toh kita gak akan bisa menghabiskan waktu untuk menjelasakan “kebenaran” versi kita pada mereka… Gak ada gunanya. Buang waktu dan energi..! Tapi waktu…? Waktu akan menunjukkan siapa kita dan bagaimana kita sebenarnya.. So, keep smilin’ and cheer up, girl…!! ***

Deborah….

Posting tadi pagi ngingatin masa2 di Yogya..
Bulan2 segini tahun 1999, adalah saat awal2 kuliah…
Saat hati bimbang dan terkejut akan kenyataan hidup…
Saat diri menemukan bahwa hidup seringkali tidak sesederhana yang kita pikirkan.. Tidak sesederhana yang kita inginkan…
Tidak sesederhana lirik lagu ini…

DEBORAH

I read your letter
I got it just the other day
You seem so happy
So funny how time melts away
It’s such a pleasure
To see you growing
And how you’re sending your love
Thru’ the air today

I think of Heaven
Each time I see you walking there
And as you’re walking I think of children
Everywhere
It’s in your star sign
You growing stronger
I can’t believe you
It’s so good to care

Thru’ enchantment – into Sunlight
Angels touched your eyes
Your Highness – Electric – So Surprise..

Is this your first life
It seems as tho’ you have lived before
You help me hold on
You have a heart like an open door
You sing so sweetly
My Love adores you
She does, she’s thinking of you
Right now, I know

The summer’s coming
I’ll keep in touch so you’re not alone
Then like a swallow, you’ll fly away
Like birds have flown
So let me tell you
How much I love you
I’d make the songbirds sing
For you again

Well now it’s goodnight
Sweet angel, read this letter well

Kok, mata Tati rasanya mulai kabur ya…?
Kok, air mata merebak ya…?
Masa lalu memang manis untuk dikenang..,
Apalagi, kalau tentang seseorang yang pernah selalu ada buat kita, selalu membawa kita ke dunia baru, selalu bisa bikin kita tertawa, selalu bikin kita merasa “hidup gak seberat yang kita pikirkan”…
Meski sepahit apapun akhirnya hubungan itu. Hiks…***

Happy Birthday Samuel…

Samuel

Hari ini, makhluk yang pertama kali memanggil Tati dengan panggilan Wowo, Samuel Gading Sisoantunas Sinambela genap berusia 8 tahun…

Samuel bersama Papi Liberty, Mami Uli, Esther dan Monnic saat ini menetap di Samarinda.

Selamat ulang tahun ya Samuel… Semoga panjang umur, sehat, jadi anak yang pintar, selalu dalam lindungan Tuhan, serta jadi anak yang berbakti pada Papi dan Mami…
Dan semoga hidup Samuel selalu berwarna… Amin…

Ulang tahun Samuel mengingatkan Tati, masa2 Tati dan Mami Uli sama2 tinggal di Yogya. Tati lagi sekolah, sedangkan Mami Uli kerja pada sebuah NGO yang berpusat di Inggris.

Kalo weekend, Mami Uli libur, sementara Tati juga gak ada jadwal kuliah…
Tiap sabtu dan minggu pagi… pagi2 sekali… sekitar jam 6an.. Tati udah bergerak, naik motor dari tempat kost di daerah Pogung ke rumah Mami Uli di kawasan Banteng.. Lalu kita jalan2 pagi sambil ngedorong stroller-nya Samuel… Dari rumah, kita bergerak ke perkampungan di timur Perumahan Banteng.., menyusuri persawahan… perumahan penduduk, kebun2.. Kalo nemu kali, kita suka berhenti dulu mengamati gemercik air mengalir…. Suaranya menimbulkan rasa damai di hati…

Kalo ngeliat kupu2, kita suka berhenti dulu. Mengamati tarian si kupu2… Samuel juga senang banget ngamatin kupu2 menari di antara bunga2… Lalu Mami Uli dan Tati menyenandungkan lagu Kupu2-nya Meli…. Kadang kita menyusuri lingkungan kampus UGM yang bersih sejuk dan asri. Lalu nyari sarapan di kawasan Graha Saba…, atau berhenti dulu di Gudeg Bu Ahmad di tepi selokan Mataram, yang rasanya yahud banget…

Suatu hari, bosan dengan rute yang itu2 aja.. Tati dan Mami melakukan melakukan kegilaan… Kita pakaikan Samuel, yang baru berusia sekitar 7 bulan, baju yang tebal, lalu digendong pakai kain gendong terus dibungkus lagi pakai jaket… Emang mau kemana…? Ke kawasan wisata Kaliurang, naik motor…. Hualaaaaaaahhhhhh.. Gokil gak sih…? Kakak sama Adik sama aja gilanya…

Samuel-nya gimana ? Iiiihhhh, dia mah enjoy2 aja… Apalagi di tengah sejuknya udara Kaliurang, dia dikasi sebotol susu anget sama Mami Uli… Anteng deh dia… Apalagi gak lama kemudian, dia dikasi makan yang udah dibekel sama Mami… Samuel makin anteng aja… Tati sama Mami juga jadi makin asyik aja nikmatin bacem tempe dan jadah plus teh anget… Siangan dikit…, baru deh Samuel dikeluarin dari bungkusan… dibawa muter2 jalan kaki di kawasan Kaliurang… Dia kayaknya tertakjub2 ngeliat monyet2 yang berkeliaran.., liat embah2 jualan pisang dan buah2an…. Akhir pekan yang menyenangkan dan tak terlupakan.…***

Mami Uli & Baby samuel

Mami Uli, Baby samuel & Wowo

Mami Uli & Baby Samuel dan tukang pisang di Kaliurang

Wowo & Baby Samuel

Samuel sekarang….

Samuel @ jump & ropes di Bali

Samuel dan Mami...

Single….?

Membaca blogs Fluffy’s Mom tentang status baru beliau, meningatkan Tati tentang pengalaman hidup Tati saat mulai tinggal sendiri di lingkungan rumah yang sekarang…

Mungkin memang gak lazim buat orang2 di kota kecil (masa sih Pekanbaru tergolong kota kecil?? Kayaknya kalo lomba2, Kota Pekanbaru tergolong kota besar kok!), seorang perempuan single tinggal sendiri.. Mana yang ngedatangin juga jarang banget… Sehingga menimbulkan berbagai dugaan… Waktu awal, Tati selain melapor ke Pak RT dengan menyerahkan fotocopy KTP dan KK, Tati juga memperkenalkan diri sama tetangga di kanan dan depan rumah (rumah yang di kiri pemiliknya tinggal di luar kota).

Tetangga yang di depan, kebetulan orang Tapanuli marga Purba. Untuk mendekatkan diri dan menetapkan batas dari awal, Tati memangil Ito ke si Bapak dan Eda ke si Ibu, meski kalo ditelusurin gak nyambung banget deh… Tapi maksud Tati, kalo ke si Bapak menggunakan panggilan Ito (artinya saudara laki2), hubungannya kan jadi saudara. Ini diharapkan akan menutup kesempatan berkembangnya dugaan yang tak terduga dari berbagai pihak. Alhamdulillah, ini berjalan… Hubungan kita yang memang baik dari awal, semakin baik dari waktu ke waktu.. Anak2 keluarga Purba memanggil Bou ke Tati, bahkan Bapak dan Ibu Purba ikut2 memanggil Bou… So, Tati nambah ponakan 2 orang lagi…, nambah 1 saudara laki2 dan nambah 1 ipar perempuan… Bahkan Tati dan Ibu Purba menjadi sahabat bagi satu sama lain, saling menguatkan bila ada masalah…

Demikian juga, hubungan dengan keluarga Pak Ali, orang Sumatera Barat di sebelah kanan rumah. Hubungan Tati juga baik.. Kalo si Bapak mau pergi, sementara si Ibu belum pulang kerja, anak2 mereka, Muti dan Nala biasa nunggu di rumah Tati sambil nonton TV… Semua berjalan baik dengan tetangga.. Alhamdulillah, gak adalah yang berburuk sangka dengan status Tati yang single dan sudah tua pula… Hahaha…

Nah yang jadi masalah, justru sama orang yang bukan tetangga sama sekali… Gak tau, gimana ceritanya… Tahu2 suatu hari minggu pagi, ada bapak2 yang bertamu ke rumah..
Tamu tak dikenal : “Pagi Bu. Apa betul ibu yang kerja di Pemda A?”
Tati : “Betul, Pak. Ada apa ya?”
Tamu tak dikenal sembari menunjuk kursi di teras rumah: “Boleh saya duduk, Bu?”
Tati : “Silahkan Pak. Ada apa, ya?”
Tamu tak dikenal : “Nama saya Polan, bu. Saya pensiunan BUMN X. Saya punya tanah sekian hektar di jalan A (jl protokol di Pekanbaru). Rencana mau kerjasama untuk dibangun ruko. Yang akan bangun kebetulan orang kita Chinese. Beliau minta saya membantu menguruskan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)-nya. Ibu bisa bantu saya?”
Tati : “Oh, begitu. Kebetulan Pak, saya kerja dibagian perencanaan, bukan di bagian perizinan mendirikan bangunan. Untuk urusan seperti itu, Bapak langsung saja ke Kantor Pelayanan Terpadu. Pemda tempat saya bekerja sudah menyediakan fasilitas seperti itu. Saya tidak ingin mencampuri apa yang bukan pekerjaan saya. Mungkin kalau Bapak mau, saya bisa kasi beberapa nama teman yang memang bertugas di sana. Maaf, ya Pak.”
Tamu tak dikenal : “Oh, begitu ya Bu. Ya sudah kalau begitu. Ngomong2, Bapak tugas dimana ya, Bu? Saya gak lihat beliau dari tadi.”
Tati yang terbiasa berpikir lugas dan merasa tidak perlu berbohong (why should I lie? Pikir Tati “Ngapain gue mesti bikin dosa untuk hal2 remeh temeh begini?”) : “Oh, saya belum berkeluarga Pak.”
Tamu tak dikenal : “Maaf, Bu. Boleh saya bantu ibu untuk mencari jodoh? Dan kebetulan, istri saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.”

Gubbbbbbbbrrrrrrrraaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk. Masya Allah, apa ini…? Manusia macam apa yang datang ke rumahku….????? Apa tampang Tati udah seperti barang di toko yang gak laku bertahun2, sehingga membuat orang berpkir “pasti akan disale”, sehingga bisa bicara seenak perutnya pada Tati…. Tapi, hati boleh sakit karena rasa dilecehkan namun Tati justru harus menunjukkan kelas Tati sebagai perempuan yang telah dididik dengan baik oleh keluarga..

Tati : “Pak, terima kasih sudah perduli dengan saya. Tapi maaf, untuk saat ini saya belum berminat untuk berumah tangga.”
Tamu tak dikenal : “Oh begitu ya Bu. Kenapa begitu, Bu? Cobalah ibu pikir2 lagi. Ngomong2 tanaman2 Ibu bagus2 sekali, subur2, hijau2. Tapi kok Ibu belum punya anggrek ya? Kalau Ibu mau, saya bisa suruh orang bikinkan taman anggrek di bagian depan rumah Ibu.”
Subhanallah, kok ini orang gak ngerti2 ya…??
Tati dengan masih berusaha tetap sopan : “Maaf Pak. Saya gak berkeinginan punya taman anggrek. Selain saya memang gak mau, saya juga gak bisa mengurus, saya sibuk dengan pekerjaan saya dan kegiatan2 saya yang lain. Terima kasih sudah menawarkan.”
Si Tamu tak dikenal masih aja duduk2 sambil manggut2.. Mungkin berpikir mau ngomong apa lagi… Dia tetap begitu untuk beberapa menit… (Tapi buat Tati rasanya seabad).
Tati : “Pak, maaf ya Pak. Kalo udah gak ada yang mau Bapak bicarakan, saya pamit untuk masuk. Banyak yang harus saya kerjakan di dalam.”
Tati langsung bangkit dari kursi teras dan masuk ke dalam rumah, membiarkan tamu gak dikenal termangu2 di teras.. Lama pula baru itu orang pergi.

Beberapa minggu berikutnya, tamu gak dikenal itu masih bulak balik ke rumah. Tati terpaksa minta tolong si kakak yang kerja mingguan di rumah untuk berbohong mengatakan Tati tidak ada di rumah. Eh tamu tidak diundang, masih ngotot mau ngunggu Tati pulang. Sampai si kakak yang kerja di rumah juga naik spaning dan akhirnya marah ke tamu gak diundang itu.

Usut2 ternyata, si Bapak itu tinggak beberapa blok dari rumah Tati.. Cuma yang jadi pertanyaan, “angin” mana yang menyampaikan kabar kepada si tamu gak diundang “bahwa di blok sana ada perawan tua gak laku2 baru pindah” ? Gak mungkin orang jauh, pasti orang yang di sekitar rumah Tati juga lah.. Mana mungkin orang jauh tau kondisi Tati yang single dan tinggal sendiri. Tapi, kenapa orang yang baru kenal, dan pasti belum mengenal pribadi Tati “bisa dengan cepatnya menghakimi status Tati”. Kenapa dia merasa perlu “berbuat baik” dengan menyampaikan kabar berita yang sebenarnya dia gak tau? Tapi sudahlah… Di sini, orang sering kali terlalu perduli dengan urusan yang tidak perlu dia urus…

Tapi setelah tiga tahun tinggal di rumah yang sekarang… Tati adalah tante buat anak2 tetangga… Senang rasanya, hidup di lingkungan yang ramah, yang membuat kita merasa diterima dengan segala pilihan hidup kita…***

Upah-upah…

Apa itu Upah2…?

Dalam adat batak, kalau seseorang akan atau telah melalui satu tahap kehidupan biasanya diberi “upah2″ oleh keluarganya.. Misalnya lulus sekolah, menikah atau lain-lainnya. Upah2 kayaknya berasal dari kata “upah” ya..?
Mungkin ini sebabnya kalo becanda orang batak tuh suka dibilang.. “Dasar Batak Upah!!!”. Hehehe.. Abis apa2 diupah sih..

Upah-nya apaan ?
Nasi lengkap dengan ayam bakar utuh (gak dipotong2 plus hati & kalang-nya), lalu ikan mas yang diarsik (yang ini khas-nya orang angkola, secara kita gak makan si piggy ekor melintir), telur rebus, udang yang gede2.., semua dihidangkan di piring besar.. Hmmmmm bikin air liur menitik… Biasanya pada saat Upah2 itu diberikan…, para orang tua menyampaikan nasehat2 kehidupan buat bekal kita di masa yang akan datang..

Waktu Tati, lulus S1..
Keluarga besar, 3 anak laki2nya Opung Lintje (Opungnya Tati) kumpul semua di rumah abangnya Papa, (alm) Anwar Siregar, di Bangka Jakarta Selatan. Lucunya semua abang2 (3 orang) yang waktu itu pada belum lulus sekolah (karena pada kerja dan ada juga yang keasikan main..), diwajibkan untuk hadir di acara wisuda di Widya Graha Bogor… juga adik2. Mungkin maksudnya supaya pada termotivasi, ya..? Tati lah yang beberapa hari sebelumnya mabok nyari undangan tambahan. Karena jatah dari kampus kan cuma 1. Para ponakan yang masih imut2 pada ikut juga ke Bogor, cuma mereka nunggu sambil berenang di hotel Pangrango, di depan tempat kost Tati. Heboh gak siihhh keluargaku….?

Nah…, malamnya… Yang wisuda dikasi jatah “Upah2″..
Selain anggota 3 keluarga Siregar.. Hadir juga para Opung2 dan Uwak2, Tulang2, Tante2, Bujing2 dari keluarga Harahap Hanopan, lengkap dengan pasangannya masing2 plus anak2nya.. Kok, banyak keluarga Hanopan? Karena Opung (ibunya Papa) boru Harahap dari Hanopan. Lalu, Mama juga boru Harahap dari Hanopan. Papa dan Mama tuh sepupuan alias pariban. Ramai, seru dan heboh… Rasanya setelah itu kita gak pernah kumpul selengkap itu lagi.. Karena satu per satu telah berpulang…, yang tersisa pada sibuk dengan rutinitas masing2 serta tinggal di kota2 yang terpisah… Hiks..

Sebelum acara makan bersama, Tati yang disuruh duduk di pusat pandangan semua anggota keluarga, lalu di depannya diletakkan Upah2 yang udah disiapin Mama dan Mak Tuo Jakara (Ny. Anwar Siregar). Pemberian Upah2 disertai nasehat dari para orang tua, mulai dari yang paling senior… dan ditutup oleh Papa. Papa juga memberi penjelasan arti dari semua jenis makanan yang dihidangkan dalam Upah2. Tati lalu disuruh mencicipi semua jenis makanan yang ada dalam Upah2, sesuai arahan Papa. Setelahnya, Upah2 tersebut dimakan bersama abang2 dan adik2 serta saudara2 lain, terutama yang juga masih sekolah.. Dengan harapan mereka juga akan memperoleh berkat dari Upah2 tersebut. What a beautiful family tradition…***

Here some old and memorable pics…

Tati lagi dikasi Upah2 sama Papa

Tati nyicipin Upah2 ditontonin sama Opung2, Uwak2, Abang2 dan Adik2


Keluarga yang hadir…



L to R : Bujing Dewi (Adik bungsu Mama), Tante Grace (sepupu Mama), Mama, Wak Ida (Kakak Mama paling tua)

Di Kantor Gak Ada Kerja Ya….?

Tante Po, nyuruh Tati baca “Guebukanmonyet” yang tgl 26 Agustus bikin posting “Universitas Negeri Penghasil Koruptor Terbesar?”.

Sebenarnya soal korupsi sulit untuk dikaitkan dengan universitas mana orang itu berasal.. Karena saat ini di daerah, banyak juga orang2 yang bermain bukan lulusan Universitas Negeri (Papan Atas). Menurut Tati, masalah korupsi adalah hasil didikan 32 tahun orde baru yang diperkuat dengan prinsip “kebebasan yang kebablasan” setelah orde baru tumbang.. Udah jadi budaya…

Jadi ingat puisi Rendra yang lagi sering diputar di beberapa stasiun TV beberapa hari terakhir ini dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia.. Kalo gak salah ada kalimat yang bermakna, “agar kita mulai bekerja dengan sepenuh hati, gak asal2an…”

Tati mengalami kejadian yang luar biasa sekitar setahun yang lalu…, yang terkait dengan kerja di lingkungan Pemda..

Waktu itu lagi weekend.. Tati dan Kak Iye (kakak sepupu, ponakan ibu) pergi ke Pasar Bawah, sebuah pasar wisata yang banyak menjual barang2 dari Malaysia. Tati mau nyari kerudung buatan Malaysia yang bahannya nyaman buat dipakai seharian di kantor…, tapi yang sederhana aja.. Waktu itu di Pekanbaru lagi musim kerudung Malaysia, dengan bordir dan dihiasi batu permata di sekelilingnya.. Harga krudung seperti itu per lembarnya Rp.175 ribuan kalo yang batunya cuma selapis, dan Rp.250 ribuan yang batunya 2 lapis.

Waktu sampai di sebuah kios yang menjual kerudung dan accesories wanita..
Tati nanya sama penjaga kios : “Kak, ada kerudung Malaysia tapi yang gak pake batu dan berwarna baju Pemda?”
Penjaga toko sambil mengulurkan setumpuk kerudung : “Ada, kak. Banyak nih motif bordirnya. Kakak liat aja.”
Tati lalu mulai buka2, pilah pilih pilah pilih..
Tiba2 si Penjaga toko bicara : “Kak, kalo di Pemda itu, pegawainya gak ada kerja ya di kantor?”
Tati kaget, dengarnya… Lalu bertanya : “Kok, kakak bisa ngomong begitu? Ya adalah kerjaan di kantor. Banyak lagi…”
Penjaga toko : “Tapi tiap pagi, jam sembilan karyawatinya sudah berkeliaran di sini.., kak. Apalagi yang dari kantor ‘anu’” Yang dia maksud itu Unit Kerja Tati pula.. Aduh… serasa ditampar deh Tati….
Penjaga toko : “Kalo mereka ada kerja, kok bisa keliaran di sini? Apa boss-nya gak marah, anak buahnya keliaran. Mana mereka kalo belanja tuh, uangnya kayak air, kak. Banyak banget. Kalau beli kerudung yang mahal aja sekali beli bisa 5 sampai 10 buah.”
Tati : “Kakak, jangan ngomong begitu lah. Kan kakak juga senang kalo mereka belanja. Kakak kan dapat untung, modal berputar.”
Penjaga toko : “Betul, kak. Saya dapat untung kalo mereka belanja. Tapi, kalo dipikir, apa mereka itu gak ria jadinya kalo pake kerudung mahal2? Mana belanjanya pagi2, saat mereka seharusnya bekerja. Kan mereka digajinya dari hasil pajak masyarakat, kak.
Gubbbbbbbbrrrrrrraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk. Tati cepat2 pegangan ke tiang yang ada di pinggir toko tersebut. Gak kuat denger omongan si penjaga toko, serasa ditonjok 1000 orang dari seribu penjuru.

Tapi ada satu pemikiran Tati yang sudah lama tersimpan di hati… Apa sebenarnya kita tidak bertanggung jawab terhadap moral orang2 di sekitar kita?”
Maksudnya..?
Kalau kita dalam berpenampilan selalu “berkelas” memakai barang2 mewah yang bermerk, apa kita gak akan jadi panutan buat orang2 di sekitar kita? Kalau yang dicontoh hanya sekedar kerapian dan keserasiannya… Itu bagus. Bagaimana kalau orang yang melihat itu hanya melihat brand dari barang2 yang kita pakai, lalu terdorong untuk juga memiliki? Kalau orang itu punya kemampuan secara finansial, itu gak masalah… Tapi bagaimana kalau yang ingin memiliki itu adalah anak2 remaja, atau orang2 yang kondisi finansialnya belum bisa untuk membeli barang2 branded tersebut? Apa yang akan mereka lakukan? Apa yang akan mereka “jual” untuk medapatkan barang2 branded tersebut? Iman akan menjadi penentu keputusan mereka. Tapi kita si pemakai barang branded adalah pemicu iman mereka untuk tergoda.. Apa kita tidak harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita bikin itu suatu saat nanti? Masya Allah. ***

The Sondha Code….

THE SONDHA CODE…..?

Ini ucapan Alam, junior di lingkungan kerja, tahun lalu pada saat kita sedang diskusi tentang rencana kerja lima tahunan kantornya. Waktu itu, film The Da Vinci Code yang dibitangi Tom Hanks dan Audrey Tautou lagi beredar di bioskop2, dan Alam menggunakan gambar2 dari film itu sebagai background di laptopnya.., yang terbesar adalah gambar MONALISA

Kok, Alam bisa tercetus THE SONDHA CODE? Ya, karena Alam tau kalo middle name Tati adalah MONALISA….., Yup, my complete name is “SONDHA MONALISA SIREGAR”

Bahkan waktu Mia, Tati’s closest friend zaman di Bogor, berkesempatan traveling ke Paris tahun 1990an (??), Mia ngoleh2in Tati postcard Monalisa yang diframe hitam.. Terus di bagian belakangnya di tulis :
LÉONARD DE VINCI 1452 – 1519
MONNA LISA
DITE LA JƠCONDE 1503 – 1506
from paris with love
Postcard ini masih digantung di cermin di meja rias Tati. Thanks ya Mia…

Back 2 topic..,.
Secara, sejak kembali ke Pekanbaru Tati jarang banget ke bioskop.., Tati jadi nyari vcd-nya aja di Disc Tara.. Setelah nonton filmnya, Tati jadi penasaran pengen baca bukunya… So Tati, nyari di toko buku Trimedia.. Ternyata untuk edisi Bahasa Indonesia ada 3 jenis buku Da Vinci Code yang dijual.. Yang pertama, jenis softcover, the cheapest one. Yang kedua, yang hardcover, ada sedikit gambar tapi hitam putih. Kalo gak salah harganya sekitar 140an ribu rupiah. Yang jenis ketiga, adalah hardcover plus gambar2 yang berwarna…, the most expensive.. kalo gak salah harganya lebih dari 200an ribu rupiah… Tati pilih yang nomor 2 karena hard cover dan ada sedikit gambar, kalo yang ketiga kayaknya kemahalan buat kantong Tati… Hehehe.

Kayaknya, isi film dan buku gak usah dibahas lah ya… Udah banyak banget yang ngebahas… dan terkadang di luar batas pengetahuan Tati yang cetek ini… Justru yang pengen Tati ceritain adalah…: di buku The Da Vinci Code, Robert Langdon yang Professor “Simbologi Agama” membahas makna MONALISA yang juga telah berabad2 dibahas orang…, di film hal ini gak dibahas…

Tati juga sebenarnya gak terlalu curious tentang Monalisa.. Gak terlalu nyari2 arti “Monalisa”. Pernah sih Tati nanya ke Mama kenapa ngasi Tati nama Monalisa..? Kata Mama karena Monalisa adalah sosok perempuan hasil karya seni yang senyumnya luar biasa… yang dikenang orang banyak dan menjadi legenda… Mungkin Mama berharap Tati juga punya senyum yang istimewa… paling enggak buat orang2 di sekitar Tati, kaleeeeeeeeee…?

Tapi kata Pirate beberapa hari yang lalu, “Kalo Tati senyum, dia juga gak tau maknanya..” Waktu dicoba konfirmasi, apa senyum Tati membuat dia merasa di’enyek? Dia bilang Tati mis-interpretation. Alhamdulillah. Selagi senyum Tati berarti sesuatu yang positif, gak apa2lah.. Asal jangan menjadi sesuatu yang menyakitkan .buat orang.. Btw, misteriusan mana senyum Monalisa yang ini sama senyum Monalisa-nya Da Vinci, Pirate? Hehehe… Di Monalisa Homepage, ada 10 dugaan alasan paling popular mengapa Monalisa tersenyum, dari alasan yang sopan, konyol sampai yang gak senonoh, semua ada.. Mudah2an tidak ada satu pun dari alasan itu diduga sebagai alasan Tati tersenyum… Hehehe…

Back 2 buku The Da Vinci Code…
Menurut Langdon.., MONALISA terdiri dari 2 bagian… MONNA dan LISA.. MONNA adalah penukaran posisi huruf dari kata A’MONN, dewa kesuburan orang Mesir. Sedangkan Lisa adalah penukaran posisi dan penggantian huruf dari kata L’YSA, dewi kesuburan orang Mesir…. So, analisis Langdon, sosok Monalisa di lukisan Da Vinci merupakan gabungan sosok laki2 dan perempuan. Kalau Monalisa merupakan sosok gabungan, laki2 dan perempuan…? Apakah sosok ini merupakan sosok yang hermaphrodite..? Cacing kali… Cacing kan juga menyebabkan kesuburan… Hehehe…

Mungkin karena Da Vinci belum aware soal gen, makanya sosok gabungan ini disembunyikan dalam sosok wanita.. Coba kalau dia lahir setelah Mendel, penemu teori heriditas (?), mungkin Monalisa disembunyikan dalam sosok laki2.. Kok….. ? Ya, iya lah.. makhluk yang punya 2 jenis gen penentu jenis kelamin manusia kan justru laki2… Laki2 punya unsur X sekaligus Y, sementara perempuan hanya punya unsur XX.. (So sebenarnya yang nentuin jenis kelamin anak itu dari garis ayah… Jadi para bapak2 jangan berbuat ketololan deh dengan menggunakan alasan pengen punya anak dengan jenis kelamin tertentu buat menikah lagi… Alasan yang sebenarnya udah basi sejak seabad yang lalu… Hehehe. Jadi kalo mau nikah lagi, cari alasan yang lain aja yaaaaa…). Jangan2 kalo kejadiannya begitu, Monalisa adalah nama untuk anak laki2.. Hehehe..

Tapi Tati, mencoba memaknai secara positif aja… Maksudnya…? Tati asumsikan aja MONALISA itu lambang penggabungan unsur laki-laki dan perempuan sehingga membentuk suatu keseimbangan, keselarasan yang akan menghasilkan produktivitas yang tinggi (kesuburan).. seperti unsur Yin dan Yang dalam budaya China… Mungkin itu lah seharusnya arti dari THE SONDHA CODE… Berupaya membentuk keseimbangan dan keselarasan diri dengan lingkungan sehingga jadi bisa lebih produktif… Ideal banget….!!! Kayaknya gak kuku deh gue buat ngejalaninnya…., because I’m very egoist person… Gubrrrrrrrraaaaaaaaakkkkkk.***

A Good Year

Setelah wara wiri dari pagi sampai siang…, leyeh2 di tempat tidur sambil nonton adalah kegiatan yang menyenangkan… Ditambah pula udara yang dingin dan lembab karena hujan yang turun terus menerus dari siang…, nikmat banget rasanya bisa bergelung dengan selimut sampai di leher… Plus pake training dan pullover.., jadi ingat baju2 kebangsaan jaman masih tinggal di Bogor..

Asyiknya nonton film apa ya…? Pilah pilih pilah pilih… Tati akhirnya mutusin buat nonton “A Good Year” yang baru aja dibeli siang ini di Disc Tara, Mall SKA.

Film ini dibintangi Russel Crow, yang berperan sebagai Maximmillian, orang Inggris yang kerja di London Stock Exchange, berjiwa spekulan dan luar biasa cerdas di bidangnya. Maximmilian dinyatakan sebagai ahli waris dari Henry, pamannya yang meninggal dan tidak mencantumkan satu nama pun sebagai ahli warisnya. Warisan itu berupa sebuah château dan kebun anggur di Perancis, tempat dimana Henry menetap bertahun2. Secara Max punya otak dan jiwa business, dia berencana untuk menjual seluruh peninggalan Henry… Tapi kemudian, rasa cinta Max pada Henry yang pernah memberikan satu musim panas yang istimewa buat Max, yang orangtuanya entah kemana, merubah Max, membangkitkan sisi jiwa yang bertahun2 terabaikan..

Detilnya dan akhirnya…? Mungkin lebih baik teman2 nonton sendiri aja ya… Karena pasti akan lebih asyik… Tati paling sebel kalo belum nonton suatu film tapi terus diceritain lengkap2.. karena akan kehilangan kesempatan untuk menemukan kejutan2 yang ada dalam sebuah film… Gak excited lagi…!!! Rugi donk udah keluar duit… Hehehehe…

Tapi, buat Tati “A Good Year” tidak memanjakan penontonnya dengan pemandangan perkebunan anggur Perancis yang indah… Kalah deh dengan yang diberikan film “Under the Tuscan Sun” yang dibintangi Diane Lane… Film yang satu ini, benar2 menyajikan gambar2 daerah Tuscan yang luar biasa indah dan colorfull…

“A Good Year” kalah juga dengan keindahan gambar di film A Walk in the Cloud yang dibintangi Keannu “Speed” Reaves, yang juga bersetting perkebunan anggur, tapi di Amerika… A Walk in the Cloud malah memberikan suatu adegan yang sexy dan indah banget.. Yaitu adegan para pemilik kebun anggur harus mengepak-ngepakkan “sayap” di antara pohon2 anggur untuk menyebarkan uap panas yang akan menghangatkan buah2 anggur yang siap dipetik, supaya gak frosted.. Bener2 adegan yang indah..***

Brunch di Akhir Pekan….

Sabtu kali ini…, kayaknya banyak deh yang mau dilakukan… Mulai dari ngatar polis ke nasabah, ke bengkel, prospek dan…. pengen bela beli vcd/dvd (hobby nonton itu sulit dihilangkan dan emang gak niat buat diilangin…!!! Hehehe.). Tapi sebelumnya mesti sarapan dulu niiiiyyy… Secara di rumah stock makanan terbatas (abis kalo nyetok juga suka gak kemakan…, jadi mending gak nyetok dari pada mubazir..), dan pagi2 cuma menikmati teh manis anget se-mug… Jadi yang pertama mesti diurus, ya urusan perut lah ya…

Mulai deh mikir, mau makan apa…???
Sebenarnya pengen banget makan makanan favorite Tati buat sarapan.. Apa itu…? Bubur ayam yang dijual di kedai kopi “Kings” di samping Bank BCA Jl. Ir. H. Juanda Pekanbaru.. Sangkin suka makan bubur ini dari usia muda (kalo dulu pulang dari Bogor buat liburan, bisa hampir tiap pagi tuh ke situ), si Bapak yang jualan sampai ngenalin…. Hehehe. Tapi karena kali ini perginya sendiri, Tati malas juga ke Kings.. Rasanya gak nyaman aja duduk sendiri buat sarapan di tengah keramaian.. Mana seringkali ketemu kenalan pula di situ… Sometimes, nyali kecuekan Tati menurun… Hehehe..

Kayak apa sih Bubur Ayam Kings…?
Bubur ayam Kings, adalah bubur ayam dengan Chinesse style.. Dihidangkan dengan telur yang dicemplungin ke adonan bubur (tapi kita boleh minta bubur tanpa telur) plus dimakan pake cakue, yang diiris gede2.. plus, sebagai optional, adalah tambahan bumbu2, antara lain cabe merah cair (khas chinesse food), merica dan…….. khusus buat Tati (“Si Nona Kecap”), ya kecap manissss secukupnya…. Hhhhmmmmm yummy…!!

Apa bedanya bubur ayam Kings dengan bubur ayam di Kedai Kopi Kim Teng yang terkenal banget di Pekanbaru ? Atau dengan yang di Restoran Cola2, yang berlokasi di jalan yang sama?
Enggak, tau ya… Menurut Tati, bubur ayam yang di Kings tuh lebih padat adonannya.., gak didominasi air… terus rasanya juga paaaass aja di lidah… Kalo sarapan bubur ayam Kings sekitar jam 8an pagi… Tati baru kepikiran buat makan siang tuh setelah jam 13an… Jadi selain gizinya juga gak berlebihan, bubur ini bikin nyaman buat kerja sampai siang…, gak ngerusak kosentrasi karena lapar… Hehehe.

So karena enggan ke Kings pagi ini, alternatifnya seperti biasa…: Solaria yang di depan Hypermart di basement Mall SKA. Resto yang satu ini merupakan tempat yang lumayan nyaman buat brunch di akhir pekan. Karena kalo sekitar jam 10an pagi belum rame banget… Menimbang makan kali ini adalah brunch…, Tati milih makanan yang agak bervolume. Pilihannya, kuetiaw sapi goreng dan lemon tea.. Alhamdulillah nikmat..

Btw, masakan mie2an di Solaria, rasanya lumayan kok… dan porsinya agak banyak… Biasanya kalo Tati pergi bertiga dengan teman/keluarga, kita biasanya pesan dua porsi makanan, lalu minta piring kosong 1.. Kalo gitu rasanya paaaasssss. Gak blenyek, kekenyangan…. Mudah2an management Solaria gak baca blogs ini ya… bisa2 ntar porsi makanannya dikecilin… Hehehe… Kalo pun mereka suatu saat nyasar ke blogs ini.., mudah2an gak membuat mereka merubah kebijakan.. Karena buat Tati dan keluarga, juga teman2… makan bersama2 sambil berbagi adalah hal yang sangat menyenangkan… Menimbulkan rasa kebersamaan…. Jadi kangen pergi makan sama saudara2 Tati…. ***

Suddenly….

Gak ada angin apalagi topan badai..
Suddenly, Tati ingat lagu ini…
Lagu yang pernah Tati suka banget…
Lagu yang nemenin malam2 sunyi, dingin… tapi Tati harus bangun dan kerja di depan compi di sebuah paviliun di daerah Pogung Dalangan, Yogyakarta,
Berjuang menyelesaikan thesis..
Mengejar sebuah kebebasan…

SUDDENLY

I used to think that love was such a fairy tale
until that first hello, until that first smile
but if i had to do it all again
I wouldnt change a thing, ‘cos this love is everlasting

suddenly, life has new meaning to me
there’s beauty up above, and things we never take notice of
You wake up, suddenly you’re in love

ooh yeah

Girl your everything a man could want and more
one thousand words are not enough to say what i feel inside
holding hands as we walk along the shore
never felt like this before, now you’re all that im livin’ for

suddenly, Life has new meaning to me
there’s beauty up above, and things we never take notice of
You wake up, suddenly you’re in love

each day I pray, this love affair will last forever
oh hoh
suddenly, Life has new meaning to me
there’s beauty up above, and things we never take notice of
You wake up, suddenly your in love

ooh
there’s beauty up above, and things we never take notice of
You wake up, suddenly you’re in love
***