Namaku Cinta….

Ini adalah puisi dari seorang kenalan ku….  Puisi yang sangat menyayat hati…..

Pusis ini ditulis seorang perempuan perkasa…  Perempuan yang berkarya di dunia yang tak banyak disentuh oleh kaumnya…  Dunia dengan tantangan yang tak biasa…  Tapi dia tetap lah perempuan…., yang lembut dan rapuh ketika cinta menyapa…

Lalu di suatu pagi, dia menemukan sebuah surat di inbox-nya… Surat yang menanyakan siapakah lelaki yang ada di album fotonya di sebuah situs jejaring sosial..  Apakah sosok itu sama dengan sosok yang ada di album foto yang di-link-kan perempuan tersebut di kotak suratnya…

Dia tak sanggup berkata saat melihat satu per satu foto yang ada di album tersebut…  Tak perlu satu patah kata pun… Tak perlu satu kalimat pun… Semua begitu gamblang.. Semua begitu jelas….

Lelaki yang mengisi hatinya selama beberapa bulan terakhir…   Lelaki yang mengisi mimpi-mimpinya…  Lelaki yang membawanya ke sebuah dunia penuh semangat perjuangan akan perubahan  negeri… Adalah lelaki yang sama dengan sosok yang ada di foto-foto di album yang dia lihat…  Sososk lelaki yang sedang mengikarkan janji untuk menjadi pelindung bagi yang lain….

Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
.
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
Menepi menepilah menjauh
Semua yang terjadi di antara kita ooh

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

by MAA, 23 Januari 2012

Girls, Watch Out…!!!

Kali ini aku ingin berbagi sesuatu yang sebenarnya sangat personal… Tapi aku pikir apa yang terjadi pada ku bisa juga terjadi pada perempuan lain… Dan akan lebih baik kalau mereka bisa mencegah, agar tidak terjadi…  Bukan kah mencegah lebih baik dari pada mengobati….??

Sejak pertama kali mengalami mengalami menstruasi di usia 12 tahun 1 bulan, menstruasi ku cenderung tidak teratur…  Bertahun-tahun siklus menstruasiku tidak lah 28 hari, lebih sering 40 hari…  Karena sudah dari awal seperti itu, aku menerimanya sebagai suatu yang normal…  Aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai seuatu yang perlu dipikirkan, sesuatu yang perlu dikonsultasikan ke dokter…  Bahkan terkadang aku mensyukurinya… Kok…?  Ya, karena siklus yang 40 hari itu, bukan hal yang langka bila aku bisa menjalani puasa di bulan Ramadhan tanpa ada yang tertinggal… :D

Ketika usia ku memasuki 40 tahun,  siklus menstruasi ku menjadi lebih pendek.., antara 30 sampai dengan 35 hari… Tapi durasi nya juga menjadi lebih panjang demikian juga volume darah kotor yang keluar..  Bila dulu menstruasi yang banyak hanya berlangsung 3 hari, plus 2 hari sisa-sisanya.., sekarang menstruasi dalam jumlah banyak bisa berlangsung selama 5 hari, bahkan akhir-akhir ini bisa berlangsung sampai 7 hari…  Bahkan pernah juga aku merasa seperti ada sesuatu yang meluncur keluar dari tubuhku, dan ternyata itu darah yang bentuknya seperti potongan ati sapi berukuran 5cm x 2cm x 1 cm…. Seremmmmm…  Yang aku dengar dari teman-teman yang sudah berumah tangga dan pernah melahirkan, yang seperti itu biasanya terjadi pasca melahirkan….  Tapi teteupppp, aku gak khawatir…  Gak membuat aku merasa perlu pergi ke dokter untuk memeriksakan diri…  Aku menganggapnya terjadi karena perubahan hormon karena faktor U, umur…

Menjelang pernikahan di awal Desember 2011 yang lalu, bahkan aku mengalami menstruasi hanya dua minggu setelah menstruasi sebelumnya.   Tapi menstruasi kali ini hanya berlangsung selama 2 hari dan volume yang keluar sangat sedikit…

Lalu 3 minggu kemudian aku kembali mengalami menstruasi yang didahului oleh rasa sakit yang luar biasa di perut dan disusul dengan menstruasi dengan durasi yang sangat lama , 8 hari, dalam jumlah yang sangat banyak..  Cemas…..?  Pasti…  Bahkan saat sakitnya luar biasa di awal, sempat terbersit di benak ku kalau aku mengalami blooding… Tapi setelah keesokan paginya ku lakukan test urine dengan test pack, dan hasilnya negatif, aku merasa agak lega.  Karena artinya ini benar-benar menstruasi, bukan blooding… Tapi tetap ada tanya di diri, ada apa dengan tubuh ku…?  Ada apa dengan organ reproduksi ku?

Mba Poedji, seorang sahabat tempat aku sering bertanya seputar masalah kewanitaan setelah aku menikah, mendorong aku untuk mengunjungi gynecolog, alias dokter kandungan, untuk melakukan papsmear agar bisa memantau kesehatan alat-alat reproduksi ku…  Sebagai orang yang takut sekali dengan yang namanya alat-alat kesehatan, seperti jarum suntik, bor gigi, ditambah lagi dengan bayangan tentang proses “pemeriksaan dalam”, aku berusaha menghindar dan menunda-nunda kunjungan ke gynecolog..  Padahal, alhamdulillah, di kota ku sudah ada gynecolog  perempuan, yang pastilah secara psikologi rasanya lebih nyaman bagiku untuk dikunjungi…  Tapi sepertinya mba Poedji tak kurang akal dalam menangani “anak kecil” yang ada dalam tubuh besar bernama Sondha..  Dia mendaftarkan nama ku untuk berkonsultasi dengan gynecolog perempuan itu, sehari sebelumnya.  Lalu setengah jam sebelum waktu yang telah dijanjikan, mba Poedji menjemput ku di kantor…  Aku tak punya cara lagi untuk menghindar…   hiksssssss….

Setelah bercerita dengan gynecolog perempuan tersebut tentang apa yang terjadi pada ku…  Si gynecolog melakukan USG terhadap ku…  Di-USG gak masalah buat aku… Sama sekali tidak menakutkan…  Tapi hasil USG…? Menggetarkan hati ku….  Ya, hasil USG menunjukkan bahwa ukuran rahimku lebih besar dari ukuran  biasanya…  :’(  Dan untuk mengetahui kondisi yang lebih detil, si gynecolog memutuskan untuk melakukan pemeriksaan dalam pada ku…  huuuuuaaaaaaaaaaaaaa………….

Aku menatap ke kursi untuk pemeriksaan dalam…., hati ku rasanya ciuuuuuuuttttttttt…….. Dengan gemetar aku mengikuti arahan asisten si gynecolog untuk naik ke kursi tersebut… Astagfirullah, tubuh ku semakin gemetar dan aku tidak mampu menahan tangis ku… Si gynecolog pun bingung… Dia menawarkan  untuk menghentikan pemeriksaan, tapi dia juga mengingatkan bila pemeriksaan dihentikan, aku tidak bisa mengetahui bagaimana kondisi rahim ku sebenarnya…

Setelah berjuang dengan susah payah untuk menenangkan diri dan membuat tubuh merasa rileks agar pemeriksaan dapat dilakukan, bagian dalam tubuh ku  pun diperiksa…  Ternyata aku mengalami apa yang namanya hyperplasia, yaitu penebalan dinding rahim (endometrium). Bila endometrium yang normal tebalnya sekitar 0,8 cm, endometrium ku tebalnya lebih dari itu…

Menurut si gynecolog, hyperplasia terjadi karena hormon estrogen ku berlebih…, dan itu terjadi karena berat badan ku yang berlebih…  Keadaan ini lah yang menyebabkan durasi dan volume menstruasi ku meningkat beberapa tahun terakhir…  Bahkan siklus menstruasi yang lebih panjang, atau menstruasi yang lebih cepat dari seharusnya semua terjadi karena ketidakseimbangan hormon estrogen akibat berat badan yang berlebih…  So teman-teman, jangan biar kan tubuh kalian, anak perempuan dan saudara-saudara perempuan kalian mengalami kelebihan berat seperti yang aku alami sejak usia belia…

Cara penyembuhannya menurut si gynecolog adalah dengan terapi hormon, dimana si pasien harus meminum pil selama 30 hari sejak hari ke 5 menstruasi berikutnya.  Bila cara itu tidak berhasil, pengobatan dilakukan dengan membersihkan dinding rahim (dikuret).  Semoga keadaan ku segera membaik, sehingga tidak perlu pengobatan dengan cara yang terakhir ini….

Namun karena kebetulan pada saat ini aku sedang dalam penanganan dokter  untuk mengurangi berat badan, si gynecolog menyarankan aku untuk menunda terapi hormon, dan menjalankan program penurunan berat badan ku sampai mendekati berat badan yang normal.  Setelahnya baru aku akan diperiksa kembali.  Diharapkan penurunan berat badan tersebut akan memperbaiki keseimbangan hormonku  dan menyembuhkan hyperplasia yang terjadi.  Apabila kondisinya belum membaik, baru dilakukan terapi hormon.

Dari artikel ini, aku akhirnya mengetahui kalau diabaikan terus,  sel-sel pada dinding  rahim yang menebal dapat berkembang menjadi kanker rahim… Naudzubillahbinzalik…

Buat teman-teman yang  juga mengalami siklus menstruasi tidak seperti yang seharusnya, atau yang durasi sangat panjang atau volumenya sangat banyak,  jangan abaikan…  Berkonsultasi lah ke gynecolog…  Juga  teman-teman yang belum menikah.. Jangan berpikir karena belum menikah, teman-teman tidak mungkin bermasalah dengan alat reproduks, sehingga enggan berkunjung ke gynecolog…  Mengetahui  keadaan diri kita, meski cara pemeriksaannya membuat hati ciutttt…,  akan lebih baik, karena bisa segera dilakukan pengobatan…

Buat mba Poedji, jazakillah ya mba…  Buat seorang Sondha yang galak namun berhati Rinto Harahap, punya sahabat sepeti mba di sekitarku benar-benar sebuah keberuntungan…..  :D ***

Sales Mobil Kreatif….

Beberapa minggu yang lalu, saat ke sebuah Mall di Pekanbaru untuk nonton,  aku melihat ada pameran mobil dari merk mobil yang sama dengan mobil ku saat ini…  Salah satu mobil yang dipamerkan adalah seri terbaru city car yang telah menemani ku selama 5 tahun terakhir….

Isenk sambil menunggu waktu pemutaran film, aku pun melihat-lihat pameran tersebut..  Salah seorang Sales Promotion Girl (SPG) yang bertugas memintaku untuk mengisi semacam buku pengunjung..

Saat aku menuliskan namaku, dia berkata : “Bu Sondha yaa? Yang rumahnya di Perumahan ABCDE kan?

Aku : “Kok tahu?”

SPG : “Saya kan yang pernah telpon ibu beberapa waktu yang lalu.  Saya dapat nama dan nomor telpon ibu dari database customer di perusahaan.. Mobil yang ibu pakai ambil tahun berapa ya bu?”

Aku : “Tahun 2007, mba”

SPG : “Gak mau ganti, bu?  Bisa tukar tambah, kok dengan yang edisi baru ini.”

Aku isenk nanya : “Emang mobil saya mau dihargai berapa?”

SPG : “Sekian sekian, bu…  Tapi kasi saya alamat rumah atau kantor ibu deh, biar kita bisa lihat dan nilai keadaan mobilnya”

Aku menanggapi celotehan si SPG dengan senyum dan berkata : “Ntar-ntar aja ya mba..  Saya belum niat ganti mobil.  Belum ada post-nya.  Nanti kalau saya kasi alamat, mba bulak balik datang, kan gak enak.”

Setelah pertemuan di pameran tersebut si SPG beberapa kali menelpon ku untuk kembali menawari mobil seri terbaru itu.”

Dan aku selalu jawab : “Saya belum mau ganti mobil, mba… Nanti-nanti saja ya…”

Lalu beberapa hari yang lalu si SPG yang sama menelpon ku.. Begitu telpon kuangkat, terdengar suaranya merdu merayu menyapa dengan penuh semangat…

SPG  : “Bu Sondha, ada orang cari spark edisi lama. Saya tawarin mobil ibu ke dia  Rp.xxx.  Lebih tinggi dari harga kalau ibu jual ke showroom kami.”

Lalu tanpa  jeda dan mendengarkan respon ku, dia melanjutkan…

SPG : “Ibu ok kan? Biar saya jual.”

Aku lalu menjawab : “Mba…., Mba mau jual mobil saya? Mobil itu mobil saya satu-satunya. Kalau mobil saya  mba jual, mba mau suruh saya kemana-mana naik apa?”

SPG :  “Oohh, ibu  bisa pakai mobil dr showroom kami.”

Aku membalas : “Ooohh…..  Terus yang bayar mobil yang akan dikeluarkan dr showroom itu siapa, mba?”

Si SPG  diammmmmmm tak bersuara… Beberapa aat kemudian dia kembali bicara dengan suara agak gemetar dan  perlahan  : “Jadi  ibu gak setuju mobil ibu saya jual?”

Aku :  “Siapa yg mau jual mobil, mba  ?  Nanti kalau saya mau jual, dan mau  minta tolong mba, saya akan  kasi tahu.”

Si SPG langsung terdiam dan aku pun meuntup telpon setelah bilang  : “Udah ya, mba……”

Aneh-aneh aja deh….  Ngerti siyy kalau sebagai tenaga marketing dia dikejar target penjualan.  Tapi ya jangan kebablasan dehh, sampai mau menjual mobil orang tanpa bicara dulu dengan yang punya….. :D   Terlalu kreatif….

Happy New Year….

For my family, my friends and my blog reader….  Thank you for the love, the support, the kind you all give to me…  May the New Year bring the happines and prosperity for  us….

Love U all…

Selamat Jalan Ibu Rustiati, Selamat Jalan Guru Favorite-ku….

Minggu 25 Desember 2011 dini hari…  Handphone CDMA-ku berbunyi di keheningan pagi… Membangunkan ku dari lelap tidur…  Hmmmm….. sebuah sms masuk.  Dari seseorang yang namanya tak terekam di phonebook ku… Saat ku buka, message itu tertulias “Ibu Rustiati meninggal dunia”.  Pesan dikirim jam 03:59 wib….

Aku tercenung saat menghayati makna kata-kata message tersebut…  “Ibu Rustiati meninggal dunia” .  Innalillahi wa innailahihi roji’un….Akhirnya…., Allah mengangkat sakit yang beliau derita….  Semoga sakit yang diderita beliau di akhir hidupnya, melepasakan dosa-dosa beliau, mendekatkan beliau kepada Allah SWT…  Semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT…  Dengan perjalanan hidup sebagai seorang guru yang baik, lemah lembut dan sangat sabar, Insya Allah beliau  pantas mendapatkannya…

Bagi ku, ibu Rustiati adalah salah satu Guru Istimewa di sepanajang perjalananku sebagai murid, pelajar dan mahasiswa.. Bahkan beliau buat aku The Most Special One…

Kenapa…? Apa yang sudah beliau lakukan bagi seorang Sondha, salah satu dari sekian ratus murid kecilnya…?

Ibu Rustiati binti Yasin, 10.03.1954 - 25.12.2011

Ibu Rustiati adalah seorang Guru di SD Teladan, saat aku bersekolah di sana periode 1974 – 1980… Bila kita melihatnya, hanya melihat tanpa berinteraksi, beliau bukan sosok yang istimewa.. Just an ordinary woman…  Bertubuh kecil namun tidak terlalu kecil, berkulit sawo matang, rambut ikal dengan penampilan sederhana.. Bener-benar not an eye-catching woman… Tidak mempesona….  Tapi buat aku dan juga banyak murid-,muridnya, belaiu sangat istimewa, karena beliau baik hati,  lemah lembut dan sabar….

Tapi buat aku beliau lebih istimewa lagi…  Sejak aku kelas 4 sampai kelas 6, orang tuaku mempercayakan beliau untuk membantu mengejar ketinggalan pelajaran yang aku alami karena sering tidak masuk sekolah, akibat aku yang selalu jadi “ekor ibu (almh)”… Aku selalu mengikut dan dibawa kalau ibu (almh) ku pergi ke luar kota…  Jadi lah selama 3 tahun tersebut 3 kali seminggu, kalau tidak sedang ke luar kota, aku belajar di rumah bu Rustiati…

Tapi bu Rustiati tidak hanya membantu aku mengejar ketinggalan pelajaran, tapi justru membantu melatih motorik halusku yang lemah, serta membantu membentuk pola pikir sains ku…

Beliau mengajarkan aku matematika dengan menjelaskan dengan detil dan memberikan berbagai variasi soal…  Angka 9 di raporku untuk matematika bukan hal yang asing saat itu…

Beliau membantuku mempelajari sains dengan menjelaskan kembali pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam(IPA) yang rasanya memusingkan kepala dan tidak semenarik pelajaran sejarah dan geografi bagi ku saat itu…  Aku ingat ketika kami mendiskusikan soal mikroskop,  aku bercerita bahwa ibu ku (alm) memiliki lup untuk menikmati cahaya dari koleksi perhiasan beliau, bu Rustiati menyuruhku meminta izin ibu untuk membawa lup tersebut ke rumah beliau saat aku les berikutnya…  Ibu Rustiati menggunakan lup tersebut untuk menjelaskan apa yang terdapat di buku IPA tentang mikroskop… Ya, beliau menunjukkan bagaimana lup tersebut dapat digunakan utuk membuat titik api dari caha matahari sehingga bisa membakar kertas…

Beliau juga mendorong aku untuk bisa membaca sebanyak mungkin kata dalam suatu rentang waktu, dan kemudian menyerapnya, lalu mampu mengekspresikan makna dari apa yang ku baca…  Mungkin buat para mahasiswa, itu hal yang biasa… Tapi saat itu beliau mengajarkan hal tersebut pada aku, si anak  SD, yang ingusnya aja masih belepotan… :D   Pikiran yang sangat maju….

Sejak di tangan beliau, aku menjadi anak yang nilai-nilai pelajarannya berada di 5 besar di kelas…,  Alhamdulillah…

Setelah tamat SD,  seingat ku aku tidak pernah lagi bertemu dengan beliau… Hiruk pikuk menjadi anak SMP, SMA lalu kuliah di luar Kota Pekanbaru membuat silaturahmi kami terputus… Saat bertemu dengan guru-guru senior  di SD Teladan, aku sempat beberapa kali bertanya tentang keberadaan ibu Rustiati..  Di akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an jawaban yang aku dengar, beliau pindah mengggajar ke SD di Jl. Rokan, Pekanbaru..  Tapi aku tak sempat meluangkan waktu mencari beliau…

Aku akhirnya bertemu dengan beliau, pada bulan Agustus  Tahun 2009, saat aku dan beberap teman mendatangi beliau ke SD tempat beliau mengabdi.  Saat itu kami baru saja melaksanakan reuni SD dan mengundang guru-guru kami, tapi beliau tidak hadir.. Padahal kami, panitia reuni,  telah meminta salah seorang guru senior menyampaikan undangan pada beliau.  Ternyata beliau bermaksud hadir dan menemui kami para muridnya, tapi beliau salah melihat waktu yang tertera di undangan.  Acara kami lakukan hari Sabtu, beliau pikir hari Minggu…

Begitu melihatku bersama beberapa teman, beliau langsung mengenali diriku… Padahal rentang waktu 30 tahun pasti telah merubah diriku dari seorang anak SD menjadi perempuan berusia di atas 40…  Saat itu beliau bilang sambil tersenyum, “Sondha…”  Air mataku muncul di sudut mata ku.. Finally, aku melihat beliau lagi setelah sekian puluh tahun berlalu…

Beliau lalu bertanya :  “Bapak Ibu kamu masih ada…?”

Bapak Ibu ku yang beliau maksud adalah kedua orang tua yang membesarkan ku, yang mempercayakan beliau untuk mengajar aku di luar jam sekolah..

Aku lalu menggeleng dan berkata : “Tidak bu, mereka berdua telah pergi…  Ibu berpulang pada tahun 1987, dan bapak menyusul tahun 2001″

Ibu Rustiati lalu berkata : “Mereka berdua sangat baik yang baik, Sondha.  Mereka orang-orang yang baik.  Uang les yang mereka berikan pada saya  pada saat itu jauh lebih besar dari gaji saya sebagai guru, membantu kehidupan saya dan ibu saya.”

Aku lalu menjawab : “Saya saat itu tidak mengerti, bu.  Orang tua saya hanya menyuruh saya pergi les, lalu menitipkan amplop yang berisikan uang les setiap bulannya pada ibu.  Saya tidak tahu dan tidak mengerti berapa jumlahnya, dan tidak pernah tahu, bu.”

Beliau hanya tersenyum mendengar ucapanku…

Setelah pertemuan itu, beberapa hari menjelang Idul Fitri tahun 2010, aku menelpon beliau untuk menanyakan alamat rumah beliau agar bisa bersilaturahmi..  Tapi beliau bilang, beliau sudah berangkat ke kampungnya untuk berlebaran bersama keluarga…  Lalu aku pun tenggelam dalam rutinitas hidupku…  Keinginan bertemu dan bertemu beliau kembali, hanya menjadi keinginan yang tak diwujudkan…

Lalu, di tanggal 04 Desember 2011, telpon dari seorang teman SD yang saat ini menetap di Bogor, Ferri Daruski, membangunkan tidurku di minggu pagi…

Ferry bilang  : “Sondha dimana? Aku lagi di Pekanbaru.  Bisa ikut bersama kami mengunjungi ibu Rustiati? Beliau sedang sakit.”

Saat itu, aku yang sedang berada di Samarinda hanya bisa berkata : “Ferry, maaf aku sedang di Samarinda.  Aku tak bisa bergabung dengan kalian.  Sampaikan salam ku dan permohonan maaf pada ibu, karena belum bisa mengunjungi beliau.”

Setelah berkoordinasi dengan beberapa teman SD, akhirnya aku dan teman-teman berkunjung ke rumah ibu Rustiati pada hari Sabtu 10 Desember 2011 sore hari…

Bersama teman2 SD saat mengunjungi ibu sakit, 10.12.2011

Subhanallah…. Kondisi beliau sangat memperihatinkan…, tubuh  membengkak di sana sini.. Bahkan dari telapak kaki bu Rustiati merembes keluar cairan…  Tubuh beliau tak bisa dibaringkan karena menimbulkan rasa sakit.  jadi sepanjang hari, selama berhari-hari, beliau hanya duduk di sofa di depan televisi.  Sepertinya beliau mengalami gagal ginjal..  Ibu bilang sebelumnya beliau sempat beberapa kali menjalani cuci darah, tapi rasanya sakit sekali.  Ketika kami tanya bagaimana ini semua bermula, beliau bilang beliau kena  diabetes sejak beberapa tahun yang lalu, kemudian organ tubuh pun satu per satu tak lagi berfungsi optimal..

Tak terkatakan sedihnya melihat seorang guru yangkita tahu begitu lincah, begitu baik, begitu lembut dan sabar harus mengalami semua ini…  Tapi dibalik penderitaannya, beliau tetap tersenyum… Sabar dan ikhlas menerima perjalanan hidupnya…

Sebelum meninggalkan rumah beliau, di saat teman-teman satu per satu berjalan ke luar rumah, aku sempat berbicara berdua saja dengan beliau… Menyampaikan permohonan maaf atas segala salah ku, dan menyampaikan doa dan harap agar beliau  mendapatkan yang terbaik dari Allah SWT.

Beliau berkata pada ku : “Sondha, kedua orang tua kamu adalah orang-orang yang baik, kamu juga anak yang baik.. Ibu selalu berdoa buat kamu, nak.  Insya Allah surga buat orang tua kamu dan kamu”.  Air mataku tak lagi bisa ditahan, setelah memeluk dan mencium beliau, aku pun meninggalkan rumah itu…

Setelahnya aku kembali larut dalam kehidupanku…  Pekerjaan, proses adaptasi dalam kehidupan pernikahan yang baru ku jalani.. Menyerap waktu dan pikiran ku..   Belum sempat aku mengunjungi beliau kembali.. Belum sempat mencoba menggalang dana dari teman-teman buat membantu biaya pengobatan beliau…  Namun beliau telah pergi… Ahhhh sungguh suatu lagi pelajaran penting tentang prioritas…

Makam Ibu Rustiati, my most favorite teacher... RIP 25.12.2011

Maafkan Sondha, bu.. Semoga ibu beristirahat dengan tenang, di tempat yang lapang, sejuk  dan penuh cahaya.  Menurut Sondha, ibu berhak atas semua itu, karena ibu adalah seorang guru, guru sejati…***